Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Terkuak


__ADS_3

Adelia yang hendak berangkat ke sekolah meminta sopir memutar balik karena mlihat mobil Dion menuju rumah kakaknya. Feelingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Gak jadi ke sekolah, Non?" tanya sopir.


"Gak jadi, Pak. Kembali ke rumah aja." Sopir yang bertugas mengantarnya merasa heran tapi tidak banyak bertanya.


Adelia bergegas turun dan masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur. Dia langsung menepelkan jari telunjuknya saat beberpa pekerja memergokinya dan hendak bertanya. "Ambil tongkat basebal dan ikuti saya. Kak Mira di mana?


Dia juga melakukan panggilan pada Fahmi, tapi sampai panggilan ke lima, belum satu pun panggilan yang di jawab. Dia mencoba lagi barulah terdengar jawaban dari sana. "Pulang sekarang, Mas. Kak Mira dalam bahaya." Panggilan langsung dimatikan.


"Tadi ke belakang, katanya mau ngasih makan ikan." Pekerja yang mengetahui aktifitas Mira sebelumnya, memberitahu. Mereka pun bergegas ke belakang tapi tidak menemukan Mira.


Melihat pakan ikan berserakan, Adelia pun yakin jika Mira di bawa ke gudang. Benar pintu gudang terkunci dari dalam.


Tidak habis akal, dia meminta pekerja yang mengikutinya untuk mengambil kunci cadangan atau alat yang bisa digunakan untuk membuka pintu tersebut. Tidak lupa dia meminta agar membawa sopir atau oekerja laki-laki ke sana. Sedangkan Ia sendiri memilih memecahkan kaca jendela.


Dion menghentikan aksinya yang hendak melecehkan Mira saat mendengar kaca jendela pecah. Saat dia menolah tongkat baseball yang dibawa Adelia mendarat dipelipisnya.


"Sial," umpat Dion.


Adelia masuk melalui jendela itu tidak memedulikan pecahan kaca yang dia injak. Untung sepatunya belum ia lepas sehinbgga kakinya masih aman dari pecahan kaca. Dia terengah karena jendela itu kecil, butuh usaha lebih agar tubuhnya bisa masuk.


Mengira Adelia tidak akan bisa masuk karena celah jendela yang kecil, Dion melilitkan tambang itu ke leher Mira. Dengan tangannya Mira menahan agar tambang itu tidak menghambat jalan napasnya.


Berhasil. Adelia berhasil masuk. Dia segera menghampiri Dio yang membelakanginya. Buk, sekali lagi tongkat baseball itu menghantam tengkuk Dion membuatnya tersungkur tapi tidak sampai pingsan.


Adelia segera membantu Mira melepaskan lilitan tambang di lehernya. "Ayo, Kak." Dia juga membantu memapah Mira untuk menjauh dari Dion.


Kepalang tanggung, mundur pun tidak akan merubah apapun. Dion meraih perkembangan kaki sang adik tapi dengan gerakan cepat Adelia menendang wajah kakaknya. Biarlah ini dikata tidak sopan, dari pada dua nyawa harus melayang sia-sia.

__ADS_1


Bersama dengan itu pintu gudang terbuka. "Bawa Bang Ion ke ruang keluarga, Pak!" perintah Adelia pada sopir yang membantunya membuka pintu gudang.


Tak lama Fahmi datang, tanpa menunggu penjelasan dia langsung menonjok wajah Dion hingga dia pingsan.


***


Setelah memastikan Mira ditangani dengan baik. Fahmi kembali ke rumah untuk menyelesaikan urusan dengan Dion. Dia juga menghubungi Nafa memintanya datang ke rumah.


Saat dia sampai, Dion baru saja siuman dari pingsannya. Dia bangun sambi memijit kepalanya yang terasa pusing. Di sebalahnya sudah ada Nafa yang menatap bingung.


"Begitu caramu menyelesaikan masalah, Dion?" tanya Fahmi datar. Meski marah tapi dia masih bisa mengolah emosinya dengan baik. Cukuplah tadi dia mengajar Dion.


Adelia menoleh pada Fahmi dan menatap bingung. Dia belum menjelaskan kronologi kejadiannya tapi Fahmi seperti sudah mengetahuinya.


Begitu juga dengan Nafa yang belum mengerti duduk permasalahannya.


Dion tak menjawab.


"Mira?" tanya Nafa menatap pada Dion dan Fahmi meminta penjelasan.


Dion tersenyum sinis, "Kamu sudah tahu masalahku dengan dia mas?"


"Ya Mira," jawab Fahmi pada Nafa. "Jelas aku tahu. Hari pertama dia di rumah ini aku sudah meminta orang untuk mencari tahu tentang dia. Kmu tabu betul aku sangat hati-hati. Dua hari kemudian aku mendapat kabar dari orang suruhanku bahwa pria yang menghamilinya adalah adiku sendiri."


Nafa terhenyak mendengar ucapan Fahmi. "Jangan sembarangan menuduh kamu, Fahmi." Nafa memotong ucapan Fahmi. "Kita hanya pernah bertemu dengan perempuan hamil itu satu kali saat di Bandara."


"Aku tidak sembarang menuduh, Nafa. Tanyakan langsung pada suamimu. Menurutmu memang aku punya alasan apa menahan dia agar tetap tinggal di sini? Gak ada alasan selain bentuk perlindungan dan pertanggung jawaban menggantikan kewajiban tanggung jawab Dion pada dia."


Ingatkan Fahmi pernah meminta seseorang untuk mencaritahu data Mira?

__ADS_1


Baik Dion maupun Adelia terkejut mendengar pengakuan Fahmi. Berarti selama ini diamnya Fahmi hanya menunggu Dion dan Mira bicara sendiri.


"Gak mungkin," desis Nafa.


"Tanyakan pada suamimu kenapa dia di sini sekarang dengan keadaan seperti itu. Atau tanyakan pada Adelia. Dia yang mengetahui kejadian tadi."


Nafa menatap semua orang bergantian. Kalau ia membenarkan tuduhan Fahmi, maka orang yang kini jadi kakak ipranya akan menertawakan dia, begitu pikir Nafa.


"Ngomong dong, Bang Ion." Adelia yang sejak tadi diam sambil menahan gemuruh di dadanya kini ikut bicara.


Sepertinya urat malu Dion sudah putus. Dalam keadaan terjepit pun dia masih bisa membalikkan tuduhan pada Kakaknya. Dia mengangkat wajahnya dan berkata, "Aku memang sempat menidurinya. Itu pun hanya satu kali, bisa saja kamu juga menidurinya, Mas. Bisa jadi sel yang tumbuh di rahimnya malah benihmu."


Wajah Dion langsung menolah ke arah kanan saat pipinya kembali mendapat tamparan. Tapi bukan Fahmi yang menamparnya, melainkan Nafa-istrinya. "Berani-beraninya kamu menghinatiku, Dion."


"Apa? Mau apa?" bentak Dion pada istrinya. "Kamu saja menghinatiku, kamu masih mencintai dia kan?" telunjuk Dion mengarah pada Fahmi.


"Cukup! Bisa kalian selesaikan masalah internal nanti? Sekarang bagaimana tanggung jawabmu pada Mira, Dion?"


Dion derdecak, "tidak ada tanggung jawab, Mas. Aku tidak yakin bayi itu anakku.


Habis sudah kesabaran Fahmi. Dia pikir bicara baik-baik akan menemukan solusi nyatanya Dion tetaplah Dion. Dia kembali mengkajar Dion hingga mulut adiknya itu berdarah.


Adelia berusaha melerainya. Kalau sampai Fahmi mengikuti amarahnya itu akan berakibat buruk juga pada profesinya.


"Bawa suamimu pulang, Naf!" Fahmi berkata dengan nada datar. Tidak ada lagi simpati untuk adiknya, stok sabar Fahmi sudah menipis. Dari dulu Dion selalu menguji kesabarannya.


Meski satu rahim ternyata tak menjamin mamiliki karakter dan sifat yang sama. Apalagi satu rahim tapi beda mani.


"Demi wanita murahan itu kamu tega menghajar adikmu sendiri, Mas. Pesona tubuh Mira memang sangat menggoda," Dion masih bisa berkata seperti itu.

__ADS_1


Hampir saja kepalan tangan Fahmi kembali melayang, untung Adelia sigap meraihnya. Biasanya level tertinggi marahnya Fahmi adalah diam.


__ADS_2