
Kehamilan kedua yang dijalani Mirasedikit berbeda dengan kehamilan pertama. Sedikit merepotkan karena mual dan ngidamnya lebih parah. Dia sendiri heran, padahal saat mengandung Syifa di begitu tangguh.
Fahmi yang belum tidur menghampiri sang istri yang terlihat gelisah. Disingkapnya selimut kemudian ia memijat kaki istrinya. Memang akhir-akhir ini Mira sering mengeluh kakinya terasa pegal atau kesemutan. Hal itu terjadi hampir setiap malam.
"Segeini enak atau terlalu keras, Sayang."
Mira menganggukan kepala, tidak tahu suaminya melihat itu atau tidak. Tak lama Mira menyingkapn seluruh selimutnya kemudian bangun dan melirik jam.
"Mau kemana, Yang? Kalau mau ambil air minum biar aku aja." Fahmi menghentikan gerakan memijatnya.
"Enggak, bukan." Mira turun dari kasur.
Fahmi mengerutkan kening tapi tetap mengikuti istrinya keluar dari kamar. Ternyata dapur adalah tujuan sang istri.
Mira membuka lemari tempat menyimpan makanan tak lama menutupnya kembali.
Andai saja Fahmi bisa membaca keinginan sang istri sudah tentu disla akan mengabulkannya tanpa menunggu sang istri bicara. Dari pada sama-sama bengong mendengarkan detak jam dinding yang memecah kesunyian.
"Kok, Mas gak tidur?"
Hey apa Fahmi bisa tidur saat sang istri terlihat seperti seseorang yang linglung. Apa dia lapar tapi kenapa tidak mengambil makanan yang ada. Atau mungkin sang istri tengah ngidam dan menginginkan sesuatu tapi kenapa tidak bilang.
Mira kembali melirik jam dinding, kemudian mengalihkan tatapan pada lemari pendingin dan juga kompor.
"Kamu lapar?" tanya Fahmi yang tidak tahan hanya diam dsn memperhatikan.
Mira menoleh kemudian mengangguk.
Fahmi turun dari kursinya sambil mengacak rambut sang istri. "Kenapa gak bilang? Malah celingukan kayak orang bingung. Katakan mau makan apa. Biar aku carikan kalau tidak mau makanan yang ada di rumah."
Mira mendongak karena posisi Fahmi lebih tinggi dari dirinya. Terlebih saat ini dia tengah duduk.
"Tapi ini sudah terlalu malam, yang ada aku malah mengganggu waktu istirahat kamu, Mas."
"Gak papa, kan tidak sering. Atau mau keluar bareng buat nyari makanan?" Fahmi menawarkan.
Sepertinya itu ide bagus. Sebab kalau ditanya mau makan apa Mira belum menemukan makanan yang benar-benar menggugah seleranya. Ternyata kehamilan sekarang jauh lebih merepotkan.
Masih ingat saat dia hamil tanpa didampingi seorang suami. Dia tidak pernah neko-neko ingin ini dan itu. Apa sekarang mentang-mentang memilki suami jadi seenaknya aja. Tidak, sebab Mira pun sungkan untuk meminta. Untungnya Fahmi pandai memahami keinginan sang istri.
Mira memakai jaket yang baru diambil oleh sang suami kemudian mengenakan kerudungnya.
__ADS_1
"Mau kemana, Pak" tanya petugas keamanan di rumah Fahmi.
"Mau nemenin istri nyari makan. Biasa lagi ngidam," balas Fahmi sambil mengangguk.
"Oalah, ya sudah hati-hati di jalan, Pak."
Mobil memasuki jalan utama. Fokus Mira bukan pada jalan atau penjual makanan di pinggir jalan. Dia malah asyik sendiri menatap wajah sang suami dari tempat duduknya.
"Kok ngelihatinnya sampai kayak gitu sih?" Fahmi meraih jari sang istri untuk ia genggam. Kemudian diarahkan ke bibir dan dikecup berulang kali.
"Kamu ternyata ganteng ya, Mas. Pantas saja mbak Silvi masih ngejar kamu walaupun sudah di tolak."
Fahmi tergelak. Apa ini Mira tengah cemburu. Random sekali sikapnya setelah ketahuan hamil.
Pernah Fahmi memergoki Mira tengah menatap dua pamkaian dalam milik Fahmi. Saat ditanya kalian tahu apa jawabannya. "Hari ini kamu pantasnya pakai yang warna apa ya?" Itu perihal daleman yang notabene-nya dipakai di dalam dan tidak akan ada orang lain yang memperhatikannya.
"Kok malah tertawa sih, Mas. Serius kamu itu ganteng."
"Kan emang ganteng dari dulu. Masa istriku baru menyadarinya. Mau makan di mana?" Mereka sudah jauh berkendara dan Mira belum menentukan mau makan apa dan di mana.
"Terserah kamu aja lah. Aku bingung harus makan apa."
"Nasi goreng, kwetiau, capcay, ayam, bebek atau apa? Seafood?"
"Kalau mas yang pilih, nanti gak sesuai keinginan kamu. Jadi? Jangan bilang terserah aku paling gak suka dengan kata itu."
"Terus apa dong?" Mira malah menurunkan sandaran joknya kemudian menatap sang suami. "Ya udah nasi goreng aja deh, tapi jangan makan di sini. Di rumah aja."
"Oke tunggu sebentar ya!"
Sebelum turun fahmi mengelus perut sang istri yang masih datar.
Saat Fahmi kembali ternyata Mira malah sudah tidur kursi sebelah kemudi. Tidak masalah yang penting dia sudah menuruti keinginannya. Mobil segera melaju ke arah jalan pulang.
Sampai di rumah pun Mira masih tetap tidur. Karena tidak tega untuk membangunkan akhirnya Fahmi membopong tubuh sang istri ke dalam kamar. Urusan mobil belum diparkir sempurna biar menjadi urusan para pekerja yang belum tidur.
Sebelum ikut masuk ke dalam selimut bersama sang istri yang entah sudah di negeri mana, Fahmi menyempatkan untuk melihat anak-anaknya. Membenarakan selimut Syafa kemudian mencium keningnya. Begitu pun dengan Syifa.
***
Kehadiran perempuan itu di satu tempat kerja yang sama menjadi penyulut semangat untuk seorang Dion. Dia selalu bangun pagi dan berangkat lebih awal demi memilki waktu agar bisa bicara dengan perempuan yang telah mengusik hatinya. Ah dia lupa kalau dia masih memilikibseorang istri.
__ADS_1
Gina. Gadis itu memilih kuliah sambil bekerja. Beruntung potensi yang dia miliki mempermudah ia untuk bekerja di perusahaan Fahmi. Dia tidak tahu siapa pemilik perusahaan itu, yang penting dia bekerja dan mendapatkan gaji.
Padahal dia bukan termasuk orang yang susah-susah amat. Ayahnya pensiunan abdi negara pun kakaknya masih bertugas. Ibunya mengelola beberapa kamar kontrakan. Kurang apa coba sampai harus kuliah sambil bekerja.
"Sarapan dulu!" Dion meletakan paper bag berisi makanan yang sengaja dia beli untuk Gina. Dia ingin bicara tapi belum ada waktu yang pas. Kemarin saat dia memanggilnya gadis itu malah buru-buru pergi.
Gina mendongak saat sebuah paper bag diletakan di meja-nya.
Kenapa harus bertemu lagi sih?
Pertanyaan yang dilontarkan Gina di dalam hati. Rasanya dunia ini terlalu sempit jika mempertemukan dia kembali dengan orang yang harus dihindari.
Dion hanya memberikan senyum manis kemudian duduk di meja kerjanya. Memulai pekerjaan dan sesekali melirik ke arah gadis itu.
Waktu makan siang tiba. Dion belum beranjak dari duduknya padahal pekerjaannya sudah selesai.
Seolah mengerti apa yang diinginkan Dion, Gina pun melakukan hal yang sama. Jantungnya berdetak kencang saat ruangan itu hanya menyisakan dirinya dengan Dion. Pria yang dianggap buruk oleh keluarganya dan harus Gina hindari.
YmKembalibek beberapa bulan yang lalu. Waktu itu Ema mulai dekat dengan Gava-kakaknya Gina. Gava mendekati sahabat adiknya karena merasa Gina tengah menybunyikan sesuatu. Dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka Gava pun mulai bergerak.
Dia mengajak Ema untuk makan malam. Pilihan tempatnya diserahkan pada Ema. Disitulah Gava tahu kalau adiknya pernah memesan makanan dan mengatakan akan dikirim untuk dirinya. Sayangnya Gava tidak pernah menerima kiriman makanan dari sang adik.
Gava meminta Ema menceritakan apa yang dia ketahui tentang adiknya. Terpaksa Ema menceritakan semua yang ia ketahui termasuk tentang menemui Dion.
Gava mencari tahu tentang Dion dan mendapatkan fakta-faktanya. Sebagai seorang kakak yang menyayangi adiknya, Gava tidak ingin sang adik di pandang buruk. Rasa sayang yang bercampur dengan emosi meledak malam itu. Kedua orang tuanya kaget dan mulai mengawasi Gina.
Sejak saat itu Gina hidup dalam pengawas ketat orang tuanya. Dia juga bahkan dipaksa menerima perjodohan dengan salah satu anak rekan ayahnya.
"Makan siang bareng?" tawar Dion setelah berdiri di dekat meja kerja Gina.
"Maaf gak bisa. Aku bawa bekal kok."
Bukannya pergi, Dion malah menarik salah satu kursi dan duduk di dekat gadis itu. "Aku ingin bicara dengan kamu tapi sedikit santai. Kalau di tempat kerja seperti ini rasanya terlalu aneh. Makan siang bareng atau makan malam bareng?"
Gina menggelang tanda menolak.
Sekali lagi Dion meminta. Hatinya berdetak kencang saat mendapati penolakan. Sisi baiknya mengatakan wajar kalau gadis ini menolak, memangnya Dion siapa sehingga harus mendapatkan perlakuan istimewa dari Gina.
"Dari pertama aku kerja di sini aku melihat kamu seperti menghindar dariku. Padahal aku hanya ingin berteman dan mengucapkan terima kasih atas apa yang kamu lakukan beberapa bulan yang lalu.
"Aku melakukan itu demi Mira kok. Gak ada maksud lain. Sekarang kan semuanya sudah clear jadi tidak ada alasan untuk aku berlaku sama pada kamu." Gina bicara tanpa mau menatap Dion. Ada yang terasa sakit tapi tidak terlihat.
__ADS_1
"Berarti sekarang kita bisa seperti rekan kerja yang lain. Akrab karena terikat pekerjaan." Apa sih yang Dion katakan kenapa dia tidak menyerah atas penolakan Gina. Harusnya Dion ingat kalau dia masih berstatus suami.
"Maaf gak bisa.