Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Anaknya Bang Ion?


__ADS_3

Hari perkiraan lahirnya bayi Mira masih tiga bulan lagi. Tetapi Fahmi dan Adelia sudah kompak membelikan kebutuhan-kebutuhan bayi. Setiap harinya selalu ada saja barang terkait kebutuhan bayi yanh dibawa Fahmi saat pulang.


Pakaian bayi, stroller, baby bouncher, kebutuhan mandi, bok tempat tidur sudah dibebelikan oleh mereka.


"Ini bayinya masih lama. Kok sudah beli kebutuhannya dari sekarang?"


"Gak papa, Kak Mir, ini tandanya Mas Fahmi perhatian sama calon adeknya Syafa."


"Iya tapi kan saya belum tahu jenis kelaminnya, nanti kalau gak ke pake gimana? Sayang kan jadi mubazir." Mira memang sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayinya. Dia menghindari berpikir berlebihan jika sudah mengetahui jenis kelamin sang anak. Biarlah dia siapkan mental lebih dulu.


"Aman ini warna-warna yang dibeli netral kok bisa dipakai bayi laki-laki bisa juga di pakai bayi perempuan."


"Ya sudah." Mira mengalah, kalau pun ngotot ya percuma. Masa ia barang-baran itu dikembalikan lagi ke toko. Itu terlalu egois.


Mira membereskan barang-barang itu di kamarnya. Saat dia keluar kamar Fahmi sudah pulang dan sedang duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya.


Melihat Mira melintas, Fahmi pun memanggilnya. "Dek!"


Mira menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan kalau yang dipanggil memang dirinya. Cara Fahmi memanggil dirinya dengan Adelia memang sama.


"Kamu, sini!" Fahmi menepuk sofa kosong di sebelahnya. Sayangnya Mira memilih duduk di soda single.


"Apa lagi ini, Dok?" tanya Mira saat Fahmi memberikan paperbag padanya. "Kebutuhan bayi lagi?"


"Buka aja!" Fahmi kembali fokus pada layar ponselnya.


Mira membuka paperbag itu lalu tersenyum. "Dok repot banget ya jadi dokter. Sudah kerja, merawat syafa dan Adelia sekarang merawat ibu hamil," kekeh Mira. Isi di dalam paper bag itu merupakan kebutuhan Mira seperti susu ibu hamil dan cemilannya.


"Tugas calon suami," balas Fahmi sambil tertawa pelan. Tapi tatapan matanya tetap fokus pada layar ponselnya.


"Kan pura-pura," lirih Mira takut ada yang mendengarnya.


Fahmi meletakan ponsel di meja, kemudian menatap Mira. Menarik nafas dalam setelah kembali menurunkan pandangan. "Bisa gak kalau jadi calon suami beneran?"

__ADS_1


Sontak pertanyaan itu membuat Mira bingung. Pertanyaan bercanda atau memang serius. Sejak dulu Mira memang bodoh dalam membaca ekspresi lawan bicaranya.


"Lupakan, saya hanya bercanda," sambung Fahmi, "oh iya jangan lupa diminum susunya. Saya naik dulu."


Huh, Mira membuang nafas lega. Situasi beberapa menit yang lalu telah membuatnya merasa canggung. Dia segera menyimpan paperbag itu ke kamarnya.


Rasa pegal pada kaki dan pinggang mulai menyerang Mira di usia kehamilan 26 minggu menbuatnya susah tidur. Dia yang tadinya sudah rebah harus bangun lagi untu mengoleskan krim penghangat agar pegalnya reda. Tapi setalh lima belas menit berlalu rasa pegalnya tak kunjung reda. Mira mulai gelisah, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya andai Dion bertanggung jawab. Mungkin sekarang ada yang membantunya memijat kaki juga pinggangnya. Kadang air mata juga tiba-tiba merembes kala Mira berpikir demikian.


Karena rasa pegalnya tak kunjung hilang. Mau meminta bantuan yang lain untuk memijat pun sungkan akhirnya Mira memilih bangun dan memanaskan air. Sebagian air hangat itu dimasukkan kedalam botol minum kemudian ia tempelkan ke pinggang dan sebagian lagi ia gunakan untuk merendam kakiknya.


Fahmi yang hendaknmenagmbik minum karena air minum di kamarnya habis melihat apa yang dilakukan oleh Mira. Merasa kasihan tapi tidak bisa menyentuhnya. Dia pergi ke kamar sang adik dan membangunkannya.


"Apa sih, Mas?" tanya Adelia tanpa membuka mata. Bahkan menarik kembali selimutnya.


"Dek, Kasihan Mira, kayaknya dia kakinya pegal tapi Mas gak bisa menyentuhnya."


"Ya makanya dinikahi," gimana Adelia.


Mendengar soal uang, Adelia pun membuka mata. Menguceknya kemudian mengikuti langkah Fahmi. "Janji loh uang jajannya ditambah."


"Iya nanti, Mas tambahin."


Mereka tiba di dapur dan melihat Mira masih bersandar di kursi kayu, menyandarkan pinggangnya pada botol aku yang isinya air hangat.


"Kenapa gak minta tolong aku, Kak?" tanya Adelia di ambang pintu.


"Loh kok bangun. Mau ambil apa?" tanya Mira yang tidak melihat Fahmi.


"Enggak mau ambil apa-apa tapi disuruh bangun sama calon suami kak Mira. Suruh memijat kaki, Kak Mira." Adelia langsung mengambil handuk kecil dan menaikan kaki Mira ke pangkuannya.


"Eh, jangan. Aku bisa sendiri kok." Mira langsung tidak enak hati. Keluarga Fahmi terlalu baik padanya, kecuali Dion.


"Shuuuutt, nikmati aja. Kasihan aku sudah bangun kalau gak dibayar?" Adelia keceplosan. Padahal tadi Fahmi mewanti-wanti agar tidak mengatakan bahwa ia si suruh oleh Fahmi pada Mira.

__ADS_1


"Dibayar?"


"Upss keceplosan," kekek Adelia. Seketika rasa ngantuknya hilang bersama tawa. "Aku tuh dibayar sama calon suami, Kak Mira. Jadi ya sudahlah kan lumayan juga uang jajanku nambah. Mas keluar dong gak usah ngumpet di situ."


Fahmi meremas botol air minumnya. "Dasar Adelia," umpatnya pelan. Dia pun keluar sambil mneahan senyum dan pura-pura memasang wajah sinis pada adiknya.


"Ya ampun, Dok, jadi merepotkan ya saya. Maaf ya."


"Geeeerrr, Mas aku lapar sebagai upahnya karena aku sudah bangun dan sudah memijat kak Mira. Sekarang Mas masakin aku apa lah biar ada tenaga ini mijatnya."


Mira cepat menarik kakinya dari pangkuam Adelia, "biar saya saja, Dok. Dokter harus istirahat kan." Mira hendak bangkit tapi pundaknya ditahan oleh Fahmi.


"Sudah duduk saja."


Adelia memutar bola matanya jengah melihat tingkah Mas-nya yang terlihat sedang jatuh cinta tapi berusha menjaga jarak. Ia memaklumi tingkah Mas-nya, mungkin itu cara dia menghargai perempuan.


"Emmmm malu-malu tapi mau." Adelia menggoda kakaknya sedangkan Mira hanya tersenyum kecil.


Fahmi mendelik, kemudian berbalik dan membuat lemari penyimpan makanan. Mengeluarkan beberapa sayuran dan dua butir telur untuk ia masak. Telurnya ia rebus dan diberikan pada mira. Sedangkan dia dan sang Adik menikmati sayur yang ia buat.


Sampai jam sebelas malam mereka masih mengobrol karena rasa kantuk tak kunjung hilang. Mereka bertiga akhirnya memutuskan menonton sampai akhirnya Mira tak kuasa menahan kantuk dan tertidur di sofa.


Tak tega membiarkan Mira tidur di sofa, akhirnya Fahmi memberikan diri mengangkat tubuh Mira untuk dipindahkan ke kamar. Ada Adelia saksinya andai iti akan menjadi fitnah.


Hati-hati Fahmi merebahkan tubuh mira. Dia pastikan posisinya nyaman untuk Mira. Ditariknya selimut untuk melindungi tubuh lelap itu dari rasa dingin.


"Makanya dinikahi secepatnya lah, Mas. Eh tapi gimana kalau anak itu anaknya Bang Ion."


Karena Adelia selalu mengatakan hal itu terus-menerus, akhinya Fahmi mengatakan kalau ia akan mencaritahu kebenarannya. Adelia merasa lega saat mendengar ucapan dari kakaknya. Ia pun kembali ke kamar dan melanjutkan tidur.


Keesokan harinya semua menjalankan aktifitas seperti biasanya. Ponsel Fahmi terus saja berdering sejak tadi. Fahmi mengabaikan karena masih harus memeriksa pasien terakhir.


Saat ia menjawab panggilan tersebut, ia dibuat panik. Ia segera menyambar kunci mobil dan meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2