Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Dion pingsan


__ADS_3

Dion buru-buru pulang saat adzan subuh berkumandang. Sengaja dia tidak pamit kepada pemilik rumah karena menghindari Mira. Dia yakin kelai perempuan itu merasa terganggu oleh kehadiran dirinya.


Pukul tujuh, setalh mengisi absen dengan sisik jari. Dia masuk ke dalam ruangan. Tidak peduli beberapa rekan kerjanya saling berisik membicarakan wajah dirinya yang masih menyisakan lebam.


Kali ini dia tidak menyapa Gina. Tarik ulur doang, kalau ditarik terus bisa putus nanti.


Benar saja gadis itu merasa ada yang kurang saat Dion tidak lagi menyapa seperti beberapa hari kemarin. Dia lirik pria itu, melihat luka lebam yang masih tersisa dia tidak enak hati. Mau negur takut dibilang basa-basi. Mau abai juga itu terjadi karena dirinya.


"Sarapan, Dion?" tawar seorang perempuan yang sama-sama diabaikan staff.


"Terima kasih tapi aku sudah sarapan di rumah."


Gina melirik perempuan yang berwajsh manis dan mengatakan makanan pada Dion. Dia pun menarik cermin kecil yang selalu ia bawa di dalam tas. Memperhatikan pantulan wajah dirinya di dalam cermin.


Suasa kembali kondusif saat mereka sama-sama fokus pada pekerjaan masing-masing. Sesekali atasan mereka memanggil dan meminta data.


Saat makan siang tiba Dion malah menemoelkankeningnya meja. Sontak Gina yang melihat itu merasa khawatir dan menghampirinya.

__ADS_1


"Mas, Mas Dion."


Yang dipanggil hanya bergumam. Namun karena merasa tidak di jawab Gina sedikit emnggunkan tenaga untuk mengguncangkan tubuh Dion. Akibatnya Dion jatuh tegeletak.


"Astaga, ternyata demam." Gina bicara sendiri saat tangannya menyentuh kening Dion. Dia memanggil beberapa orang untuk dimintai pertolongan.


Dion di bawa ke rumah sakit menggunakan mobil kantor.


Dia langsung di bawa ke IGD untuk penanganan pertama. Gina berpikir bahwa demam Dion diakibatkan karena pukulan kakaknya kemari. Tidak tahu saja kalai Dion demam karena dua kali hujan-hujanan.


"Tidak apa-apa, pasien hanya demam biasa. Nanti juga akan sadar stelah kondisinya lebih baik."


"Apa perlu di rawat, Dok?"


"Kita tunggu sampai cairan infus habis dulu ya, setelah itu baru kita putuskan akan di rawat atau bisa pulang.


"Oke terima kasih, Dok."

__ADS_1


Terima kasih bang Gava, gara-gara kamu aku ... Astaga mikir apa sih kamu ini Gina. Bisa-bisanya.


Gina tidak kembali ke kantor. Dia dan Dion jadi absen hari ini. Tak apa toh cuma bolos satu hari. Lagi pula karena Dion sakit dan penyebabnya adalah Gava. Begitu pikir Gina.


"Loh, Gina," panggil mama Gina yang ternyata ada di rumah sakit.


"Mama? Ngapain mama di sini? Siapa yang sakit?"


"Itu tadi ada penghuni kost yang mau lahiran. Ya sudah mama temani. Lah kamu sendiri ngapain?"


"Tanya Bang Gava, kemarin dia menghajar temanku kerjaku sepeti apa. Sekarang dia masih berbaring di UGD."


Mata mama Gina membelalak. Hampir saja loncat dari wadahnya. "Maksud kamu yang diceritakan Gava kemarin?"


Gina mengangguk. "Kasihan tahu mah, aku gak tahu kak Gava menghajarnya sepeti apa, tapi dia sampai demam dan aku lihat luka lebannya juga belum hilang."


"Ya ampun, untuk gak sampai meninggal ya. Berabe kalau itu terjadi. Ya suah kamu tungguin dulu nanti kasih tahu bang kamu. Mama harus mengurus administrasi dulu. Nanti kabari mama perkembangannya."

__ADS_1


__ADS_2