Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Strategi yang Terbaca


__ADS_3

Pagi-pagi Mira mendapat kunjungan dari pihak pengurus pemerintahan setempat seperti ketua Rw dan Rt beserta istrinya. Mereka menyesalkan kejadian yang dialami Mira.


"Kemarin waktu saya lagi belanja sayuran, ada seorang perempuan cantik menghampiri kami. Dia menanyakan seseorang yang bernama Mira. Kemudian dia menunjukan sebuah foto. Saya pikir itu keluarga Neng Mira. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena setelahnya karena saya pulang."


Perempuan cantik mencari Mira? Tidak mungkin itu istri Dion. Jelas belum ada yang mengetahui hubungan mereka salain pelaku sendiri. Bisa disimpulkan kalau orang tersebut adalah suruhan Dion. Mira tersenyum pada orang-orang yang menjenguknya tapi otaknya terus berputar memikirkan strategi yang jitu untuk menghadapi Dion.


"Kami menyayangkan sekali kejadian ini terjadi di lingkungan kami," kata Pak RW dengan wajah menyesalnya.


"Tidak apa-apa, Pak, wajar kalau orang salah paham terhadap saya karena keadaan saya. Tapi bapak dan ibu jelas sudah tahu ceritanya."


"Cepet sembuh, Neng Mira, jangan betah dirumah sakit. Biarpun di sini bangunanya luas tetep aja serem."


"Takut ada suster yang lewat dan gak menapak ya, Bu?" tanya Mira sambil terkekeh.


Mira bersyukur karena dikeliling orang-orang yang menyayanginya. Tidak mengungkit masa lalunya. Hidup memang seperti itu selalu ada pro, kontra dan netral. Sulit jika hidup kita sekedar ingin di hormati, dan menyenangkan orang lain. Hidup menjadi diri sendiri tanpa ikut campur urusan orang lain jauh lebih menyenangkan.


Fahmi baru datang setelah semalam dia menjaga Mira. Senyum ramah pria itu menyapa orang-orang yang menjenguk Mira. "Maaf saya baru datang," katanya mengangguk sopan.


"Gak papa, Dok. Kita juga sebentar lagi akan pulang. Bapak-bapak ini harus kerja kalau rumah mau tetap adem," jawab istri Pak Rw.


Semua tertawa mendengar jawaban istri Pak RW itu. Tak lama mereka pun pulang karena harus berkejaran dengan waktu bekerja.


"Mana yang sakit?" tanya Fahmi sambil menarik bangku untuk duduk di dekat Mira. Bukannya menjawab Mira malah tertawa pelan. "Kok malah ketawa, saya dokter loh."


"Lucu aja sih, dokter banyak sekali membantu saya. Bahkan seperti sorang suami yang siang menjaga istrinya."


"Saya rasa saya masih mengingat kiat-kiat jadi suami siaga. Makanya saya terapkan ke kamu biar saya tidak lupa." Mereka saling tatap, saling tersenyum kemudian saling mengalihkan pandangan. "Mau makan buah?" tanya Fahmi untuk mengusir rasa canggung yang tiba-tiba datang.


"Masih terlalu pagi untuk makan buah, Dok. Dok ...," panggil Mira.

__ADS_1


"Ya?" Suara Fahmi begitu lembut saat menjawab panggilan dari Mira. Tatapannya begitu teduh mengahadirkan getar yang tidak bisa dimengerti.


"Saya boleh minta tolong gak? Tapi mungkin ini akan sedikit merepotkan dokter."


"Kalau saya mampu akan saya usahakan tapi kalau tidak saya harap kamu tidak kecewa. Katakan apa yang harus saya lakukan?" Manisnya.


Mira tampak ragu.


"Katakan saja," kata Fahmi lagi.


"Saya rasa kejadian kemarin itu adalah ulah Dia."


"Dia? ... Oh maksud kamu pria jahat yang memperdaya kamu itu?"


Mira mengangguk membenarkan tebakan Fahmi. Tak apalah dikatai pria jahat, toh yang bilang juga kakak ya.


"Ya, Dia pernah mengirimiku ancaman kalau saya tidak menjauh dari kota ini. Tadinya saya ingin diam setelah pertemuan waktu di bandara itu. Tetapi rupanya dia ingin mengajak saya untuk berperang istilahnya."


"Mungkin, makanya dia tahu tempat tinggalku. Emh gini, saya pikir saya butuh peran dokter untuk melindungi saya dan juga bayi ini. Dokter boleh menolak kalau tidak bisa melakukannya." Mira menatap Fahmi, "Pura-pura jadi calon suami saya, Dok."


Fahmi langsung tertawa mendengar permintaan Mira, segera dia menguasai diri. "Pura-pura atau jadi suami beneran?" tanya Fahmi dengan senyum jahil.


"Pura-pura aja, Dok."


Fahmi bangkit dari duduknya karena suster memberitahu bahwa sudah waktunya kunjungan pasien. "Saya pikir jadi suami beneran." Kalimat itu diucapkan pelan oleh Fahmi tapi Mira masih bisa mendengarnya karena posisi mereka belum terlalu jauh.


Apa ini maksdunya? Haruskah Mira berpikir Dokter duda tampan itu naksir pada dirinya?


Mira teringat pada tujuan awal, dia meraih ponselnya yang tadi dibawakan oleh Bu RW. Dia langsung mengetik pesan untuk seseorang.

__ADS_1


Saya pikir dengan saya diam masalah diantara kita sudah selesai. Ternyata pikiran saya salah, tabir rahasia yang berusaha saya tutupi tapi anda ingin membukanya. Baiklah kalau inginnya demikian akan saya ladeni. Anda pikir saya bodoh dan tidak tahu dengan apa yang anda lakukan. Anda terlalu meremahkan Dion. Strategimu terbaca oleh lawan Dion. Niatnya supaya jauh dari keluargamu tapi justru keluargamu malah semakin mengkhawatirkan saya. Tanyakan pada Mas-mu siapa saya bagi dia setelah kejadian ini.


Pesan terkirim, lengkap dengan foto Fahmi yang tertidur di kursi dengan kepala berada di tempat Mira berbaring. Pesan langsung di baca oleh si penerima. Dion mencengkram ponselnya.


Sial, dari mana dia tahu itu ulahku. Ck perempuan itu tidak rapih dalam bekerja.


Dion berkata dalam hati. Benar dia salah strategi dan akibat kesalahannya ruang geraknya semakin sempit. Dion membaca ulang pesan itu dan semakin geram. Dia harus memikirkan cara lain setelah ini. Meskipun Mira tubuhnya kecil tapi otaknya tidak bisa diremehkan.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Nafa. Ternyata perilaku Dion diawasi oleh sang istri.


"Gak ada, apa-apa sayang. Nih!" Dion menyodorkan ponselnya karena pesan Mira hanya bisa dibuka oleh dia. Sekalipun istrinya mengotak-atik ponselnya.


Nafa mengembalikan ponsel itu pada sang suami, "Nggak ada apa-apa."


"Ya memang gak ada apa-apa," Dion merasa menang. "Aku sudah ditunggu oleh papa di kantor. Aku berangkat dulu ya, love you." Tak lupa dia mendaratkan kecupan pada kening dan bibir sang istri.


Dion: Jangan merasa senang dulu kamu, Mira. Ini bukan cerita novel di mana pemeran utama akan selalu menang.


Mira: Ya aku tahu, tapi aku juga bukan pemeran utama seperti dalam sinteron ikan terbang. Di mana ketika ditindas akan diam saja.


mira tertawa membaca balasan dari Dion. Dia tidak sabar melihat ekspresi pria itu saat nanti Fahmi mengatakan bahwa dia calon istrinya. Dia tertawa pelan membayangkan ekspresi Dion saat ini.


Pintu kamar rawat terbuka, membuat Mira terlojnak kaget. Dia kira itu Dion yang akan datang menyerangnya secara langsung. Ternyata Adelia yang datang. "Loh, gak sekolah?"


"Izin. Lagian Kak Mira bikin satu rumah khawatir tau gak. Udah dibilangin tinggal bersama kita malah ngeyel tinggal di rumah itu. Sendirian lagi," cerocos Adelia.


"Maaf, gak akan lagi-lagi."


"Jadi?"

__ADS_1


"Ya aku akan turuti permintaan kamu."


"Gitu dong, jangan ada kejadian dulu baru nurut. Untung masih selamat. Coba bayangkan kalau Mas Fahmi telat datang. Gimana nasib bayi, Kak Mira. Bukan hanya Kak Mira yang akan menyesal, kami juga." Adelia terus mengomel seperti ibu kost yang lagi nagih uang sewa.


__ADS_2