Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Ending


__ADS_3

Tenggorokan Adelia seketika seperti tercekat.


"Ha-hamil?" ulangnya memastikan pendengarannya.


Bima menganggukkan kepalanya, membenarkan.


"Apa maksudmu?" Adelia masih terlihat bingung.


"Kita akan memiliki anak, Sayang!"


"Kita akan punya anak?" Bima kembali mengangguk, membenarkan dengan senyuman yang sama sekali tidak memudar dari bibirnya.


"Kata siapa?" tanya Adelia dengan raut wajah polosnya, membuat Bima mengusap wajahnya dengan kasar, menahan kekesalannya.


"Kata Gatot kaca! ya kata dokter lah! kamu tidak percaya ya kalau kamu hamil?"


"Ka-Kakak tidak bohong kan?" suara Adelia terdengar ragu. Ia tidak mau langsung menerima begitu saja kabar yang baru saja dia dengar karena dia tidak mau kecewa.


"Benar, Sayang! tidak mungkin aku bercanda dalam hal seperti ini,"


"Aku tidak sepenuhnya percaya sebelum aku dengar sendiri,Kak!"


Bima menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali berusaha menahan rasa kesalnya.


"Baiklah, kamu tunggu di sini,aku akan panggil Dokter!" Bima melangkah keluar untuk mencari dokter yang tadi sempat menangani Adelia.


Selepas Bima keluar,Ruby dan Arka menghampiri Adelia.


"Kamu ya, masih saja keras kepala. Sulit percaya sebelum kamu lihat sendiri!" Arka menyentil kening adik perempuannya itu.


"Sakit,Kak!" pekik Adelia sembari mengusap-usap keningnya.


"Kamu itu benar-benar hamil, Del. Percaya deh. Tadi sewaktu kamu mengatakan kalau kamu sangat menginginkan makanan yang dimasak oleh Bima, aku sudah yakin kalau kamu sudah hamil. Tapi, aku tidak mau gegabah langsung mengatakannya, sebelum di-test,"Ruby buka suara.


Adelia tercenung, masih belum mau berharap banyak karena takut kecewa. Namun di dalam hatinya dia mengaminkan keyakinan kakak iparnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tidak perlulah menunggu lama, akhirnya Bima masuk bersama seorang dokter yang berbeda dan dokter yang menangani Adelia tadi. Karena dokter yang tadi hanya dokter umum, dan Adelia butuh dokter kandungan.


"Dok, tolong periksa istriku! dia benar-benar hamil atau tidak, soalnya dia tidak percaya!"


"Emm, baiklah Tuan. Kita langsung USG saja ya!" Bima mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu kita pindah ruangan. Karena ruangan ini tidak menyediakan alat USG," lanjut dokter itu lagi, dan berjalan ke luar disusul oleh Bima yang menuntun Adelia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana, Dok? istriku benaran hamil kan?" tanya Bima, tidak sabar.

__ADS_1


"Sabar, Tuan! Nona Adelia, bahkan baru saja berbaring," dokter itu mengulas sebuah senyuman, bahkan lebih ke arah ingin tertawa.


"Sementara itu, Adelia memejamkan matanya, merasa khawatir kalau dia tidak hamil.


"Ya, Tuhan bagaimana kalau aku tidak hamil. KaK Bima pasti kecewa nantinya," batin Adelia, masih dengan mata yang terpejam, membayangkan raut wajah kecewa Bima.


"Nona Adel jangan tegang ya! coba l


rileks dulu!" suara dokter yang sangat lembut itu, membuat Adel membuka matanya kembali. Sementara Bima menggenggam erat tangan sang istri.


"Tenang Sayang apapun hasilnya nanti, aku akan terima dengan lapang dada," bisik Bima, guna menenangkan sang istri.


Dokter pun mulai menggerakkan probe di bawah perut Adelia, setelah sebelumnya mengoleskan krim.


"Bagaimana, Dok? istriku benar-benar hamil kan?" tanya Bima dengan mata yang menatap ke layar monitor. Pria itu sama sekali tidak tahu membaca apa yang ada di layar monitor itu.


"Sesuai dugaan, Nona Adel benar-benar hamil, Tuan!" Adelia sontak mendongakkan


sedikit kepalanya melihat ke arah monitor.


"A-aku benaran hamil,Dok?" ulangnya memastikan.


"Iya,Nona! dan kalau dilihat dari ukuran janin,usia kandungannya baru memasuki Minggu ke -6. Kondisi kandungan Nona juga baik-baik saja," terang dokter itu, tanpa menanggalkan senyum yang terulas di bibirnya.


Adelia benar-benar tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Hanya matanya yang berembun, menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang. Di tidak menyangka kalau malam ini, Tuhan memberikan dua kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan apapun padanya. Mulai dari pengakuan Bima yang sudah mencintainya, dan nyawa yang sedang bertumbuh di rahimnya. Sementara itu, senyum Bima juga tidak pernah memudar dari bibir pria itu.


"Usia kandungan Nona masih muda, jadi tolong dijaga dengan baik ya,Nona. Anda jangan terlalu banyak pikiran dan jangan kecapean. Nanti aku akan memberikan resep, vitamin dan asam folat, yang harus dikonsumsi oleh Nona Adel!" Dokter itu kembali buka suara, dan Bima menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana, apa sekarang kamu percaya!" tanya Bima sembari mengelus lembut rambut Adelia.


Adelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih ya ,Sayang! kamu sudah mengizinkan rahimmu untuk mengandung keturunan untukku!" nada suara Bima terdengar sangat tulus. Pria itu bahkan mengecup kening Adelia dengan cukup lama, membuat wanita itu merasa sangat dicintai.


"Aku berjanji akan jadi suami yang baik dan siaga untukmu serta jadi papa yang baim untuk anak kita," Adelia kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Pintu kemudian terbuka kembali, dan semua keluarga yang menunggu di luar masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana hasilnya? Adelia benar-benar hamil kan?" tanya Adijaya antusias.


"Iya, Pa! dan usia kandungannya masih 6 minggu! Dokter juga mengatakan kalau semuanya baik-baik saja! sahut Bima, dengan ekspresi bahagia yang tidak terkira.


"Syukurlah!" semuanya menghela napas lega.


"Tapi, kenapa kamu tidak muntah-muntah, Bim seperti aku dulu? aku bahkan sampai kesulitan untuk makan, dan harus konsumsi obat anti mual setiap mau makan," celetuk Arka dengan alis bertaut.


"Jangan samakan kamu dengan Bima. Kalau dulu anak-anakmu memang sengaja mau menyiksamu, karena perlakuanmu ke mama mereka yang __"


"Sudah deh, Sayang! jangan ungkit hal itu lagi!" Arka menghela napas, berat.

__ADS_1


"Aku tidak mengungkitnya, aku hanya menjawab apa yang kamu tanya tadi!" sangkal Ruby, dengan bibir yang mengerucut.


"Sudahlah! yang lalu biarlah berlalu. Jadikan semua pembelajaran!" Adijaya buka suara mengehentikan perdebatan anak dan menantunya. Kemudian pria itu menoleh ke arah Bima dan menyelipkan senyuman di bibirnya untuk pria itu.


"Terima kasih, Bim! kamu sudah mencintai putriku dan menjaganya dengan baik. Aku bersyukur, dan tidak menyesal memilihmu jadi menantuku. Insting seorang ayah itu benar," Adijaya menepuk pundak Bima dengan lembut.


"Terima kasih ya,Bim. Semua perkataanku dulu jangan ambil hati!" Arka ikut buka suara.


Bima membalas senyuman Adijaya dan Arka dengan tulus.


"Terima kasih juga Pa,Ka sudah mempercayakan putri dan adik kesayangan kalian padaku! Aku bersyukur kalau aku bisa menikah wanita cantik dan sebaik dia!" tutur Bima dengan tulus.


Di saat bersamaan, ponsel Ruby berbunyi pertanda ada panggilan video masuk yang ternyata berasal dari Tiara.


" Adel mana?" tanya Tiara dengan wajah semringah tanpa bertanya bagaimana kabar Ruby lebih dulu.


" Kamu ya, belum tanya bagaimana kabarku, tapi sudah langsung tanya Adelia," Ruby pura-pura kesal.


"Aku melihatmu baik-baik saja, jadi tidak aku rasa tidak perlu lagi ditanya. Buang-buang waktu!" sahut Tiara yang membuat bibir Ruby semakin mengerucut.


"Udah, ini Adelianya!" Ruby akhirnya memberikan ponselnya kepada Adelia.


"Adelll, selamat ya! jaga baik-baik kandungannya!" teriak Tiara dari layar handphone.


"Loh, Kaka tahu dari mana kalau aku hamil?"


"Siapa lagi kalau bukan Ruby! Tadi dia kirim pesan ke aku makanya aku langsung menghubungimu." sahut Tiara.


"Terima kasih, Kak Tiara! keponakanku yang cantik di mana?"


"Tuh, dia lagi digendong Pandu!" Tiara mengarahkan ponselnya ke arah Pandu yang langsung melambaikan tangannya ke arah Adelia dibarengi dengan senyuman.


Adelia balas tersenyum dan dia sama sekali tidak merasakan getaran apapun saat melihat wajah Pandu, pria yang dulu dia cintai.


Panggilan pun akhirnya terputus setelah Tiara memberikan peringatan pada Bima kakak sepupunya untuk lebih siaga dan menjaga Adelia dengan baik.


Setelah merasa urusan sudah selesai, mereka akhirnya keluar dari ruangan. Terpancar jelas rona-rona kebahagiaan di wajah semua orang, khususnya Bima dan Adelia, yang merupakan calon orang tua baru.


Ruby dan Arka berjalan bergandengan tangan di belakang dengan sesekali saling silang pandang.


Bila mengingat kebelakang, Ruby tidak pernah menyangka kalau dia bisa hidup bahagia dengan pria yang dulu sangat membencinya, dan dia juga tidak menyangka akan memiliki sebuah keluarga yang sangat menyayanginya.


Tamat


Akhirnya Tamat juga. Terima kasih buat kalian semua yang sudah mendukung cerita ini sampai sejauh ini. Tanpa dukungan kalian semua tentu saja aku tidak bisa melangkah sejauh ini. Maaf, bila aku tidak membalas komentar-komentar kalian semua, bukan karena sombong tapi, kadang tidak sempat karena kesibukan di real life. Tapi, percayalah aku tetap baca kok, walaupun aku berterima kasih di dalam hati. 😁😁😁😁


Kalau berkenan, silahkan mampir ke ceritaku yang baru berjudul "Hanya wanita pengganti" Alurnya tidaklah berat, tapi cukup ringan. Karena aku tahu beban hidup sudah cukup berat dengan naiknya BBM, 😂😂😂


Kalau ada waktu aku akan buat ekstra partnya, bagian Adelia melahirkan nanti.

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih ya, Guys!🙏🏻, 🥰 🥰


__ADS_2