Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
SAH


__ADS_3

"Maaf dok yang barusan itu ...."


"Gak bisa ditarik lagi, Dek, kamu sudah setuju."


"Enggak, aku belum setuju kok."


"Ya sudah saya pergi ...."


"Tapi itu belum selesai diobati, Dok."


"Kalau gitu panggil papa, saya harus bicara dengan beliau. Kamu juga ke sini lagi. Belum selesai loh saya diobatinya."


Mira mendelik saat melihat Ardan tertawa di kejauhan. Pastilah ayahnya mendengar percakapan dia dan Fahmi.


Ardan hanya mengusap bahunya saat melewati Mira.


"Ada apa dokter Fahmi?" tanya Ardan sambil duduk di bagian yang kosong. Padahal dari radi juga dia sudah menguping percakapan keduanya.


Sedangkan Mira kembali duduk di sebelah Fahmi untuk mengobati yang belum selesai.


Fahmi berdehem dan membenarkan posisi duduknya. "Begini Pak Ardan, saya ingin anda menikahkan saya dengan Dek Mira sekarang. Aw ...."


Mira langsung menekan bagian yang sakit saat mendengar ucapan Fahmi.


"Sekarang?" Ardan pura-pura terkejut padahal dia ingin tertawa melihat ekspresi Mira.


"Iya soalnya kalau besok takut dia berubah pikiran. Tadi sudah setuju kan, Dek?"


"Gak bisa, kalau sudah malam kantor KUA sudah tutup. Tunggu sampai pagi aja," balas Ardan.


"Papa! Dok maaf tapi ...."


"Saya tidak ingin ditolak lagi, Dek. Kalau soal masalalu kamu dengan Dion yang kamu pikirkan, saya ridho menerima masalalu kamu. Saya ingin ini pernikahan terkahir dan kita akan menua bersama." Fahmi menatap Ardan. "Pak tolong restui kami. Jika dek Mira setuju maka nikahan kami sekarang juga."


Ardan dan Mira sama-sama diam.


Tangis Syifa mengakihkan perhatian mereka. Astaga Mira lupa kalau bayinya ia tinggal sendiri di dalam kamar. Karena merasa aman saat berada di samping Fahmi, ia sampai kelupaan.


Mira menyusui putry sambil memikirkan permintaan Fahmi. Kalau tidak ada Fahmi entah akan seperti apa bayinya sekarang. Ia menolah pada jam dinding yang menunjukan pukul dua dini hari. Masa iya kalau dia menyetujui, mereka akan nikah subuh-subuh. Apa kata tetangga nanti.


Setelah memastikan Syifa kembali tidur dengan nyaman, Mira kembali ke ruang tengah. Di mana Ardan dan Fahmi masih mengibrol sambil menikmati teh.


"Pa ...."


"Ya?" Ardan meletakan cangkir teh-nya di meja. Menggeser posisi duduknya agar Mira duduk di sana.


"Aku setuju dengan permintaan dokter Fahmi."


Fahmi langsung mengucap syukur sedangkan Ardan menatap putrinya. "Serius kamu?"

__ADS_1


"Ya, aku serius."


"Kamu tidak terpaksa, Dek?"


"Insyaallah saya siap."


Fahmi tampak sumringah.


"Eh tunggu dulu, menuju pagi itu tinggal beberapa jam lagi. Jadi kalian akan menikah besok. Malam ini dokter Fahmi tidur di kamar tamu."


Keesokan harinya mereka benar akan melangsungkan ijab kabul. Sejak subuh orang-orang Ardan sudah bergerak menyiapkan kebutuhan ijab kabul. Dengan adanya uang semua jadi mudah.


Makanan, pakaian yang akan dikenakan oleh Mira dan Fahmi serta surat menyurat sudah siap.


Fahmi juga memberi tapi Adelia bahwa ia akan menikah. Jadi Adelia dan Syafa hari ini harus izin. "Nanti sopir akan menjemput kalian. Sekalian mas minta tolong bawakan apa yang ada di dalam lemari mas di urutan ke dua. Ijab kabul-nya jam sebelas."


Ternyata diam-diam Fahmi sudah menyiapkan mas kawin dan itu entah sejak kapan.


"Baiklah, aku akan siap-siap. Semoga gak gagal lagi ya."


"Loh kok doanya begitu, yang baik-baik doang."


Dia tidak menghubungi rumah sakit karena masih dalam masa cuti. Biarlah ini akan menjadi kejutan.


Masih ada tiga jam lagi sebelum waktu ijab kabul. Fahmi meminta sopir Ardan untuk mengantar dia menjenguk Dion.


Di perjalanan Fahmi menyempatakan membeli makanan kesukaan Dion.


"Mas," sapa Dion saat mereka sudah berhadapan.


"Hari ini aku gak sempat masak, tapi aku membelikan ini untuk kamu. Maaf ya."


Dion tersenyum, "gak perlu minta maaf, Mas, kamu datang saja aku sudah senang. Wajahmu kenapa, Mas?" Dion semapat menatap heran wajah Fahmi yang terdapat luka lebam.


"Biasa. Oh ya Dion, aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tentang?"


"Bagaimana perasaanmu pada Mira sekarang?"


"Kenapa mas menanyakan itu?"


Fahmi menghela nafas, dia menatap Dion lagi. "Karena ... Karena mas akan menikahinya. Kemarin Syifa di culik oleh pak Hendro. Mira butuh seorang suami untuk melindunginya. Aku menikahinya agar leluasa untuk menjaganya."


Dion sendri menanyakan sejauh mana perasaanya pada Mira, tetapi dia tidak menemukan jawabannya.


"Kalau gitu selamat. Maaf aku tidak bisa hadir," kekeh Dion sekaligus merasa sedih tapi tidak dia tunjukan.


"Doakan saja agar lancar dan tidak ada kendala." Fahmi melirik jam tangan, " aku harus pergi sekarang. Jangan lupa makanannya di makan. Aku akan mengusahakan agar bisa datang setiap hari."

__ADS_1


Dion mengangguk dan tersenyum. Dia tidak mengatakan kalimat apa pun selain meanganguk pada sipir agar mengantarnya kembali ke dalam sel.


***


Meskipun pernikahan yang sederhana, tapi tetap saja terasa sakral.


Mira sedang didandani sambil menyusui Syifa. Ia harus meminta maaf berkali-kali karena pasti penata rias merasa terganggu degan adanya Syifa. Akan tetapi dia lupa tidak memompa ASI-nya lebih dulu.


"Cantik," puji penata rias setelah menyelesaiakan sentuhannya pada wajah Mira.


Mira sendiri memandang takjub pada wajahnya yang tampak pangling. Ia seperti melihat orang lain di cermin dan bukan dirinya. Sebab ia merasa tidak secantik itu.


Pintu kamar di ketuk, Ardan masuk dan memberi tahu bahwa ijab kabul akan segera dilakukan.


"Pa, mama gimana?"


"Papa sudah menghubunginya, tapi entah dia akan datang atau tidak."


"Kalau tidak datang gimana ya, Pa?"


"Kamu akan tetap menikah, kan papa walinya. Yang penting papa merestui."


Hari ini adalah hari spesial bagi Mira tentu dia berharap orang-perang penting dalam hidupnya bisa menyaksikannya. Termasuk Ardit yang tidak bisa pulang dadakan tapi ia meminta agar menyaksikan melalui panggilan video.


Mira di bawa menuju tempat ijab kabul akan berlangsung. Ia didudukan di kursi sebelah Fahmi. Tentu pesonanya membuat Fahmi terpana. Mira sungguh cantik hari ini.


"Mau ditatap terus, Mas?" goda pak penghulu menciptakan tawa pada mereka yang hadir.


Fahmi dan Mira tampak tersipu dengan candaan penghulu.


"Sudah siap menikahkan?" tanya penghulu pada Ardan.


"Siap."


"Yang pertama atau sudah pernah menikahkan sebelumnya?" tanya penghulu lagi.


"Yang pertama."


"Pantas terlihat gugup."


Kembali ucapan spontan pak penghulu mengharapkan gelak tawa.


Acara dimulai dengan pembacaan aya suci, dilanjutkan memeriksa persyaratan nikah. Dimana harus ada dua parang saksi yang sudah baligh.


Jef asisten Ardan menjadi saksi dari pihak Mira, sedangkan saksi dari pihak Fahmi adalah salah satu rekan kerjanya di rumah sakit.


Setelah itu dilanjut memeriksa kelengkapan surat-surat kemudian dibacakan tentang sighat taklik juga hak dan kewajiban suami istri secara umum.


Selanjutnya Ardan menjabat tangan Fahmi, dengan sekali tarikan nafas tugas dan tanggung jawab Ardan atas Mira sudah berpindah pada pundak Fahmi. Dengan lancar Fahmi mengucap kabul hingga saksi dan semua yang hadir mengucapkan kata SAH!.

__ADS_1


__ADS_2