Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Aku Mau punya Ibu


__ADS_3

Suasana gelap menyulitkan Fahmi untuk mengejar pria yang mencurigakan itu. Pergerakan pria itu begitu licin seperti belut. Fahmi kembali rumah Mira tapi sepertinya perempuan itu tidak ada di rumah. Terlanjur datang, ia memilih menunggu di dalam mobil.


Setelah adzan isya barulah ia melihat perempuan yang ingin dia temui. "Dek?" sapa Fahmi sambil ke luar dari mobil.


"Dok? Sejak kapan di situ?" Mira terkejut atas kedatangan pria itu.


"Belum lama kok, oh ya saya perlu bicara dengan kamu dek. Tapi sepertinya tidak mungkin bicara di dalam. Sekitar sini ada tempat ngopi?"


"Ada mari saya tunjukkan."


Kedai kopi terdekat menjadi tempat pilihan untuk mereka bicara. Fahmi menatap perempuan yang selalu dia khawatirkan. "Apa yang terjadi, Dek?" tanya Fahmi langsung pada inti kekhawatiran. "Katakan apa ini berhubungan dengan Dion?"


"Dokter menanyakan ini karena sudah tahi keadaan saya?"


"Ya tentu. Yang berhubungan dengan kamu dan bayimu adalah urusan saya. Tadi saya bertemu dokter Nisha. Kabar ini cukup mencengangkan untuk saya. Apa yang terjadi?"


Mira meneguk minuman yang ada di hadapannya untuk melegakan tenggorokan yang terasa kering. Dia memberikan diri menatap pria yang selama ini selalu peduli pada dirinya.


"Saya tidak tahu apa ini perbuatan Dion atau bukan. Saya selalu merasa diawasi, selalu ada yang mengirimkan paket pada saya. Dan yang paling mengganggu adalah paket berisi pakaian bayi. Di dalamnya terdapat surat yang mengatakan saya harus menjaga bayi ini. Suatu saat dia akan mengambilnya."


"Jujur saya takut itu adalah Dion. Tapi saya juga tidak bisa menuduh ini perbuatan dirinya."


Mira kembali menundukan wajah, Fahmi tahu bahwa perempuan yang ada di hadapannya tidak mungkin sampai hati menuduh Dion. Sudah pasti masih ada cinta dalam diri Mira untuk pria yang telah menghancurkan hidupnya. Tidak mudah menghapus perasaan untuk orang yang pernah hadir dalam kehidupannya.


"Karena kamu masih mencintainya?" tanya Fahmi.


"Bukan tapi saya tidak ingin gegabah mencurigai seseorang, Dok."


"Jujur, Dek, saya khawatir dengan keadaan kamu sekarang. Apalagi ini menyangkut kondisi janin. Apa sebaiknya kamu tinggal kembali di rumah saya. Setidaknya sampai kamu melahirkan."


"Enggak bisa ,Dok. Saya harus mandiri. Mau sampai kapan saya bergantung pada, Dokter? Saat ini saya hanya tidak bisa mengatasi rasa cemas saya saja, Dok. Tapi saya yakin bisa."

__ADS_1


"Mau sampai kapan? Ini bahaya untuk kalian berdua. Dokter Nisha sudah memberitahu 'kan akibat-akibatnya?"


"Ya saya sudah tahu. Perlahan saya pasti bisa, Dok. Saya ucapkan terima kasih atas perhatian, Dokter, tapi maaf saya harus menolak jika harus tinggal lagi bersama, Dokter. Saya harap, Dokter Fahmi menghargai keputusan saya."


Fahmi diam, dia tidak bisa lagi memaksa agar Mira kembali ke rumahnya.


"Baiklah. Saya tidak bisa memaksa lagi," kekeh Fahmi meski rasa khawatir belum hilang dari wajahnya.


Setelah perbincangan panjang lebar itu, Fahmi mengantar Mira pulang. Hidup Mira adalah keputusan Mira, Fahmi bisa apa setelah perempuan itu memohon.


"Kamu yakin akan tetap tinggal di sini? Padahal di rumah Syafa dan Adelia juga pasti senang kamu kembali. Mereka selalu mengatakan merindukan kamu." Fahmi masih mencoba penawarannya.


Mira tersenyum, sambil menggelngkan kepala. "Dok, kejadian bersama Dion, pertemuan saya dengan dokter adalah pengalaman yang mengajarkan arti hidup untuk saya. Sekrang saatnya saya menapaki bumi pertiwi ini dengan kaki saya sendiri."


"Oke, apa kamu tidak menerima seseorang untuk menemani langkahmu."


"Maksud, Dokter?" tanya Mira penasaran.


Fahmi berdehem, "lupakan saja."


"Gak papa, Mir," kata mama Gina.


"Ngapain telepon, orang cuma terhalang beberapa rumah aja," balas Gina.


"Oh iya, ini dokter Fahmi. Dok, ini Gina dan ini mamanya."


Ketiga orang itu berkenalan dan saling menyebutkan nama masing-masing.


Mira segera membuka kunci dan mempersilahkan mereka masuk. Sebenarnya dokter Fahmi hendak pamit, tapi urung saat melihat box yang dibawa oleh Gina.


"Mir tadi ada yang nitip ini sama tante," ujar mama Gina meyodorkan box yang dibawa.

__ADS_1


Mira menoleh pada Fahmi, "Dari siapa tan?"


"Gak tahu, orangnya gak sebut nama. Tadi datangnya pas tante mau shalat maghrib. Jadi tante buru-buru."


"Yang ngirim tua apa muda, Bu?" tanya Fahmi tak kalah penasaran dengan Mira.


"Tua deh kayanya," jawab mama Gina ragu. "Kamu gak lihat, Gin? kan kami susul."


"Gak jelas, Ma, soalnya kurang cahaya. Tapi dia naik mobil mewah. Cuma kalau tia atau muda kayaknya masuk katagori tua deh. Eh tapi gak tau lah kan bapak-bapak jaman sekarang terlihat kayak anak muda," papa Gina sambil tertawa.


Tua? Apa itu papa? Tapi apa iya itu papa, kan papa bangkrut. Enggak mungkin pakai mobil mewah.


Lain pikiran Mira, lain juga pikiran Fahmi. Dia menerka jika itu Dion atau orang suruhannya. Maka saat ia pulang dari rumah Mira, dia langsung menghubungi orang-orang yang sering dia bayar untuk mendapatkan informasi.


Sampai rumah dia langsung diberondong banyak pertanyaan oleh sang adik. "Mas, capek, Dek. Nanti aja ya Mas jawab pertanyaannya."


"Selalu aja begitu. Nanti malah lupa lagi," gerutu Adelia yang tidak mendapat jawaban memuaskan dari Fahmi.


Fahmi sendiri gegas membersihkan diri. Setelahnya dia menemui sang anak yang terlihat murung di kamarnya. Dia duduk di dekat sang anak. Dia usap puncak kepalanya dengan lembut. Sang anak menoleh dan dia menyaoanya dengan senyum hangat.


"Princes ayah kenapa?"


"Gak papa," jawaban Syafa begitu singkat. Persis anak gadis yang tengah merajuk pada pujaan hatinya.


"Katanya gak papa, tapi kok ayah pulang gak disambut." Tadi siang Fahmi memang ditelepon oleh Santi-pengasuh Syafa. Perempuan itu mengatakan bahwa Syafa murung sejak pulang sekolah. "Perincess ayah marah karena ayah pulang terlambat?"


Syafa menggelengkan kepala. Anak itu menatap Fahmi dengan keadaan mata yang berkaca-kaca. Seketika ia menghambur pada pelukan sang ayah kemudian menangis.


"Mas, Syafa kenapa," tanya Adelia yang panik mendengar suara tangis keponakannya.


Fahmi menggelngkan kepala sambil terus mendekap snah anak. Dia sendiri belum mengetahui penyebab sang anak menangis.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Nanti cantiknya princess ayah hilang kalau nangis. Ayah minta maaf ya kalau ayah pulang terlambat. Emm sebagai permintaan maaf ayah, ayah ijinkan princess meminta apa pun malam ini."


Syafa menunduk, kemudian mengangkat wajahnya. Menatap lekat pada sang ayah. "Aku mau ibu. Teman-temanku selalu dijemput oleh ibunya, tapi aku gak pernah. Kenapa aku gak punya ibu seperti yang lain ayah?"


__ADS_2