
Fahmi menjatuhkan tubuh di samping sang istri yang sedang menyusui. Mira menoleh untuk menyapa suami yang baru pulang. Namun ada hal yang membuat Mira ingin tertawa yaitu suminya yang mendusel pada kakinya persis kucing yang ingin di elus. Kemudian bangun dan memijat kaki Mira.
Saking enaknya Mira sampai memejamkan mata.
"Eh malah ditinggal tidur. Sayang ....?
"Hmmm." Mira gak benar-benar tidur. Gak papakan sesekali ia mengerjai suami.
"Kok tidur sih, kan aku baru pulang. Sayang ...."
Mira masih abai tapi dia tidak kuat menahan tawa. "Eh rupanya aku dikerjai." Fahmi menggelitik sang istri.
Usai bermain-main Fahmi mandi dan Mira menyiapkan pakaiannya. Mira juga megambilkan makanan untuk suaminya. Tadi sempat mendengar perut suami berdendang.
"Padahal gak perlu repot-repot sayang. Nanti aku bisa ambil sendiri," kata Fahmi yang sudah rapi memakai pakaian yang disediakan Mira. Ah suami memang selalu tampan di mata istri.
"Masa perut suaminya berbunyi aku gak perhatian. Malu kalau kamu selalu memanjakan aku sedangkan aku jarang sekali."
"Kalau gitu kita makan bersama. Oh ya anak-anak kemana kok aku melihat mereka?"
"Diajak jalan-jalan sama papa. Kata papa kasihan masa libur sekolah hanya di rumah. Tadi aku mau telepon tapi ponsel kamu gak aktif." Kebetulan Ardit juga ikut dan diizinkan pulang oleh pihak pondok.
"Oh halah iya, astaga aku sampai lupa kalau mereka pasti mau jalan-jalan. Tapi gimana ya soalnya aku udah ambil cuti banyak sekali."
"Gak papa kok kan ada papa. Setidaknya mereka merasakan jalan-jalan. Ini di makan dulu."
Mira menemani suaminya sarapan karena Fahmi baru pulang dari piket malam. Mira yang sudah sarapan lebih dulu harus kembali makan sebagai bentuk menghargai suapana dari suaminya.
"Mas aku gak kuat lagi. Kenyang udah kenyang," menolak suapan yang kembali diangsurkan oleh suami.
"Ya sudah aku saja,"
Hampir seharian mereka menghabiskan waktu di kamar. Mumpung anak-anak tidak ada jadi Fahmi bebas menguasai istri dan tidak akan terganggu.
Fahmi merebahkan kepala pada pangkuan sang istri. Ia sangat senang ketika rambutnya dimainkan oleh Mira. Dielus dan di usap penuh kasih sayang.
"Dek."
"Hmm?"
__ADS_1
"Kamu bahagia gak nikah sama aku?"
"Kenapa emang. Kalau misal aku bilang gak bahagia mas mau apa. Mau menceraikan aku?"
"Itu tidak akan pernah terjadi. Aku ingin kamu selamanya tapi aku takut kamu gak bahagia. Kamu gak pernah meminta ini dan itu. Kamu gak pernah protes banyak hal sama aku. Satu lagi kamu juga gak pernah bilang cinta sama aku. Aku kepikiran itu terus loh."
"Apa bakti yang aku tunjukan kurang mas?"
"Bukan, bukan kurang tapi aku takut kamu merasa terpaksa. Aku sangat takut kamu tersiksa dengan pernikahan ini. Aku terlalu memaksa sebelumnya."
Mira membungkuk dan mendaratkan kecupan di kening dan bibir suaminya.
"Nakal," kekeh Fahmi.
"Kan mas maunya gitu."
Fahmi bangun dan duduk menghadap sang istri. Merentangkan tangan meminta istrinya masuk ke dalam pelukan.
"Katakan apa yang kamu mau dari aku!" Sebelah tangan digunakan untuk mengelus rambut Mira dan sebelahnya lagi tetap mendekap.
Mira menatap wajah suami yang begitu dekat dan tersenyum. "Aku mau kamu," ucap Mira malu-malu.
"Aku senang Mira yang ekspresif."
"Jangan menatap seperti itu. Aku malu." Mira menggunakan kedua tangan untuk menutupi rasa malu lalu disingkirkan oleh suami.
Adegan selanjutnya tentu adegan yang menyenangkan. Beberapa menit mereka lewati dengan aksi perjuangan bersama menggapai puncak. Sofa kamar menjadi saksi perjuangan mereka.
"Jalan-jalan yuk," ajak Fahmi saat mereka sudah sama-sama membersihkan diri dan kembali memakai pakaian.
"Kemana? Kalau anak-anak pulang dan kita gak ada gimana?"
"Kan ada mbak Santi ada Adelia juga. Ayolah sesekali kamu menyenangkan diri sendiri."
Dengan membawa Syifa turut serta, Mira diajak ke tempat spa, salon dan klinik kecantikan. Fahmi dengan sabar menjaga Syifa untuk menyenangkan istrinya. Saat rewel ia akan menimang dan memberikan susu yang sudah disiapkan oleh istrinya.
Beberapa pengunjung yang melihat Fahmi saling berbisik. Katanya hot daddy.
"Cantiknya," puji Fahmi saat istrinya baru saja keluar dari tempat perawatan. "Jadi mau lagi," bisik Fahmi.
__ADS_1
Refleks Mira mendorong tubuh suaminya. "Jangan aneh-aneh ini tempat umum."
Usai dari ketiga tempat tersebut, Mira diajak ke surganya gamis. Di sana dia di bebas memilih pakaian yang Mira mau.
"Ambil yang kamu mau dan jangan lihat harga." Wow siapa yang tidak ingin memiliki suami seperti Fahmi. Akan tetapi Mira hanya mengambil tiga katanya sayang uangnya kalau terlalu boros.
"Gak mau ambil yang lain?" Fahmi masih menawarkan.
"Enggak ah udah cukup. Kan di rumah juga masih banyak yang kamu belikan tapi belum aku pakai. Kasihan nanti gak muat di lemari."
"Ternyata bisa bercanda juga," kata Fahmi sambil menjawil pipi sang istri.
Mereka pulang setelah Ashar karena Fahmi harus siap-siap kembali ke rumah sakit. Sebelunya mereka juga mampir dulu ke tempat makan. Mengambil tempat duduk yang nyaman dan ramah untuk bayi sekecil Syifa.
Namun saat mereka masuk, beberapa orang menatap ke arah mereka dengan tatapan sinis.
"Pantesan dinikahi ternyata dihamili lebih dulu," ucap salah satu dari mereka saat Mira dan Fahmi berjalan melewati meja mereka.
"Iya pesona dokter tampan dan alim itu hanya topeng belaka." yang lainnya ikut bicara.
Fahmi tidak menghiraukan, lagi pula apa yang dikatakan mereka tidaklah benar. "Jangan dihiraukan, karena kita yang mengetahui apa yang kita jalani," bisik Fahmi sambil menggenggam tangan sang istri.
"Gak usah pura-pura, Dokter Fahmi. Kita juga tahu kok kalian pasti mendengar ucapan kita." salah seorang berdiri dan berbicara keras. Beberapa pengunjung merasa terganggu sekaligus penasaran. Biasa keributan memang dianggap hiburan oleh beberapa orang.
Fahmi berbalik dan menghampiri perempuan itu. "Anda berbicara pada saya?" Fahmi menunjuk diri sendiri.
"Memangnya siapa lagi. Anda dokter kan. Dokter yang bersembunyi di balik sikap so alim dan so baik tapi bejat juga," kata perempuan itu tanpa rasa takut karena merasa ucapan dan tindakannya paling benar.
Fahmi tersenyum dan tidak menanggapi lagi. Susah saat harus berbicara dengan orang yang merasa paling benar.
"Pergi berarti membenarkan ucapan saya."
"Lalu saya harus apa? Mendengarkan ucapan yang anda yakini benar. Padahal saya yang menjalani dan saya tidak membenarkan ucapan anda."
"Terus kenapa anda menikahi perempuan itu?" Perempuan tadi menunjuk Mira.
"Tentu karena saya menginginkan dia. Kalau saya menikahi anda berarti saya menginginkan anda."
"Mas sudah. Kita ke sini kan mau makan." Mira mengingatkan. Takut suaminya tersulut emosi dan menghancurkan citra baik yang sudah dibangun. "Maaf ya mbak, suami saya tidak seperti yang mbak katakan. Jika anda melihatnya seperti itu kami tidak melarang. Kami juga tidak bisa memaksa mbak mengikuti pikiran kami."
__ADS_1
Mira berjalan meninggalkan mereka yang kembali berbisik. Penasaran rasanya jika tidak mengusik urusan orang lain apalagi sekelas dikter Fahmi yang tampan dan bayak diidolakan oleh sebagian orang.