Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Tidak Layak disebut Manusia


__ADS_3

Mira belum mencerna siapa yang menarik tangannya itu. Sampai di ruang yang tak terlalu ramai tangannya baru dilepaskan. Mira menatap wanita cantik yang berdiri di hadapannya sambil melipat tangan di dada.


"Maaf ada urusan apa?" tanya Mira.


"Saya hanya ingin memberi tahu dan memperingatkan kamu agar tidak mencari perhatian dari suami saya. Kamu pikir saya gak lihat bagaimana tadi kamu menatap suamiku? Jangan mimpi, karena aku tidak akan melepaskannya."


Ah Mira baru ingat kalau perempuan cantik yang berdiri di hadapannya adalah istri Dion. Perempuan yang tadi menghampiri Dion bersama seorang anak.


"Mencuri perhatian? Suami anda?"


Perempuan cantik itu tersenyum sinis mendengar pertanyaan Mira. "Ya, Dion. Dia suamiku."


"Oh saya baru ingat. Maksud anda pria tadi yang di depan stand roti? Dia suami anda? Saya hanya tidak sengaja menatapnya. Bukan bermaksud untuk mencari perhatian. Anda tidak lihat perut saya?" Mira berkata dengan tenang tapi tegas. Ya dia tidak boleh lemah haya karena mengetahui fakta bahwa Dion sudah menikah.


"Baguslah kalau anda punya suami dan sadar diri." Istri Dion itu menatap Mira dari atas hingga kebawah berulang kali. Tersenyum mengejek. "Level kita terlalu jauh. Semoga anda tidak tertarik dengan suami saya."


"Tidak akan," jawab Mira tegas, "saya tidak akan tertarik pada suami anda. Silahkan tinggalkan saya dan bawa suaminya. Oh atau saya yang harus meninggalkan anda?" tanya Mira karena perempuan itu masih berdiri di depannya.


Mira lebih dulu melangkah tapi kalimat umpatan dari istri Dion masih terdengar namun Mira enggan menanggapi. Dia terus berjalan sambil mengusap perutnya.


"Ya kita memang bertemu dengan ayah biologismu, Nak. Tapi dia tidak berhak atas dirimu. Jangan khawatir ibu akan membesarkanmu dengan kasih sayang dari ibu. Tidak perlu mengharapkan manusia yang tidak layak disebut manusia."


Mira masuk ke dalam mobil, "maaf ya jadi nunggu. Pak masih bisa ke sekolah Syafa kan?"


"Bisa, Mbak."


Mira lega. Setidaknya dia tidak menghambat Syafa untuk untuk sekolah. Sepanjang jalan Mira hanya menatap ke jendela. Menatap gedung-gedung yang dialalui. Tidak banyak bicara karena khawatir tidak dapat mengntrol emosinya dengan baik. Diam lebih baik dari pada mengelurakan kalimat yang menyinggung orang lain. Sesekali ia memejamkan mata merasakan sesak dalam dada.


"Dek Mir oke?" tanya Santi pengasuh Syafa.


"Saya hanya merasa ngantuk, mbak," jawab Mira

__ADS_1


"Kepagian bangunnya ya?" sopir menimpali.


"Iya, saya izin memejamkan mata ya," kata Mira sambil mencari posisi yang nyaman.


Sampai di rumah, Santi dan Mira langsung mendandani Syafa untuk bernagkkat sekolah. Hanya Santi yang mengantar karena perempuan itu merasa Mira dalam keadaan kurang baik. Entah apa penyebabnya.


Adelia pamit dan menggunakan satu mobil yang sama dengan keponakannya. Tak lupa ia meminta Mira untuk istirahat. Mira sendiri sudah masuk ke dalam kamar yang biasa ia gunakan selama keluar masuk rumah ini.


Tak tahan lagi, air matanya berlomba turun membasahi pipi sampai Mira merasa capek dan terlelap.


Entah sudah berapa lama Mira tidur, karena saat membuka mata lampu kamarnya sudah menyala dan gorden kamar sudah tertutup. "Astagfirullah, aku ketiduran" Mira bangun dan melihat jam yang menujukan angka 18:15. Merasa tidak enak hati karena ia tidur selama itu.


Dia segera mengambil wudhu dan menunaikan kewajiban. Sungguh dia tidak bermaksud melalaikan kewajiban apalagi pada pekerjaan.


Setelah melipat sajadah serta mukena gegas dia menggunakan kerudung. Bersamaan dengan itu pintu diketuk dan dia segera membukanya. Fahmi sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Rupanya pria baik itu sudah pulang.


"Dok, maaf saya ketiduran," sesal Mira menundukan wajah.


Mira tidak langsung mengambilnya. Apakah orang lain juga mendapatkan hal yang sama. Mira takut kege-eran dengan berpikir Fahmi memberi perhatian padanya.


"Yang lain sudah mendapatkan bagiannya, ini bagian kamu. Tadi mau saya bangunkan tapi takutnya istirahat kamu terganggu." Fahmi seolah mengerti diamnya Mira.


Ah Mira lupa kalau pria ini adalah majikan yang baik pada setiap pekerjanya. "Terima kasih," Mira menerima paper bag itu.


"Ayo kita bicara?" kata Fahmi. Berjalan lebih dulu menuju sofa yang masih bisa dilihat oleh penghuni lain dirumahnya agar tidak menimbulkan fitnah. "Kata, Mbak Santi kamu terlihat murung sepulang dari bandara. Terjadi sesuatu kah?" tanya Fahmi saat sudah sama-sama duduk.


Mira tidak langsung menjawab. Haruskah dia mengatakan pertemuannya dengan Dion juga istrinya. Ah tapi itu rasanya tidak penting untuk ia ceritakan. "Dokter kapan sampai? Maaf tidak jadi menjemput di bandara."


Fahmi tergelak dengan jawaban Mira yang tidak satu jalur dengan pertanyaan yang ia lontarkan. "Sekitar jam lima saya tiba. Dek, kamu menyembunyikan sesuatu ya? Bukankah saya pernah bilang, anggap kami keluarga dan ceritakan masalah apa yang kamu hadapi. Biar kita cari solusinya bersama-sama. Jangan sungkan."


Helaan nafas Mira yang terlihat berat menandakan perempuan itu membenarkan ucapan Fahmi.

__ADS_1


"Tadi ... tadi saya bertemu dengan orang yang saya cari selama ini." Akhirnya Mira memilih menceritakan apa yang terjadi tadi saat di bandara selepas Fahmi pergi.


"Tapi? ...."


"Tapi dia tidak sendiri, Dok. Dia bersama seorang perempuan dan seorang anak," kata Mira lemah. Menandakan kalau perempuan itu tengah kecewa pada penantiannya yang sia-sia.


"Dia sudah menikah?"


"Iya istrinya juga sempat bicara dengan saya. Mengatakan kalau saya jangan sampai tertarik pada suaminya."


"Ya ya saya paham perasaan kamu. Perlu saya menemui laki-laki itu dan mengatakan keadaan kamu?"


"Tadi kami sempat saling tatap, dia juga melihat perut saya. Saya yakin dia juga bisa menghitung berapa usia kandungan ini. Tidak perlu dokter repot-repot melakukan itu untuk saya."


"Dia tidak menyapa kamu sama sekali?"


Mira menggelengkan kepala. "Mungkin ini akhir penantian saya, Dok."


"Hey, jangan putus asa seperti itu. Anakmu akan lahir dengan limpahan kasih sayang dari keluarga ini. Kita akan membesarkan bersama-sama. Kamu bisa tinggal di rumah ini selama yang kamu mau."


"Dokter tidak takut saya membuat kekacauan?"


Fahmi tergelak, menimbulkan lesung pipi yang amat manis. "Kalau kamu mau buat kekacauan mungkin sudah kamu lakukan sejak awal kamu di rumah ini. Kenyataannya sampai saat ini semua masih baik-baik saja. Bahkan saya melihat banyak perubahan dalam diri kamu. Kamu nyaman berada dalam lingkungan seperti ini?"


"Iya, sangaaat nyaman."


"Meskipun Syafa merepotkan kamu? Ah anak itu memang kadang tidak lihat kondisi."


"Kalau merepotkan itu wajar, Dok. Namanya juga anak kecil. Syafa adalah obat untuk saya, Dok, sesuai dengan namanya. Dari dia saya belajar." Mira mengangkat wajah yang sejak tadi menunduk. Tersenyum tulus pada orang tua Syafa.


Obrolan mereka terhenti karena seorang pelayan memberi tahu kedatangan tamu.

__ADS_1


"Tamu siapa?" tanya Fahmi bangkit dari duduknya.


__ADS_2