Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Jarak yang Menyiksa


__ADS_3

"Dah, Adek. Jangan nakal ya." Pesan terkahir Mira pada Syafa di depan pintu gerbang sekolah Syafa.


"Dah, Kak Mira. Nanti main lagi ya kalau bayinya kak Mira sudah keluar."


Mira tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil dan memberi tahu tujuannys pada sopir yang mengantarnya. Mira hanya menggunakan satu mobil untuk membawa barangnya ke tempat tinggalnya yang baru.


Dia hanya membawa sebagian kebutuhan bayinya nanti. Kata Fahmi setelah melahirka Mira harus tinggal lagi di rumahnya. Sekarang ia diberi ruang untuk menenangkan diri sampai melahirkan.


Fahmi juga memberikan sebuah kartu ATM untuk digunakan Mira. "Uang ini memang tidak bisa mengembalikan apa yang telah direnggut oleh Dion. Kesucianmu juga masa depanmu. Tapi saya mohon jangan membuat saya sebagai kakaknya merasa bersalah karena membiarkannya tidak bertanggung jawab. Anggap saja ini sebagai bentuk tanggung jawab dari dia melalui saya. Pastikan setelah melahirkan nanti, kamu akan kembali ke rumah ini." Begitu kata Fahmi.


Perjalanan menuju tempat tinggal yang baru memakan waktu hampir dua jam. Mira juga sempat memejamkan mata saat diperjalanan.


Mobil sudah berhenti di tujuan yang ditunjukan Mira melalui GPS. "Mbak, sudah sampai." Pak sopir menepuk pundak Mira yang masih memejamkan mata.


Mira mengerjap, "sudah sampai ya?" Mira segera turun dan menghubungi Gina. "Gin aku sudah di depan gerbang," ucapnya memberi tahu.


"Bentar aku turun." Panggilan di tutup.


"Ini barangnya turunkan di sini aja, Pak. Nanti biar saya yang bawa ke dalam. Bapak boleh pulang sekarang."


"Saya diminta untuk memastikan Mbak Mira dulu oleh Pak Fahmi."


"Miraaaaa!" Seru Gina di pintu. Di sebelahnya mama Gina juga ikut menyambut. "Aku pikir gak jadi sekarang, tapi kamar suda siap kok. Lets go."


"Jadilah, Tante," sapa Mira pada mama Gina dan menyalaminya.


Mama Gina menyambut hangat kedatangan Mira. Dia sudah mendengar cerita tentang Mira dari sang anak tanpa di minta. Dia sangat menyayangkan, tapi tidak punya hak untuk menghakimi.


"Ayo masuk, Mir, Pak."


Mira langsung diajak melihat kamar yang akan ia tempati. "Nah ini kamarnya, sengaja disioakan kamar yang gak naik turun tangga, kasihan nanti kamu kecapean," papar Mama Gina. "Gak papa kan kalo gak yang atas?"

__ADS_1


"Gak papa tante, beresiko juga kalau naik titin tangga. Udah mulai engap soalnya."


Kamar yang tidak terlalu kuas ini akan menjafinkamar Mira entah sampai kapan. Mungkin sampai anaknya lahir atau selamanya akan tinggal di kontrakan.


"Ini dapur bisa digunakan bersama, kalau Mira mau masak yang mangga. Tapi lebih praktis beli sih," kekeh Mama Mira sebelum mereka pergi.


Barang-barangnya sudah dipindahkan oleh sopir ke kamar Mira.


"Istirahat dulu ya aku ada kegiatan sama Ema di gor. Kalau ngajak kamu takutnya kecapean, nanti aku bawakan martabak telor kesukaan kamu. Masih suka gak?"


"Masih lah."


Sekarang tinggal Mira di sini. Dikamar yang jauh berbeda dengan kamar rumahnya dulu dan kamar di rumah Fahmi. Apalah arti membandingkan jika hanya membuat sakit. Nikmati saja yang saat ini tersedia. Istilahnya syukuri sepatu yang kamu punya saat ini.


Hujan gerimis mulai turun, daun-daun yang tadinya penuh debu terlihat segar lagi. Mira menatap hujan dari balik jendela. Ada rindu yang tidak bisa diungkapkan tapi entah untuk siapa. Hujan membawa kenangan untuknya.


Mira mulai menata barang bawaannya. Dia mencoba berdamai dengan keadaan.


Alasan Mira keluar dari rumah Fahmi, selain karena alasan utamanya Dion, ada juga alasan lainnya yaitu Fahmi. Mira merasa pria itu terlalu baik pada dirinya. Mira takut ada cinta yang tumbuh tanpa disengaja diantara mereka. Disebabkan beberapa kali tak sengaja tatapan mereka bertemu.


Fahmi akan mendapat cemoohan karena dirinya. Masa orang sukses sama orang yang gak ada apa-apanya. Masa orang baik sama orang buruk seperti Mira. Emang tidak jijik sudah ditiduri adik sendiri. Gak dapat adiknya maka kakaknya pun jalan. Kalimat-kalimat menyakitkan seperti itu belum sanggup Mira dengar.


Mira memperhatikan lingkungan sekitar setelah menata barang-barangnya. Tempat tinggalnya yang sekarang berada di pemukiman padat penduduk tapi tidak kumuh. Beberapa meter adri tempatnya ada bangunan sekolah. Mira mulai berpikir untuk usaha apa yang akan dia buat untuk menyambung hidupnya.


Bisa saja dia menggunakan ATM pemberian dari Fahmi, tapi dia malu. Mungkin saat keadaan terdesak ATM itu bisa Mira gunakan.


Jam sudah menunjuk anak 1:45. Mira memilih untuk menyegarkan diri dan menunjukan kewajiban. Setelah melipat sajadah dan mukenahnya ia mendengar ponselnya berdering, layarnya menampilan nama Adelia. Segera Mira geser ikon warna hijau.


"Assalamualaikum," sapa Mira.


"Kak Mira," rengek Adelia. Wajahnya sangat menggemaskan untuk dicubit.

__ADS_1


"Iya, ada apa?"


"Kangen."


"Masa udah kangen, kan baru tadi pagi kita berpisah." Mira tetap tersenyum meski ia pun merasakan hal yang sama.


"Rindu itu gak bisa diprediksi kapan datangnya, untuk siapa dan pada siapa akan berlabuh." Adelia mulai bersya'ir.


"Cielah," Mira tertawa.


"Serius loh aku tuh, masa diketawain. Mas Fahmi juga sepertinya gitu. Aku tanyakan nanti ya."


"Eh ... eh ... eh kok mas Fahmi. Pada anaknya iya aku rindu."


"Sama ayahnya enggak?" tanya Fahmi yang tiba-tiba muncul di belakang Adelia. Membuat Mira tercekat dan bingung harus berangkat kalimat seperti apa. "Tempat tinggalkan nyaman?" tanya Fahmi lagi.


"Alhamdulillah, nyaman. Lingkunganya pada penduduk tapi tidak kumuh sih Alhamdulillah."


"Syukurlah, kalau gak betah jangan sungkan minta dijemput ya."


"Eeemmmm kan aku bilang juga apa mas. Nikahin aja langsung biar gak jauhan. Mas sih mikirnya kelamaan jadinya sekarang disiksa jarak," timpal Adelia.


Apalagi menurut Adelia status Mira dan Fahmi masih calon suami istri.


Fahmi mengusap wajah sang adik membuat Mira tertawa sedang Adelia cemberut. "Hati-hati di sana ya. Jangan lupa jaga kesehatan. Aku harus kembali ke rumah sakit. Tadi pulang dulu Syafa rewel saat pulang sekolah."


"Pawangnya gak ada sih," serobot Adelia.


Mira membalas dengan anggukan. Merasa malu meski sekedar untuk mengatakan kalimat hati-hati.


Hampir satu jam Mira dam Adelia mengobrol lewat sambungan videocall. Apalagi saat Staf sudah bangun dan ikut bergabung. Mira jadi tidak merasa tengah berhijab dengan mereka. Namun saat panggilan berkahir rasa sepi kembali mendera dan memluknya.

__ADS_1


Menggunakan uang gaji dari bekerja menjaga Syafa Mira membeli makan untuk makan siang yang sudah lewat. Tadi mama Gina sempat menawarkan untuk makan dirumahnya tapi Mira menolak. Ia masih malu dan tentunya tidak ingin merepotkan.


Saat menyebrang jalan, Mira melihat sebuah mobil hitam tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mira merasa tidak asing dengan mobil tersebut tapi siapa?


__ADS_2