
Mira baru saja menyelesaikan aktifitas cuci mencuci saat pintu rumahnya terdengar diketuk. Ralat rumah Fahmi yang digunakan oleh Mira. Segera dia mengeringkan tangan dan membuka pintu.
"Pak Hasan?" tanya Mira yang keheranan melihat sopir Adelia pagi-pagi buta sudah di sana. Bahkan matahari saja belum menampakan sinarnya.
"Saya diminta pak Fahmi untuk menjemput mbak Mira."
"Loh memangnya ada apa?"
"Non Syafa rewel sedangkan bapak harus segera berangkat ke malaysia."
"Tunggu sebentar!" Mira berjalan cepat mengambil tasnya. Mengunci pintu dan segera masuk ke dalam mobil. Sekilas Mira melihat tetangga yang penasaran sambil mencebikkan bibir. Sudahlah Mira tidak ingin fokus agar terlihat baik di mata orang. Terserah mereka mau menilai apa.
Mobil tiba di rumah Fahmi gegas Mira turun karena tangisan Syafa terdengar sampai ke pintu. Beberapa orang dengan wajah kantuk ada di sana berusaha menenangkannya.
"Assalamualaikum." Semua langsung menoleh ke arah pintu. Dimana seorang perempuan cantik memakai gamis berwarnna moka lengkap dengan hijab yang menjuntai tengah berjalan mendekat. Fahmi mengerjapkan mata karena terlalu lama memandang Mira. "Dek Syafa, Kak Mira bawa sesuatu di tas mau lihat gak?" Mira langsung fokus pada Syafa. Mengabaikan tatapan mereka yang kagum melihat dirinya.
Anak yang tengah di dalam gendongan Fahmi itu menolah. "Bawa apa?" Ajaib anak itu langsung meminta diturunkan dari gendongan.
"Kak Mira bawa makanan kesukaan Dek Syafa." Mira mengeluarkan beberapa rainbow cupcake kesukaan Syafa. Anak itu langsung berteriak kegirangan.
Fahmi menggunakan kesempatan itu untuk berangkat. Seakan sadar ayahnya akan pergi, Syafa menoleh ke arah anh ayah, menyusul dan kembali merengek meminta ikut. Fahmi mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak mencoba kembali memberi pengertian. "Ayah hanya berangkat bekerja, nanti sore ayah juga akan pulang."
"Tapi ayah bawa koper," teriak Syafa sambil menangis dan enggan untuk ditinggalkan. "Enggak. ayah mau meninggalkan aku kan?"
Mira mendekat dan mencoba membujuk siapa tahu masuk. Karena tadi dibujuk Adelia pun tidak mempan. "Gimana kalau kita ikut mengantarkan Ayah sampai ke bandara. Biar nanti kita bisa jemput ayah lagi di sana. Ayah tidak akan meninggalkan Dek Syafa. Iya kan ayah?" Mereka sama-sama menatap Fahmi meminta jawaban.
Adelia yang tadinya hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal tiba-tiba usil memotret adegan Mira dan Fahmi yang saling berjongkok di depan Syafa. Percis ibu dan ayah yang tengah membujuk anaknya.
"Iya ayah akan kembali. Syafa sama kak Mira dan tante Adel jemput ayah di bandara ya."
__ADS_1
"Berarti sekarang kita antar ayah?" tanya Syafa.
Mira menghapus pelan sisa air mata Syafa dan mengangguk, "boleh kan ayah?"
Mereka bertiga tidak sadar kalau adegan mereka membuat pekerja yang tadi ngumpul untuk menenangkan Syafa jadi mesem-mesem.
"Boleh, tapi nanti harus kembali dan harus sekolah."
Mereka pun menaiki satu mobil yang sama untuk mengantar Fahmi sampai ke bandara. Sya duduk di pangkuan Fahmi di kabin depan. Mira dan pengasuh Syafa duduk di kabin tengah.
Fahmi menoleh ke arah Mira yang tengah mengusap perutnya sambil bergumam membacakan ayat yag ia dapat dari guru ngaji. Mira banyak sekali berubah, lebih terlihat ceria, lebih terlihat santai, bahkan bicaranya begitu tenang.
"Dek, maaf ya harus menjemput kamu subuh-subuh," kata Fahmi.
Mira mengangkat wajah dan mengangguk lalu menundukan pandangan. Mereka tidak terikat tapi seperti saling mengisi. Lihatlah cara mereka memperlakukan Syafa, tak butuh waktu lama membuat anak itu lengket dan menurut pada Mira.
Mobil tiba di bandara, dan Syafa tetap kukuh ingin melihat ayahnya hingga naik ke pesawat. "Lihat ayah dari sini saja ya, tuh ayah akan masuk ke pintu itu. Nanti malam jemput ayah lagi di sini ya." Kata Fahmi.
"Insyaallah, doakan agar perjalanan ayah selamat. Di rumah jangan nakal sama mbak dan kak Mira ya. Jangan lupa setelah ini berangkat sekolah. Anak ayah kan baik, ayah tidak punya anak yang nakal." Fahmi menatap kedua pengasuh anaknya dan mengucapkan terima kasih karena telah bekerja dengan baik.
"Sama-sama, Pak. Semoga selamat sampai tujuan." Hanya si pengasuh yang menjawab karena Mira sibuk menatap arah yang ditunjuk oleh Syafa.
"Syafa ayah berangkat ya." Fahmi berpamitan kemudian melakukan chek-in.
Mira tidak mengerti apa yang ditunjuk oleh Syafa. Jari telunjuk mungil itu bergerak tidak beraturan.
"Mau makan yang seperti itu?" tanya pengasuh yang lebih paham apa yang ditunjuk Syafa.
"iya."
__ADS_1
"Emang apa, Mbak?" tanya Mira.
"Itu roti,"
"Oooohhh mau roti itu, ya sudah tunggu di sini sama mbak, biar kak Mira yang beli."
"Biar saya aja, Dek Mira. Kamu kan lagi hamil."
"Gak papa, Mbak. Lagian aku tuh hamil bukan sakit. Jalan-jalan dikit lah kakinya biar gak pegal," kata Mira menuju stand penjual roti.
Ada dua baris antrean dan mau tidak mau Mira ikut mengantre. Rupanya roti milik salah satu artis ini cukup terkenal dan enak. Dilihat dari banyaknya antrean yang sejak tadi tak kunjung habis. Mira menunduk sambil mematikan ponsel sampai tiba giliran dirinya memesan.
"Rotinya empat, mbak, air minumnya juga sama empat."
Antrean di sebelah Mira melakukan hal yang sama, tapi ada yang menarik perhatian Mira. Suara itu? Mira menoleh pada laki-laki yang tengah mneyebutkan pesanan. Mira menutup mulut tak percaya. Dion? iya laki-laki itu Dion-nya yang ia cari beberapa bulan lalu. Tetapi akhirnya Mira memilih menyerah saat pencarian tak kunjung membuahkan hasil.
Baru Mira hendak menyapa, suara sanak kecil yang mendekat ke arah meraka seperti menghentikan laju darah Mira. Anak kecil itu memanggil Dion apa? Daddy?
Mira juga melihat seorang perempuan berwajah cantik dengan tubuh yang sangat menarik menghampiri mereka. Jauh berbeda dengan dirinya.
Mira menunduk menatap perutnya yang sudah terlihat menonjol. Tak terasa air mata tiba-tiba jatuh. Beruntung pelayan toko roti itu memanggil namanya dan memberikan pesanan Mira. Gegas Mira melangkah dengan pikiran yang berkecamuk. Antara senang, bertemu lagi dengan dion, marah karena lelaki itu tak kunjung menemui dan kini ia harus kecewa dengan keadaan laki-laki itu.
Dion sudah menikah dan itu nyata. Mira melihat sendiri bagaimana pria yang ia cintai memperlakukan anak kecil dan perempuan itu. Sungguh manis tapi bukan pada dirinya.
"Ini rotinya, tunggu di dalam mobil ya, kak Mira mau ke kamar mandi dulu." Mira menyodorkan bungkusan roti itu pada pengasuh Syafa.
"Dek Mira ada apa?" tanya pengasuh yang melihat gelagat mencurigakan dari Mira. Sikapnya tidak setenang tadi saat mereka belum berpisah.
"Gak papa, aku hanya ingin ke kamar mandi. Sebentar ya."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban, Mira langsung mencari kamar mandi. Ia masuk setelah menemukannya. Ia tidak membuang hajat tapi ia ingin membasuh wajah agar meredakan sesak di dalam dada.
Saat Mira keluar sebuah tangan langsung menarik tangan Mira menjauh dari keramaian.