Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Ardan dan Silvi


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak langsung memberitahunya. Papa yakin dia sakit sekarang karena dia over thingking. Dia pasti berpikir yang tidak-tidak tentang kamu," ujar Ardan.


"Seharusnya kita mencurigai Silvi dari awal, mengingat perempuan itu pernah datang ke rumah. Tapi aku tidak kepikiran sama sekali. Jadi alasan aku belum memberi tahu Mira karena kau takut dia berpikir aku melindungi mantan istriku sendiri."


Ardan mengerti dengan kekhawatiran menantunya. Namun justru dengan Fahmi tidak memberi tahu malah menimbulkan masalah lain.


"Perlu papa membicarakan ini dengan Mira?"


"Jangan, Pa, biar aku saja."


"Ok, perempuan itu biar jadi urusan papa. Sekarang kamu perbaiki komunikasi dengan Mira. Sungguh sikap kalian tidak enak dipandang."


Fahmi tertawa dan membenarkan ucapan mertuanya.


Sebelum kembali pada pekerjaan masing-masing, kedua pria yang mencintai satu orsng yang sama itu menghampiri Mira.


"Kamu tidak apa-apa kalau papa tinggal?"


"Papa memperlakukan aku sepeti anak kecil. Papa lupa kalau aku sudah punya anak sepertinya," kekeh Mira. Ia mencoba mencairkan suasana.


Ardan dan Fahmi ikut tertawa.


"Kalau saja papa tidak ingat kamu sudah memiliki suami mungkin papa akan membawakan jajanan kesalahan kamu saat kecil. Ya tapi papa tidak ingin ditertawakan oleh suami mu dan menganggap papa tidak ridho anaknya menikah."


Suasana mai sedikit mencair. Tidak ada lagi ketegangang antara Fahmi dengan istrinya. Bahkan Mira tidak menepis saat suaminya mencium dan memeluk.


"Pasti papa ingin seperti ini juga," goda Fahmi. "Gak ada niat nikah lagi, Pa?"


Ardan menghela nafas. "Sepertinya perempuan akan memilih orang-orang sepeti kamu ketimbang aku." Ardan membalas ucapan menantunya.


Setelah berbincang sebenarnya Ardan langsung pamit. Sedangkan Fahmi masih di sana.


"Sayang, aku mau cerita sesuatu tapi takut membuatmu tidak nyaman," kata Fahmi.


"Aku lebih tidak nyaman saat kamu menutupi apa yang terjadi dari aku. Aku akan merasa berharga saat kamu menganggap keberadaanku. Kata orang jangan membuat istri pusing dengan melibatkan ia dalam masalah yang dihadapi suami tapi itu tidak berlaku untukku. Aku ingin kamu terbuka meskipun mu yakin aku tidak akan berkontribusi dalam penyelesaian. Tapi setidaknya aku tahu aku harus bersikap apa. Mendukungmu, menjadi teman setia yang mendengarkan keluh kesahmu."

__ADS_1


Fahmi menangkup wajah sang istri dan mengangguk. "Aku tidak akan lagi melakukan hal yang sama sepeti kemarin. Aku akan bercerita nanti siang. Sekarang aku harus masuk kerja. Tunggu aku ya!" Sekali lagi Fahmi memberi kecupan pada istrinya


Mira menahan tangan suaminya, "aku bisa pulang ke rumah kan?"


"Tunggu kata dokter yang menangani kamu ya."


"Tapi gimana dengan Syifa? Dia pasti rewel dan merepotkan orang-orang di rumah."


"Kata Adelia Syifa aman kok. Yang penting kan ASI sudah sampai di rumah. Sekarang istirahat ya, nanti aku kembali lagi."


***


Silvi berteriak senang saat mendapat pesan dari orang yang mengaku Fahmi. Ia langsung mencari pakaian yang menurutnya cocok dan akan menarik perhatian Fahmi.


Sebagian isi lemari pakianaanya sudah keluar tapi dia merasa tidak ada yang pakaian yang cocok untuk ia kenak saat bertemu Fahmi. Jalan aternatif yang ia pilih adalah belanja lebih dulu.


Setelah muter-muter dan keluar masuk toko akhirnya ia menemukan yang cocok. Ia segera pulang dan bersiap untuk makan malam seperti yang tertulis di dalam pesan.


Ia sudah merias wajah secantik mungkin. Yang ada dalam pikirannya malam ini dia harus tampil cantik karena kesempatan seperti ini sangat langka. Ia sangat tahu betul sikap mantan suaminya.


Seorang pria muncul di kamar Silvi. "Mau kemana kamu?" tanya pria itu.


"Mimpi. Kamu terlalu banyak tidur sehingga tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana yang nyata. Fahmi hanya impian dan obsesimu. Sedangkan aku adalah pria nyata yang mencintai kamu."


Silvi mengibaskan tangan, "kata-katamu tidak akan merubah keputusanku. Saat Fahmi kembali menerima ku maka status kita bukan lagi suami istri. Silahkan kamu cari perempuan yang mau menerima kamu."


"Kita lihat saja nanti," kata pria itu sambil berlalu.


Silvi berbalik dan menahan langkah pria yang masih berstatus sebagai suaminya. "Jangan lakukan apa pun untuk mengacaukan aku. Sekali aku ingin Fahmi maka akan tetap Fahmi. Ingat itu."


Suaminya hanya tersenyum santai, "bermimpilah sampai mimpimu membaut kamu gila." Bahkan pria itu tertawa setelah mengatakan kalimat itu.


Malam sudah tiba. Silvi tidak sabar untuk segera bertemu pujaan hatinya. Ia cek kembali penampilannya. Pokonya dia harus sempurna untuk Fahmi malam ini.


Sebuah tempat telah di kirim oleh orang yang mengaku Fahmi.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu Silvi tiba di tempat yang sessuai dengan yang di kirim.


"Reservasi atas nama dr. Fahmi," kata Silvi pada pelayan.


"Mari ikut saya!" Pelayan itu berjalan lebih dulu sebagai petunjuk arah.


Suasana tempat yang sesuatu dengan selera Fahmi membuat Silvi semakin yakin. Saat tiba di tempat yang ditunjukan pelayan Silvi tersenyum.


Seorang pria dengan potongan rambut persis seperti fahmi tengah duduk membelakangi. Aroma parfumnya masih sama dengan yang sering ia belikan dulu.


"Aku kangen banget Fahmi," kata Silvi sambil memeluk pria iti dari belakang.


"Aku juga merindukan kamu."


Nada suara yang berbeda membuat Silvi memutar kursi. Seketika Silvi membelalakan mata saat menyadari pria yang tangah ia peluk bukanlah Fahmi. Melainkan Ardan.


"Kagen?" tanya Ardan mencekal tangan Silvi agar perempuan itu tidak pergi. "Duduklah!"


Wajah menahan amarah terlihat jelas di kulit putih milik Silvi. Ia duduk sambil melipat tangan di dada.


"Kenapa anda mengaku sebagai Fahmi untuk menemuiku?" tanya Silvi.


"Memangnya kalau aku mengaku sebagai ayah Mira kamu akan datang ke sini? Aku rasa tidak. Silahkan nimamti hidangan yang tersaji."


Sajian makanan yang sebelumya begitu menggugah selera kini jadi tidak menarik bagi seorang Silvi.


"Tidak perlu repot-repot. Sekarang katakan kenapa anda ingin bertemu dengan saya."


Ardan menyesap minumannya sebelum menjawab pertanyaan Silvi. "Karena aku ingin makan malam dengan perempuan cantik."


Silvi memasang senyum mengejek. "Sepertinya itu bukan alasan anda."


"Ya kamu benar. Aku mengajak kamu bertemu sebagai seorang ayah yang ingin melindungi rumah tangga anaknya. Berhenti menganggu maka hidupmu akan aman."


"Tindakan anda yang sepeti ini bisa saya laporkan sebagai perilaku yang tidak menyenangkan, Pak Ardan. Apa anda tidak takut?"

__ADS_1


Ardan tersenyum lalu merogoh saku dan menunjukan bukti percakapan Silvi dengan orang yang sudah ditangkap polisi. "Aku yakin anda terkejut dan akan menyangkal, tapi anda tidak akan lepas begitu saja dari saya."


Tak lama suami Silvi datang dan bergabung. "Gimana?" tanya pria itu pada Silvi dengan senyum yang mengejek.


__ADS_2