
Hei ******!," teriak Silvi memanggil Mira. "Kamu kira kamu pantas jadi istri seorang Fahmi. Kamu sama dia beda kelas. Kamu bahkan melahirkan tanpa memilki suami." Silvi memandang sinis pada Mira.
"Lalu siapa yang lebih pantas?" balas Mira. "Mbak Silvi? apa bisa disebut pantas dengan kelakuan seperti ini?"
"Kamu tidak perlu mengajariku. Aku lebih tahi tentang itu."
"Kalau begitu tunjukkan. Mbak sedang bertamu loh. Apa tujuan mbak Silvi menemui suami saya? Silahkan kalau ingin bicara tapi dengan cara yang baik. Mohon tidak membuat keributan." Mira bicara tenang sekali, mungkin karena ada Fahmi sebagai kekuatan untuk dirinya.
Fahmi tersenyum dengan sikap tegas Mira. Ternyata tidak hanya orang berpendidikan yang memilki sopan santun.
"Mas bisa meluangkan waktu sebentar untuk bicara dengan mbak Silvi?" Mira menoleh pada suaminya.
Fahmi setuju.
Silvi menatap tidak suka saat Fahmi meminta Mira agar ikut duduk.
"Duduk sebentar ya."
Tidak mungkin Mira tidak menuruti permintaan suami di depan orang lain. Bisa jatuh harga diri seorang suami. Mira mengangguk dan duduk di sebelahnya.
"Silahkan katakan apa yang ingin kamu katakan, Silvi." Fahmi berbicara tegas. Ia harus menegaskan bahwa Silvi tidak bisa bersikap seenaknya.
"Fahmi, aku sudah bercerai berarti aku bisa kan kembali padamu?"
Mira menunduk, ia takut mendengar jawaban Fahmi.
"Maaf Sil, aku tidak bisa. Sekarang aku sudah memiliki istri. Mana mungkin aku menikah lagi." Fahmi menggenggam tangan Mira. Meyakinkan istrinya bahwa hanya tidak akan ada perempuan main dalam kebidyoan mereka.
"Bisa Fahmi, kamu bisa memiliki dua istri sekaligus. Aku tidak masalah jadi istri ke dua."
"Tidak. Sekali tidak maka tidak. Kamu mengerti kan maksudku. Aku tidak akan menerima wanita lain selain istriku."
"Fahmi ...." Silvi memelas.
Fahmi bangkit dan meninggalkan istri serta mantan istrinya.
"Aku tidak akan melepaskan milikku lagi. Aku akan kembali untuk mengabilnya." Silvi pergi dengan perasaan dongkol.
Selain dipermalukan oleh Fahmi ia juga merasa Mira telah mempermalukan dirinya dengan bersikap tenang. Dia memukul kemudi dan berlalu. "Sia-sia aku menunggu kalau ternyata tidak mandapatkan apa-apa."
Fahmi menunggu istrinya di dalam kamar sedangkan yang ditunggu tidak kunjung datang.
Ia penasaran kenapa istrinya tidak menyusul ternyata istrinya tengah menemani Syafa belajar menggambar.
"Loh katanya mau mandi?" tanya Mira saat sang suami ikut duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Maunya mandi bareng," bisik Fahmi.
Syafa yang beri sadar bahwa ayahnya mendekat langsung berpisah posisi duduk. Ia duduk di antara ayah dan ibunya.
"Ibu lihat gambarnya bagus."
"Waaahhh iya bagus sekali. Hebat kakak." Mira mengacungkan dua jempol sambil mencium dengan penuh kasih sayang.
"Ini ibu, ini aku ini adek Syifa." Jari-jari mungil itu menunjuk setiap gambar yang mirip orang-orangan sawah.
"Ayah mana?" tanya Fahmi.
"Aku umpetin biar ayah tidak menganggu aku sama bunda lagi."
"Ya sudah kalau gitu ayah main sama adek Syifa saja."
"Adek Syifa kan belum bisa di ajak main ayah."
Ah anaknya terlalu pintar memang.
***
Malam hari Mira duduk di dekat jendela. Menatap tetes hujan yang membuat tanaman kembali segar.
"Lagi mikirin apa, Sayang?" Fahmi ikut duduk di sebelah Mira.
"Sepertinya bisa karena besok aku masuk siang. Memangnya kenapa tidak kamu saja?" Sebenarnya Fahmi sudah bisa membaca kenapa sang istri meminta dirinya. Tetapi Fahmi ingin Mira bercerita dan merasa nyaman dengan kehadiran dirinya.
Tatapan mereka beradu dan Mira menimbulkan senyum terbaik. "Aku takut membuat kamu malu. Wali siswa yang lain hanya mengenal aku sebagai pengasih Syafa. Mereka akan bertanya-tanya kalau aku yang datang. Lebih parahnya aku takut mereka menggunjing kamu karena menikahi perempuan seperti aku."
Fahmi meraup wajah sang istri. "Aku tidak peduli jika mereka menggungjingku, asal jangan menggunjing kamu. Kamu pilihanku, jadi apa pun yang mereka katakan tidak akan mempengaruhi perasaanku padamu. Besok kita akan datang bersama."
Besoknya Fahmi menggandeng sang istri memasuki tempat sekolah Syafa. Tatapan heran dari orang-orang tidak Fahmi pedulikan. Berbeda dengan Mira yang lebih banyak menundukan wajah.
"Tegakkan kepalamu, Sayang. Tatap mereka dengan berani," bisik Fahmi.
Beberapa orang yang kepo dengan kehidupan dokter tampan itu mendekat. Berdusta dengan menyapa padahal ingin mengirek informasi sekedar untuk menjawab rasa penasaran.
"Dokter Fahmi sehat? Wah bawa gandengan ya sekarang." Ibu itu menatap Mira sebentar kemudian kembali fokus pada Fahmi.
"Iya. Sekalian mau ngajak istri jalan-jalan, Bu."
"Ooohh beneran istri dokter Fani ternyata," bisik ibu-ibu yang kemarin menggunjing Mira. Posisi mereka tidak jauh dari keberadaan Fahmi dan Mira.
"Kayaknya dokter Fahmi kena pelet deh."
__ADS_1
"Hooh sih kayaknya."
Tidak semua wali siswa penasaran dengan dokter Fahmi. Di antara mereka masih ada yang menyapa dengan tulus.
"Jangan dengarkan mereka. Cukup dengarkan aku aja."
Dari ruang kelas seorang anak berteriak memanggil guru mereka. "Miss, Syafa bertengkar! Miss tolong."
Mendengar nama Syafa disebut, Fahmi dan Mira menuju kelas anak tadi.
Di sana terlihat dua anak perempuan tengah disapih oleh gurunya. Salah satunya adalah Syafa yang berdiri dan menatap tajam, wajhanya yang putih tampak bersemu merah menandakan anak itu tengah marah ditambah dada yang terlihat naik turun.
"Syafa," Fahmi menghampiri putrinya yang langsung merangsek ke dalam pelukan. "Ada apa, Miss?" tanya Fahmi.
"Orang tua kedua siswa mari ikut saya ke kantor. Yang lain silahkan menuju tempat acara.
Guru Syafa mengatakan bahwa ini hanya permadlaahn kecil antara kedua anak-anak. Fahmi bersama orang tua siswa yang bertengkar dengan Syafa sepakat untuk damai. Anak-anak diminta untuk saling memaafkan.
Sampai acara bubar dan mereka dalam perjalanan pulang, Syafa tidak banyak bicara. Rupanya amarah belum sirna dalam dirinya.
Mira mengusap rambut sang anak dan anakanya hanya menoleh.
"Kata miss, nilai kakak bagus. Jadi Ibu mau memberi reward sama kakak."
Syafa mengangguk, sedangkan ayahnya fokus mengemudi.
"Kakak mau cerita gak sama ibu?"
Syafa menggelengkan kepala.
"Hari ini kakak bebas meminta apa pun pada ibu. Iya kan ayah?" Mira meminta persetujuan dari suaminya. Fahmi mengangguk.
"Beneran?" Syafa akhirnya mau bicara.
"Ya, silahkan minta apa pun pada ibu hari ini. Semoga ibu bisa mengabulkannya."
"Aku mau makan ayam goreng yang ada kriuknya boleh? Ayah biasanya melarang aku memakan makanan itu."
"Boleh kan ayah?" Mira mengedipkan mata dan Fahmi setuju tentu saja harus ada imbalan yang Mira bayar.
"Yeeeeyyh makan ayam goreeeeeeng." Akhirnya anak itu kembali ceria. Ia bahkan bercerita kenapa tadi ia sampai marah dan mendorong teman sekelasnya. "Tadi aku kesal sama Bian. Dia bilang aku gak punya ibu. Padahal aku kan punya ibu. Iya kan ayah? Mereka juga bilang katanya kalau kak Mira itu bukan ibuku. Aku jadi kesal makanya aku dorong dia."
Ini yang selalu Mira takutkan. Hal-hal kecil efek maslalunya akan merambat kemana-mana.
Fahmi yang menyadari diamnya sang istri, langsung meraih jemarinya. Ia rajin dan ia kecup "semua akan baik-baik saja." Ah Fahmi memang paling bisa memahami perasaan Mira.
__ADS_1
"