
Mira tetap menemani Adelia setalh bertemu dengan Dina tadi. Di tetap tersenyum untuk menutupi lukanya.
"Dari mana sih, aku nyari-nyari kak Mira tadi. Aku bisa kena marah mas Fahmi kalau terjadi sesuatu dengan kak Mira."
"Hey kamu berlebihan, faktanya aku baik-baik saja. Lagi pula mana ada yang mau nyulik perempuan hamil kayak gini. Gak akan ada yang tertarik sama betukan tubuh yang gak jelas ini."
"Ya tetap aja khawatir. Dah ah aku lapar, cari makan yuk." Mereka menuju sebuah restoran cepat saji. Adelia yang menemani makanan karena harus antre. Kasihan Mira kalau terlalu lama berdiri. Sedangkan Mira memilih duduk di meja yang tak jauh dari jendela.
"Mira? Kamu Almira kan?" Dua orang perempuan seusia Mira menghampiri.
"Kalian?" Tadi bertemu dengan ibunya sekarang Mira bertemu dengan dua temannya.
"Ya ampun Mira, kamu kemana aja. Kita itu kangen banget sama kamu." Gina langsung memeluk Mira erat. Menyalurkan rasa rindu untuk sang sahabat. Begitu juga dengan Ema.
"Engap, hey engap," kata Mira.
Mereka mengurai pelukan, dan kini kedua sahabatnya terkejut dengan perut Mira.
"Mir ini?" tanya Ema hati-hati.
Mira tersenyum meskipun pahit. "Iya, aku ... seperti yang kalian lihat."
"Kamu nikah muda sama pacar kamu itu?" tanya Gina yang ikut penasaran.
Mira menggelengkan kepala, "Terus?" tanya kedua sahabatnya penasaran.
"Mir jangan bilang ..." Ema menggntunh kalimatnya.
"Ya seperti yang kamu pikir. Aku memang bodoh saat itu."
"Pas ujian semester kamu sudah menyadari kamu hamil?" tanya Gina. Waktu di sekolah heboh karena setelah libir semester Mira tidak masuk. Bahkan menghilang. Hana teman sekelas mereka yang pernah memergoki Mira tengah mengusap perut mengatakan kalau teman mereka kemungkinan hamil.
__ADS_1
"Jangan sembarang kamu," kata Ema waktu itu.
"Aku lihat kok waktu ujian dia memejamkan mata sambil mengusap perut. Kalian memang gak curiga akhir-akhir ini dia sering melamun," kata Hana lagi.
"Dia emang sering ngelamun, tapi bukan berarti dia hamil. Itu terjadi karena dia memikirkan keadaan orang tuanya. Kamu gak tau kan soal ini." Gina ikut membela Mira.
"Ya faktanya sekarang dia gak ada di sini. Sudah satu minggu loh dia gak masuk padahal ujian sebentar lagi."
Mira mengucapkan terima kasih katena kedua temannya masih membela dia. Meskipun mereka tahu mereka bisa saja membenarkan ucapan Hana karena pernah melihat Dion.
"Makasih ya udah belain aku," kata Mira.
"Enggak perlu terima kasih, Mir. Karena kita saat itu gak tahi faktanya. Kalaupun tahu kita cukup diam saja. Itu bukan ranah kita. Tapi kenapa harus menghilang Mir, padahal sebentar lagi ujian."
"Ema bener Mir, padahal kalau kamu bilang sama kita. Sebisa mungkin kita akan membantu kamu agar tetap mengikuti ujian."
Kedua teman Mira itu merasa kasihan dengan jalan hidup Mira. Harusnya mereka sama-sama menikmati masa remaja seperti pada umunya. Tetapi salah satu tema mereka harus dipaksa dewasa dengan keadaan.
"Sekarang kamu gimana? Pria itu bertanggung jawab?" tanya Gina.
"Enggak. Dia menghilang setelah hari itu dan kemarin muncul bersama keluarganya."
"What?" Kedua teman Mira tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. "Menikah? dia sudah menikah?" cerca Ema. "Kan dugaan gue waktu gak melenceng, Gin." Ema merasa kesal karena dia pernah mengatakan itu pada Gina.
Mira membuang nafas kasar lalu menatap kedua temannya. "Sudahlah toh sudah terjadi, ini resiko dari apa yang aku perbuat. Disesali tanpa diperbaiki juga percuma," kekeh Mira. Dia berusaha agar temanmu tidak menjadi iba pada dirinya. "Jangan kasihani aku. Karena ujian ini membuka mataku. Bahwa hidup tidak hanya tentang bahagia."
Kedua temannya langsung merangkul Mira. Mereka menangis karena begitu beratnya jalan hidup Mira. Andai mereka yang mengalami belum tentu mereka akan berkata seperti Mira. Mira banyak berubah.
"Katakan siapa pria itu Mir!"
"Sudahlah, masalah aku dengan dia sudah berakhir. Dia sudah menikah dan mempunyai anak. Gak tega kalau aku hadir di tengah-tengah mereka dan menghancurkan kebahagiaan mereka."
__ADS_1
"Gak bisa Mira. Dia harus bertanggung jawab." Ema sungguh geram dengan pemikiran Mira. Seharusnya Mira bangkit dan membalas pria itu. Gak adil kalau Mira menderita seorang diri sedangkan pelaku happy-happy aja.
"Katakan saja Mir." Gina ikut bersuara.
Mira mengehala nafas panjang sebelum berkata, "Dion. Dia orangnya."
Adelia yang membawa makanan untuk mereka mendengar nama abangnya disebut. Cukup lama dia mencerna apa yang dia dengar. Apa orang yang maksud Mira adalah kakaknya. Tapi Bukankah kemarin malam mereka bertemu meski hanya saling tatap lewat jendela.
Adelia juga gak faham. Toh kemarin abangnya seperti tidak terkejut dengan keberadaan Mira. Bahkan malah bertanya siapa. Adelia harus mencari tahu kebenarannya. Keterlaluan jika benar Dion yang dimaksud adalah abangnya sendiri.
"Kak maaf ya lama," kata Adelia. Seketika Mira memberi isyarat agar teman-temannya tidak membahas soal Dion lagi.
"Gak papa lah, cacing dan bayiku demonya masih aman-amanlah," kelakar Mira. Dia khawatir Adelia mendengarkan percakapan mereka. "Oh ya ini teman-temanku di sekolah. Ini Gina ini Ema."
"Hai." Gina dan Ema menyapa secara bersamaan. Kemudian saling menjabat tangan dan memperbaiki diri masing-masing.
***
Mira lebih banyak diam setelah pulang dari Mall. Adelia merasa heran tapi saat bertanya perempuan itu hanya menjawab aku baik-baik saja. Adelia tidak banyak bertanya lagi. Dia sendiri sibuk dengan pemikiran soal Dion dan Mira. Benarkah Dion ada sangkut pautnya dengan kehamilan Mira. Tapi kenapa Mira tampak santai saat bertemu Dion kemari.
Sore hari Mira pulang ke rumah yang dipinjamkan Owlh Fahmi. Dia menyimpan tas nya di tempat ridur lalu merebahkan diri. Apa yang diucapkan Dina benar-benar menguji kesabarannya. Rasanya dia ingin dari kehidupan ini.
Setalah merasa tubuh dan pikirnnya muli membaik, Mira memilih membersihkan diri. Saat keluar dari kamar mandi Mira mendengar keributan dari luar rumahnya. Bahkan terdengar kaca rumahnya pecah. Beruntung dia sudah memakai pakaian, gegas dia meraih kerudung jeblus lalu kelar dari kamar.
Mira mendapati pecahan kaca berserakan. Dia harus hati-hati untuk melangkah agar pecah kaca itu tidak melukainya.
Di laut rumah tampam pak satpam berusaha meredam warga yang tiba-tiba mengamuk. Bahkan sampai merusak tempat tinggal Mira.
"Kaluar kamu perempuan sialan, jangan sembunyi. kami tahu kamu ada di rumah," teriak seorang warga.
"Tenang-tenang, tunggu dulu kita bisa bicara baik-baik." Sayangnya ucapan satpam tidak digubris sama sekali.
__ADS_1