Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Gina, Dion dan Nafa


__ADS_3

Dion sudah kembali bekerja namun kali ino dia yang menjaga jarak dari Gina. Perempuan itu menatap punggung oria yang menolak akan makan siang bersama.


"Hey bengong, kesambet setan baru tau rasa nanti," ujar Eva. Hayu buruan ah lapar benget ini."


Mereka duduk di meja yabg tak jauh dari meja Dion. Gina menatap laki-lai yang tampak dingin itu.


"Cakep kan dia." Eva menyenggol Gina yang kepergok tengah menatap.


"Biasa aja," jawab Gina datar. Padahal di dalam hati dia juga mengakui pesona laki-laki itu.


"Yakin biasa aja. Cakep loh, cuma kayanya sih udah beristri."


"Emang."


"Kamu tahu? Cantik gak istri ya. Kira-kira nisa ditikung gak ya."


Gina mengabaikan ocehan Eva. Dia sendiri merasa heran kenapa Dion tiba-yiba berubah dingin. Padahal bagi itu merk masih baik-baik saja.


Dion sendiri bukan tidak tabu kalau dirinya tengah dibicarakan oleh Gina dan Eva. Haya saja dia harus tahu diri seperti kata Gava di malam itu.


Gava pernah datang ke apar temen Dion dengan membawa cermin yang lumayan besar. Tentu saja dion terkejut atas kedatangan pria yang menghajarnya.


"Aku ke sini hanya ingin mengantarkan ini. Barang kali kamu memang tidak memiliki cermin sehingga dengan tidak tahu malunya masih berharap gadis baik-baik seperti Gina."


"Tidak perlu repot-repot membawakan saya cermin jika anda bisa bicara baik-baik. Perihal Gina dan saya emang tidak memiliki hubungan selain hanya sekedar rekan kerja. Saya katakan anda salah jika anada menuduh kita memiliki hubungan. Aku tegaskan bahwa aku adalah pria yang memiliki istri," balas Dion dan hendak menutup pintu.


Yang terjadi berikutnya Gava malah mendorng cermin itu ke arah pintu sehingga pecah.


"Kalau kamu sadar diri, pastikan kamu tidak akan menganggu adik saya lagi. Dia lebih pantas dengan pria pilihan keluarga kami. Pria baik-baik yang jelas tidak memiliki sifat seperti kamu." Gava tersenyum merendahkan Dion. Kemudian pergi meninggalkan pecah cermin yang berantakan.


Dion menghela nafas sambil menatap perempuan yang terhalang dua meja darinya.

__ADS_1


Jam istirahat sudah habis dan mereka harus kembali ke ruangan.


Melihat banyaknya orang yang berkerumun menunggu pintu lift terbuka membuat Dion memilih mengambil jalur tangga. Tak disangka Gina mengikuti dan mensejajarkan langkah dengan dirinya.


"Ada apa?" tanya Gina menatap Dion yang tetap memandang lurus ke depan.


"Apanya?" tanya Dion santai, bahkan kedua tanganmu ia masuk ke dalam saku celana.


"Mas Dion tiba-tiba bersikap dingin sama aku. Apa hal yang aku lakukan dan itu menyinggung mas Dion?"


"Tidak ada. Hanya saja kita emang perlu menjaga jarak. Kamu gadis baik-baik. Sedangkan aku adalah pria berandal yang ... masih memiliki istri. Kamu juga pasti tidak ingin ada orang yang menganggap kamu menganggu kan?"


Percakapan mereka terhenti karena pintu ruang kerja sudah di depan mata. Tidak ada yang namanya leadis first, Dion masuk lebih dulu meninggalkan Gina yang masih menyimpan sejuta tanya di benaknya.


***


Dion sudah mengemas barang-barangnya dan bersikap pulang. Dia melihat Gina yang menunduk di meja padahal sudah waktunya pulang. Dengan mengingat ucapan sendiri, Dion meninggalkan Gina.


Di turun ke tempat parkir di mana dia akan pulang dna pergi menggunakan motor. Saat keluar pintu gerbang dia melihat seorang pria tengah duduk di kap mobil. Peka yang dia yakini akan menjemput Gina.


"Saya ingin bertemu dengan istri saya, Pak. Namanyanya Nafa."


"Tunggu sebentar, tahanan nomkr berapa?"


Dion menyebutkan nkmor tahan istrinya tapo ekspresi petugas tersebut lihat membingungkan.


"Bisa?" tanya Dion lagi.


"Kamu tidak tahu ya kalau dia sudah di bebaskan."


Bebas. Kata itu terngiang saoa jang jalan Dion menyusuri jalan menuju rumah mertuanya. Saat tiba di sana dia melihat sebuah mobil keluar dari gerbang dan dia pun mengikuti dari jarak aman.

__ADS_1


Mobil itu masuk ke salah sgu tempat makan yang paling mewah. Terlihat Nafa dan kedua orang tuanya turun kemudian di sambut oleh sapasangg suami istri dengan senyum bahagia.


Demi bisa bicara dengan Nafa, Dion rela menunggu acara sang istri dengan keluarganya selesai.


Di dalam sana terlihat sedang menikmati makanan lezat diifingi canda dan tawa. Di sini dia harus menahan lapar agar tidak kehilangan kesempatan. Takut saat dia makan maka saat itu juga Nafa pergi.


"Nafa." Dion memanggul sang istri kala melihat sang istri dan keluarganya hendak masuk ke dalam mobil. Dia berlari dan menghampiri. "Pa, Ma, sehat? Aku izin bicara sama Nafa sebentar boleh?"


Hendro tidak menjawab dan berpaling muka. Seolah wajah Dion adalah hal yang emnjijikan yang tidak sudi untuk dia lirik.


"Mau bicara apa?" tanya Nafa sambil bersedekap. Tidak ada rindu layaknya sepasang suami istri yang telah terpisah sekalian lama. Nafa menatap uaminya dengan tatapan dingin.


"Apa tidak sebaiknya kita cari tempat agar bicara lebih santai," ujar Dion.


"Tidak perlu!" tolak Hendro, "bicara saja di situ." Pria tua itu menunjuk menggunakan dagu. Sombong.


"Aku ingin bicara tentang, aku, kamu dan Gama. Tentang kita. Aku sang kamu sudah bisa kembali menghiruo udara bebas. Maaf aku tidak menjemputmu karena tidak tahu."


Nafa memutar bola mata karena jengah, "jadi?"


Dion menatap istrinya dari atas ke bawah. Jelas dia paham kalau perempuan itu engga bicara dengan dirinya.Tidak ada sikap menghargai yabg ditunjukan oleh istrinya.


"Gak jadi, maaf sudah mengganggu waktu kalian." Dia berbalik menuju motor. Masih dia dengar Hendro mengatai dirinya.


"Buang -buang waktu aja, ujung-ujungnya gak jelas juga. Sudah miskin tapi masih saja dia berani menemui kamu, Nafa. Ayo masuk."


Dion tersenyum getir melihat mobil merah mertuanya melesat setelah mengatakan kalimat yang tidak enak untuk didengar.


Sakit rasanya ketika mengingat dulu dirinya begitu dihargai oleh Hendro namun sekarang ...


Dia pun melakukan motoenya ke arah pulang. Berhenti sebentar untuk membeli nasi goreng karena cacing di dalam perutnya sudah pada bergoyang.

__ADS_1


Namun saat asyik menikmati makanan di pinggir jalan dia mendengar kalimat yang menusuk dan menancao di hati.


Dion menoleh ke arah sumber suara. Tatapan mereka bertemu. Andai ini bukan jalan rame sudah melayang itu kepalan tangan Dion.


__ADS_2