
Hari-hariku sempat gelap dan tak mendapatkan cahaya. Berjalan di sebuah lorong gelap yang sulit menemukan jalan keluar. Berjalan seorang diri, merangkak, bangkit, dihantam badai dan jatuh lagi. Aku menangis seorang diri. Aku coba bangkit lagi tapi justru aku terperosok pada sebuah jurang
Saat itu aku benar-benar seorang diri. Bahkan Tuhan yang katanya ada saat itu aku tak percaya keberadaannya. Kalau memang benar adanya pasti ia akan membantu. Nyatanya aku dibiarkan seorang diri untuk waktu yang lama.
Di tengah bingung dan rasa gundah, aku mulai merasakan kebaikan Tuhan. Ia kirimkan manusia berhati malaikat. Ia adalah kamu, Mas Fahmi.
Kamu membawaku ke rumahmu. Menjadikan aku bagian dari keluargamu. Kamu contohkan kebaikan untuk aku tiru. Kamu ulurkan tangan saat aku terjatuh, kamu temani aku saat sendirian. Aku pernah berpikir kamu manusia sepertiku atau kamu adalah malaikat berwujud manusia.
Sungguh kehadiranmu membawa cahaya untuk aku terus melangkah.
Akan tetapi aku harus mengambil keputusan ini sebelum semua terlalu jauh. Aku memutuskan untuk pergi karena banyak alasan yang mendukunya.
Mas Fahmi aku berterima kasih atas uluran tanganmu, tapi maaf aku tidak bisa lagi melangkah bersama-mu. Aku harus mengambil jalan lain untuk sampai pada tujuan. Aku harap kepergianku tidak meninggalkan luka untuk siapa pun. Sekali lagi terima kasih atas kebaikanmu. Berikan cincin ini pada dia yang pantas berdiri di sampingmu.
Mira.
Adelia membacakan pesan itu untuk sang kakak. Hanya terdengar tarikan nafas dari keduanya setelah membaca surat itu.
"Bisa kamu hubungi lagi pak Ardan, Dek?"
Adelia setuju, tapi panggilan tidak tersambung. Alhasil Fahmi hanya menggenggam surat dan juga cincin itu.
"Perlu aku menghampirinya di rumah, Mas?" tanya Adelia. Ia tidak tega kenapa Mira harus memutuskan saat keadaan kakaknya seperti ini. Apa Mira malas jika harus merawat Fahmi. Apa keadaan Fahmi terlalu merepotkan bagi seorang Mira. Padahal lelaki itu banyak sekali telah membantu.
Adelia: Aku gak tahu alasan apa yang mendorong Kak Mira memutuskan menjauh dari mas Fahmi. Apa kak Mira keberatan dengan kondisi Mas Fahmi, aku katakan aku yang akan merawatnya.
Adelia mengirim pesan bernada amarah. Dia menyayangkan keputusan Mira. Padahal kakaknya selalu ada untuk perempuan itu.
"Sungguh tidak tahu terima kasih," ujar Adelia yang merasa geram.
"Kita gak tahu alasannya, Dek. Sudahlah biarkan saja seperti maunya dulu, tunggu mas sembuh dulu. Akan mas kejar cintanya nanti."
Adelia menatap tak suka dengan perkataan sang kakak. "Sungguh akan dikejar? Dia bahkan meninggalkan Mas Fahmi saat seperti ini. Nggak pantas kalau dia harus dikejar. Biarkan saja dia pergi. Mas itu tampan, baik, seorang dokter, kaya. Banyak kok yang mau sama mas Fahmi," omel Adelia. "Gak perlu mengejar yang nggak mau. Ngelunjak nanti yang ada."
Fahmi hanya diam saja. Membiarkan sang adik meluapkan kekesalan tanpa ia sanggah. Setelah diam barulah dia tarik dan mendekapnya.
"Ish mas Fahmi selalu aja begitu kalau aku lagi kesel." Adelia memberontak dalam dekapan sang kakak.
"Shuuuuttt, mas gak mau kamu cepat tua karena marah-marah." Barulah ia melepaskan dekapan saat sang adik setuju untuk diam.
***
Mira menatap bayi yang sedang tertidur pulas di dalam boks bayi. Sejak pulang dari rumah sakit, Mira tidak pernah jauh dari sang anak. Dia juga bercerita banyak pada sang anak. Tentang masa kecilnya yang bahagia. tentang Syafa yang lucu juga tentang harapan untuk sang anak.
Ardan menghampiri dan mengetuk pintu kamar Mira.
"Masuk aja, Pa, gak dikunci kok."
Ardan menyembulkan kepalanya di antara pintu yang terbuka sedikit. "Syifa sudah tidur? Ayo makan malam dulu."
"Makan di sini aja deh, Pa."
"Jangan dong, takutnya nanti ada sisa makanan yang jatuh terus dikerubungi semut. Kasihan Syifa takutnya dia terganggu dan jadi gak nyaman."
"Tapi ..."
"Nanti salah seorang pelayan papa minta untuk menjaga Syifa."
Mira menuruti perkataan ayahnya. Rasanya senang sekali bisa memiliki waktu lagi seperti ini dengan sang ayah. Mereka berbincang saling melempar canda. Menikmati makanan yang sama seperti saat ia kecil. Tak jarang Ardan juga iseng menambahkan nasi pada piring Mira padahal anaknya sudah hampir selesai.
"Papa," protes Mira.
"Ibu hamil harus banyak makan. Toh badanmu juga gak gendut-gendut amat setelah melahirkan. Lupakan dulu bentuk tubuh, yang penting nutrisi untuk bayi tercukupi. Masalah badan nanti juga bisa ramping lagi, itu pun kalau kamu olah raga," papar Ardan membuat Mira cemberut karena di katakan gendut.
"Loh bener kan?" lanjut Ardan saat melihat ekspresi anaknya.
__ADS_1
Selesai makan Mira menyempatkan menghubungi pondok tempat sang adik belajar. Ia harus menunggu karena panggilan tak kunjung diangkat.
***
Ardit baru menyelesaikan persiapan untuk mengikuti lomba MTQ satu bulan lagi. Dia tidak sabar menyapa sang kakak andai dia keluar sebagai juara yang akan diwawancarai.
"Ardit ada telepon," salah satu petugas pondok memanggil Ardit yang kebetulan lewat.
"Papa lagi pasti," gumam Ardit menghampiri petugas tadi. "Assalamualaikum," sapa Ardit pada orang yang menghubungi.
"Dit?" sapa Mira setelah lebih dulu menjawab salam.
"Kak Mira? Ini bener kak Mira? Alhamdulillah!" seru Ardit sedikit keras membuat petugas di sebelahnya menoleh dan memberi isyarat agar membiarkan suara.
"Iya ini aku. Kamu apa kabar? Oh ya sekarang keponakan kamu sudah lahir."
"Keponakan?"
"Iya. Alhamdulillah aku sudah melahirkan, dan sekarang tinggal di rumah papa."
"Rumah papa? Kak kamu memaafkan papa?"
"Iya. Memang aku punya alasan untuk membenci papa? tidak kan."
Mereka berbincang cukup lama, selain bertanya kabar Ardit juga menceritakan persiapannya yang akan ikut lomba. Ardan ikut mendengarkan tapi tidak menyapa. Membiarkan kedua anaknya saling melepas rindu. Ia hanya tersenyum kala mendengar ucapan Ardit yang menyinggung dirinya. Ia juga melarang Mira memberitahu keberadaan dirinya pada anak keduanya.
Wajar jika mereka menyimpan rasa kesal dan mengungkapkannya pada orang yang mereka percaya. Ardan tidak tersinggung. Justru ucapan Ardit menyadarkan ia akan sikap lalai.
Selesai berbincang dengan Ardit karena waktu yang terbatas, Ardan berbicara dengan Mira. Ia meminta Mira untuk bercerita tentang Dion. Beruntung Mira sempat keceplosan tentang beberapa bukti yang sempat dikumpulkan. Pada akhirnya Ardan meminta bukti tersebut. Rekaman suara, secreenshoot pesan ancaman, foto surat dari paket yang ia terima dan masih banyak bukti yang ia dapat.
"Papa tidak akan macam-macam kan, Pa?" Mira menatap sang ayah yang tampak tenang melihat setiap bukti dari Mira.
"Kenapa? Kamu masih mengkhawatirkan dia?"
"Bukan mengkhawatirkan dia, tapi kalau yang diperkarakan tentang asusila maka aku juga akan terseret. Terus apa nama baik dokter Fahmi akan ikut terseret juga? Aku tidak ingin membalas kebaikannya dengan melemparakn kotoran ke wajahnya.
"Papa." Mira menahan langkah ayahnya.
"Yang akan papa perkarakan yaitu sikap Dion atas perlakuan yang tidak menyenangkan. Urusan dokter Fahmi itu urusan lain."
Keesokan harinya, di rumah Ardan tampak ramai oleh beberapa orang yang tidak Mira kenal. Ternyata sang ayah ingin mengadakan acara aqiqah untuk cucunya. Ardan juga membeli tiga ekor kambing untuk disembelih. Satu untuk cucu perempuannya, dua lainnya untuk dibagikan kepada warga sekitar. Bukan tidak merasa malu dengan status sang anak yang menjadi seorang ibu tanpa seorang suami. Akan tetapi mau sampai kapan ia akan menyembunyikannya.
Lambat laun orang-orang di sekitarnya akan mengetahui juga. Cacian, hinaan atau omongan yang tidak enak itu pasti ada dan akan sampai ke telinganya. Sekali lagi itu adalah sangsi sosial yang harus ia dan sang anak terima. Tugasnya hanya harus selalu mendampingi sang anak untuk menghadapi ujian itu. Toh tidak akan selamanya, omongan buruk tentang mereka akan memudar seiring berjalannya waktu.
Setelah menyampaikan keinginan pada orang-orang yang ia tunjuk sebagai panitia acara, ia pamit dan meminta diantar ke kantor polisi.
Kedatangan Ardan disambut baik.
***
Dion tengah kedatangan mertuanya, sehingga pagi ini mereka harus duduk bersama untuk sarapan.
"Bagaimana perkembangan proyek yang baru Dion?" tanya mertua laki-laki.
"Team mulai menggarapnya, Pa. Papa tidak perlu khawatir karena saya sendiri akan turun tangan untuk menyelesaikannya."
"Bagus, tunjukkan itu pada saya."
Seorang pelayan menghampiri tuannya yang tengah sarapan. Mengatakan bahwa mereka kedatangan tamu.
"Tamu siapa?" tanya Nafa pada pelayan.
"Namanya pak Wisnu Ardan, Bu."
"Wisnu Ardan?" tanya Dion mengerutkan kening.
__ADS_1
"Kamu kenal?" tanya mertua perempuan.
"Ya dia rekan bisnis perusahaan kita, Ma. Ok suruh tunggu sebentar, saya akan menemui segera," ujar Dion segera menghabiskan makanannya.
"Rasanya aneh ketika rekan bisnis datang ke rumah tanpa memberi kabar lebih dulu," gumam Hendro-mertua Dion.
"Mungkin darurat menyangkut proyek, Pa. Aku sudah selesai. Permisi aku harus menemuinya."
Hendro ikut menyelesaikan sarapan. Dia penasaran dengan tamu yang datang di pagi-pagi seperti ini. Sepertinya akan ada hal besar yang terjadi.
"Pak Wisnu," sapa Dion pada tamu yang membuatnya bingung itu. Kemarin mereka bertemu di rumah sakit. Dion menganggap bahwa Ardan hanya menjenguk Fahmi sebagai rekan bisnis. Dia tidak tahu kalau Ardan adalah ayahnya Mira. "Selamat pagi."
Dion mengulurkan tangan tapi tidak dibalas oleh Ardan.
"Silahkan duduk!" Dion mempersilakan tamunya setelah salam darinya tidak dijawab pun dengan uluran tangan. "Rupanya ada hal penting sekali sehingga anda harus repot-repot datang ke rumah pagi-pagi."
"Ya ini penting sekali," balas Ardan datar tanpa senyum atau ekspresi ramah yang seharusnya. "Menyangkut perempuan muda yang kehilangan masa depannya kira-kira sepuluh bulan yang lalu."
Deg.
"Maksud anda? Saya kurang mengerti dengan perkataan anda." Benar-benar pandai berakting, dia masih bisa bersikap tenang padahal ia yakin ini menyangkut Mira.
Kita lihat saja, sejauh mana bakat aktingnya akan berjalan setelah dia terjerat hukum.
"Apa maksudnya pak Wisnu?" tanya Hendro yang baru muncul di pintu tapi sepat mendengar ucapan Ardan.
Ardan menunjukan sebuah foto yang ia dapat dari orang suruhannya. Foto yang menampilkan Dion dan Mira tengah berada di basement sebuah hotel. Foto di mana hari itu Dion mulai merayu Mira.
"Itu menantu anda, membawa seorang perempuan yang masih mengenal seragam sekolah ke sebuah hotel. Menurut anda kira-kira apa tujuannya?"
Hendro menatap nyalang pada menantunya. Sebuah gerakan cepat dari tangan Hendro membuat Dion terjerambap.
"Tunggu, Pah. Belum tentu itu aku, jaman sekarang banyak foto yang bisa diedit." Dion menyangkal tuduhan itu sambil memegang pipinya yang terasa linu.
"Lalu bagaimana dengan ini?" Ardan memutar rekaman Mira dan Dion saat mereka di rumah Fahmi.
Dion tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ya itu memang suaranya, tapi yang membuat Dion bingung adalah untuk apa Ardan melakukan hal yang berpotensi merusak kerja sama mereka.
"Pak Wisnu anda tahu resiko dari apa yang anda lakukan saat ini? Anda bisa kehilangan uang milyar-an rupiah dari kerja sama kita." Hendro tidak ingin menyudutkan menantunya di depan rekan bisnis. Hal itu bisa dimanfaatkan oleh rival dan akan membuat ia rugi banyak.
Ardan menarik sudut bibir membuat ia terlihat sedan tersenyum sinis. "Saya tidak takut kehilangan uang itu daripada putri saya tidak mendapat keadilan. Lagi pula sepertinya anda yang lupa, dari proyek ini anda yang akan mengganti finalti. Benar kan?"
Nafa menyudahi sarapannya karena rasa penasaran dengan apa yang terjadi di ruang tamu. Begitu pula dengan ibunya.
Sudah putrinya dikhianati, sekarang Hendro akan kehilangan uang dari kerja sama dengan perusahaan Ardan. Dia mengepalkan tangan, dan Ardan melihat itu tapi dia tidak peduli.
"Saya hanya ingin menyampaikan itu saja. Saya permisi," ujar Ardan meninggalkan tempat itu.
Akan ada kejutan lain untuk kalian setelah ini. Tunggu saja.
Hendro yang tangannya sudah gatal ingin menghajar sang menantu sejak tadi pun langsung merealisasikan. Tidak ada ampun bagi Dion dari Hendro. Meskipun anak dan istrinya berusaha melerai.
"Papa cukup," teriak Nafa. Ia belum mengerti kenapa Dion harus dihajar seperti itu, karena saat dia datang tamunya sudah pergi.
"Kamu masih mau memiliki suami macam dia?" bentak Hendro.
"Papa ada apa, kenapa menantumu harus dipukul?" tanya istrinya.
Tak lama terdengar sirine mobil polisi berhenti di depan rumahnya.
"Selamat pagi, kami dari kepolisian membawa surat tugas penangkapan atas saudara Dion dan saudara Nafa."
"Loh kok Nafa, bukannya hanya Dion?" tanya Hendro dengan amarah yang belum reda.
"Ya saudara Nafa ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap dokter Fahmi."
__ADS_1
Semua orang dibuat terkejut dengan penuturan pihak kepolisian. Termasuk Nafa yang tidak menyangka perbuatannya akan tercium oleh hukum. Padahal dia merasa tindakannya sudah rapi dengan membayar orang lain untuk pura-pura mabuk.