
Helaan nafas panjang dari dokter Nisha jelas menggambarkan bahwa kondisi Mira tidak bisa dikatakan baik. Tetapi sebagai seorang dokter tentu harus memupuk harapan keluraga pasien.
"Mari ikut saya, Dok!" kata dokter Nisha.
Mereka memasuki rumah kerja dokter Nisha. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kondisi Mira mempengaruhi bayi di dalam kandungan.
"Ini sangat darurat. Kita harus segera mengambil tindakan untuk menyelamatakan keduanya," kata dokter Nisha setelah menjelaskan kondisi Mira.
Fahmi mengangguk menyetujui. Akhirnya bayi Mira harus lahir secara prematur. Fahmi menandatangani surat persetujuan sebagai orang yang bertanggung jawab atas Mira. Semoga ini adalah keputusan yang tepat.
"Dok, sakit sekali," kata Mira sambil meringis.
"Tenang ya, Bu. Tarik nafas dari hidung, buang dari mulut. Tarik lagi buang lagi," kata suster yang menemaninya.
Setelah semua administrasi terkait penaganan Mira beres. Fahmi menemui Mira yang tengah ditangani oleh suster.
"Dok," sapa suster yang melihat kedatangan Fahmi. Pria itu mengangguk dan menghampiri Mira.
"Dok, sakit." Mira mengerang lirih membuat Fahmi tidak tega.
Seorang suster datang dan memberi tahi bahwa tindakan akan segera dilakukan. Fahmi mengangguk dan ikut mengatur Mira sampai ke ruang tindakan.
Dia tidak ikut masuk, karena bukan bagiannya. Astaga dia melupakan keberadaan Gina dan orang tuanya. Gegas Fahmi turun dan menemui mereka. Memberi tahu merka bahwa tindakan sc pun menjadi pilihan meski belum waktunya untuk melahirkan. Semua sudah berdasarkan pertimbangan dokter.
"Emangnya gak bisa diusahakan sampai waktunya aja. Dok?" tanya Gina yang belum mengerti tentang kehamilan.
"Enggak bisa. Lahir lebih cepat adalah satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan keduanya."
Fahmi juga mengirim pesan pada Dion.
"Perempuan yang telah kamu hancurkan masa depannya kini sedang berjuang untuk melahirkan hasil dari perbuatan kamu. Tidak ada orang-orang tercinta yang menemaninya. Padahal impian ditemani oleh orang tercinta saat berjuang melahirkan adalah impian kebanyakan perempuan. Sayangnya Mira tidak seberuntung mereka."
Fahmi kembali menunggu di depan pintu ruang operasi. Melantunkan doa untuk keselamatan ibu dan bayinya.
__ADS_1
Di dalam ruang tindakan Mira pasrah saat dokter melakukan suntik anestesi. Dokter di dalam ruangan itu mulai melakukan tugasnya. Air mata kembali membersamai setiap proses yang dilalui oleh Mira. Impian melahirkan ditemani seorang suami hanya tinggal impian.
Sumber kekuatan baru Mira telah lahir dengan berat 1,8kg. Bayi itu tidak menangis dan sempat membuat Mra khawatir. Tetapi dokter mengatakan bayinya selamat.
"Tapi kenapa dia tidak menangis ,Dok?" tanya Mira dengan sisa tenaga yang ada.
Dokter Nisha tersenyum sebelum menjawab. Sedangkan si bayi tengah dibersihkan dan akan langsung dibawa ke ruang NICU untuk mendapatkan perawatan khusus.
"Hal ini disebabkan paru-paru bayi yang lahir secara prematur belum berkembang secara sempurna. Jangan khawatir, insya Allah bayi anda akan kembali sehat."
Fahmi yang sejak tadi menunggu dengan perasaan was-was pun mulai bernafas lega saat seorang suster memberitahu bahwa prosesnya berjalan lancar. "Selamat bayinya perempuan, Dok," kata suster.
Pria itu langsung mengucap kalimat syukur. Hatinya merasakan kebahagiaan sama seperti saat Syafa lahir. Dia langsung mengabarkan kabar bahagia itu pada pada Adelia, dan teman Mira yang masih menunggu di bawah.
Gina menangis haru saat mendengar kabar bahagia itu. Dia tidak menyangka teman sekelasnya yang harusnya baru lulus sekolah sekarang sudah menjadi seorang ibu. Tidak lupa dia juga mengabarkan pada Ema yang sejak tadi tidak bisa tidur lagi saat Gina mengatakan Mira di bawa ke rumah sakit.
Mira sendiri baru bisa ditemui setelah dipindahkan ke ruang rawat yang di pesan oleh Fahmi.
Mendengar kata cantik, Mira malah menangis. Bagian ini yang paling ia takutkan. Karena tugas kedepannya akan semakin berat. Selain karena sang anak akan menanyakan siapa walinya nanti, dia juga harus melindungi sang anak dari manisnya rayuan kekejaman dunia.
Fahmi mengerti alasan Mira menangis. Dia angsurkan tisu untuk menghapus air mata Mira. "Dia akan merasaakn kasih sayang seorang ayah. Dia tidak akan kehilangannya," kata Fahmi.
"Dion?" tanya Mira.
"Bukan." Fahmi menggelengkan kepala. "Tapi dari saya, dia akan menjadi anakku. Kita akan membesarkannya bersama-sama. Kita akan melakukan pendampingan yang baik agar dia tidak merasa terasingkan."
"Tidur ya, besok kamu harus tersenyum. Sekarang ada sosok manusia baru yang sangat membutuhkan kamu."
Fahmi merebahkan tubuhnya di sofa yang tersedia. Sedangkan Mira belum bisa memejamkan mata. Dia terus menatap pintu ruang rawat. Berharap seseorang akan muncul disana dan tersenyum padanya. Namun sampai matanya terakhir orang uang ditunggu tak kunjung datang.
***
Mira menatap bayi mungil yang berada di dalam inkubator. Bayi yang belum bisa ia dekap. Bayi yang seharusnya masih merasa nyaman di dalam perutnya. Dia tersenyum melihat pergerakan dari tangan mungil yang anak meski sebentar.
__ADS_1
Maafkan ibu sayang. Setelah ini ibu akan belajar menjadi ibu yang kuat untuk kamu. Maafkan ibu ya, sudah membuat kamu tidak nyaman di dalam perut, Ibu.
Hanya usapan dari kaca yang bisa dilakukan Mira saat ini.
Seseorang datang dan memperhatikan Mira dari belakang. Dia memberikan diri menghampiri Mira dan menyentuh pundaknya. Mira tersentak dan menoleh.
Senyuman yang selalu dirasakan Mira kini nyata ada di depan mata. Sang ayah, Wisnu Ardan mendatanginya.
"Papa?" ucap Mira pelan dan bergetar. "Aku tidak mimpi 'kan. Ini beneran papa?"
"Ya ini papa," ucap Ardan sambil menyeka air mata pada pipi putrinya.
Ardan menarik sang anak untuk ia dekap. Ia meluapkan rasa rindunya dengan memeluk erat sang anak. Dia merasa telah bersalah telah mengusirnya waktu itu.
"Papa maafkan aku," ucap Mira sambil mengurai pelukan.
"Bukan kamu yang harus minta maaf, tapi papa," ujar Ardan sambil menyeka air matanya sendiri. "Selamat atas kelahiran putri. Sudah banyak air mata yang kamu buang untuk menangisi semuanya, Nak. Sekarang tersenyumlah. Seorang ibu harus selalu tampak tegar agar sang anak merasa nyaman di dekatmu."
Ardan merangkul Mira dan menatap bayi mungil itu bersama-sama. "Dia persis kamu, Mir. Cantik."
Mira kehilangan kosa kata saking bahagianya dia. Tida menyangka Wisnu Ardan orang yang telah mengusirnya kini mendatanginya.
"Maaf, Pak, Bu Mira sudah harus kembali ke ruang rawat," kata suster mengingatkan mereka.
"Oh iya, Sus."
Ardan mendorong kursi roda sang anak kembali ke ruang rawatnya. Membantu Mira kembali berbaring agar merasa nyaman. "Ah papa lupa, tadi papa membawakan ini untuk kamu." Ardan mengambil sebuah boks dari dekat tempat tidur Mira yang sempat tadi dia letakan di sana.
"Apa ini papa?"
"Apa ya papa juga tapi isinya apa," kekeh Ardan.
Tak lama Fahmi datang dengan keadaan yang sudah segar. "Loh sudah datang?" tanya Fahmi pada Ardan.
__ADS_1