Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
ekstra part 1


__ADS_3

Bima menepikan mobilnya di pekarangan rumahnya. Hari ini terlalu banyak yang harus dia kerjakan, sehingga mau tidak mau dia sedikit terlambat untuk pulang. Beruntungnya Adelia mengerti dan tidak merajuk ketika pria itu menginformasikan kalau dirinya akan telat pulang hari ini.


Bima mengayunkan kakinya, melangkah menuju pintu. Baru saja tangan pria itu terulur hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan sosok wajah wanita yang dia cintai.


"Sayang, akhirnya kamu pulang!" sorak Adelia yang entah kapan sudah mengubah panggilannya, menjadi sayang atas permintaan Bima.


Bima tersenyum manis dan memberikan sebuah kecupan di kening wanita itu. Namun, walaupun bibir pria itu tersenyum, hatinya benar-benar tidak tenang, karena dia yakin, dengan sang istri yang kegirangan menyambutnya pulang,bisa dipastikan kalau wanita hamil itu pasti menginginkan sesuatu.


"Perasaanku tidak tenang nih! apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tebak Bima, yang langsung mendapat respon nyengir dari sang istri.


"Nah dari senyumnya,aku yakin roman-romannya pasti ada yang kamu inginkan. Apa yang kamu inginkan?" tanya Bima to the point. Walaupun pria itu sangat lelah, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kelelahannya di depan sang istri.


"Kamu benar-benar sudah bisa baca sikapku, Sayang. Kamu benar,aku memang menginginkan sesuatu. Aku sudah berusaha menepis keinginan itu tapi tetap saja muncul di kepalaku," ucap Adelia panjang lebar.


"Udah,jangan berbelit-belit! sekarang kamu katakan saja, kamu mau apa?" Bima berucap sembari melonggarkan dasinya dan melangkah ke arah sofa untuk duduk.


"Aku mau makan rujak buatan Kak Ruby. Dan rujak itu harus ada mangga mudanya,"


Bima yang baru saja duduk sontak berdiri kembali dengan ekspresi kaget.


"Rujak buatan Ruby? bagaimana bisa? Ruby kan ada di Jakarta, bagaimana bisa kamu memintaku untuk meminta Ruby mengirimkan rujak?besok aja ya! aku akan pulang ke Indonesia sebentar demi rujak itu,"


Wajah Adelia Seketika berubah sedih bahkan siap untuk menangis. "Tapi aku maunya sekarang, Sayang. Aku bakal tidak akan bisa tidur kalau aku tidak makan rujak itu. Aku dulu pernah makan rujak buatan Kak Ruby, rasanya sangat enak dan aku sangat menginginkannya sekarang," suara Adelia terdengar sangat pelan karena menahan tangis.


Bima mengembuskan napasnya dengan berat. Dia yang kembali ingin menolak permintaan Adelia, sontak mengurungkan niatnya karena melihat wajah istrinya yang tiba-tiba murung.


"Aku terlalu banyak permintaan ya? ini buka aku yang minta tapi anakmu, Sayang. Maaf ya, kalau aku sudah menyusahkanmu!" lagi-lagi perkataan Adelia membuat Bima tidak tega untuk menolak.


"Baiklah! aku akan ke Indonesia malam ini juga, dan akan kembali secepatnya. Mudah-mudahan kakakmu yang menyebalkan itu, tidak mempersulitku nanti, " pungkas Bima akhirnya mengalah.


Adelia sontak tersenyum semringah dan menghambur memeluk suaminya. Di kepalanya kini berkelebat bayangan rujak buatan Ruby. "Terima kasih Sayang!" ucap Adelia dengan senyum yang tidak memudar dari bibirnya.


"Hanya ucapan terima kasih saja?" Bima menatap Adelia dengan senyum misterius.


"Emm, jadi maunya apa?" Adelia mengrenyitkan keningnya.


Bima sontak memberikan isyarat dengan tangannya kalau dirinya menginginkan wanita itu menciumnya.


Adelia kembali menyelipkan senyuman dan mencium pipi sang suami.

__ADS_1


"Ya udah aku pergi dulu! mumpung masih jam 8 di Indonesia! mudah-mudahan jam 9 atau lebih sedikit aku sudah sampai di Jakarta," pungkas Bima seraya beranjak pergi.


Di saat menuju mobilnya,Bima melakukan panggilan pada Tomy asistennya.


"Tom, tolong perintahkan mempersiapkan private jet ya! aku mau ke Jakarta malam ini juga. 10 Menit lagi aku akan sampai di landasan!" titah Bima, dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak, sebelum asistennya itu melakukan protes.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kalau menggunakan pesawat komersial biasa, penerbangan dari Singapura ke Jakarta butuh waktu 1jam 50 menit, tapi karena Bima menggunakan privat jet tidak perlu menghabiskan waktu selama itu, Bima kini sudah tiba di Jakarta dengan selamat.


Supir pribadi orang tuanya yang ada di Jakarta ternyata sudah standby menjemput pria itu.


"Pak, kita langsung ke kediaman Arkana, ya!" titah pria itu begitu masuk ke dalam mobil.


Pria yang sudah berusia setengah baya itu menganggukkan kepalanya dan langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Arka. Beruntungnya jalanan sudah mulai sepi, jadi bisa dipastikan kalau mereka tidak akan memakan waktu yang lama tiba di tempat tujuan.


"Kita sudah sampai, Tuan!" suara sang supir membangunkan Bima yang sempat tertidur di kursi belakang.


"Oh iya, Pak, terima kasih!" ucap Bima sembari keluar dari mobil.


Bima tidak mendapatkan kesulitan sama sekali ketika harus masuk ke pekarangan rumah mewah Arka karena satpam sudah mengenal pria itu.


"Mau apa kamu datang ke sini? di mana adikku? kenapa kamu meninggalkannya sendiri?" cecar Arka begitu dia membuka pintu dan melihat siapa yang datang.


"Di mana Ruby?" bukannya menjawab pertanyaan Arka, Bima justru membuat Arka meradang dengan pertanyaannya yang menanyakan keberadaan sang istri.


"Untuk apa kamu menanyakan istriku? kamu mau cari mati ya?" Arka menatap Bima dengan tatapan membunuh.


"Ya ampun Arka, ternyata kamu masih saja cemburu padaku. Aku mencari Ruby karena aku butuh bantuannya, bukan untuk mendekatinya lagi," Bima berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Butuh bantuan? kenapa harus ke Ruby? bantuan apa yang kamu inginkan? kasih tahu saja, kali aja aku bisa membantu," Arjuna masih menatap Bima dengan tatapan curiga.


"Hanya Ruby yang bisa menolong karena ini permintaan Adelia. Dia menginginkan rujak buatan Ruby dan katanya dia mau malam ini juga. Kalau bukan karena permintaan adikmu, aku seharusnya sudah tidur sekarang!" jelas Bima panjang lebar.


Alih-alih merasa kasian pada Bima, Arka justru tertawa lebar.


"Hahahaha, aku bingung mau kasihan atau merasa bahagia. Pintar juga anakmu menyiksamu," ejek Arka.


"Sayang siapa yang datang?" dari arah tangga terlihat Ruby sudah turun.

__ADS_1


"Eh,Bima! kenapa malam-malam begini kamu datang? kamu lagi ada pekerjaan di Indonesia ya? di mana Adel?" Ruby mengedarkan pandangannya mencari keberadaan adik iparnya itu.


"Aku ke sini bukan karena ada kerjaan, tapi ingin meminta bantuanmu. Adel sangat menginginkan rujak buatanmu dan katanya dia mau sekarang. Aku mohon Ruby, tolong buatkan untuknya!" pinta Bima dengan wajah memelas dan lelah.


"Oh itu saja? baiklah, aku akan buatkan sekarang! sepertinya bahan-bahannya ada!". Ruby mengayunkan kakinya hendak melangkah ke arah dapur.


"Ruby, mangga mudanya juga ada kan? soalnya Adelia mau rujak itu ada mangga mudanya sekalian," tanya Bima penuh harap.


"Astaga, mangga muda tidak ada sama sekali, karena tidak mungkin aku membeli mangga muda yang bisa dipastikan tidak aka ada yang makan,"


Bima menghela napasnya dengan berat. "Jadi bagaimana dong?" Bima menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Ya,mau tidak mau kamu harus mencarinya! walaupun pasti rada sulit mencarinya di jam segini," ucap Ruby. Sementara Arka terlihat tertawa kecil, tidak merasa kasihan sama sekali pada penderitaan Bima.


"Ka,kamu harus bantu aku mencarinya!" celetuk Bima.


"Enak aja! cari saja sendiri! itukan permintaan istrimu. Masa aku juga harus ikut mencari!" tolak Arka mentah-mentah.


"Jangan lupa, istriku itu adik siapa? adikmu kan? masa kamu nggak mau membantuku untuk mengabulkan permintaan adikmu. Yang dalam rahimnya juga kan keponakan kamu,"


"Yang dikatakan Bima benar, Sayang. Kamu harus membantunya. Dulu waktu aku hamil kamu tidak pernah aku susahkan dengan permintaanku yang aneh-aneh, jadi sekarang aku memintamu untuk membantu Bima mencari mangganya. Kalau tidak kamu tidak boleh tidur di kamar denganku!" Ruby buka suara, memberikan ancaman yang sangat ditakuti oleh Arka.


"Tapi Sayang," Arka mencoba ingin protes.


"Tidak ada tapi-tapi!" ucap Ruby tegas.


Arka mengembuskan napasnya,pasrah.


"Baiklah! tapi dengan satu syarat,kamu harus memanggilku kakak ipar dulu! masa kamu selalu memanggil namaku begitu saja, benar-benar tidak sopan!" umpat Arka dengan nada kesal.


"Baiklah, Kakak ipar!" Bima tersenyum menang.


"Ayo kita jalan! kamu benar-benar menyusahkan!" Arka melangkah sembari menggerutu.


Tidak ingin merasa sial sendiri, Arka menghubungi Pandu dan meminta sahabatnya itu untuk ikut membantu mencari mangga muda. Awalnya sahabatnya itu menolak mentah-mentah, tapi lagi-lagi harus mau karena ancaman Tiara.


"Kamu pernah membuat hati Adelia patah, dan ingat dia sudah berkorban agar kita bisa menikah. Jadi kamu harus membantu mencari mangganya!" begitulah yang didengar oleh Arka, yang keluar dari mulut Tiara.


"Kamu benar-benar menyusahkan,Bima! istrimu yang hamil, tapi kami harus ikut susah!" umpat Pandu begitu pria itu bergabung dengan Bima dan Arka.

__ADS_1


__ADS_2