Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Apa yang disembunyikan oleh fahmi


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Fahmi saat mengangkat panggilan dari telepon rumah. Ia mulai panik saat mendengar suara Syafa menangis.


"Ayaaaaahhh."


"Itu Pak! Ibu Mira tidak sadarkan diri."


Fahmi tersentak. "Bawa sekarang ke rumah sakit," perintahnya.


Fahmi yang sudah mendapat kabar dari rumah langsung meminta perawat menyiapkan ruangan untuk sang istri.


Saat melihat mobil istrinya ia langsung menghampiri dan membopong tubuh istrinya. Gurat panik jelas terlihat di wajah dokter yang dikenal ramah sekaligus tampan itu.


"Dek, sayang kamu kenapa?" tanya Fahmi sembari terus melangkah menuju ruang UGD.


Fahmi tetap mendampingi sang istri ketika dokter mulai memeriksa istrinya.


"Gimana?" tanya Fahmi saat dokter selesai memeriksa. Ia semakin khawatir karena Mira sampai harus diambil sample darahnya.


"Kita akan melihat hasilnya setelah hasil lab keluar. Sejauh ini saya belum bisa mengatakan apa pun."


"Tapi istri saya akan baik-baik saja kan? Perlu dirawat di sini atau bisa dipindahkan ke kamar rawat?"


"Kalau dari pemeriksaan barusan, istri anda bisa dipindahkan ke ruang rawat agar pasien merasa lebih nyaman. Untuk diagnosa lebih lanjut kira akan tahu setelah hasil lab keluar."


Setelah semua administrasi selesai diurus, Mira sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat. Tubuh lemah itu belum memberikan reaksi apa pun. Matanya masih tetap terpejam pun jari tangan tak bergerak selain digerakan oleh orang di sekitarnya.


Fahmi menatap dengan rasa bersalah. Apalagi setelah dokter yang menangani mengatakan bahwa tekanan yang dihadapi Mira terlalu berat sehingga tubuhnya tak mampu lagi bertahan.


Fahmi menyugar rambutnya, ia tampak prustasi dengan kabar yang disampaikan oleh dokter.


Tembok ruang kerja Fahmi hampir menjadi sasaran luapan amarah. Beruntung ia masih mengingat Allah dan beristigfar. Ia yakin jika apa yang terjadi dengan istrinya gara-gara sikapnya.


"Pak Amir nanti tolong bawakan pakaian ganti untuk saya. Yang lainnya boleh sekalian pulang dan saya titip anak-anak. Terutama Syifa yang pasti membutuhkan ibunya."


"Kami pamit, Pak. Semoga ibu lekas sehat kembali," ucap Santi mewakili ketiganya.


Meski berada dalam satu gedung yang sama tapi Fahmi tidak bisa terus berada di samping sang istri. Ia masih memiliki tanggung jawab pada sejumlah pasien lain.


Pukul setengah lima sore Ardan tiba di rumah sakit. Ia mantap putrinya.


"Papa," sapa Fahmi menyalami mertuanya.


"Apa yang terjadi dengan Mira, Fahmi?"


"Maafkan aku papa. Aku telah lalai menjaga istriku. Aku pikir dia baik-baik saja tapi ternyata dia menyimpan bebannya sangat rapi. Tubuhnya tidak kuat lagi hingga ia tumbang," papar Fahmi dengan wajah sedih.


Ardan menepuk pundak menantunya. "Papa tidak menyalahkan kamu. Dari dulu Mira jarang menceritakan beban yang tengah ia hadapi. Ia selalu rapih menutupinya dengan bersikap baik-baik saja. Papa hanya berharap setakh ia menikah dengan kamu dia akan terbuka dan menyampaikan apa yang ia rasakan. Tekanan seperti itu sangat membahayakan bukan?"


Fahmi setuju dengan perkataan mertuanya. Ia duduk di samping brankar sang istri sambil memegang tangannya. Ribuan kata maaf ia rafalkan dalam hati. Berharap sang istri segera sadar dan membuka mata.


Tidak lama Mira menggeliat, kelopak matanya bergerak dan akhirnya membuka mata.


"Mas," ucap Mira pelan. Jelas sekali tubuhnya masih terasa lemas tapi Mira berusaha menyentuh wajah sang suami.


Fahmi bangkit dan mencium kening istrinya. "Maafkan aku, Sayang, maaf."


Fahmi memeriksa sendiri kondisi istrinya sebelum memanggil dokter yang menangani Mira.


Dokter datang untuk memeriksa. Setekahnya dokter mengatakan semua sudah kembali normal tapi tetap hasil dari lab juga mereka nantikan.


"Papa," kata Mira saat Ardan ikut menghampiri dan tersenyum.


"Syukurlah, Nak. Kamu membuat kami ketakutan ya meskipun kami tahu umur tidak ada yang tahu."


Mira tersenyum meski masih terlihat lelah.

__ADS_1


"Papa mau aku pesankan hotel dekat sini? Sepertinya papa perlu istirahat," kata Fahmi ketuka melihat mertuanya masih sibuk dengan laptop di depannya.


"Enggak perlu. Papa bisa istirahat di sini kok."


***


Di rumah Adelia kewalahan menenagkan keponakannya yang masih bayi. Jika anak sesuai Gama dan Syafa bisa ditenangkan dengan cara mengajak bermain atau mereka akan mengatakan apa yang mereka inginkan. Sedangkan menenangkan bayi jauh lebih sulit. Di kasih susu tidak mau, diperiksa popoknya pun masih bersih. Diberi mainan pun tidak mau.


Syifa tidak berhenti menangis. Pepatah ikatan ibu dan anak begitu kuat nyata adanya. Syjfa tidak berhenti menangis seperti takut akan kehilangan ibunya.


Adelia mulai khawatir saat mendengar suara keponakannya mulai serak karena terlalu lama menangis. Ia terua menghubungi Santi agar segera tiba di rumah.


Beberapa pelayan sudah bergaintain untuk menenangkan bayi itu, tapi Syifa hanya tenang sebentar saja. Selebihnya ia kembali menangis.


Adelia bernafas lega saat mendengar deru mobil dan Santi segera turun lebih dulu.


"Kak Mira gimana?" tanya Adelia.


"Saat kita pulang bu Mira belum sadar, tapi sudah ditangani. InsyaAllah dia akan baik-baik saja."


Anak-anak juga diberi tahu kalau ibunya baik-baik saja agar tidak khawatir. Meskipun sudah dibari tahu Syafa terus menanyakan keadaan Mira hampir setengah jam sekali.


"Insyaallah ibu baik-baik saja. Kita doakan ibu sam-sama ya," kata Santi.


"Aku takut ibu tidak bangun lagi dan kita jadi tidak punya ibu," kata Syafa dengan polosnya. "Mbak Santi bisa telepon ayah?"


"Bisa." Santi melakukan panggilan video pada Fahmi setelah mengirim pesan lebih dulu.


Tak lama layar ponsel menampilkan wajah Fahmi dan tersenyum kepada putrinya. "Ada apa, Kak?"


"Ayah, ibu sudah bangunkan?"


Fahmi mengarahkan kamera pada wajah Mira yang tengah duduk dan bersandar.


"Ibuuu, Alhamdulillah ibu bangun lagi," seru Syafa begitu girang. "Aku takut ibu pergi dan aku gak punya ibu lagi."


"Aku lemah banget ya, Mas," ucap Mira sambil menundukkan wajah.


Disatukannya kening mereka oleh Fahmi, tangannya terus menghapus air mata sang istri. "Aku yang minta maaf karena kau yang membuat kamu seperti ini. Maaf ya."


Tangan lemas milik Mira menyentuh pipi sang suami. "Kamu tiba-tiba berubah, Mas. Apa itu bentuk penyesalan telah menikahiku?"


Berhubung Ardan tidak ada, Fahmi ikut berbaring di brankar dang istri yang muat untuk dua orang. Mendekap sang istri yang telah ia buat seperti ini.


"Jangan katakan itu, aku tidak pernah menyesali pernikahan kita. Aku yang sangat menginginkannya. Maaf kemarin aku mengacuhkanmu, membuat kamu berpikir bahwa aku menyesal telah menikahimu. Sesungguhnya tidak seperti itu. Ada hal lain yang membuat aku diam kemarin. Aku ...."


Ponsel Fahmi keburu berdering sehingga tak melanjutkan ucapannya. Pria itu turun dan menjauh untuk mengangkatnya. Maksud hati ingin menjaga perasaan istrinya yang ada malah membuat Mira semakin berpikir lain.


***


"Kamu masih menemui laki-laki itu, Gin?" tanya Gava ikut duduk di sebelah adiknya.


Mama yang sedang sibuk dengan buku cacatan penghuni kontrakan tertarik dengan topik yang dibahas anak-anaknya. Seorang ibu akan memasang kuping dengan baik jika rasa penasaran telah menguasai dirinya.


Gina menolah kiri kanan untuk memastikan ekspresi mamanya.


"Ngapain sih bahas di depan mama," bisik Gina sambil menyikut perut kakaknya. "Nanti yang ada mama salah paham."


"Semua orang juga bakal salah paham sepertinya. Apalagi melihat perlakuan kamu yang seolah menspesialkan dia."


Gina membekap mulut kakaknya karena nada Gava terlalu tinggi, sudah dipastikan mamanya mendengar. Untuk beberapa waktu mamanya tidak melakukan apa pun.


"Ingat dia suami orang jangan sampai kamu terjebak dilingkaran mereka. Istrinya bukan tipe orang yang diam saja ketika suaminya diminati wanita lain."


"Jangan bilang abang sedang menuduhku. Aku gak minat sama sekali."

__ADS_1


"Oh ya?" Gava melenggang setelah menggoda adiknya.


Gina pikir mamanya tidak mendengar percakapan mereka. Sebab sampai sampai malam tiba mamanya masih bersikap biasa aja.


Jam sembilan malam, mama Gina mengetuk pintu kamar anaknya. "Lagi sibuk, Gin?" Mama menghampiri Gina yang masih terpekur dengan beberapa buku.


"Ya beginilah seperti yang mama lihat. Mama memerlukan aku?"


"Mama cuma pengen ngobrol aja sama kamu," kata mama Gina duduk di tempat tidur putrinya. "Kamu sudah punya pacar?"


Gina nampak bingung dengan pertanyaan mama yang tiba-tiba. Tidak biasanya mama Gina menanyakan hal yang sangat privasi pada putrinya.


"Enggak lah ma, mana sempat aku punya pacar. Lagian pertanyaan mama ada-ada aja." Gina kembali fokus pada bacaannya.


"Mama hanya khawatir aja. Kamu kan seperti gak pernah pacaran. Takutnya saat pertama kali kamu menyukai lawan jenis malah menyukai suami orang."


Deg.


Gina terpaku untuk beberapa detik. Gina merasa tengah diadili oleh mama sendiri, mengingat dia memilki perasaan pada Dion yang etah bisa dideskripsiksan sebagai cinta atau hanya rasa empati semata.


"Kamu tidak akan pernah melakukan hal bodoh kan, Gin?"


Gina menutup buku dan duduk di sebelah mamanya. Meraih jari tangan sang ibu san menggenggamnya. "Doakan agar putrimu tidak salah langkah, Ma."


Mama Gina mengangguk sambil membelai rambut putrinya. "Mama harap apa yang mama dengar tadi siang hanya karena mama salah dengar aja," kata mama Gina sebelum beranjak.


Usia mamanya keluar dari kamar dan menutup pintu, Gina jadi bingung sendiri. Dia merasa takut ketahuan padahal dia tidak melakukan apa-apa.


***


Fahmi mengepalkan tangan saat menjawab panggilan telepon. Apalagi saat melihat pesan yang diterima.


Ia berusaha bersikap baik-baik saja saat kembali ke kamar rawat sang istri. Begitu pun Mira yang berusaha menunjukan sikap tidak terganggu oleh sikap suaminya. Ia masih menikmati makanan yang disediakan oleh Fahmi.


"Maaf ya kamu nunggu lama," kata Fahmi dibalas anggukan oleh Mira.


"Mau?" Mira menawarkan makanan yang tengah ia nikmati. Menyuapi sang suami saat Fahmi setuju.


Keduanya tengah berusaha menunjukan sikap baik-baik saja meski harus berpura-pura. Fahmi takut Mira terganggu jika ia memberi tahu apa yang terjadi. Sedangkan Mira takut Fahmi merasa tidak nyaman jika ia menuntut penjelasan.


"Aku boleh tidur?" tanya Mira setelah meletakan makanan yang belum habis pada meja dekat brankar. Suasana canggung begitu terasa.


"Boleh, istirahatlah!"


Mira membaringkan tubuh membelakangi suaminya. Aoa yang ia lakukan semata agar ia tidak menangis di hadapan Fahmi. Ia harus menahan dan mengembalikan gejolak di dalam dada.


Sebagai suami, Fahmi menaikan selimut hingga menutup pundak istrinya. Ia juga ikut berbaring dan memeluk dari belakang. Beberapa kecupan sebagai tanda permintaan maaf yang tidak terucap mendarat di pucuk kepala Mira.


Bersikap seperti ini jauh lebih menyakitkan bagi masing-masing.


Mira terbangun karena paydaranya terasa penuh sehingga menimbulkan rasa sakit. Biasanya jam-jam seperti ini waktunya ia menyusui ssang anak.


Merasakan ada perbedaan dari istrinya Fahmi pun membuka mata. "Kenapa sayang? ada yang sakit?"


"Pompa ASI, Mas," pinta Mira sambil meringis.


Malam yang semakin bergerak ditambah hujan di luar tidak membuat mereka bergelung dan berkeringat di bawah selimut.


Sampai pagi menjelang dan Ardan datang menjenguk suasana suami istri itu belum berubah.


"Mira sudah baikan?" tanya Ardan meletakan sarapan yang ia bawa.


"Seperti yang papa lihat, alhamdulillah aku baik-baik saja."


"Ya papa rasa juga begitu. Kamu akan tetap baik-baik saja, papa tahu kamu sangat tangguh. Fahmi ini papa bawa sarapan, kita sarapan bareng-bareng ya."

__ADS_1


Beres sarapan Fahmi meminta bicara berdua dengan Ardan. Ia menunjukan pesan yang diterima tadi malam pada mertuanya.


"Aku belum memberitahu Mira soal ini. Menurut papa aku harus bagaimana?"


__ADS_2