Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Pertemuan kembali


__ADS_3

Fahmi berjalan ke ruang tamu. Raut wajahnya jelas menggambarkan bahwa dia bahagia kedatangan tamu itu. "Saya pikir kamu lupa jalan pulang Dion," kekeh Fahmi sambil memeluk adiknya yang baru berkunjung ke rumahnya setelah sekian tahun tidak berkunjung.


"Ya aku pikir tidak ada salahnya aku menurunkan ego. Lihat aku sudah bijak kan?" Dion memutar tubuhnya.


"Ya anggap saja seperti itu," kekeh Fahmi. "Ini Gama ya?" tanya Fahmi pada anak kecil yang berdiri diantara Dion dan Nafa.


"Salam dulu sama, Om," titah Dion. Mereka saling bersalaman hanya dengan Nafa yang tidak. Tatapan mereka bertemu tapi setelahnya saling membuang pandangan. Ada apa antara Nafa dam Fahmi?


Fahmi meminta pelayan untuk memberi tahu Adelia juga Syfa setelah pelayan menghidangkan minum untuk tamunya.


"Adelia masih tinggal di sini?"


"Pertanyaan macam apa itu Dion. Jelas dia tetap akan tinggal di sini karena aku wali atasnya. Sudahlah jangan diungkit lagi," kata Fahmi. "Omong-omong kapan kalian tiba?" Fahmi mengalihkan bahasa lain. Masa itu biarlah tetap jadi bagian dari mereka.


"Tadi pagi kita baru mendarat. Tentulah yang kita kunjungi ya orang tua Nafa." Dion menolah pada perempuan yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ya Nafa tidak berniat ikut dengan obrolan kakak beradik itu.


"Apa kabar mereka?"


"Ya begitulah orang yang beruang akan terlihat selalu gagah," kekeh Dion.


Mira tidak mengikuti Fahmi dia memilih bergabung dengan Syafa dan Adelia. Tetapi setelah pelayan datang dan memberitahu Kakaknya Adelia datang ia memilih bergabung bersama pekerja yang lain. Sedangkan Adelia terlihat gembira dengan kabar itu dan tak sabar bertemu sehingga mengharuskan dirinya berlari.


"Bang Ion," Adelia tersenyum melihat abangnya tapi tidak berani memeluk. Dion tersenyum tapi jelas senyum itu terpaksa.


"Sudhslah Dion, kamu tidak merindukan adekmu?" kata Fahmi. Terlalu rumit hubungan mereka untuk dijelaskan sekarang.


Dion tersenyum lalu berdiri dan merentangkan tangan, "sini, beri pelukan rindu padaku," kata Dion. Nafa yang mendengar ucapan suaminya mendelik tidak suka.


Adelia langsunh memeluk Dion penuh rindu. Air mata haru keluar begitu saja. "Aku merindukan abang," isak Adelia.

__ADS_1


"Abang pikir kamu sudah tidak cengeng lagi," kekeh Dion sambil menyeka air mata snah adik.


"Kak Nafa apa kabar," tanya Adelia swtelahbmelepas pelukan dengan Dion.


"Baik," jawab Nafa menoleh tanpa minat.


Syafa ikut menyalami om dan tantenya tapi setelah itu dia memilih kembali ke ruang bermain.


"Adek Gama di ajak bermain, Sayang!" kata Fahmi pada Syafa.


"Ayo," ajak Syafa pada sepupunya.


Adik kakak itu larut dalam obrolan tanpa mempedulikan Nafa yang enggan bergabung. Perempuan itu mau ke sini karena Dion. Tanpa Dion Nafa tidak pernah ke sini seorang diri, kalau pun Dion yang ajak dia juga sering menolak.


"Mas letak kamar mandi masih sama kan?" tanya Dion sambil berdiri.


"Masih lah, kamar kamu juga masih sama."


"Ya."


Setelah menuntaskan hajat, Dion memilih melihat-lihat tempat tinggal sang kakak. Jelas ada kerinduan pada rumah ini tapi masalah tempo hari membuat merka sempat jauh.


Dia membuka kamar Adelia dan tersenyum menatap foto lawas mereka. Tersenyum karena Adelia masih menyimpan kenangan mereka. Adiknya itu seperti tidak pernah membenci dirinya.


Dion menyusuri satu persatu ruangan di rumah Fahmi. Sampai akhirnya ia mendapati Mira juga ada di sana. Menatap pada dirinya. Tadi Mira hendak kembali ke kamar tapi dia malah berpapasan dengan Dion. Keduanya sama-sama mematung, untuk beberapa detik.


"Hai Mira, kamu mencariku sampai ke rumah keluargaku?"


Mira tercekat. Harusnya dia senang ternyata harapan yang pernah dia ucap tempo lalu adalah kenyataan. Dion merupakan keluarga Fahmi. Tapi Harapan itu tidak sapenuhnya sesuai dengan keinginan Mira.

__ADS_1


"Aku gak tahu kamu keluarga dokter Fahmi," jawab Mira dingin. Sudah tidak ada air mata untuk Dion.


"Begitu, emmmmmhh ya aku paham. Keluargamu masih sama?"


Mira tidak menjawab pertanyaan Dion, "Dion aku hamil," kata Mira.


"Tahu, tuh perutmu besar." Dion tampak santai, tidak terlihat perasaan bersalah sama sekali.


"Ini akibat perbuatan kamu,". tekan Mira.


"Oh ya yakin?" tatapan Dion seperti mengejek Mira. "Jangan-jangan itu benih pria lain yang memberikan kehangatan padamu."


Sebuah tamparan langsung Mira layangkan pada pipi Dion. "Tidak perlu menghinaku kalau kamu tidak ingin bertanggung jawab." Meskipun diucapakan dengan nada pelan tapi perkataan Mira penuh dengan penekanan. Sengaja agar tidak memancing keributan.


"Hey hey hey, kamu lupa hukum anak yang lahir di luar pernikahan adalah milik ibunya. Jadi tidak perlu mengharapkan si pemilik benih untuk bertanggung jawab. Apa lagi saat itu kita melakukannya atas dasar mau sama mau. Jadi kamu tidak bisa menuntut kewajiban dariku atas kamu."


Ya perkataan Dion benar, tapi Mira tidak menyangka Dion memiliki sisi buruk seperti ini. Bahkan berani menghinanya.


"Kamu yang memaksa aku Dion."


"Tapi kamu juga menikmatinya kan? Sudahlah Mira jangan berharap lebih dari aku. Kamu lihatkan tadi pagi, aku sudah menikah, sudah punya anak juga. Jadi terima saja keadaanmu."


"Kalau kamu tidak merayu dan berjanji akan menikahi, aku tidak akan melakukannya. Ya dan sekarang inilah nasibku, mengandung benih dari pria pengecut sepertimu."


Tak terima dengan perkataan Mira, Dion langsung mencengram rahang Mira. "Jaga mulutmu, aku bukan pria pengecut seperti katamu. Aku bertanggung jawab atas keluargaku. Aku gak akan menghancurkan kebahagiaan mereka dengan menikahimu."


Cengkraman pada rahang Mira lepas, meski menahan rasa sakit yang teramat sangat, Mira masih bicara dengan Dion. Mira tertawa sinis. "Tadinya aku pikir iya kamu harus menikahiku, tapi itu hanya pikiran si gadis bodoh. Sekarang aku Almira bukan Mira si gadis bodoh itu. Aku tidak berharap hidup denganmu. Aku tidak butuh kamu lagi. Aku akan membesarkan anak ini seorang diri. Dia tidak pantas memiliki seorang ayah seperti kamu. Dia hanya memiliki seorang ibu. Jangan pernah mencari dia kelak ketika kamu membutuhkannya. Aku tidak sudi suatu saat kamu datang dan mengaku dia anakmu," kata Mira, dingin tapi menusuk. "Pergilah dari hidupku sejauh mungkin Dion. Masalah kita selesai sampai di sini."


Mira meninggalkan Dion yang masih mematung di tempat. Perempuan itu masuk ke dalam kamar kemudian menangis di balik pintu yang tertutup. Pertemuan kurang dari 24 jam itu sungguh menyakitkan bagi Mira. Apa lagi Dion seolah tidak harus mempertanggung jawabkan kelakuannnya.

__ADS_1


Dion terperanjat saat melihat Adelia menghampirinya. Sungguh dia takut Adelia mendengarkan percakapannya dengan Mira. Orang-orang di rumah ini tidak boleh ada yang tahu bahwa dirinya dengan Mira memiliki masalah besar.


"Katanya mau ke kamar mandi, kok malah bengong di sini?" tanya Adelia. Perempuan itu seperti menelisik sesuatu. Menatap pintu kamar Mira lalu menatap pada Dion.


__ADS_2