
Seorang pelayanan menghampiri Fahmi dan mengatakan sarapan sudah siap. Dia mengangkat tubuh putrinya dan menoleh pada Mira sebentar. "Ayo sarapan."
Sebagai kepala rumah tangga, Fahmi duduk di kursi utama. Syafa putrinya duduk di sebelah kiri, di sebelah kanan ada Adelia dan di samping Adelia barulah Mira duduk.
"Sarapan di rumah kami hanya seperti ini. Maaf kalau tidak sesuai dengan lidah, Dek Mira," kata Fahmi sebelum memiliki doa.
Di rumahku bahkan lebih buruk dari pada ini. Makan mewah tidak ada rasanya tanpa kehangatan keluarga.
"Saya bukan pemilih makanan. Bisa makan saja sudah alhamdulilah.
Setelah memimpin doa Fahmi mempersilahan tamunya untuk makan. Mira mengambil makanan yang sekiranya sesuatu dengan seleranya. Efek hamil di usia muda memang tidak mudah tapi dia berusaha menghargai tuan rumah. Baru beberapa suapan perut Mira sudah berontak, mati-matian dia menahan agar tidak memuntahkan makanan yang baru saja masuk. Semakin ditahan semakin tersiksa bahkan membuat matanya ikut berair. Tidak tahan lagi mira berlari ke arah kamar mandi.
Adelia langsung menyusul Mira. Sedangkan Mira memaki diri sendiri di dalam kamar mandi. "Ini akibat dari kebodohan kamu sendiri, Mira. Kerjakan sekarang, makanya jadi perempuan tuh jangan tolol." Dia menoyor kepalanya sendiri.
"Kak," teriak Adel dari luar. "Kak Mira baik-baik aja? Buka pintunya, Kak."
Adel terkejut ketika pintu terbuka melihat Mira dengan wajah yang sembab serta rambut yang sepertinya habis di jambak. "Ada apa?" tanya Adel lagi sambil memeluk Mira. Seketika tangis Mira tumpah di pelukan Adel. "Kakak mau cerita sama aku? Siapa tahu bisa mengurangi sesak dalam dada." Adel yang usianya satu tahun di bawah Mira terlihat begitu bijak di usia yang masih muda. Sekali lagi Mira membandingkan didikan orang tuanya.
Fahmi meminta seorang pelayanan menyusul Adelia dan Mira. Tak lama Mira dan adiknya kembali. Fahmi menoleh sebentar lalu berkata, "Dek Mira bisa meminta makanan yang sekiranya cocok dengan lidah."
"Maaf sudah mengganggu sarapan anda, Pak. Saya izin istirahat boleh?"
Fahmi mengangguk, membiarkan Mira masuk ke dalam kamar yang sejak semalam ditempatinya.
"Dek, Mas ada jadwal operasi pagi ini. Tadinya Mas mau bicara dengan Dek Mira. Tapi melihat kondisinya yang kurang sehat sepertinya tidak memungkinkan. Mas akan bicara setelah pekerjaan Mas selesai."
"Mas aku gak paham maksud Mas gimana. Yang jelas dong bicaranya."
Fahmi terkekeh, dia meneguk segelas air dengan jeda tiga tegukan. "Katanya mau Psikolog tapi kamu gak ngerti maksud mas gimana."
__ADS_1
"Mas itu beda konteks. Mas bicaranya gak tuntas mana bisa aku paham."
"Padahal Mas bicaranya sudah cukup jelas loh. Mas minta kamu tahan dulu Dek Mira di sini."
"Mas mau menikahi Kak Mira," potong Adel.
"Tunggu sebentar mas belum selesai bicaranya. Mau jadi psikolog 'kan?" Yang ditanya mengaangguk, "latihlah sabar dari sekarang. Dek Mira itu seperti orang yang tengah menaggung beban, bisa jadi kalau dia keluar dari rumah ini malah terjadi sesuatu sama dia, ..."
"Cieeeee," goda Adelia mending ucapan kakaknya.
"Dengarkan dulu, Dek. Orang yang mengalami tekanan mental bisa saja berpikir buruk. Kita yang menyadari ada yang tidak beres dengan dia tentu kits harus membantu dia menemukan solusinya. Paham?"
"Paham, mas mau bilang agar kak Mira masih di sini sampai mas pulang agar bisa melihat wajah cantiknya. Gitu kan?" Adelia hanya bertanya tapi ekspresinya seperti tengah menggoda kakaknya. "Sudah bilang aja kayak gitu."
"Ya ya ya terserah kamu saja." Fahmi melirik jam, sudah saatnya dia berangkat. "Ayah kerja dulu ya, main sama tante Adel tapi harus jadi anak yang manis ya," pesan Fahmi pada Syafa. Anaknya mengaangguk seperti paham. Kemudian ia mencium punggung tangan sang ayah di balas kecupan hanya di kening serta usapan lembut di kepala. Begitu pun Adelia yang melakukan hal sama.
"Oh iya kalau mualnya Dek Mira karena asam lambung bisa ambil obatnya di ruang praktek ya!"
"Lumayan."
"Mau makan apa biar nanti pelayan yang siapkan. Gak baik kalau lagi sakit tapi tidak ada asupan nutrisi untuk tubuh."
"Nanti juga baik sendiri kok, Dek."
"Sepertinya usia kita gak beda jauh ya, Kak?"
"Kamu memang usia berapa?
"Aku tujuh belas, masih duduk di bangku kelas sebelas."
__ADS_1
Ah mendengarkan tentang sekolah Mira jadi rindu Ema dan Gina. Dia pun tersenyum tipis untuk mengenang rasa rindu. Padahal baru saja mereka terpisah beberapa hari sejak libur semester tapi sepertinya mereka akan berpisah lebih awal setelah ini.
"Kak?" Adelia menyentuh tangan Mira. "Kok melamun? Kalau kak Mira butuh teman untuk mendengarkan keluh kesah yang Kak Mira rasa, aku siap jadi pendengar Kak Mira."
"Susah untuk memulai ceritanya, Dek"
"Sekarang perasaan kak Mira gimana?"
"Gak tau, semuanya terasa bercampur jadi satu. Marah, kesepian, kesal, penyesalan semuanya menjadi satu." Mira menyentuh perutnya dan Adelia mengerti maksud Mira disitu. Apa lagi tadi melihat Mira yang mual.
"Tidak perlu disesali, Kak. Dia hadir menjadi pengingat agar Kak Mira lebih dekat dengan Allah. Mungkin itu cara Allah ingin bertemu dengan Kak Mira."
Mira menangis mengingat perbuatannya hari itu. Dia pun akhirnya bercerita tentang keteledorannya. Adelia mendengarkan dengan baik setiap yang Mira ucapkan. Gadis itu benar-benar menjadi seorang pendengar tidak mencela ucapan Mira pun tidak mengahakimi apa yang telah dilakukan Mira.
Adelia justru merasa kasihan pada perempuan yang tersedu di sampingnya. Ah anda dia sudah jadi seorang psikolog mungkin dia akan paham cara untuk menenangkannya.
Mira menyusut air mata juga ingusnya, "maaf Ya Dek."
"Gak papa, Kak. Sudah merasa lega?"
"Sedikit membaik."
"Kak Mira kan satu tingkat di aku. Temani aku belajar yuk. Aku ada mata pelajaran yang paling sulit aku mengerti. Siapa tahu Kak Mira bisa bantu."
Mira menyetujui tapi dia teringat kalau tujuannya adalah mencari Dion. "Dek, aku harus pergi. Aku harus mencari laki-laki itu."
"Lupakan dulu masalah, Kak Mira. Nikmati dulu waktu yang mungkin tidak akan terulang kembali. Biarkan hati dan pikiran Kak Mira untuk istirahat sejenis dari beban yang menggunung. Sekarang temani aku ya. Please."
Adel mengajak Mira ke kamarnya sambil berterima tentang sekolah dan sikap protektif Fahmi. "Aku tih sering sebel sama mas Fahmi. Aku tidak diberi kekerasan seperti kebanyakan teman-temanku. Pergi sama teman-teman aja sampai dihubungi terus. Kesal gak?"
__ADS_1
Mira tertawa pelan, dia duduk sementara Adelia mengambil buku. Saat dia menatap Foto di atas nakas Mira merasa tidak asing dengan salah satu wajah dalam foto tersebut.
Ini?