Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Bawa cucuku sekarang juga


__ADS_3

Mira menatap hujan dari jendela kamar. Ia terus menangis sambil meringis karena payudara terasa penuh. Biasanya kalau ia merasakan sepeti itu, sang anak tengah haus.


Nak semoga Allah melindungimu.


Ardan yang baru pulang setelah maghrib dengan wajah lelah menghampiri Mira. Mengusap pundkanya dan mendekapnya penuh kasih sayang. Tidak ada percakapan selain beursah saling menguatkan satu sama lain.


"Sudah makan?" tanya Ardan setelah enngurai pelukan.


Mira menggelangkan kepala pelan. Sepertinya ia sudah tidak memilki tenaga lagi.


"Sudah shalat?" Untuk pertsma kalinya Ardan mengingat kan sang anak pada kewajiban. Lagi Mira menjawab dengan gorengan kepala. "Ayo berjamaah, papa juga belum."


Kebersamaan dengan sang ayah tak membuat Mira menjadi tenang. Ia bahkan kembali menolak makan saat Ardan mengangsurkan makanan pada putrinya.


Makan tak enak tidur pun tak nyenyak, ungkapan seperti itu biasanya siucaoakn oleh para pemuja cinta yang tengah patah hati. Akan tetapi kali ino seorang ibu muda tengah merasakannya.


Bahkan dalam tidurnya dia terus mengigau. Sesekali ia terbangun karena merasa mendengar tangis putrinya. Dia cek boks bayi kosong. Dia berlari ke layar kamar, "papa di mana Syifa, barusan aku mendengarnya menangis. Ayolah papa jangan main-main. Kasihan dia haus."


Saat tersadar bahwa Syifa belum ditemukan, Mira kembali menangis. Ia terus menangis bahkan sampai sujud di atas lantai.


Bukan Ardan tak berusaha tapi mereka buntu.


"Ancaman itu. Papa aku ingat ancaman itu."


"Ancaman siapa?"


Mira menyeka sudut mata, "aku pernah mendengar mertuanya Dion mengatakan, aku pastikan bukan hanya anakku yang menderita. Iya dia mengatakan kalimat itu saat keluar dari gadung pengadilan."


"Yakin kamu mendengar kalimat itu?"


"Aku yakin papa, tapi kita tidak bisa menuduhnya tanpa bukti."


"Jef, suruh awasi gerak gerik Hendro dan orang-orang disekitarnya."


Jef langsung melaksanakan perintah tuannya.


***


Di rumah Hendro, Siti yang kesal karena Syifa tak kunjung berhenti dari menangis membiarkan di atas kasur.


Bayi itu terus mengecewakan kaki dan tangannya, suaranya sudah serak karena terlalu lama menangis.

__ADS_1


Istri Hendro yang mendengarnya merasa kasihan. Bagaimana pun dia seorang ibu. Tak peduli suaminya akan marah, istri Hendro mengambil dan menggendong bagi itu.


"Kalau dia sampai meninggal, bukan hanya saya yang akan habis. Kamu juga." Istri Hendro mengingatkan Siti.


Seolah merasakan hangatnya dekapan sang ibu, Syifa mulai berhenti menangis. Saat diperiksa popoknya ternyata penuh. Pantas saja tidak mau di kasih susu, toh yang dirasakan ternyata tidak nyaman.


***


Lain Mira, lain Syifa ain juga Fahmi. Dia terlihat sibuk dengan ponsel sering menempel pada telinga.


Adelia yang penasaran mendekat dan mencoba menguping pembicaraan.


"Mas masih peduli pada kak Mira?" Ia bertanya setelah Fahmi mengakhiri sambungan.


"Loh memangnya kenapa?


"Ck! Mas ini pinter tapi kadang terlalu pinter juga. Buat apa Mas masih peduli sama Kak Mira. Dia-nya aja gak mau. Please lah Mas jangan jadi tulalit gara-gara cinta."


"Enggak tuh, mas gak merasa bodoh. Kamu tahu kenapa mas masih memperhatikan dia?"


"Karena mas jadi budak cintanya kak Mira. Aduh ...." Adelia mengaduh saat keningnya disentil oleh kakaknya.


"Ini bukan soal cinta tapi soal kemanusiaan. Bayi Mira atau keponakan kita, hilang sejak tadi pagi. Mas tahu dari Pak Ardan saat bertemu di kantor polisi."


"Dibawa oleh pengasuhnya."


Adelia tampak berpikir, seketika dia teringat sesuatu. Semoga saja tugasnya benar. "Jangan-jangan ini ulah orang tuanya kak Nafa, Mas."


Fahmi mendengarkan sang adik menyampaikan pendapatnya tentang keluarga Nafa. Tentang Nafa yang selalu ingin di nomor satukan. Bisa jadi sifat yang dimilikinya adalah turunan atau hasil didikan orang tuanya.


Apa yang disampaiakn Adelia bisa jadi benar. Akan tetapi ini terlalu lemah untuk diperkarakan karena tidak memilki bukti.


***


Pengawalan pada Hendro yang terjadi secara tiba-tiba membenarkan dugaan Mira. Di sekitarnya ada beberapa pria yang berpikiran biasa tapo badan mereka terlihat kekar.


Orang-orang Ardan yang tengah mengawasi Hendro yang baru keluar dari gedung langsung membuat strategi. Hingga salah seorang pengawal Hendro menjauh dari tuannya.


Hal ini digunakan orang-orang Ardan untuk menyelinap. Tentu saja setelah melumpuhkan lebih dulu salah satu pengawal tadi.


Adri pria muda pilihan yang melaksanakan aksi itu.

__ADS_1


Hendro menatap pengawalnya yang tiba-tiba memakai masker. Ketiga pengawal tadi ikut pansaran.


"Maaf, Pak. Hidung saya agak sensitif setelah barusan dari toilet." Beruntung Hendro tidak banyak bertanya.


Mereka masuk ke dalam mobil dan pulang.


Diam-diam Andri mengamati rumah milik Hendro. Dia harus mencari celah lain untuk melarikan diri saat ia tak sanggup melawan nanti.


Setelah tuannya turun, dia pura-pura ingin ke kamar mandi lagi. Dia menyelinap masuk ke dalam rumah besar Hendro sampai ia mendengar percakapan suami istri tentang seorang bayi.


Dia langsung mengirim pesan pada rekannya yang lain. Sekarang dia harus mencari tahu dimana bayi itu berada. Dia mendekati salah seorang pelayan yang wajahnya masih lugu. Sepertinya ia pelayan baru karena geraknya kaku tidak seperti pelayan yang lain.


Bermodal raya gombal ala-ala buaya darat, ia berhasil menggaet gadis itu. Jahat sih tapi ink dalam tahap misi penyelamatan.


"Kamu masih baru di sini? Soalnya kau baru lihat kamu."


Ya jelas baru lihat orang dia bukan bagian dari orang-orang Hendro.


"Iya," jawab gadis itu malu-malu.


"Belum punya pacar?"


Gadis itu menggelengkan kepala. "Kamu cantik, melihatmu membuat jantungku deg-degan. Andai aku bukan pekerja, aku pasti mencilikmu dari sini," kekeh Andri.


"Hey ngapain kamu di situ?" teriak seorang pelayan yang lain. "Beli popok sana. Aku gak bisa ke luar masih ada pekerjaan."


Kesempatan itu diuganakan Andri untuk mengorek informasi lebih dengan menawarkan diri untuk menemani.


Andri juga memberi kode pada teman-temannya yang sudah berada di sekitar rumah Hendro.


"Aku pekerja baru, maaf ya kalau banyak tanya," kata Andri pada gadis muda yang bernama Nia.


"Aku juga baru, kok. Baru sekitar tiga bulan."


"Oh ya? berarti pas kalau aku tanya soal Pak Hendro sama kamu."


Nia mnegerutkan kening.


"Em maksudku biar aku kerjanya gak membuat dia kecewa. Sedikit banyak kamu pasti sudah mengenal bagai mana pak Hendro kan?"


Nia yang tidak pernah dekat dengan pria lain sebkeimnya menjadi merasa nyaman bierhincang dengan Andri. Sepanjang jalan yang mereka lalui akhirnya Andri menemukan aoa yang ia cari. Gadis bernama Nia keceplosan saat mengatakan Hendro telah menculik seorang bayi.

__ADS_1


Kabar itu langsung sampai pada teman-temannya juga pada Ardan yang telah membayarnya.


"Bawa cucuku sekarang juga!"


__ADS_2