
Waktu libur dimanfaatkan Fahmi untuk lebih dekat dengan sang anak. Tumbuh tanpa seorang ibu tak harus menjadikan Syafa kekurangan kasih sayang. Dia berusaha menjalankan peran sebaik mungkin agar sang anak tumbuh dengan mental yang sehat.
Tidak buruk jika tak memiliki ibu, tapi seorang anak tanpa ayah tentu akan berpikir bahwa dirinya adalah anak haram. Itu juga yang dipikirkan Mira.
Sepulang mereka bermain bersama, Fahmi mendudukan sang anak diatas pangkuannya. Mengajaknya bercanda, membuat sang anak nyaman dengan dirinya agar kelak sang anak tidak gegabah dalam memilih pasangan.
"Mau buah?" tawar Fahmi pasa Syafa yang anteng memainkan lubang hidungnya.
"Mau." Anak itu berbalik badan dan membukan mulut menerima suapan buah dari sang ayah.
Ucapan salam terdengar dari pintu bersamaan dengan Adelia yang masuk seorang diri. Mengecewakan bobot di samping sang kakak. "Capek," keluhnya.
"Kok murung, biasnya kan kalau pulang jalan-jalan itu senang, ceria. Lah ini?"
"Ada sesuatu yang bikin mood gak bagus, Mas."
"Apa itu? Cerita nanti ya sekarang mandi dulu sebentar lagi maghrib."
Adelia membawa belanjaannya ke dalam kamar. Lekas membersihkan diri dan menuju mushola. Dia masih kepikiran soal Dion yang disebut Mira.
Selesai shalat, Fahmi tidak langsung beranjak. Waktu maghrib hanya sebentar maka ia memanfaatkannya untuk mengajar ngaji sang anak. Sedangkan yang lain kembali pada aktifitasnya masing-masing dan akan kembali kmpul saat adzan isya berkumandang.
Adelia menghampiri Fahmi, "Mas aku mau cerita soal tadi."
"Nanti setelah Isya kita memiliki waktu panjang. Sekarang ambil Quran kamu dan lanjutkan bacaannya."
"Mas ini penting," rengek Adelia.
"Dek, kamu lupa ada yang lebih penting dari urusan dunia? yaitu akhirat. Mumpung belum batal. Nanti mas dengarkan, kamu bebas bercerita apa pun."
Kalau Fahmi sudah bicara panjang lebar artinya Adelia tidak bisa memaksa. Ia pun melakukan yang diperintahkan oleh Fahmi.
Selesai Isya, Adelia tidak jadi bmcerita karena kakaknya langsung pergi setelah menerima panggilan. Fahmi mengembalikan mobil seorang diri menuju tempat tunggal Mira.
Di portal perumahan Fahmi membuka kaca mobil dan menyapa satpam yang jaga. Setelah fortal dibuka segera dia menuju rumahnya.
__ADS_1
Terlihat banyak orang berkumpul di depan rumah Mira. Umunya lebih banyak didominasi oleh ibu-ibu. Mereka bersorak meminta Mira meninggalkan komplek ini. Adanya Mira di sana dianggap bisa jadi oembawa musibah. Entah siapa yang memprovokasi.
"Jelaskan kalau kamu bukan perempuan seperti itu kenapa kamu bisa hamil tanpa seorang suami."
"Sudah bu ibu ini privasi Bu Mira tolong hargai itu." Oak satpam berusaha mengamankan.
"Kamu gak bisa menjelaskan 'kan. Ya mana ada mau bicara kalau penanam benihnya banyak," seru ibu-ini yang lain.
Mira panik tapi apa iya dia harus membuka aibnya di sini.
"Kalau gak bisa menjelaskan, usir saja usir."
Jengkel karrna Mira tak kunjung bicara, seorang perempuan menarik tangan Mira. Menyebabkan tubuh Mira yang tidak siap langsung terjatuh.
"Aw," pekik Mira. Jelas sekali tubuhnya langsung mendarat dengan bumi. "Tolong ini sakit."
Pak satpam tidak tega dan hendak membantu Mira untuk bangun, tapi dia kalah cepat dengan perempuan yang berdiri di dekap Mira.
"Halah gak usah banyak drama kamu, bangun!" sentak ibu
"Cukup!" teriak Fahmi yang baru menghentikan laju mobilnya. Dia menghampiri Mira yang meringis.
"Dok, tolong," ucap Mira lemah sambil menahan rasa sakit.
"Pak tolong bukankan pintu mobil saya," pinta Fahmi pada satpam. "Seharusnya tidak main hakim sendiri," ujar Fahmi sambil memangku tubuh Mira.
"Sakit," desis Mira saat dia didudukan di kabin sebelah kemudi.
"Dok, Bu Mira dibaringkan saja di belakang bersama anda. Biar saya yang membawa mobil." Pak Satpam merasa kasihan dengan Mira.
Fahmi mengangguk dan menyerahkan kunci mobilnya. Segera dia pindahkan Mira ke kabin belakang. Siapa yang tidak khawatir melihat tubuh lemah yang tengah berguna itu. Wajah Mira terlihat pias, tangannya menggenggam tangan Fahmi erat.
Fahmi membiarkan tangannya bersentuhan dengan tangan Mira. Ini darurat, Mira tengah menahan rasa sakit.
Mobil memasuki rumah sakit tempat Fahmi bekerja. Segera dia meminta petugas yang berjaga di UGD untuk segera memberikan pertolongan. Genggaman tangan Mira semakin melemah. Panik tapi Fahmi masih bisa menguasai diri. Dia membiarkan perawat membawa Mira ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
Ponsel di skaunya yang terus berdering dia abaikan. Dia mengurus administrasi Mira lebih dulu. Barulah saat semuanya yang bersangkutan dengan kebutuhan administrasi beres dia mengangkat panggilan itu.
"Mas kok tiba-tiba pergi? Ada apa semua baik-baik saja?" tanya Adelia dari sebernag sana.
"Terjadi sesuatu dengan Mira, sekarang Mas ada di rumah sakit. Mas titip Syafa ya."
"Iya tapi gimana keadaan Kak Mira sekarang?"
"Masih ditangani di UGD doakan dia baik-baik saja." Panggilan terputus bersamaan dengan rekan kerja Fahmi keluar dari UGD. "Gimana?"
"Dia terjatuh?" tanya dokter yang menangani Mira.
"Iya tadi terjadi sesuatu dan saat saya datang dia dalam keadaan terduduk."
"Dia mengalami pendarahan dan pendarahannya sudah berhasil dihentikan. Tapi kita perlu observasi dokter kandungan untuk memastikan keadaan si jabang bayi."
"Ya, lakukan yang terbaik agar tidak terjadi apa pun pada keduanya."
"Tentu, Dok."
Fahmi mengusap wajah sambil mengusap istighfar. Dia merasa gagal melindungi Mira. Dia menoleh pada satpam yang tadi ikut mengantar mereka. Menanyakan apa yang menjadi penyebab warga berkumpul di depan rumah Mira.
"Saya juga kurang tahu Pak. Pas saya ke sana warga sudah berkumpul dan berteriak meminta Bu Mira keluar. Bahkan kaca rumah sudah pecah."
"Tolong bantu saya cari tahu penyebab mereka madah sama Bu Mira. Tapi jangan sampai mereka tahu Pak Ramdan disuruh saya."
"Baik, Pak. Saya minta maaf karena tidak bisa melindungi Bu Mira."
Fahmi mengangguk, kemudian memberikan sejumlah uang untuk ongkos pak Satpam pulang. Dia tidak bisa mengantar karena harus menunggu kepastian keadaan Mira lebih dulu.
Dia punya akses untuk masuk, tapi dia tidak ingin rekan kerjanya merasa tidak nyaman dengan keberadaan dia di dalam. Semua memiliki tugas masing-masing.
Dia berusaha tenang, duduk sambil memejamkan mata. Membacakan doa untuk keselamatan Mira. Dia baru merasakan lega saat dokter mengatakan Mira sudah siuman dan akan segera dipindahkan ke ruang rawat.
Entah karena sudah menganggap Mira sebagai adik seperti ucapannya atau ada dorongan lain dari hatinya. Fahmi memesan ruang rawat VIP untuk Mira. Padahal status Mira hanya pengasuh anaknya. Dia ingin Mira merasa nyaman dan dia bisa leluasa begantian menjaga Mira dengan sang adik.
__ADS_1
Mira menatap ruang rawatnya yang luas dan nyaman. Dia menatap Fahmi yang duduk tidak jauh dari tempatnya berbaring. "Dok apa gaji saya cukup untuk membayar ruang rawat ini?"