
Fahmi mengikuti langkah perempuan yang mirip Nafa hingga yang diikuti musik ke dalam mobil. Tidak salah lagi itu adalah Nafa. Berati dia sudah di bebaskan tapi kenapa tidak menemui Dion atau Gama. Tidak mungkin kalau istrinya Handoko tidak memberi tahu cucunya tinggal di rumahnya.
Dari langkah dan sikap tenang yang Fahmi lihat, sepertinya perempuan itu memang tidak mempedulikan semuanya.
"Dok ada titipan untuk dokter," seorang satpam menghampiri dan menyerahkan sebuah bingkisan kepada Fahmi.
"Terima kasih." Fahmi menerima bingkisan itu.
Diletakannya bingkisan tersebut di atas meja ruangan kerja tanpa berniat mencari tahu isi dan pengirimnya. Kalau tidak salah menebak, kiriman ini dari perempuan yang dia lihat beberapa menit yang lalu.
Sebelum kembali ke rumah, Fahmi menyempatkan mampir ke tempat tinggal Dion. Sudah dua kali dia menekan bel tapi pintu di hadapannya masih saja tertutup rapat.
Berkali-kali mengulangi menekan bel sekaligus menghubungi nomor Dion tapi pintu enggan terbuka sendiri.
Fahmi menemui pihak pengelola apatemen untuk meminta kunci cadangan. Dengan mengutarakan alasan pemilik unit apartemen yang dituju sedang sakit dan takut terjadi apa-apa akhirnya Fahmi mendapatkan kunci.
Ditemani oleh salah satu petugas Fahmi membuka pintu unit milik Dion. Ternyata yang dituju tengah terlelap di atas sofa bed. Masih menggenakan pakaian yang sama saat dia lihat di rumah sakit.
Efek obat memang membuat Dion terlelap tanpa terganggu apa pun. Seandainya ada guncangan entah dia akan bangun atau malah sebaliknya.
Gegas dia cek keadaan sang adik, batulah dia bernafas lega kerena tidak terjadi seperti yang dikhawatirkan. Dia melirik jam tangannya. Tadi dia menghubungi Dion sekitar pukul 13:15 dan Dion bilang baru akan minum obat. Sekarang sudah hampir maghrib tapi sang adik masih terlelap.
Fahmi membangunkan adiknya dengan sedikit menggucangkan tubuhnya. "Dion sebentar lagi adzan ayo bangun, Dion!"
Namun yang trjadi Dion masih menutup kuping dsn juva mata yang rapat.
"Dia tidak apa-apa, Pak. Perlu kami panggilkan petugas kesehatan?" tanya petugas yang menemani.
"Jangan dulu, boleh minta tolong ambilkan air?"
Tak lama petugas kembali dengan air yang diambil dari kran.
Byuurrrrrrr, Dion disiram air oleh kakaknya sendiri.
"Astaga," pekik Dion namun setelahnya dia memegangi kepala. Menatap memelas pada kakaknya. "Enggak pak air juga kali, Mas."
"Maaf, Ku pikir nyawa dan raga sudah terpisah," ucap Fahmi datar tapi mengundang tawa bagi petugas yang masih di sana. "Lagian udah mau magrib tapi masih tidur. Gak baik tidur selepas ashar."
***
Pulang dari apartemen Dion, Gina langsung pulang ke rumah. Istirahat, dan saat sore baru ke luar untuk jalan-jalan. Hanya sekedar cari angin atau hiburan. Sekarang dia tidak punya teman lagi. Mira sibuk dengan keluarga dan Emma belum pernah meminta maaf atau merasa bersalah atas kejadian beberapa bulan lalu.
Dia duduk di taman kota, menikamati keindahan senja yang tidak terlihat di beberapa hari yang lalu karrba digantikan hujan. Semilir angin menerpa tubuh mungil yanh dibalut jaket.
Anak kecil yang berlarian membuat pikiran dia mengawang jauh. membayang kan memiliki anak banyak dan dia akan kerepotan akan hal itu.
Namun ada yang menyebalkan dari bayangan itu. Tiba-tiba Dion muncul dalam bayangan dengan senyum khasnya.
"Please lah, Gin, jangan error," gumamnya pelan.
Saat adzan maghrib berkumandang dia ikut berjamaah di masjid raya kemudian pulang. Sampai di rumah dia harus mendapati tatapan tajam dan dingin dari abangnya.
"Dari mana kamu?" tanya Gava. Terlihat santai tapi suaranya menakutkan.
"Dari taman."
__ADS_1
Gava tersenyum miring. "Kau pikir bisa mengelabui abang? Kamu bolos dari kantor. Menemani pria itu di rumah sakit, mengatarkan dia ke apartemennya dan baru pulang sekarang. Itu yang benar."
Gina mengangkat dagu, membalas tatapan dingin milik Gava.
"Tanya sama Bi Inah, kapan aku sampai di rumah. Lihat keranjang cucian aku. Atau abang cek cctv di gang depan rumah agar tahu kapan aku tiba di rumah. Biasanya abang lebih cerdik karena bekerja menggunakan akal. Lakukan itu juga lada adikmu ini, jangan memakai persaan agar tidak keliru."
Gina meninggalkan Gava yang masih berbicara dan meminta dirinya kembali.
"Abang belum selesai bicara, Gina, kembali dan duduk di sini. Gina!"
Ucapannya tidak ditanggapi sama sekali oleh Gina. Dia merebahkan tubuh di atas pembaringan, sambil menatap layar ponsel yang menampilkan foto dirinya, Ema dan Mira.
"Sekarang aku merasa sindiran. Em, aku pikir kamu adalah teman yang solid, tenyata cinta terhadap kakakku membuatmu lupa artinya cinta dari persahabatan."
"Mir, aku ingin sekali berbagi masalah yang aku rasakan sekarang. Tapi aku juga tahu repotnya kamu menjadi seorang ibu. Mungkin aku juga akan merasakan itu nanti."
Gina menoleh pada pintu yang di buka oleh Gava.
"Aku capek, aku mau istirahat. Kalau bang Gava masih mau ngomel biarkan aku istirahat dulu biar apa yang abang katakan bisa aku dengar dengan baik."
"Ck!" Gava menggelangkan kepala dan melipat tangan di dada. "Aku belum bilang apa-apa kamu udah nyerocos aja. Ada Ema di depan, temui gih!"
"Malas ah, capek." Gina berbalik badan dan memunggungi kakaknya.
Setelah pintu terdengar di tutup barulah dia kembali ke posisi semula. "Maaf, Em mungkin seperti ini akan lebih baik."
Gava kembali ke ruang tamu di mana ada Ema di sana.
"Gina lagi tidur. Aku sudah membangunkannya tapi kamu sebagai sahabatnya pahamkan kalu dia sudah tidur itu gimana," ujar Gava sambil mendaratkan bokongnya di dekat Ema.
Penyesalan pun tak berguna kalau tidak ada perbaikan. Dia menyesal telah membocorkan rahasia Gina meskipun itu pada abangnya.
Tak lama terdengar mobil memasuki garasi dan munculah kedua orang tuanya Gava dan Gina.
"Eh ada tamu," ujar mama Gina tersenyum ramah. Memeluk dan menyapa sahabat sekaligus kekasih anaknya. "Sehat, mama gimana?"
"Alhamdulillah, Tante, mama sehat. Om." Ema mengangguk menyapa ayah kekasihnya.
"Sudah lama? Maaf kami tidak tahu akan ada tamu," ujar papa Gina. "Om masuk dulu, harus bersih-bersih. Oh ya Gav, Gina sudah dikasih tahu ada Ema?"
"Sudah tapi dia lagi tidur." Gava terpaksa meneruskan bohong. Memang seperti kata pepatah, satu kali berbohong maka akan ada kebohongan-kebohongan yang lain.
"Kok tidur sih," protes mama Gina dan melangkah menuju kamar putrinya. "Gak baik tidur masih maghrib."
"Apa, mau marahin aku lagi?" sambar Gina saat mendengar pintu kamar di buka tanpa tahu siapa yang masuk.
"Jelas mama akan marahin kamu kalu bener kamu tidur di waktu maghrib."
"Mama?" Gina berbalik dan menutup mulut. Untung saja dia tidak main caci mengeluarkan kalimat yang menyebalkan. Bisa dirobek itu mulut oleh mamanya.
"Di depan ada Ema. Kamu tidak menemui dia?"
"Enggak ah, aku capek habis dimarahi bang Gava," jawab Gina acuh.
"Kalian itu sudah pada dewasa tapi masih aja sering ribut. Katakan apa masalah di antara kalian?"
__ADS_1
"Bang Gava nuduh aku pacaran sama suami orang. Padahal itu gak terbukti. Dia juga mengajar orang itu sampai orang itu demam tinggi. Aku menolong hanya karena rasa bersalah atas kelakuan Bang Gava. Coba deh mama bayangkan kalau mama dituduh melakukan hal yang sama sekali tidak mama lakukan. Gimana mama akan menanggapinya?"
Mama Gina menghela nafas, mengusap punggung sang anak dan mencoba memahami.
***
Dion gagal mengunjungi Nafa karena kemarin sudah terlalu malam untuk dia pergi. Bahkan hari ini tubuhnya masih merasa lemah.
"Ayolah Dion sekarang kamu bukan orang kaya seperti dulu. Masa kayak gini aja lemah," ujar Dion pada diri sendiri yang masih berbaring tak berdaya.
Ponsel di sebelah nakas berdering. Ada panggilan masuk dari Gina.
"Hallo?"
"Mas Dion masih sakit?" terdengar nada cemas diseberang sana.
"Sudah mendingan, nanti ketemu di kantor ya."
"Oke." Gina memutus panggilan kemudian mengisi absen dengan menempelkan didik jari.
Dia duduk di meja kerja dan menatap berkas yang harus dia kerjakan hari ini. Dia mulai mengerjakan satu persatu hingga tak memperhatikan lagi meja kerja Dion yang kosong.
"Gin makan siang." Salah satu rekan kerjanya menepuk Gina yang masih fokus pada data di layar komputer.
"Oh iya sebentar lagi." Dia menoleh dan tersenyum.
Saat bangkit dari duduknya barusan dia tidak melihat Dion di sana.
"Mbak Eva, Mas Dion gak masuk?"
"Enggak, Gin. Katanya masih sakit, kemarin kata dokter gimana?"
Eva menghampiri dan mengajak Gina untuk makan bareng di kantin. Namun Gina menolak. Kalau Dion tidak masuk dan masih sakit lalu bagaimana pria itu sarapan dan makan siang.
"Maaf, Mbak, aku ada janji makan siang sama teman. Makan siang barengnya gimana kalau besok aja."
"Besok ya?"
Gina mengangguk lalu mengambil tas miliknya. Apartemen Dion tidak terlalu jauh dari tempat kerja. Lima belas menit kemudian Gina sudah berdiri di depan pintu unit milik Dion.
"Loh ko di sini?" tanya Dion saat membuka pintu.
"Aku mau nganrer makan siang, Mas. Belum makan kan?"
Dion menggelengkan kepala dan mempersilahkan Gina masuk. Pintu dibiarkan terbuka agar tidak menimbulkan fitnah.
Dengan cekatan Gina menata makanan yang dia bawa. "Maaf aku izin makan siang di sini biar menghemat waktu ya."
"Gak papa. Padahal kamu gak perlu repot-repot memaksakan aku makan siang, Gin. Kamu juga pasti sibuk kan." Dion menerima sepiring makanan yang diberikan Gina.
Gina hanya mengedikkan bahu karena mulutnya sudah terlanjur diisi dengan makanan.
Di tempat lain, Gava menatap GPS milik adiknya yang tidak berada di tempat kerja. Dia mematikan layar dan beranjak dari tempat duduknya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu merubah sikap baik yang dimiliki adiku," gumam Gava dengan tangan terkepal kuat.
__ADS_1