Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Lamaran Dokter Fahmi


__ADS_3

Ternyata kamu pandai membuat sebuah fitnah, Fahmi."


"Oh ya? perlu aku beberkan selain bukti ini. Mungkin tentang kehancuran rumah tanggaku?"


"Coba saja kalau punya," tantang Nafa.


"Sungguh?" Fahmi membuka galeri dan menunjukan scerensoot isi percakapan Nafa dengan seseorang. Menunjukannya pada Nafa.


"Kau?" Nafa menunjuk wajah Fahmi. Wajah Nafa tampak Merah menahan gejolak amarah.


"Nafa, aku sudah banyak tahu tentang kamu. Berhenti sampai di sini. Mira tidak akan menganggu pernikahan kalian. Kamu dan Dion akan tetap bersama. Kamu tidak akan kehilangan apa pun," tukas Fahmi. Lelaki itu bangkit, "Aku akan menikahi Mira," lanjutnya. Lelaki itu pergi meninggalkan Nafa dengan segala keinginan yang masih terpendam.


Tiba di rumah, Nafa langsung mengamuk persis anak kecil yang merajuk karena keinginan tidak terpenuhi. Lebih parahnya anak kecil masih bisa dibujuk dan dialihkan keinginanya sedangkan Nafa bersiskukuh menginginkan Fahmi.


Dion yang juga baru tiba di rumah harus melihat pemandangan yang mengerikan. Seharusnya yang dilihat saat pulang adalah keindahan istri dan ketentraman darinya yang terjadi justru sebaliknya.


"Apa-apaan ini, Nafa?"


Nafa menatap tidak suka atas pertanyaan Dion. Dia menghampiri dan menampar suaminya. "Ini semua gara-gara kamu."


"Hey," bentak Dion setelah telapak tangan sang istri menyentuh pipinya dengan keras. "Gara-gara aku apa hah. Pulang kerja, lihat rumah begini, kamu menamparku lalu menyalahkan. Apa yang kulakukan, apa?" Dion tersulut Emosi.


"Wanita itu, Dion," teriak Nafa. "Kamu dan wanita itu sudah mengahancurkan mimpiku. Seharunya dia tidak ada di dekat Fahmi kalau kamu tidak menghamilinya."


"Fahmi lagi?" Dion membalas teriakan istrinya. "Fahmi lagi Fahmi lagi. Kamu gak pernah memikirkan perasaanku, Nafa? Haruskah semua yang ada di dunia hanya tertuju pada Fahmi dan Fahmi." Dion mengacak rambutnya frustasi.


Lagi-lagi dia merasa kalah jauh oleh Fahmi. Perasaan itu menjadi percikan bensin yang menyulut kebencian Dion terhadap saudara seibunya.


Dua orang tua yang berambisi untuk mendapatkan keinginan masing-masing, mengabaikan perasaan sang anak yang melihatnya. Gama anak kecil itu duduk di balik sofa sambil menutup telinganya.


***


Tiba di rumah Fahmi langsung membersihkan diri. Saat keluar kamar mandi, sang anak sudah menunggunya di tempat tidur.


"Ayah katanya bayi kak Mira sudah keluar. Kenapa aku tidak diajak untuk melihatnya?" Syafa menelengkan kepalanya.


"Syafa mau melihat adek bayinya Kak Mira?" tanya Fahmi sambil menarik pakaian dari dalam lemari.


"Iyalah ayah. Masa hanya ayah dan tante Adel saja yang melihat. Aku kapan?"


"Tunggu ayah memakai pakaian dulu. Ayah akan menjawab setelahnya." Fahmi masuk kembali ke kamar mandi dan memakai pakaian gantinya.


"Ish selalu saja seperti itu," Fahmi masih bisa mendengar omelan sang anak yang membuat dirinya tersenyum.


Setelah pakaiannya lengkap, Fahmi menemui Syafa yang tengah cemberut dan melipat tangan di dada. Tingkah sang anak mengingatkan ia pada sang ibu yang dulu selalu memintanya segera menikah. Karena genas Fahmi mencubit pipi sang anak.


Nafas Syafa bergerak cepat. Anak itu melotot karena kesal.


"Baiklah, baiklah. Jangan memarshi ayah," kata Fahmi sambil angkat tangan. "Ayah akan membawa kak Mira tinggal lagi bersama kita. Syafa mau kan kak Mjra tinggal lagi di sini?"

__ADS_1


"Serius ayah?" tanya Syafa sambil turun dari kasur dan melompat pada pelukan sang ayah.


Fahmi mengangguk. Mereka turun ke ruang keluarga dengan Syafa berada dalam gendongan. Anak itu berkali-kali melayangakan ciuman pada pipi sang ayah. Berulang kali mengucapkan terima kasih karena kak Mira-nya akan tinggal lagi di sini.


Deru mobil yang terdengar menandakan bahwa Adelia baru pulang. Binar bahagia jelas terlihat pada wajah sang adik.


"Tante Adelia senang sekali ayah?" bisik Syafa tapi masih bisa di dengan oleh orang-orang dibicarakan.


Adelia tertawa laku menggoda keponakannya. "Iya dong, kan tante Adel habis bertemu adik bayinya kak Mira. Ih kasian Syafa belum melihatnya, ih kasian."


Bibir Syafa langsung mengerucut, kemudian mantap sang ayah. "Aku mau bertemu kak Mira dan adik bayi sekarang. Aku mau kak Mira dibawa sekarang, tante Adelia tidak boleh melihatnya."


Fahmi dan Adelia tak kuasa menahan tawa karena tingkah Syafa.


"Ok, berarti sekarang ayah harus kembali ke rumah sakit. Syafa tunggu di rumah ok?" Fahmi menurunkan sang anak dari pangkuan. "Boleh ayah ke rumah sakit lagi?" Fahmi memastikan sang anak tidak keberatan untuk ditinggalkan lagi.


"Asal kak Mira di bawa pulang ke sini."


Fahmi kembali ke rumah sakit tapi dia tidak menemukan Mira di ruang rawatnya. Ardab pun tidsk ads hanya ada ponsel yang terletak di atas nakas. Ia langsung mengubungi Ardan tapi panggilan tidak diangkat. Cemas, dia langsung menuju ruang NICU.


Ia berhenti cemas saat melihat Mira ada di ruang NICU ditemani seorang suster.


"Sus berapa lama anak saya harus dirawat di sini?"


"Tergantung kesiapan bayi untuk menghadapi suhu di sekitarnya, Bu. Bjasnsya sda yang hanya di rawat satu minggu, sepuluh hari bahkan ada yang sampai dus puluh delapan hari atau sampai berbulan-bulan," papar suster.


Mira menatap sedih, bayi yang seharusnya sudah biasa ia dekap dan susui harus bertahan dengan alat-alat itu.


Mira tidak menolak.


Fahmi juga membantunya untuk berbaring kembali di atas brankar.


"Pak Ardan kemana?" tanya Fahmi yang tidak melihat pria tua itu sejak kembali datang.


"Papa pulang ke hotel untuk mandi. Mungkin sekalian makan malam atau istirahat."


Panjang umur karena yang dibahas muncul dari pintu membawa beberapa tentengan. "Kebetulan ada dokter, nih saya bawakan makan malam. Mira kan masih harus makan makanan dari rumah sakit. Biar cepat sehat."


"Wah repot-repot, Pak. Beruntung saja juga belum makan dari rumah," canda dokter Fahmi.


"Waahhh keberuntungan untuk saya. Jadi makanannya tidak sia-sia," bakas Ardan sambil tertawa dan menyerahkan satu kotak makanan untuk Fahmi.


"Pak, saya izin mengganggu makan malam anda sebentar," kata Fahmi sambil menatap Mira dan Ardan bergantian.


"Ada hal penting, Dok? Silahkan."


"Sebelumnya saya minta maaf jika ini kurang sopan menurut anda, Pak Ardan." Fahmi menarik nafas, meski sudah seringbbjcara dengan banyak orang yang berbeda karakter, tapi bicara dengan Ardan sungguh membuatnya gugup. Apalagi Mira ikut menatapnya. "Izinkan saya untuk selalu jadi pelindung putri anda, Pak. Selama ini saya merasa sulit untuk melindunginya karena terhalang status."


Ardan tersenyum saat menangkao maksud dari ucapan Fahmi. Dia tidak menyela dan membiarkan Fahmi menyampaikan tujuannya lebih dulu.

__ADS_1


Sebuah kotak kecil berwarna merah muda dikeluarkan Fahmi dari saku.


"Saya meminta restu dan keridhoan anda untuk menikahkan saya dengan Almira muntamah binti Wisnu Ardan, Pak."


Mira menutup mulut. Terharu dan tak percaya pria yang selalu membantunya melamar ia pada sang ayah langsung. Sungguh pria yang sangat genlte. Padahal yang ia harapkan melakukan hal seperti itu adalah Dion.


Ardan menatap Mira dan Fahmi bergantian. Dia menarik nafas dalam dan mengembuskannga perlahan. Dia bisa saja merestui tapi apa Mira mau.


"Saya sangat tersanjung dengan sikap jantanmu, Dok. Sungguh pria seperti ini yang saya harapkan menjadi menantu. Kamu tahu sendiri bagaimana masalalu Mira, dan kehidupan saya. Apa itu sudah kamu pertimbangan."


Fahmi mengangguk, "sudah," jawabnya begitu mantap.


Ardan dan Fahmi mengalihkan tatapan pada perempuan yang masih bengong.


"Bagaimana, Mir. Kamu mau diperistri oleh dokter Fahmi?"


"Aku ... aku nggak tau, Pa."


Jawaban Mira tak membuat Fahmi menundukkan kepala. Dia masih menagngkag wajah dan tersenyum. Dia akan berbesar hati andai Mira menolak. Dia bukan siapa-siapa yang keinginan harus selalu tercapai. Toh dunia tidak akan runtuh hanya krena sebuah penolakan. Itu merupakan hal wajar meski tidak dilungkiri bahwa keinginan untuk diterima jauh lebih besar.


"Dokter Fahmi adalah pria yang baik, Pa. Rasanya aku malu jika harus menjadi pendampingnya. Aku tidak memiliki nilai yang sama dengan dokter Fahmi," kata Mira.


Apa ini artinya dia ditolak.


"Panilai terbaik adalah Allah, kita di hadapannya sama. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Sama-sama diciptakan dari tanah. Kalau Dek Mira menganggap saya lebih baik dari kamu itu tidak salah, karena dek Mira tidak pernah melihat keburukan saya secara langsung. Allah begitu baik menutup rapat aib saya."


Mira diam.


"Papa pernah gagal melindungi mu, Mira. Sekarang papa berharap dokter Fahmi akan menjadi imam dan pelindung yang baik untuk kamu."


"Tapi saya itu ... " Mira ragu melanjutkan kalimatnya. "Apa dokter Fahmi tidak akan malu bersanding dengan saya? Bahkan dokter tahu sendiri ... Apa ini sebagai bentuk pergantian tanggu jawab seperti yang anda katakan?"


"Bukan saya tidak melihat keburukan, Dek Mira, tapi saya juga belum tentu sudah baik. Kalau soal pengganti tanggung jawab, tidak. Ini murni karena keinginan saya, dari dalam hati saya sendiri. Saya ingin dek Mira menjadi ibunya Syafa."


Mira jadi bimbang. Di satu sisi karakter dokter Fahmi adalah karakter yang menjadu impian setiap wanita. Di sisi lain dia masih ada dibayang-bayangi oleh Dion.


Ardan menatap Fahmi, dia jadi merasa tidak enak hati.


"Sambil menunggu Dek Mira menemukan jawaban. Bagaimana kalau saya makan dulu, Pak Ardan. Cacing di dalam perut saya sudah demo," kekeh Fahmi mencoba mencairkan suasana.


"Oh ayo-ayo saja juga lapar," balas Ardan tak pelak mimbulkan gelak tawa.


"Maaf ya, Dek kita harus beda makanan dulu," kalakar Fahmi.


Kedua pria dewasa berbeda usia itu tampak kompak. Mereka bahkan membahas hal lain selain suasana barusan. Gelak tawa dari keduanya membuat bibir Mira tersenyum.


Tanpa mereka sadari di luar pintu ada seseorang yang tengah menguping pembicaraan mereka. Pria itu mengepalkan tangan apala lagi saat mendengar gelak tawa dari saudara satu rahimnya.


Dion iri dengan apa yang didapat oleh Fahmi.

__ADS_1


Aku tidak akan membairakan kamu bahagia, Mas. Kita harus sama-sama merasakan pedih.


__ADS_2