
Malam ini Mira tidur di rumah utama dokter Fahmi. Sudah terlalu larut untuk dia pulang. Dia merabahakn tubuh menatap langit-langit kamar saat mendengar pintu diketuk. Seorang pekerja muncul dan mengingatkan dirinya untuk makan malam. Mira mengiyakan tapi enggan untuk bergabung.Rasanya dia belum siap lahir dan batin jika harus bertemu Dion lagi.
Masih terekam jelas kalimat manis Dion kala menginginkan dirinya pun saat Dion menghina dirinya. Menganggap bahwa dia sama dengan perempuan penjaja tubuh di luar sana. Jika kemarin-kemarin dia masih mengharapkan Dion, tapi sejak pertemuan tadi semua berubah seketika. Hanya rasa benci yang kini tersisa untuk pria itu.
Keesokan harinya seperti biasa Mira bangun lebih awal. Dia mengecek ponselnya ternyata banyak sekali pesan masik dari Dion. Bukan pesan yang diinginkan karena semua berisi ancaman.
Aku tidak akan segan menghabisimu, jika sampai kamu membuka mulut. Tinggalkan rumah kakakku sebelum semua orang mencurigai kita.
Salah satu pesan dari Dion. Mira tidak gentar dengan ancaman itu.
Pria berengsek tetap saja brengsek. Aku akan tutup mulut tapi bukan untuk kamu. Untuk bayi ini, agar dia tidak bertanya tentang ayahnya. Semua keluargamu tidak akan ada yang tahu tentang masalah ini jika kamu diam dan tidak menggangguku.
Pesan terkirim dan statusmu langsung berubah sudah dibaca. Berarti Dion tengah menunggu reaksi dari Mira. Tanpa menunggu balasan dari Dion, Mira langsung memblokir kontak pria itu. Lantas dia berdiri dan membersihkan diri. Sepuluh menit kemudian dia keluar dengan wajah yang segar.
Mira berdiri di depan cermin, menatap perutnya yang semakin menonjol. Sedih tentu saja, tapi meratapi dengan menangis tidak akan mengembalikan yang sudah terjadi. Hidup terus berjalan dan Mira harus siap dengan semua itu.
Tiba-tiba dia teringat dengan sang adik. Terakhir dia hanya membaca surat dari Ardit tanpa membalasnya. Apa kabar dia di sana. Apa kabar dengan orang tuanya. Apa mereka sudah membaik atau justru semakin hancur. Mira rindu dengan mereka.
Lamat-lamat terdengar kumandang adzan subuh, Mira bergegas mengambil mukenahnya. Sebelum ikut berjamaah dia membangunkan Syafa lebih dulu. Membujuk anak itu agar mau bangun dan shalat berjamaah.
Tubuh mungil nan lucu itu menggeliat, pelan-pelan membuka mata kemudian merengek karena masih ngantuk. Bahkan selimut yang tadi sudah ditarik oleh Mira, kembali ditarik oleh Syafa. "Hey anak manis ayo bangun."
"Nanti kak Mira kan hari ini libur."
"Iya tapi nanti Kak Mira dimarahibayah kalau Syafa gak mau bangun. Syafa gak sayang sama kak Mira?" kata Mira dengan nada memelas. "Dek Syafa tolongin kak Mira dong."
__ADS_1
Lama tidak ada reaksi dari Syafa, sampai akhirnya anak itu bangun. Mira langsung memberikan kecupan hangat dan memeluk tubuhnya. "Terima kasih sudah menolong Kak Mira."
"Sama-sama, tapi aku mau digendong."
Mira tidak keberatan dengan permintaan kecil dari Syafa. Dengan senang hati dia menggendong tubuh Syafa sampai ke Mushola.
"Eh-eh kok Syafa digendong, Dek Mir?" Fahmi menghampiri saat melihat mereka. Merasa khawatir karrna Mira tengah mengandung dan tubuh Syafa pastinya tidaklah ringan.
"Gak papa, Dok lagi latihan jadi ibu supaya terbiasa." Seperti biasanya Mira selalu emnubduk saat bicara dengan Fahmi. Dia terlalu sungkan pada duda tampan dan baik ini.
"Iya tapi lain kali gak boleh seperti itu lagi. Bahaya buat kandungan kamu karena beban tubuh Syafa." Fahmi sudah seperti seorang suami yang protekrif pada istrinya. Hal itu terjadi secara alami. Dia tidak bermaksud cari perhatian dari Mira. Tetapi semua mengalir begitu saja. "Ayo ambil wudhu sama ayah, belum wudhu kan?" tanya Fahmi pada Syafa.
Anak kecil itu mengangguk dan menurut, "Dadah Kak Mira." Padahal setelah shalat subuh mereka akan bertemu lagi.
Selesai Shalat subuh Mira membantu Syaafa untuk mandi. Dia kadang giliran dengan Santi untuk mengurus anak dokter Fahmi. Mereka tidak berebut tapi justru saling berbagi tugas. Kalau Mira yang Syfa sejak pagi maka giliran bermain akan bersama Santi. Mira sudah tidak leluasa bergerak untuk menjaga Syafa apalagi kalau anak itu minta main kejar-kejaran. Engap.
"Masih terlalu pagi untuk jalan," jawab Mira sambil memakaikan pita rambut ke kepala Syafa. Anak kecil itu kadang memakai kerudung kadang tidak. Fahmi masih membebaskan, tapi selalu mengarahakan sang anak dengan cara yang menyenangkan agar tidak terkesan dipaksa.
"Ck, ya nanti maksudku kalau udah siangan. Ya mana ada mall buka pagi-pagi."
Siang hari Mira menemani Adelia jalan-jalan. Mereka hanya berdua karena Syafa ingin ikut Fahmi. Mira lebih banyak duduk saat Adelia tengah memilih pakaian yang ingin dibeli. Dia semakin geraknya terbatas.
Melihat sekelompok remaja yang seusia dengan Mira, hatinya mencelos. Ah lagi-lagi penyesalan menghampiri Mira. Dia menyeka sudut matanya.
"Ini bagus gak, Kak?" Adelia menunjukkan sepasang gamis couple.
__ADS_1
"Kok couple, kamu sudah punya pacar?" tenan Mira.
"Bukan buat aku tapi buat ... emm adalah, tapi bagus gak?"
"lumayan."
"Jangan bilang lumayan, bagus enggak? Kak Mira suka gak?"
"Ya bagus."
Adelia kembali memilih sedangkan Mira memilih duduk saja. Rasa kebelet membuat Mira pergi tanpa izin pada Adelia. Lega rasanya ketika hajatnya telah tuntas. Mira kembali ke tempat tadi tapi perhatiannya seketika tertuju pada dua orang dewasa yang tengah mendorong stroller bayi.
Kedua orang itu tampak bahagia. Saat si wanita berbicara maka si pria otomatis menatapnya dengan penuh cinta. Ya itu tatapan penuh cinta.
Seketika rasa sesak seperti merampas pasokan udara dalam paru-paru Mira. Dia ingin mengelak tapi orang yang tengah dia pandang memang Dina-ibunya. Tengah bersama seorang pria tapi bukan Ardan. Lalu bayi siapa yang ada dalam stroller itu?
"Mama."
"Mira?" Dina tidak menyangka dia akan bertemu dengan Mira setelah beberapa bulan terpisah. Dia menatap sang anak lalu menatap pria yang berdiri disampingnya.
Hancur itu yang Mira rasakan saat ini. Saat dia berharap kedua orang tuanya kembali akur dan hangat tapi kenyataan menunjukan hal lain. Hati Mira sakit melihat fakta ini. Tidak perlu Dina menjelaskan pun Mira sudah bisa mengerti.
"Aku pikir setelah aku pergi keadaan akan membaik," kata Mira menatap sang ibu dengan wajah kecewa. Ini memang serasa tidak masuk akal. Mira pergi baru hitungan bulan tapi saat bertemu dengan perempuan yang menjadi jalan lahirnya ke dunia dia harus mendapati kenyataan yang begitu pahit.
"Mira aku ... aku bisa menjlesakan. Had beri aku waktu untuk bicara dengan Mira."
__ADS_1
Had?
Mira memejamkan mata membiarkan air matanya lolos.