
"Nggak itu semua fitnah. Saya tidak mungkin melakukan tindak kriminal seperti itu."
"Silahkan jelaskan pada kami nanti di kantor. Mari bersikap kooperatif, Bu."
Mau tidak mau akhirnya Nafa dibawa ke kantor polisi. Sungguh kejutan yang luar biasa bagi Dion dan keluarga.
Suara sirine yang terdengar dari rumah paling mewah di komplek perumahan tersebut, menjadi perhatian warga sekitar. Desas desus mulai tersiar melalui media sosial. Sehingga wartawan sudah menunggu di depan kantor polisi dan langsung mengerubungi mobil mewah yang baru datang di mana di dalamnya ada sepasang suami istri yang katanya terlibat kasus kriminal.
Kabar tersebut juga mulai tersiar di televisi. Baik Mira maupun Fahmi mulai mendengar kabar tersebut. Mira langsung masuk kamar dan menghubungi ayahnya. "Papa apa ini kejutan yang papa maksud?" Ia tidak menyangka ayahnya akan bergerak cepat seperti itu. Baru tadi malam dia meminta bukti yang Mira miliki dan sekarang Dion sudah dijemput oleh pihak berwajib.
"kejutan apa?" Ardan bersikap pura-pura sambil tersenyum menatap siaran langsung dari televisi.
"Ayolah papa tidak perlu pura-pura seperti itu. Tidak mungkin orang lain, karena aku tahu papa yang sudah memegang banyak bukti dariku."
"Kamu terlalu percaya diri, nak. Bisa saja itu kasus lain," kekeh Ardan di balik kursi kebesarannya.
"Ya sudahlah kalau pun itu pekerjaan papa."
Jawaban Mira membuat ayahnya terkekeh. "Fokus aja pada Syifa, biarkan Dion menjadi urusan papa. Oh ya sedang apa cucuku?"
"Baru saja tidur. Pa aku matikan sambungannya ya. Nggak enak kalau gak ikut membantu.
Sementara itu di rumah sakit, Adelia yang baru akan berangkat ke sekolah langsung memberi tahu Fahmi setelah mendengar kabar berita.
"Mas, Bang Ion ditangkap polisi."
"Oh ya? Kasus apa?"
"Belum tahu tapi katanya sih kasus kriminal. Kak Nafa juga ikut ditahan."
"Kamu belum berangkat?" tanya Fahmi. Ia sengaja mengalihkan percakapan.
"Sebentar lagi, Mas. Aku tunggu mbak Silvi datang dulu. Sekarangkan giliran dia jaga."
"Tidak perlu menunggu, Dek. Berangkat saja!"
"Tapi, Mas."
"Ada suster yang bisa dimintai pertolongan kalau, Mas butuh."
__ADS_1
Adelia tak membantah lagi. Ia segera mencium punggung tangan kakaknya dan segera berangkat.
Tak lama Silvi pun datang. Dia tersenyum pada Fahmi tapi Fahmi tidak bereaksi apa pun. Membuat dia sedikit kecewa tapi tetap melangkah.
"Silvi?" tanya Fahmi.
Akhirnya, kata perempuan itu dalam hati. "Ya, ini aku. Kamu sudah sarapan dan minum obat?"
"Sudah. Pulanglah, Sil! Tidak perlu kamu repot-repot menjagaku. Nanti akan ada calon istriku yang akan menjaga."
"Fahmi, bahkan aku baru saja duduk." Silvi tidak terima dengan permintaan Fahmi. Masa baru datang sudah diusir.
"Aku juga tidak pernah meminta kamu datang. Pulanglah! Aku tidak ingin menyakiti calon istriku dengan melihat keberadaanmu di sini."
"Kamu mengusirku? Fahmi, bisakah kamu memberiku waktu untuk dekat dengan kamu?"
"Maaf tidak bisa. Kamu bukan wanita single yang kapan saja bisa aku persunting. Kamu wanita bersuami yang maaf tidak pantas berada di sini hanya seorang diri untuk menjagaku yang bukan siapa-siapa. Sekarang aku minta kamu pulang."
Fahmi menunjuk arah pintu. Dia tidak perlu memikirkan perasaan Silvi. Terserah jika akhirnya perempuan itu akan membenci dirinya. Lebih baik dibenci daripada menimbulkan fitnah. Bisa saja suatu satu suami perempuan itu akan datang pada Fahmi dan menuduhnya yang tidak-tidak.
Bukankah alangkah baiknya kita menghindari lobang yang sudah kita ketahui akan membuat kita jatuh.
"Tidak perlu!" Fahmi menolak permintaan Silvi dengan tegas, "aku sudah mengetahuinya meskipun terlambat. Sekarang pulanglah!"
Kamu bahkan tidak menatapku, Fahmi. Ini semua gara-gara kamu Nafa.
Silvi meraih tas miliknya kemudian beranjak meninggalkan Fahmi.
***
Di kantor polisi, Dion dan Nafa tengah menjalani introgasi di ruangan yang berbeda. Mereka menunjukan bakat aktingnya agar tetap tenang dan memberikan jawaban yang bisa meloloskan ia dari jerat hukum
Akan tetapi, bukan polisi namanya jika tidak memiliki banyak cara untuk mendapat pengakuan dari tersangka.
Seperti saat ini, di dalam ruangan interogasi hanya ada Dion dan petugas. Tatapi di balik kaca yang memilki tembus pandang satu arah ada dua petugas polisi yang akan mengamati ekspresi tersangka.
Dion masih menunjukan sikap tenang, tapi saat petugas yang melontarkan pertanyaan mengambil pensil yang terjatuh di situ Dion menunjukan rasa gugupnya. Ia mengusap wajah dan membuang nafas.
"Baiklah, untuk sementara anda kami tahan sampai kami mendapatkan bukti lengkap," kata petugas saat mengakhiri sesi interogasi.
__ADS_1
Tak ada manusia yang benar-benar lepas dari jerat hukum. Faktanya Dion harus merasakan dinginnya tidur di balik jeruji besi. Jika hukum di dunia bisa dibeli dengan uang, maka uang itu tidak akan berlaku untuk membeli hukum kelak di akhirat.
Uang yang ia kejar selama ini tak mampu menyelamatkan dia. Sekarang hanya berharap ada salah satu dari pihak keluarga yang menjenguknya untuk sekedar mengirimkan makanan enak.
***
Waktu berjalan terasa begitu cepat. Fahmi sudah menadapatkan kembali penglihatannya yang utuh. Tidak lagi harus memakai kacamata khusus.
Sedangkan Mira, ditengah kesibukkannya merawat putrinya juga harus menghadiri persidangan sebagai korban.
Walaupun pada akhirnya hukuman yang dijatuhkan pada Dion dan Nafa tidak seberapa.
Semoga saja bisa memberikan efek jera dan tidak ada dendam di antara mereka.
Sayangnya harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Hendro yang merasa kemalakangan yang menimpa putrinya serta kegagalan proyek yang membuatnya kehilangan banyak uang menganggap itu akibat adanya Mira.
Dia mengumpat saat media televisi terus memberitakan keluarganya.
"Culik bayi itu," perintah Hendro pada anak buahnya.
Kalian harus merasakan bagaiamana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi.
Mira yang tengah mengajak si kecil berjemur merasa ada yang tengah mengawasi. Akan tetapi saat dia menoleh tidak ada siapa pun yang dianggap mencurigakan.
Dia segera membawa Syifa masuk karena hati mulai merasa tidak karuan. Apalagi saat mengingat ucapan Hendro waktu bertemu diakhir persidangan.
"Akan kupastikan bukan hanya anakku yang menderita." Entah apa maksudnya tapi berhasil membuat Mira cemas.
Mira bahkan tak berani menitipkan sang anak pada siapa pun.
Sedangkan orang suruhan Hendro tidak hanya laki-laki tapi ada juga perempuan. Mereka bergantian mengawasi rumah Ardan. Mereka juga menyewa satu rumah dikomplek perumahan itu untuk memudahkan rencana mereka.
Ada kalanya saat sesuatu yang paling kita genggam akan hilang.
Pagi berikutnya, saat Mira tengah menjemur sang anak tiba-tiba perutnya terasa sakit. Ia sudah hendak membawa sang anak masuk tapi baru berjemur beberapa menit. Akan tetapi rasa sakit pada perut menuntut untuk segera dituntaskan.
"Mbak, titip sebentar ya. Jangan ditinggalkan," pesan Mira pada pengausuh yang baru beberapa hari bekerja. Kata Ardan pengasuh itu ia ambil dari yayasan. Tentu kualitas kerjanya tidak diragukan lagi.
Akan tetapi saat dia kembali bayi beserta susternya sudah tidak ada di tempat.
__ADS_1