Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Merindukan mereka


__ADS_3

Suami Umi Rohimah kaget saat melihat mobil Fahmi memasuki halaman parkir pondok. Dia langsung berdiri menyambut tamunya.


Fahmi turun dan mengucapkan salam. Menghampiri pria yang menjadi gurunya. "Maaf abah, saya datang malam-malam begini. Saya mencari Dek Mira, tadi siang pamit ke sini." Fahmi langsung mengatakan inti tujuannya.


"Tadi kata Umi Rohimah memang ke sini, tapi sekitar pukul lima dia pamit. Memangnya belum sampai ke rumah tah?"


"Belum, Bah. Saya khawatir karena ponselnya gak bisa dihubungi."


"Ya sudah mari masuk dulu. Kita bicara dulu di dalam."


"Maaf sekali, Bah. Saya harus menolak, saya harus mencari Dek Mira sebelum benar-benar malam. Doakan agar dia ditemukan dalam keadaan selamat."


Sudah beberapa tempat Fahmi kunjungi tapi dia tidak menemukan Mira. Mampir ke masih-masjid siapa tahu perempuan itu ada di sana seperti saat bertemu pertama kali.


"Gimana," tanya Fahmi pada sopir melalui sambungan telepon.


"Belum ketemu, Pak."


"Singgah ke setiap masjid siapa tahu dia di sana."


Sudah hampir jam jam delapan, Mira masih belum ketemu juga. Dia menghubungi Adelia, bisa jadi Mira sudah pulang ke rumah.


Sebuah pesan masuk ke nomor Fahmi. Pesan yang mengirimkan titik koordinat. Bisa jadi itu titik keberadaan Mira. Dia langsung membuka maps. Melesakan mobilnya mengikuti petunjuk arah dari aplikasi tersebut.


***


Dion kembali ke dalam kamar, mengambil ponselnya. Mengambil kunci mobil dan mengambil jaket. Bukan untuk membawa Mira pulang, tapi untuk menyingkirkan Mira. Ini kesempatan langka untuknya. Mengingat tidak mungkin menghabisi Mira di dalam rumah kakaknya.


Adelia sudah menuduhnya, dan hampir membuat kekacauan dirinya dengan sang istri. Maka sekalian hilangkan saja Mira, itu lebih baik.


Melihat sang istri yang sudah berbaring dan memejamkan mata, Dion memilih langsung pergi tanpa berpamitan. Tanpa dia tahu saat pintu tertutup istrinya langsung menghubungi seseorang. "Ikuti, apa yang dia lakukan tanpa sepengetahuanku."


Dion Memacu mobilnya ke rumah lama Mira. Dugaannya Mira pulang ke rumah orang tuanya. Ia yakin bisa menemukan Mira di sana.

__ADS_1


***


Mira menatap rumah yang dulu pernah menjadi tepat paling hangat sekaligus pencipta luka untuknya. Taman yang dulu tertata rapih kini jauh berbeda. Lampu dalam rumah tampak gelap, hanya lampu luar yang menyala.


Mira mengusap perutnya, "Nak, dulu ibu tumbuh di rumah ini. Rumah yang paling hangat yang ibu rasakan. Kakek dan nenekmu pernah membesarkan ibu dengan limpahan kasih sayang. Memberikan apa yang ibu mau, menemani ibu belajar. Ibu selalu dibuat tersenyum oleh mereka. Sampai akhirnya badai itu mengahantam kami berkali-kali."


"Ibu pikir ibu akan kuat bersama mereka. Ibu berusaha mencari pegangan agar tetap bersama mereka. Tetapi yang ibu lakukan adalah kasalahan sehingga kami benar-benar terpisah. Ibu merindukan mereka."


Kembali teringat pertemuannya dengan Dina di pusat perbelanjaan waktu itu. Pertemuan yang menyakitkan bagi Mira.


"Mama dan papa-mu sudah berpisah sejak kamu menjnggalkan rumah Mira. Adikmu kembali ke pondok dan papa-mu entah di mana."


"Pisah?" Mira menatap tak percaya.


"Iya, rumah tangga kita tidak bisa diperbaiki lagi. Jangan salahkan mama Mira, karena mama tidak kuat harus hidup dengannya. Dia terlalu banyak menuntut, mama capek, mama bekerja dan mama harus melayani dia. Kamu paham kan maksud mama."


Mira membuang nafas kasar, "Lalu bayi itu?" Mira menatap bayi laki-laki yang terlelap di satrollernya.


"Bayi mama?" tanya Mira dengan perasaan yang kian sesak. "Bersama papa atau laki-laki tadi? Iya bayi, Mama?" desak Mira.


Dina menghela nafas dan mengangguk. "Iya dia bayi mama."


Hancur sudah perasaan Mira. Tidak menyangka jika tuduhan papanya terhadap Dina itu benar. Mira tersenyum di balik air mata yang berderai.


"Jangan salahkan mama, Mira. Papa-mu juga belum tentu tidak melakukan hal yang sama. Temui dia dan tanyakan padanya agar kamu tidak hanya membenci mama."


"Ya," jawab Mira dengan hati yang pilu.


Mira mengusap sudut matanya kala mengingat pertemuan itu. Hari ini dia datangi kembali rumah ini, selain karena rindu dia juga ingin bertemu dengan Wisnu Ardan-papanya.


***


Satu belokan lagi Dion tiba di rumah Mira. Namun dia menyadari kalau mobilnya diikuti. Itu pasti orang suruhan Nafa. Sial. Dia memelankan mobilnya dan berpura-pura menanayakan alamat.

__ADS_1


Namun disaat yang sama mobil Fahmi melintas dan berhenti di depan rumah Mira. Dion melihatnya sehingga ia tak melakukan mobilnya. Hanya mengamati dari dalam mobil yang gelap.


Fahmi sendiri langsung turun dari mobil dan menghampiri Mira. "Dek, Ya Allah kamu di sini rupanya."


Mira menoleh, "Dok?"


"Ayo bangun!" Fahmi membantu Mira untuk berdiri. "Lain kali kalau pergi dan pulangnya akan telat jangan lupa hubungi saya." Ingin mengomeli tapi bukan waktu yang tepat. Apalagi melihat mata perempuan itu yang sembab.


Mira tidak menjawab, dia hanya menuruti perintah Fahmi agar segera masuk ke dalam mobil. Sekali lagi Mira menoleh pada pintu rumah, berharap Ardan muncul di sana, merentangkan tangan dan memeluknya seperti saat ia masih kelas satu SD.


"Ini minum dulu!" Fahmi menyodorkan air mineral yang masih segel untuk Mira. "Kenapa pergi ke sini gak bilang saya, Dek?" Fahmi tak bisa menyembunyikan rasa khawatrinya.


"Saya hanya ingin bertemu mereka, Dok. Ingin meminta maaf," lirih Mira.


"Lain kali ya, ini sudah malam dan kamu harus istirahat." Fahmi tahu tahu saat ini mental Mira sedang tidak baik-baik saja. Tadi saat dia menghubungi pondok dan bicara dengan Umi Rohimah, perempuan itu mengatakan Mira datang dan menangis. Ini pasti efek tadi siang di kebun bintang. "Pulang sekarang, ya?"


Mira mengangguk, tubuhnya terasa lemas setelah beberapa jam hanya menunggu di depan rumah orang tuanya.


Setelah memastikan Mira duduk dengan nyaman, Fahmi melesakan mobilnya ke arah pulang.


Saking lelahnya dengan apa yang dialami hari ini, belum setengah perjalanan Mira sudah tertidur pulas. Fahmi menoleh dan tersenyum. Beruntung ada pesan masuk yang mengirim titik keberadaan Mira, kalau tidak mungkin sampai malam ia hanya akan berputar-putar saja mencari Mira.


Wajah cemas Adelia menanti di depan pintu saat mendengar deru mobil yang masuk. Bersyukur saat Fahmi pulang membawa Mira.


"Kak Mira." Adel langsung ememluk tubuh yang terlihat lemas itu. "Jangan seperti ini lagi ya, aku khawatir sekali."


"Makasih, Dek." Hanya itu yang keluar dari bibir Mira.


Adelia langsung membantu Mira ke dalam kamar. Menyiapkan pakaian tidur dan membantunya ke kamar mandi. Setelah keluar ia membantu Mira berbaring dan membuatnya nyaman.


Sementara Fahmi meminta pekerja menyiapkan makanan untuk Mira.


"Bang Ion gak ngapa-ngapain, Kak Mira 'kan?"

__ADS_1


__ADS_2