Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Lepas dari Bayang-bayang Dion


__ADS_3

Fahmi sedang mambantu membereskan barang Mira yang akan di bawa pulang. Mira sudah sehat dan bisa istirahat di rumah.


"Sudah siap?" tanya Fahmi.


"Sudah, ayo."


Seperti biasa Mira akan diperlukan baik oleh keluarga Fahmi. Kepulangannya dari rumah sakit selalu disambut bahagia oleh Adelia dan Syafa.


Tidak banyak berkata-kata tapi Adelia langsung memeluk Mira erat. Dia ingin menunjukan rasa sayang pada Mira sebagai pengganti Dion.


"Duuuuhh selalu kayak gini kalau pulang dari rumah sakit," kekeh Mira menatap semua orang yang menyambutnya.


"Kan kita keluarga," ujar Adelia merangkul Mira dan membawanya duduk. Memastikan Mira duduk dengan nyaman. "Aku tuh gak sabar loh kak nunggu kak Mira lahiran. Aaaahhh rumah ini pasti tambah seru."


Fahmi baru masuk dan ikut bergabung di sana. Syafa yang merindukan sang ayah langsung memeluknya dan bermanja. "Uh manja-nya gadis ayah."


"Ih salah aku itu princes bukan anak gadis. Ayah sering salah manggil aku," protes Syafa.


"Loh memang apa bedanya?"


"Tapi aku maunya dipanggil princes bukan anak gadis."


"Ok, ok. Mira nyaman? atau mau istirahat di kamar saja?"


"Sepertinya memang begitu, Dok. Lemasnya masih terasa."


"Oh ya sudah istirahat di kamar ya! San tolong dibantu."


"Baik, Pak." Santi mengantar Mira ke kamar. "Aku gak nyangka loh, Dek. Kalau ternyata Pak Dion ...."


"Sudahlah, Mbak saya juga baru tahu saat makan malam itu. Dari awal saya gak tahu kalau keluarga ini keluarganya dia." Mira menata bantal untuk membuat tubuhnya merasa nyaman. Kemudian naik ke pembaringan dan merebahkan tubuhnya.


"Mbak kembali ke luar ya, nanti kalau kamu butuh bantuan panggil aja."


"Iya, Mbak."


Harusnya Mira merasa lega, keluarga Dion sudah mengetahui fakta yang sebenarnya.Tapi Mira jadi merasa aneh saat semua orang memperlakukan dirinya lebih dari biasanya.


Mira mengambil ponselnya dari tas kemudian menghubungi Gina.

__ADS_1


"Halo, Mir?" terdengar jawaban dari seberang sana setelah panggilan tersambung.


"Gin, sibuk?"


"Enggak nih. Biasalah lagi rebahan sama drakoran. Kenapa? Mau minta tolong." Gina yang tadinya rebahan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Gin, kamu ingatkan kalau aku tinggal dengan keluarga pelaku?"


"Iya ingat, terus?"


"Sekarang mereka sudah tahu yang sebenarnya. Aku jadi gak enak sama mereka. Mungkin mereka mengira aku memanfaatkan mereka. Aku harus gimana ya, Gin?" Mira menoleh pada pintu kamar yang terbuka. Seorang pekerja masuk dan mengantarkan cemilan untuk Mira.


"Kamu maunya gimana? Nyaman gak tinggal sama mereka sekarang?"


"Mereka baik, tapi sejujurnya aku merasa malu, dan gak nyaman. Tapi gimana ya kalau aku tinggal lagi dikontrakan takut kejadian waktu itu terulang lagi, Gin."


"Tunggu, sebentar!" Terdengar langkah Gina dan pintu yang dibuka kemudian ditutup. "Ma kontrakan kita penuh gak?" tanya Gina pada mamanya.


"Masih ada beberapa yang kosong. Ada yang mau ngisi?" tanya Mama Gina sambil memotong sayuran.


"Ada deh." Gina kembali ke kamar, "ngontrak di tempat aku aja, Mir. Insyaallah Allah aman, kontrakan cowok sama cewe beda bangunan, tapi ada juga kok kontrakan untuk keluarga. Tapi mereka bakal ngasih izin gitu? Kayaknya kalau aku lihat mereka keluarga bertanggung jawab deh. Apalagi dokter Fahmi."


"Mereka memang baik, Gin. Tapi mama kamu gimana ya nanti kalau tau yang ngontrak perempuan hamil tapi gak punya suami?" Jelas kejadian waktu itu membuat Mira selalu khawatir, apalagi jika mengingat surat yang berisi ajakan untuk ninu-ninu.


"Aku bisa saja mau, abangmu yang gak mau," balas Mira sambil tertawa. "Kayaknya aku memang perlu ngontrak deh. Sisakan satu kamar untukku ya."


"Siiip, bisa diatur."


Panggilan berakhir, sepertinya memang ini keputusan terbaik. Dia akan lepas dari bayang-bayang Dion. Dulu dia tidak meminta bantuan Gina karena malu dangan kondisinya, sekarang kan gina dan Ema sudah tahu. Beruntung mereka tidak menghakimi dan masih mau menjadi temannya.


Mira menatap barang-barang bayi yang sudah dibelikan Fahmi dan Adelia. Hampir semua kebutuhan bayi sudah lengkap tanpa harus ia mengeluarkan uang sendiri.


Ting, pesan masuk ke gawai Mira.


Dokter Fahmi: Sudah tidur?


Tumben dokter Fahmi mengirim pesan. Biasanya kalau ada yang mau dibicarakan langsung mengetuk pintu atau membangunkan Adelia.


Mira: Belum, Dok. Bisa bicara sebentar gak, Dok?"

__ADS_1


Dokter Fahmi: Ok, saya turun.


Fahmi memastikan tidur Syafa aman. Malam ini anaknya ingin tidur bersama dirinya.


Mira sudah menunggu di ruang keluarga. Wajahnya masih terlihat lemas.


"Mau bicara apa, Dek?" tanya Fahmi setelah duduk nyaman.


"Dok, sepertinya saya tidak bisa tinggal di sini lagi."


"Loh kok tiba-tiba. Kamu jadi gak nyaman akibat kejadian bebrapa hari lalu?" Fahmi menatap Mira yang menunduk.


Mira mengangguk. "Selain itu saya juga, mau mandiri lagi. Sekarangkan apa-apa dokter. Apa-apa Adelia, nggak enak merepotkan terus."


"Jadi mau tinggal di mana? Rumah yang yang kamu tempati dulu belum selesai diperbaiki."


Fahmi ingin menahan Mira tapi dia menghargai keinginan perempuan itu. Memang tidak mudah hidup diantara bayang-bayang kejahatan Dion. Apalagi sampai saat Mira pulang dari rumah sakit hubungan Dion dan Fahmi belum membaik.


"Mau ngontrak di tempat teman saya, Dok."


"Ok besok saya minta sopir mengantar kamu, karena saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan lagi. Sebenarnya saya ingin kamu tinggal di sini tapi kamu juga punya hak menentukan apa yang menurut kamu baik. Sudah dipikirkan matang-matang?"


Mira mengangguk lagi.


"Ok, sekarang istirahat ya. Ingat ibu hamil harus istirahat yang cukup."


"Terima kasih selalu mengerti keadaan saya, Dok."


Fahmi membalas dengan senyum dang anggukan. Setelah pintu kamar Mira tertutup, Fahmi mengusap wajah. Dia merogoh ponsel dan mengetikan sesuatu.


Mengetahui Mira tidak akan tinggal lagi bersamanya, Syafa marah dan mogok sekolah. Dengan sabar Mira membujuk agar anak itu mau sekolah.


"Nanti Dek Syafa, bisa main ke tempat kak Mira. Kan adek pernah bilang ya, mau main ke rumah, Kak Mira."


"Aku pernah bilang gitu ya?"


Mira mengangguk. "Sekarang berangkat sama, Kak Mira. Nanti pulangnya sama Mbak Santi. Jangan Nakal ya, Kak Mira pasti rindu adek."


"Aku juga pasti rindu, Kak Mira."

__ADS_1


Mereka berpelukan. Dari sorot mata Mira terlihat sekali bahwa ia sangat menyayangi keluarga ini. Mira juga sering mengusap sudut matanya sambil menunduk setelah bicara.


Adelia menghambur ikut memeluk Mira. Air mata perpisahan tak bisa ia bendung. "Aku menyesal sekali harus mengetahui faktanya. Mungkin kalau fakta itu gak terungkap, Kak Mira masih tinggal di sini."


__ADS_2