Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Tentang Nafa, Fahmi dan Dion


__ADS_3

Mira menggelengkan kepala, kemudian memejamkan mata. Tapi membukanya lagi saat Fahmi dan pelayan datang membawa makan malam untuknya.


"Ya ampun, maaf aku merepotkan," kata Mira sungkan. Dia sesama pekerja jadi tidak seharusnya dilayani.


"Saling membantu bukan pekerjaan yang hina 'kan?"


Mira mengucapkan terima kasih pada rekan kerjanya semebul dia pamit.


"Ayo dimakan. Keburu demi cacing dan bayi kamu." Fahmi mencoba bercanda meski Adelia dan Mira tidak tertawa. "Mau saya bantu?" tawar Fahmi mengharapkan rona merah di pipi Mira.


Pria di hadapannya sungguh berbeda dengan Dion. Mungkin Dion pun bersikap manis pada pasangannya, tapi itu bukan pada dirinya. Bolehkah dia berharap Dion seperti Fahmi meski itu tidak mungkin. Jika mengharap fahmi dia merasa tidak pantas meski lelaki itu sering menunjukan perhatian lebih pada dirinya. Tetapi mengharapkan Dion yang sudah memiliki istri pun mustahil.


Setelah menghabiskan makan malamnya, Fahmi menyerahkan susu ibu hamil yang harus di minum rutin oleh Mira. Setelahnya baru baru lah meninggalkan Mira untuk istirahat.


Pagi menyapa, Mira sudah merasa lebih baik. Dia segera bangun dan membersihkan diri. Setelah dirinya rapih baru lah dia menuju kamar Syafa. Ternyata Santi sudah di sana membantu Syafa untuk mandi. "Duh jadi mbak Santi lagi, harusnya kan sekarang giliran saya," kata Mira.


"Enggak papa, mbak pikir kamu masih butuh istirahat . Jadinya ya mbak yang ngerjain. Tapi gak papa kan gajinya sama," kekeh Santi.


"Kalau gitu giliran saya aja, Mbak, yang nganter ke sekolah."


"Emang dokter Fahmi ngasih izin?"


"Kan emang pekerjaan saya, masa harus izin lagi."


"Kamu lupa, kan kamu calon istrinya."


Astaga ternyata mereka mengetahui juga tentang itu. Padahal hanya pura-pura, tapi ya mana mungkin dia menjelaskan itu pura-pura. Gawat kalau sampai Dion mengetahui.


"Baru calon, gak perlu izin mungkin," kekeh Mira sambil berlalu untuk menyiapkan bekal Syafa.


"Kok sudah bangun? sudah lebih baik?" tany Fahmi saat mereka berpapasan.


"Sudah, Dok." Mira selalu menunduk saat berhadapan dengan lawan jenis.

__ADS_1


"Ok."


"Cie ...." Siapa lagi pelakunya kalau bukan Adelia. perempuan itu menunjukan deretan giginya. "Udah jadi calon suami tapi masih panggil dok. Panggil yang lain doang."


"Kan baru calon."


Adelia mendekat menatap perempuan yang sudah dia anggap sebagai keluarga sendiri.


***


Dion dibuat terkejut oleh Nafa saat ia memasuki kamar. Dikirannya perempuan itu sudah tidur karena lampu kamar sudah dimatikan. Ternyata tidak, istrinya beridiri di dekat stop kontak.


"Dari mana?"


"Apa kamu masih memerlukan jawaban saat kamu sendiri sudah mendapatkan jawaban dari orang-orangmu."


"Ya tapi aku ingin kejujuranmu."


"Tapi kamu sendiri tidak pernah jujur dengan perasaanmu. Nafa aku tahu kamu memintaku menikahimu bukan semata-mata karena cinta. Kamu masih mencintai mas Fahmi 'kan? Kamu hanya menjadikan aku sebagai pelarian kan."


"Ya itu urusanmu. Kita punya urusan masing-masing, jadi cukup tahu saja."


"Tapi kamu suamiku, aku ingin kejujuran darimu."


Dion tertawa sinis, " Suami yang hanya kamu butuhan saat libidomu tinggi. Suami yang tidak pernah kamu cintai sama sekali. Suami yang kamu gunakan sebagai senjata untuk membalas rasa sakit hatimu pada Mas Fahmi."


"Jangan lancang kamu, Dion. Aku membayarmu dengan jabatan, dengan tubuhku. Masih kurang?"


"Ya. Kamu ingin dihargai tapi kamu tidak pernah menghargai." Dion melepaskan jaketnya kemudian berbaring. Memejamkan mata dan mengabaikan istrinya.


Lima tahun yang lalu, Nafa dan Silvi adalah teman karib yang kemana-mana selalu bersama. Mereka sering dikatakan kembar tapi beda. keduanya sama-sama cantik.


Suatu hari, Nafa yang tengah mengendarai mobil dihadang sekelompok anggota geng motor. Dia panik saat mereka memaksa dirinya untuk membuka pintu. Dia di seret untuk dilecehkan.

__ADS_1


Beruntung malam itu Fahmi dan teman-temannya melewati jalan itu dan melihatnya. Meski harus terjadi baku hantam, Fahmi muda dan teman-tamannya bisa mengalahkan mereka dan menolong Nafa.


Fahmi menghampiri Nafa yang terlihat takut. Merangkulnya kemudian membawanya ke dalam mobil. "Its ok, mereka sudah pergi. Di mana rumahmu biar saya antarkan pulang."


Sejak saat itu Nafa menaruh rasa pada Fahmi. Mencari tahu tentang pria itu. Dapat. Ia mendapatkan informasi tentang Fahmi termasuk pekerjaan laki-laki itu yang bekerja di rumah sakit milik sang ayah.


Setiap hari dia datang ke tempat kerja Fahmi. Membawakan makan siang untuk menunjukan bahwa ia tertarik pda Fahmi. Fahmi sendiri belum menyadari sikap Nafa, ia menerimanya karena sungkan untuk menolah. Akan tetapi sikap Fahmi dianggap memberi harapan oleh Nafa.


Sayangnya semua usaha yang dilakukan Nafa sia-sia saat ia mengetahui bahwa Fahmi adalah kekasih Silvi. Dia marah, mengira Fahmi telah mempermainkan perasaannya.


Dia semakin marah saat mendengar kabar bahwa Fahmi akan menikahi Silvi. Undangan yang ia terima ia remas dan melemparkannya ke tempat sampah.


Malam itu juga ia mendatangi Fahmi. Mengatakan perasaannya pada pria itu. Dia merendahkan dirinya untuk tetap bersama Fahmi.


"Maaf, Naf aku gak bisa meninggalkan Silvi. Sebelum aku mengenal kamu, aku sudah mengenalnya lebih dulu. Dan kamu juga tahu dua minggu lagi kami akan menikah."


"Tapi aku mencintaimu, Fahmi."


"Aku minta maaf sekali, Naf. Aku sudah terlanjur memilih Silvi. Jahat rasanya kalau aku meninggalkan dia setelah memberi harapan. Percayalah kamu akan menemukan pria yang selalu membuatmu bahagia, tapi bukan aku. Aku pamit ya." Fahmi meninggalkan Nafa tanpa menoleh lagi.


Nafa tidak terima. Dia harus selalu menang bagaimana pun jalannya. Tidak peduli jalannya mau saalh atau pun benar. Mengetahui Fahmi memiliki saudara laki-laki, Nafa pun menggunakan kesempatan itu. Ia mulai mendekati Fahmi dan membuat laki-laki itu jatuh cinta pada dirinya.


Ia berhasil sampai akhinya menikah. Awalnya Dion mengira jika istrinya benar-benar mencintai Dia. Tapi saat kembali ke rumah Fahmi beberapa waktu lalu, ia pun mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Sudah tumbuh kah cintamu untuk Dion?" Pertanyaan Fahmi yang dilontarakan pada Nafa malam itu tak sengaja Dion mendengarnya.


"Dion," panggil Nafa. Yang dipanggil tidak menanggapi. "Dion!" Kali ini Nafa mengguncang tubuh sang suami.


"Apa?" jawab Dion malas.


"Jangan sampai kamu meninggalkan aku. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Ingat kamu tidak akan berada di posisi saat ini kalau tidak ada aku. Yang penting bagimu jabatan kan?"


Apa uang dikatakan Nafa adalah benar. Yang penting jabatan tapi adanya Mira menjadi sebuah ancaman bagi Dion. Kalau sampai Nafa mengatahuinya bisa jadi ia idak memiliki apa-apa lagi.

__ADS_1


Ya Dion harus menyingkirkan Mira segera. Biarlah dia tahan rasa marahnya pada Nda yang penting tidak kehilangan apa yang sudah ia miliki saat ini.


__ADS_2