
"Begitu miskinnya kamu sekarang, Dion. Makan saja harus di pinggir jalan," ujar Hendro yang entah sejak kapan mereka ada di sana. Mungkinkah mereka mengikuti Dion.
"Apa kalian tidak memiliki kehidoan kain sehingva harus sibuk-sibuk mengikuti aku sampai ke sini."
"Omongan kita belum beres. Kamu main pergi saja."
"Yang mana?" tanya Dio acuh. Dia lebih sibuk menikmati nasi goreng yanh ada di piringnya.
"Kita harus bercerai," ujar Nafa
Ingin rasanya Dion melemparkan piring nasi girnegnya ke wajah Nafa. Tidak bisakah mereka berbucara setelah makanannya habis.
"Iya itu harus," tambah Hendro. "Saya tidak akan rela anak saya hidup dengan laki-laki miskin seperti kamu. Ayo Nafa pulang." Mereka masuk ke dalam mobil meninggalkan Dion.
Dilema antara menghabiskan makanannya atau pulang. Sayang jika ditiinggalkan. Benar kata Hendro kalau sekarang dirinya adalah orang miskin jadi membuang makanan adalah bukan hal yang tepat.
"Air minumnya bang," kata si pedagang.
"Makasih, Bang." Dion menatap pedagang yang duduk di sebelahnya.
"Kadang orang-orang yang diberikan harta lebih banyak dari kita suka semena-mena ya."
Dion menaggapinya dengan tersenyum.
"Saya pernah mengalami hal yang abang arasakan sekarang. Padahal mereka bisa menunggu sampai kita menghabiskan makanan yang di piring untuk bicara."
"Mungkin mereka sedang dikejar waktu."
***
Rumah Gina terlihat ramai saat ia turun dari taksi online. Tumben sekali, sepertinya di rumah itu akan ada acara.
"Eeehhh yang ditubggu akhirnya pulang."
"Apaan sih, Ma?" Gina mengerutkan kening. Mengabaikan tetangga juga saudara-saudarahya yang hadir.
"Sudah cepat bersih-bersih. Oh ya pakai pakaian yang mama siapkan," ujar mama Gina sambil mendorong anaknya ke dalam kamar.
Meski bingung, Gina tetap melakukan apa yang di minta olah ibunya. Dia menatap heran oada panfulan dirinya di cermin. Dia memakai kebaya yang disiapkan oleh sang ibu.
__ADS_1
"Mungkin untuk mengantar bang Gava melamar Ema," ucap Gina sambil membenarkan letak rambut.
Apa yang fia pikirkan ternyata salah. Bukan Gava sang akan melamar Ema. Melainkan dirinya akan di lamar oleh anak rekan ayahnya.
"Ma, apa ini?" bisik Gina ketika dirinya dipanghil saat acara akan di mulai.
"Syuuuttt ikuti saja acaranya."
"Ma, tapi ini ...."
Sepanjang acara Gina hanya menahan kekesalannya di dalam hati.
Ketika saatnya pertukaran cincin, ketika berfoto dengan rekan atau keluarga dia hanya berusaha tersenyum agar tidak mempermalukam orang tuanya.
"Tunggu, tunggu, foto dulu dong," ujar Gava dengan wajah riang tanpa rasa bersalah. "Senyum dong, Dek."
Kalau saja tidak memikirkan perasaan orang tuanya sudah Gina tonjok itu abangnya. Seenal hati emngatur kehidupan orang lain meski iti adalah adiknya.
Pukul 21:45 para tamu sudah mulai meninggalkan rumah orang tua Gina. Hanya beberapa saudara jauh yang diminta menginap termasuk Ema sebagai calon menantu.
"Tapi, Tan, aku bisa di jemput kok sama sopir." Ema menolak saat diminta untuk menginap.
Perempuan itu memonta pertolongan pada Gava tapi pria itu malah pura-pura tidak melihat.
Di antar oleh salah satu pekerja dia menempati kamar tamu yang menghadap kolam. Dari sana dia melihat sahabagbya tengah duduk menyendiri di sana.
Ada rasa bersalah yang selalu bercokol di dalam hati. Ingin meminta maaf tapi Gina tidak pernah memberinya jalan. Setelah mengganti pakaian dengan pakaian tidur yang diberikan oleh calon mertuanya dia turun dn menghampiri Gina.
"Gin!"
Yang diapnggil hanya menoleh sebentar, setelah itu dia memalingkan wajah pada sisi yang lain.
"Aku mau minta maaf," ujar Ema seraya ikut duduk dan menceburjan kakinya ke dalam kolam. "Tidak seharunya waktu itu aku membuka rahasia kamu."
"Permintaan maaf mu juga gak bisa membalikan keadaan. Jadi ya sudah," biasa Gina dingin.
"Jujur aku merasa bosan dengan keadaan kita yang seperti ini. Aku kangen kebersamaan kita yang dulu. Bisakah kita menghapus jarak itu, Gin. Kita sama-sama tekan ego kita masing-masing."
Gina menoleh. "Ego? Bukan soal ego, Em, tapi soal kepercayaan diantara sahabat. Aku memaafkanmu tapi setelah itu aku lebih nyaman sendiri."
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan untuk menembus kesalahanku, Gin?"
"Gak ada. Cukup di situ aja."
Gina bangkit dan meninggalkan sahabatnya menuju kamar. Sakit itulah yang dirasakan dia saat ini. Dia seperti wayang yang harus bergerak ketika dalang memainkannya.
Papa Gina menghampirinya di dalam kamar. Mengusap rambut putrinya yang tengah tengkurap menahan derasnya air mata.
"Gin, papa minta maaf, tapi percayalah apa yang papa lakukan semua untuk kebaikan kamu. Papa tidak ingin kamu terlanjur jauh dengan pria itu. Aldi adalah pria yang baik. Dia akan membuat kamu bahagia. Percayalah pada papa."
Sejatinya orang tua memang menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Akan tetapi memaksakan kehendeka pada anak yang sudah bisa membedakan mana benar dan salah, tidak semudah memaksakan kehendak pada anak berusia tujuh tahun.
Di mana mereka akan menuruti apa yang kita katakan karena takut dengan menagnggao kalimat yang kita sampaikan adalah ancaman.
***
"Tadi Dion ke sini, tapi gak masuk rumah," ujar Mira pada suaminya yang baru pulang. Dia juga sudah emnyiakan air hangat untuk Fahmi berendam. Biasanya ketika lelah, berendam adalah cara yang paling mudah untuk melepaskan penat. Apalagi ditemani aroma terapi yang menenangkan.
"Loh kenapa?" Fahmi teng hndak masuk ke kamar mandi mengembalikan langkahnya.
"Gak tau juga. Tadi Adel sama Gama yang menemui di pintu gerbang," kata Mira sambil membuka pintu karena mendengar suara Syafa di interkom. "Ada apa, Kak?"
Sedangkan Fahmi melanjutkan niatanya berendam.
"Ibu aku lupa bilang. Aku harus menyiapkan ini untuk tugas besok." Syafa menyerahakn buku cacatan berisi tugas.
Mira mengusap pucuk kepala sang anak. "Nanti kita minta tolong ayah untuk membelinya. Sekarang ayahnya lagi mandi dulu. Kakak mau nunggu di kamar ini atau di abah sekalian nemenin adek dan Gama?"
"Em. Di bawah aja deh." Anak itu kembali ke bawah dengan wajah riang.
"Syafa kenapa, Yang?" tanya Fahmi yang baru keluar dari kamar mandi. Kemudian meraih pakai yang disiapkan oleh istrinya.
"Minta dibelikan ini untuk tugas besok katanya." Mira menunjukan catatan yang yadi dibawa oleh Syafa.
"Sekalian makan malam di luar aja, Sayang. Ajak anak-anak juga. Oh ya sekalian undang papa. Sudah lama loh kita gak kumpul."
Mira pun menghubungi Ardan tapi panggilannya tidak di jawab.
"Ya sudah kita aja," balas Fahmi ketika istrinya memberi tahu. "Tanpa make-up saja kamu sudah sangat cantik, apalagi pake make up, Sayang."
__ADS_1
"Masa sih?" Mira masih memoleskan pewarna bibir agar tidak terlihat pucat.