Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Keributan


__ADS_3

Fahmi benar-benar memindahkan Syafa ke kamar gadis itu. Entah seperti apa yang aka terjadi besok pagi.


Ia kembali ke dalam kamar dan mendatangai sang istri. Jika diperhatikan lebih dekat maka kulit wajah Mira tidak lagi putih seperti semula.


Mereka bergerak tanpa kata, hanya berkomunikasi lewat sorot mata dan tindakan.


Sesekali bibir Mira meloloskan senandung keramat yang membuat lawan tanding semakin semangat.


Saat akan menempuh perjalanan yang paling di nanti setiap insan, mereka beradu pandang. Mira mengangguk seolah menyetujui permintaan Fahmi malam ini.


Kecupan sayang kembali mendarat di kening Mira.


"Jangan menutup mata, tatap aku dan pastikan yang sedang bersamamu adalah aku," kata Dion seolah mengerti bahwa Mira tengah terganggu oleh kenangan masa lalu.


Mira mengalungkan tangan pada leher sang suami. Dan perjalanan mulai mereka daki bersama tawa, dan pujian manis dari Fahmi.


"Cantiknya. Aku lupa kebaikan mana yang pernah aku lakukan sehingga tuhan mengirimkan kamu," kata Fahmi saat mereka tiba di puncak tertinggi nirwana.


Sontak perkataan Fahmi diterima oleh Mira bukan sebagai pujian. Mira berpikir bahwa Fahmi tengah menghina sebab ia sadar bahwa dirinya tidaklah baik. Maka kata-kata Fahmi menjadi luka di malam yang indah mereka.


"Terima kasih," ucap Fahmi sebelum tubuh mereka berjarak. Mira melengos saat Fahmi hendak mendaratkan kecupan sebagai tanda terima kasih. Membuat seng suami mengerutkan kening dan berpikir bahwa Mira menyesal.


Air mata merambat di pipi Mira.


"Sayang ..." Fahmi hendak menyeka air mata itu tapi ditepis oleh Mira. Perempuan itu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Ia menangis di dalam selimut.


Menyesal. Harusnya malam ini ia mempersembahkan madu murni yang belum tersentuh. Akan tetapi kebodohan di masa lalu membuat ia menyesal di malam ini.


"Dek!" Fahmi memanggil dengan nada yang teramat lembut. Ia belum menyadari ada yang salah dengan kalimatnya, karena ia menganggap Mira sempurna. Benar-benar seperti itu anggapan Fahmi.


Fahmi menarik selimut yang menutupi tubuh sang istri karena tidak ada jawaban. Ternyata istrinya sudah memejamkan mata.


"Maafkan aku karena tidak bisa menahan sampai kamu siap. Semoga kamu memaafkanku," kata Fahmi sambil mendaratkan kecupan dan tidak ada penolakan. Ia raih tubuh mungil itu untuk memberikan rasa nyaman serta memberitahu pada sang istri bahwa ia sungguh berarti dalam hidupnya.


Mira mendengar ucapan Fahmi karena belum benar-benar terlelap. Saat mendengar dnegkuran halus serta nafas yang teratur Mira membuka matanya. Ia tatap wajah yang teramat dekat itu. Ia usap perlahan kemudian berhenti saat merasakan ada bergerak dari sang suami.


***


Fahmi bangun lebih dulu, sengaja ia tak membangunkan sang istri. Ia merasa Mira butuh istirahat banyak setelah aksi pemaksaan yang dilakukan dirinya.


Ya sampai pagi tiba mereka masih salah faham dengan pikiran masing-masing.


Ia juga mengajak Syifa bermain karena anak itu bangun di waktu subuh. Beruntung tidak menangis jadi tidak mengganggu Mira.


Saat Mira bangun ia sudah tidak melihat sang suami di sampingnya. Ia juga tak melihat Syifa di sana. Saat emilirk jam ternyata sudah pukul lima. Astaga dia kesiangan. Sepertinya efek dipeluk oleh sang suami membuat dirinya nyaman hingga tidak menyadari waktu.


Ia bergegas membersihkan diri dan segera menyiapkan kebutuhan Fahmi. Bukanya kata suaminya ia akan masuk kerja hari ini.


Mira juga bergegas turun untuk menyiapkan sarapan. Padahal sebenarnya ia tidak perlu repot karena banyak pelayan yang dibayar suaminya.


"Bu Mira," sapa para pelayan yang tengah berkutat di dapur sebagian mulai menyebar sesuai tugasnya masing-masing. Saat Mira berbalik ia terkejut mendapat Syafa tengah menatapnya penuh protes.


"Kakak sudah bangun?" Ia mendekati anak bawaan suaminya.


"Aku pasti dipindahkan lagi sama ayah," kata Syafa sambil melipat tangan di dada.


"Eeeemmm masa sih?" tanya Mira pura-pura tidak tahu.


"Iya, masa aku tidur sama ibu tiba-tiba pas bangun aku ada di kamar sendiri. Ibu tidak tahu?"


Tentu saja Mira tahu, kan alasan Syafa di pindahkan adalah dirinya. Ayahnya Syafa ingin menguasai dia. Ah jika teringat kejadian tadi malam ia jadi malu sendiri.


Omong-omong kemana Fahmi, Mira bahkan belum melihat batang hidungnya.


Sedangkan yang tengah Mira cari kini sedang jalan pagi seusai salat subuh. Ia membawa Syifa berkeliling menggunakan stroller bayi untuk menikmati udara pagi. Tak lupa ia juga memakaikan pakaian hangat untuk bayi mungil itu.


Saat Fahmi kembali ia melihat sang istri tengah merapikan tempat tidur. Bahkan saat ia menutup pintu Mira tidak menoleh dan Fahmi menganggap istrinya masih marah gara-gara semalam.


Sepasang tangan mengagetkan Mira saat tiba-tiba memeluk tubuhnya. "Awet banget marahnya," bisik Fahmi.


"Lepas, Mas. Aku lagi membereskan ini."


Fahmi justru menarik sang istri ke pembaringan. Sontak Mira mencubit tangan sang suami. "Mas ini baru dirapikan."


"Sebentar," kata Fahmi tanpa mengendurkan tangan.


"Ck, ya sudah nanti mas rapikan." Mira hendak bangun tapi Fahmi menahannya. Ia raih wajah istrinya agar mereka saling berhadapan.


"Aku minta maaf ya untuk yang semalam."


Mira diam.


"Kamu marah ya gara-gara mas tidak bisa menahan."


Bukan. Bukan itu yang membuat Mira menangis, ia bahkan tidak marah tapi ia tengah menyesali masa lalu.


"Hey," Fahmi tidak ingin diabaikan.

__ADS_1


"Enggak."


"Katanya enggak tapi jawabannya singkat. Persis anak muda."


"Kan aku masih muda."


Diam adalah jalan terbaik agar sang istri tidak lagi marah.


"Aku tuh marah bukan sama mas Fahmi. Aku itu ..."


Fahmi masih menunggu.


"Mas tuh gak ngerti jadi aku."


Setelah Mira dia barulah Fahmi peluk dan meminta maaf untuk kesalahan manapun.


***


Barisan kaum patah hati.


Kembalinya Fahmi ke rumah sakit setelah berberapa waktu mengambil cuti kerja, menjadikan kehebohan bagi para pemujanya.


Apa lagi saat suster yang menemani Fahmi melihat cincin nikah di jari-jari Fahmi.


"Dokter Fahmi tiba-tiba menikah."


"Masa sih."


"Iya, tapi siapa ya yang beruntung mendapatkan dokter Fahmi."


"Padahal aku juga udah sering kok meminta dia di sepetiga malam."


"Cantik gak sih yang hadi istrinya."


"Pasti lebih cantik makanya dokter Fahmi lebih memilih dia di banding kamu.


Kurang lebih seperti itu obrolan dari para pemuja dokter Fahmi di rumah sakit.


Dokter Fahmi sendiri tidak terganggu dengan orang-orang yang membicarakan dirinya. Ia tetap menjalankan tugas seperti seharusnya.


Saat istirahat dia akan menghubungi istrinya yang berada di rumah.


Lama sekali panggilan darinya tidak diangkat. Ah seperti itu memang rutinitas seorang ibu yang memilki bayi. Jika saat muda Ponsel selalu melekat ditanya bahkan ke kamar mandi pun ikut, tetapi jika sudah memilki bayi ponsel tergelatak di mana saja. Mana sempat mereka memainkan ponsel.


"Bu ponselnya berdering," ujar pelayan memberi tahu.


Fahmi mengulang panggilan dan kali ini panggilan diangkat. Wajah cantik istrinya langsung memenuhi layar membuat Fahmi tersenyum. "Kok lama sekali menjawab panggilannya?"


"Tadi lagi ganti popok Syifa, ada apa?"


"Suami yang menghubungi kok tanya ada apa. Ya pasti merindukan istri tercinta."


"Oh ...."


Kok tidak ada ekspresi dari istrinya. "Sayang kangen gak?" tanya Fahmi.


"Enggak, nanti juga ketemu kok."


Eh apa ini kok istrinya bersikap datar. Perasaan tadi pagi sudah baikan deh.


"Yakin gak rindu?" tanya Fahmi lagi.


"Enggak deh kayaknya."


"Kok gitu sih bilangnya. Masih marah ya?"


"Enggak. Biasa aja perasaan. Mas lagi istirahat?"


"Iya, aku kangen banget loh, Sayang."


"Masa?" Seorang pelayan menghampiri Mira dan mengatakan di depan ada tamu. Mira mengangguk dan akan menemukan setelah izin pada Fahmi.


"Beneran. Aku pulang sekarang deh."


"Eh, emangnya rumah sakit punya sendiri. Gak bisa gitu dong. Kata pelayan di depan ada tamu tapi gak ngasih tau siapa tamunya. Boleh aku menemuinya?"


"Jangan deh, soalnya aku lagi gak ada di rumah. Takutnya mereka ada niat lain. Nanti saja temui pas aku pulang. Kalau dia memang butuh pasti dia menghubungiku." Fahmi melirik jam yang menunjukan waktunya ia kembali bekerja. "Sayang, aku harus kembali bekerja. Jangan lupa makan siang ya. Oh ya aku pulang jam lima nanti."


Di rumah, Mira menatap ponsel yang panggilannya sudah berakhir. Lantas dia menemui pelayan yang tadi memberi tahu dirinya tentang tamu.


"Kata pak satpam sih perempuan."


"Mau bertemu saya atau mau bertemu bapak?"


"Katanya mau bertemu bapak, Bu."


"Oh ya sudah sapaikan saja beliau bisa menemui bapak kalau bapak sudah pulang."

__ADS_1


"Baik, Bu."


Sebentar lagi Syafa pulang sekolah. Mira bersiap-siap untuk menjemput anak sambungnya. Dia titipkan Syifa pada Mbak Santi sementara dirinya pergi. Ia tidak ingin Syafa merasa diabaikan. Bukankah ia ingin memilih ibu itu agar sama seperti teman-temannya yang lain yang dijemput oleh ibunya.


Saat mobil Mira keluar gerbang, ia melewati mobil yang katanya tamu Fahmi. Tapi anehnya kenapa tidak menghubungi Fahmi lebih dulu.


"Yeee, dijemput sama ibu!" seru Syafa saat melihat Mira keluar dari mobil.


Orang tua murid lain yang tidak mengenal Mira dan tiba-tiba dipanggil ibu merasa heran. Pasalnya yang mereka tahu dokter Fahmi itu duda. Tapi kalau menikah lagi masa iya yang dinikmati muda sekali. Mereka terdengar mulai berbisik membicarakan Mira. Ah pasti mereka berpikir yang tidak-tidak.


"Eh itukan pengasuhnya yang dulu lagi hamil kan?" tanya salah seorang ibu.


"Iya kok tiba-tiba dipanggil ibu ya. Gak mungkin kalau istrinya," timpal ibu yang lain.


"Tapi anak dokter Fahmi tadi memanggilnya ibu. Kalau bukan istrinya memang apa?"


Benar ternyata ada seorang ibu yang menghampiri Mira. Menelisik penampilan Mira dari atas hingga ke bawah.


"Ada apa ya, Bu?" tanya Mira sopan.


"Kok dipanggil ibu, memang siapanya dokter Fahmi?" Rupanya banyak yang penasaran dengan duda tampan itu. Ralat, suami Mira yang tampan itu.


"Saya istrinya, Bu."


"Masa sih, emang kapan nikahnya kok gak pernah ada berita."


Memangnya seterkenal apa sih dokter Fahmi sampai pernikahan pun harus diberitakan.


"Selagi muda itu manfaatkan waktu untuk mencari ilmu dan pengalaman. Jangan cepat-cepat menikah hanya karena laki-lakinya kaya. Kamu masih muda, bisa saja dia bosan. Eh pas merasa bosan kamu ditinggalkan, kan kasihan kalau kamu jadi janda kembang."


"Terima kasih sudah mengingatkan saya. Maaf saya harus pergi." Mira mengangguk sopan dan menyusul Syafa yang lebih dulu masuk.


"Halah paling juga dia itu dinikahi karena modal buka kaki lebar iya gak?" kata ibu-ibu tadi yang sejak tadi membicarakan Mira.


Mira mengusap dada. Seperti ini rasanya menikah dengan pria yang memiliki banyak penggemar. Mira tidak tahu akan apa yang terjadi besok karena dirinya mengatakan istri dokter Fahmi.


Pasti mereka akan berpikir yang lebih buruk mengingat mereka pernah bertemu dengan Mira saat Mira masih hamil.


"Ibu," panggil Syafa karena Mira hanya diam saja.


"Eh, kenapa, Kak?"


"Ibu baik-baik saja?"


"Iya ibu baik-baik saja. Gimana tadi di sekolah?"


"Seru ibu tadi kakak sama yang lain belajar menggambar. Kata Miss gambar aku bagus."


"Oh ya, boleh ibu lihat."


"Emmmmhhh ibu lihatnya nanti saja deh sama ayah. Biar jadi kejutan," kata Syafa sambil tertawa.


Saat mereka tiba, mobil itu kasih ada di sana. Sepertinya tamu itu niat sekali bertemu Fahmi. Sebab saat Mira sudah kembali dari menjemput Syafa mobil itu masih berada di tempat semula.


***


Dalam perjalanan pulang, Fahmi menyempatkan membeli jajanan kesukaan sang istri yang ia ketahui sejak Mira belum menjadi istrinya.


Saat mobil sudah berada di depan pintu gerbang. Tamu yang katanya menunggu Fahmi keluar dan mengetuk mobil Fahmi yang menunggu pintu gerbang dibuka.


"Silvi?" Fahmi menurunkan kaca mobil, "ada perlu apa?"


"Fahmi kita perlu bicara."


"Apa kamu tidak mengerti penolakan?"


"Fahmi aku mohon, tadi aku ingin menemui Syafa tapi mereka tidak memberi izin. Izinkan aku masuk sebentar."


Fahmi memang meminta orang-orang rumah agar hati-hati saat menerima tamu. Apalagi sejak kejadian yang menimpa Mira beberapa bulan lalu.


"Ya sudah, kalau kamu ingin menemui aku izinkan untuk kali ini." Fahmi memberitahu satpam agar mengizinkan mobil Silvi masuk.


Silvi tersenyum. Satu umpan berhasil dia lempar. Sepertinya dia harus sering -sering menemui Syafa agar bisa menjerat Fahmi.


Senyum yang tadi mengembang tiba-tiba pudar saat melihat Mira berada di pintu dan menyambut Fahmi. Bahkan Fahmi tidak sungkan untuk mencium sang istri langsung. Peduli amat dengen kehadiran Silvi toh tujuannya adalah Syafa.


Tatapan Mira bertemu dengan tatapan Silvi. Jika kedatangan perempuan itu untuk Syafa-putrinya, berarti Mira harus menyambutnya dengan baik. Akan tetapi jika memiliki maksud lain, Mira akan tegas bertindak.


"Malu ah," kata Mira sambil mendorong tubuh suaminya agar menjauh.


"Kalau begitu aku tunggu di kamar," bisik Fahmi, "antarkan dulu dia untuk bertemu Syafa, Sayang." Fahmi pergi begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan mantan istrinya.


"Fahmi  tunggu, aku ingin bicara sama kamu."


"Di situ ada isrtiku, kalau urusannya tentang Syafa bisa kamu katakan pada Mira karena sekarang dia adalah ibunya."


"Enggak, Fahmi. Gak ada yang bisa menggantikan aku sebagai ibunya Syafa. Aku tetaplah ibunya," teriak Silvi. "Dengar! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Perempuan itu ternyata datang untuk membuat keributan.

__ADS_1


"Hei ******!," teriak Silvi memanggil Mira.


__ADS_2