Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Dia adalah ...


__ADS_3

Mira mengamati interaksi dua pria berbeda generasi itu. Tak dipungkiri bahwa ia mengagumi sosok Fahmi, tapi maslahanya dia adalah kakak dari seorang Dion.


Haruskah dia terima? Ah jadi pusing sendiri.


Asyik dengan lamunannya, Mira tak menyadari kalau dua pria itu tengah menatapnya.


"Mir?" Suara Ardan membuat Mira mengerjap, dia langsung malu ditatap seperti itu oleh mereka.


"Eh, eh," Mira menunduk.


"Lihatin siapa, papa atau dokter Fahmi?"


"Papa apaan sih," Mira memalingkan wajah, untuk menyembunyikan rona merah di pipi.


"Papa pernah muda, Mir. Begitu juga dokter Fahmi, iya kan, Dok?"


Fahmi mengangguk sedangkan Mira memperotes. "Emangnya dokter Fahmi sudah tua, ya Pa?"


Mereka sama-sama tergelak.


"So ...?" tanya Ardan.


Mira mengangguk, artinya ia menyetujui permintaan Fahmi. "Semoga, dokter tidak menyesal telah memilih saya."


"Alhamdulillah. Semoga kamu yang tidak menyesal menerima pria tua ini," balas Fahmi. Ia menyerahkan kotak cincin pada ayah calon istrinya untuk disematkan.


Sekarang jari manis Mira sudah terisi cincin sederhana tapi terlihat cantik.


"Harsukah kita langsung menentukan tanggal?" tanya Ardan pada Fahmi.


"Tergantung kesediaan, Dek Mira saja."


Mereka sepakat bahwa Mira dan Fahmi akan menikah dua bulan lagi dari sekarang.


Sayangnya rencana mereka tidak berjalan mulus. Ada saja gangguan dari kiri dan kanan yang menggoyahkan niat mereka.


Seperti saat ini. Saat Mira sudah diputuskan bisa pulang ke rumah oleh dokter yang merawatnya, tentu Fahmi sebagai calon suami sungguhan akan membantunya.


Sebelum pulang mereka menyempatakan diri untuk menjenguk sang anak yang sudah diberikan nama Syfa oleh Mira. Tentu nama yang mengandung arti sebagai obat untuk Mira. Kehadiran anak itu membuat Mira banyak bersyukur setelah mengalami keterpurukan.

__ADS_1


Mira di jemput oleh Ardan jadi Fahmi hanya memnagtar sampai lobi. Saat Mira sudah duduk di dalam mobil, Fahmi melambaikan tangan sebagai perpisahan sementara.


Saat pria itu berbalik, dia melihat orang dari masalalunya ada di sana. Silvi. Mereka bertemu tatap cukup lama. Berkomunikasi lewat tatap bahwa mereka saling merindu satu sama lain.


Mira melihat itu dan meminta sopir agar tidak melajukan mobil. Dia menatap jari yang terpasang sebuah cincin sebagai penhikat dari Fahmi.


"Kamu kenal dia?" tanya Ardan.


"Enggak."


Mobil pun meninggalkan pelataran rumah sakit.


Fahmi menghampiri perempuan yang pernah menjadi istrinya. Bahkan sampai saat ini ruang di hatinya masih ada untuk perempuan itu.


"Kamu di sini, Sil?" Jelas dari sorot matanya masih ada rindu.


"Iya, aku sakit Fah."


"Sakit apa? Sudah menemui dokter?" Fahmi menunggu perhatian. Ah dia lupa kalau mereka sudah bukan siapa-siapa lagi. "Maaf." Seketika Fahmi sadar bahwa sikapnya terlalu berlebihan.


"Aku merindukan Syafa, Fah. Apa aku boleh menemuinya?" Silvi menatap penuh harap.


Ada raa hangat yang membgakir pada diri Silvi. Tidak menyangka kalau Fahmi masih bersikap baik pada dirinya.


"Kamu masih sendiri?" Seketika pertanyaan itu meluncur dari bibir Silvi. Membuat dirinya merasa malu sendiri telang mengucapkan kalimat itu. Seperti menandakan bahwa dirinya berharap bisa kembali masuk dalam kehidupan Fahmi.


Fahmi tidak menjawab, dia hanya mengulas senyum kemudian pamit karena masih harus bekerja.


***


Mira dibawa pulang ke rumah baru Ardan. Rumah yang tak kalah mewah dengan rumah mereka sebelumnya.


Mira menatap sekeliling dengan penuh tanya.


"Ini rumah papa, rumah lama kan milik kamu dan Ardit. Terserah mau diapakan. Mau di jual atau mau dirawat dsn dihuni kembali juga silahkan." Ardan meminta pelayan mengambil minum untuk sang anak.


"Dari mana papa punya uang lagi, bukannya papa ..."


"Bangkrut? Ya usaha papa memang sempat bangkrut karena lemahnya sistem managerial. Setelah papa menemukan masalahnya, papa mengganti orang-orang lama dengan orang-baru yang dianggap lebih kompeten. Ya akhirnya seperti ini lagi."

__ADS_1


"Terus waktu papa bekerja sebagai manager?" Mira menerima minuman yang diambilkan oleh pelayan tadi.


"Sebenarnya saat itu papa sedang mempelajari sistem managerial di perusahan Pak Agung teman papa. Karena tak ingin kalian kecewa dan takut akan kelaparan, jadinya papa mengatakan papa bekerja di sana."


"Soal papa selingkuh?"


"Itu tidak pernah terjadi. Papa hanya ingin mama kamu ..., ah sudahlah. Kamu istirahat sana! kamar kamu sudah disiapkan." Ardan meminta pelayan untuk mengantar sang anak ke kamarnya.


Mira segera membersihkan diri, semua perlengkapan wanita yang dibutuhkan sudah disiapkan olah Ardan. Mira tidak menyangka papanya menyimpan banyak rahasia.


Saat mengoleskan krim wajah, dari panggilan cermin Mira dapat melihat hari tanganmu yang dilingkari cincin. Ia menarik dan menatapnya.


Sudah benarkah keputusannya untuk menerima Fahmi?


Dia yakin Fahmi ingin menikahinya karena merasa bersalah atas perbuatan adiknya. Gak mungkin rasanya seorang kakak rela menikahi perempuan yang pernah disentuh oleh sang adik. Apa tidak jijik? Atau brangkat ada pria seperti dokter Fahmi yang hatinya begitu luas.


Ardan yang sudah beberapa kali mengetuk pintu tapi diabaikan oleh Mira pun memilih masuk. Ia melihat sang anak tengah menatap cincin di jarinya. Ia mendekat dan menyentuh pundak sang anak. "Calon pengantin pada umumnya biasanya akan selalu terlihat ceria, tapi papa tidak melihat itu di wajahmu sejak tadi. Mau berbagi cerita dengan papa?"


Mira menghela nafas. "Berapa lama lagi ya Syfa di rumah sakit?"


"Kok tanya begitu. Kamu gak ada niat buat kabur dari pernikahan kan?" Ardan menyelidiki ekspresi sang anak. Saat kecil memang mereka dekat tapi sering waktu mereka menjadi begitu jauh. Sedikutnya Ardan lupa untuk mengenali karakter san anak. Tapi sisi seorang ayah masih berfungsi dengan baik.


"Salah ya, Pa, kalau aku pergi?"


Ardan duduk di sofa yang tersedia di kamar sang anak. Meminta sang anak duduk di sebelahnya. "Kamu sudah menerima dia, apa tidak jahat andai kamu pergi begitu saja. Setidaknya kamu harus berani menyelesaikan dulu. Lari dari masalah itu bukan solusi."


"Katakan pada papa alasan kamu ingin pergi dari dia. Yang bahkan menurut papa dia sudah begitu baik."


"Karena aku merasa gak pantas untuk dia, Pa."


"Karena masalalu kamu?" Mira mengangguk. "Bukankah dia sudah mengetahuinya. Rasanya bukan masalah karena dia sendiri seperti tidak mempermasalahkannya." Ardan mengusap rambut sang anak.


"Papa tahu siapa dia?"


"Tahu, dia seorang duda, berprofesi sebagai dokter, memiliki satu anak dan dia juga pengusaha. Ah satu lagi dua juga bertanggung jawab atas adik permpuannya" papar Ardan. Memang dia hanya mengetahui sebatas itu.


"Dia adalah ... kakaknya orang yang sudah menghamiliku, Pa."


Deg, jantung Ardan seperti ditonjok sekuat tanaga. Dia bahkan mematung untuk sementara waktu.

__ADS_1


__ADS_2