
Mentari mulai kembali ke peraduannya dan langit mulai berganti warna menjadi jingga.
Arka berjalan mendekat ke arah helikopter keluarganya yang sebentar lagi akan membawanya ke Bali. Pria itu benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri dan anak-anak.
Keberangkatannya ke Bali saat ini, benar-benar berbeda dari sebelumnya. Kali ini dia berangkat dengan hati yang bahagia mengingat kalau Ruby sudah memutuskan untuk menerima dia kembali.
Setelah menempuh perjalanan, sekitar satu jam lebih, helikopter yang membawa Arka, mendarat dengan selamat di Bali. Arka langsung berjalan menuju mobil yang sudah dia hubungi sebelumnya. Setelah berada di dalam mobil, Arka langsung memerintahkan sopir untuk membawanya ke kediaman Ruby.
"Pak, nanti kalau ada toko bunga, kita berhenti sebentar ya!"
"Baik, Tuan!" sahut sopir itu.
Setelah 15 menit perjalanan, di depan mereka terlihat sebuah toko bunga. Sesuai dengan perintah Arka tadi, sopir itu pun menepikan mobilnya tepat di depan toko bunga itu.
Arka keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam toko bunga. Tidak menunggu lama, Arka kembali keluar dengan sebuket besar bunga mawar merah.
"Ayo, Pak, kita jalan lagi!" titah Arka dengan sebuah senyuman.
Sekitar 30 menit kemudian, kediaman Ruby sudah mulai terlihat. Debaran jantung Arka semakin tidak karuan.
"Tuan ,kita sudah sampai!" ucap Sopir sembari menepikan mobilnya.
"Iya,Pak. Terima kasih!" Arka turun dan berjalan menuju pintu masuk dengan bunga di tangannya.
Arka menekan bel, dan menunggu pintu dibukakan. Namun, anehnya tidak ada tanda-tanda orang yang akan membukakan pintu untuknya.
"Kenapa pintu belum juga dibuka? apa Ruby tidak ada di rumah?" batin Arka, dengan kening yang berkerut.
Arka mencoba kembali menekan bel dan menunggu, tapi lagi-lagi tidak ada yang membukakan pintu untuknya.
"Kemana Ruby?" batin Arka. Pria itu tampak mulai panik.
"Permisi, Tuan!" tiba-tiba seorang wanita setengah baya, datang menghampiri Arka.
"Iya, Bu!" sahut Arka.
"Apa Tuan lagi mencari dek Ruby?" tanya wanita itu dengan sopan.
"Iya, Bu. Apa Ibu tahu kemana istri saya pergi?"
"Oh, jadi kamu ini suaminya dek Ruby?" Arka menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dek Ruby tadi siang sudah pergi dengan seorang pria. Aku kira kalau itu suaminya,"
Arka terkesiap kaget mendengar ucapan wanita setengah baya itu.
"Bu, jangan mengada-ada! itu tidak mungkin. Suami Ruby itu aku, dan satu-satunya," ucap Arka, tegas.
"Aku tidak berbohong, Tuan. Laki-laki itu tingginya hampir sama seperti Tuan. Dia juga tampan," tutur wanita itu. Tampak tidak ada kebohongan di mata wanita itu.
Arka terdiam. Kakinya gemetar sehingga tersungkur ke belakang, hingga dia duduk menyender di tembok.
"Ini, Dek Ruby tadi menitipkan surat ini," wanita itu kemudian memberikan sebuah amplop ke tangan Arka. "Aku permisi dulu ya,Tuan!" Arka mengangguk, lemah.
Arka tidak langsung membuka amplop itu, tapi dia lebih dulu mencoba untuk menghubungi nomor Ruby.
Arka mengusap wajahnya dengan kasar, ketika yang menjawab adalah suara operator yang menginformasikan kalau nomor istrinya itu tidak bisa dihubungi.
"Kamu kemana sih, Sayang? apa kamu sedang balas dendam padaku? apa kamu sengaja membuatku bahagia dulu lalu kembali menghempaskan kebahagiaanku?" rintih Arka dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.
Arka menatap amplop yang ada di tangannya dan dengan tangan yang gemetar dia membuka amplop itu dan mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya.
"Mas Arka,aku nggak menyangka kalau ternyata selama ini kamu tidak pernah berubah. Apa yang aku pikirkan selama ini ternyata benar. Kamu mendekatiku, hanya ingin bisa melenyapkan ketiga anakku dengan cara halus dan tidak membuat orang curiga. Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu lagi. Beruntung Tuhan mengirimkan seseorang yang memberitahukan semua rencana licikmu. Aku pergi, dan jangan harap kamu bisa menyentuh ketiga anak-anak ku. Aku akan menjaga dan melindungi ketiga anakku bagaimanapun caranya!" Itulah isi surat yang dibaca oleh Arka.
"Ada apa ini? siapa yang memfitnahku?" bagi Arka yang sontak langsung berdiri.
Arka merogoh kembali sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
"Kalian ke bandara, dan cari tahu daftar penumpang atas nama Ruby Eyra Rajasa! Kalian cek semua penerbangan, baik yang domestik maupun mancanegara! Aku akan menyusul ke sana!" titah Arka, dan langsung memutuskan panggilan setelah ada jawaban iya.
Sementara itu,di lain tempat tepatnya di kediaman Arka, tampak Tiara masuk dengan sikap tidak sopan.
"Arka di mana kamu!" teriaknya.
"Ada apa kamu datang ke sini?" bukannya Arka yang muncul, melainkan Pandu yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu. Dia baru saja mengantarkan mobil Adelia yang tadi siang ditinggalkan di parkiran perusahaannya.
Untuk beberapa saat Tiara bergeming, terpaku melihat Pandu. Namun, detik berikutnya wanita cantik itu teringat akan tujuannya datang ke tempat itu.
"Di mana Arka?" tanya Tiara dengan tatapan tajam.
"Untuk apa kamu mencarinya? dia tidak ada di sini, dia lagi ke Bali," sahut Pandu.
"Apa? Jadi dia sudah ke Bali?" Tiara mulai panik.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya?" alisnya bertaut, menyelidik.
"Ada apa ini?" belum sempat Tiara menjawab, tiba-tiba Adijaya, Rosa beserta Adelia muncul.
"Om, maaf kalau kedatanganku ke sini tidak sopan. Aku ke sini hanya untuk menemui Arka. Asal Om tahu, ternyata anak Om itu bersandiwara selama ini, pura-pura baik dan meminta Ruby untuk kembali padanya. Dia masih ingin melenyapkan ketiga cucu Om," ucap Tiara berapi-api.
"Apa maksudmu? jangan menebar fitnah! aku tahu anakku sendiri!" bentak Adijaya.
"Aku tidak fitnah, Om. Coba dengarkan ini!" Tiara memutar sebuah rekaman, yang dikirimkan oleh Ruby tadi siang, yaitu rekaman suara Arka. "Lenyapkan anak-anak itu?" seperti itulah yang terdengar.
Semua orang yang ada di tempat itu terdiam, tidak membantah, karena suara itu memang suara Arka.
"Tunggu! aku rasa tekanan di akhir ucapan itu adalah tanda tanya yang berarti Arka sedang bertanya bukan memerintah. Dan aku rasa nada suara Arka juga terdengar sedang kaget," celetuk Pandu.
Tiara mencoba memutar ulang, dan ucapan Pandu ternyata benar.
"Emm, sepertinya aku pernah mendengar itu," Pandu berusaha mengingat. "Oh iya aku ingat! Saat itu kami sedang di cafe, dan Arka sedang bicara denganku, dan itu adalah reaksi kekagetan Arka saat aku mengatakan alasan Ruby yang masih ragu untuk menerimanya kembali. Aku yakin ada yang merekam pembicaraan kami, dan memotongnya. Arka mengatakan 'melenyapkan anak-anak itu?' bukan 'Lenyapkan anak-anak itu'!" terang Pandu.
"Kalau begitu, Ruby dan ketiga cucuku ada dalam bahaya. Sepertinya ada yang tidak ingin Ruby kembali pada Arka,atau sebaliknya ada yang menginginkan Arka kembali hancur, dengan kepergian Ruby," Adijaya menimpali ucapan Pandu.
"Sepertinya orang itu adalah rival perusahaan yang ingin melihat Kak Arka hancur," Adelia buka suara.
"Jadi, ini berarti Ruby sudah dibohongi orang itu" celetuk Tiara dengan raut wajah pucat.
"Siapa orang itu, apa kamu tahu siapa dia?" desak Pandu.
"Aku tidak tahu, karena Ruby tidak memberitahukanku. Bagaimana ini? padahal orang itu sudah membawa Ruby pergi,"
"Apa!" pekik semua orang, kaget.
"Apa kamu tahu, kemana dia membawa Ruby pergi?" Tiara menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, karena lagi-lagi Ruby tidak memberitahukanku. Katanya dia akan menghubungiku lagi, tapi sampai sekarang dia belum juga menghubungiku," Tiara terlihat lemas sekarang. Wanita itu bahkan sudah mulai menangis
"Kalian semua tenang dulu! aku akan menghubungi Arka!" Pandu merogoh sakunya dan menghubungi Arka, namun tidak mendapat tanggapan dari pria itu.
"Tidak dijawab. Mungkin sekarang dia tengah panik. Kalau begitu aku akan menghubungi anak buahku dulu!" Pandu mengalihkan panggilan ke nomor anak buahnya.
"Kalian bergerak ke Cafe Mentari, cek CCTV dua hari yang lalu di jam Sembilan ke atas! kalian lihat posisiku dan Arka dan periksa apa ada orang yang mencurigakan di sekitar kami!" titah Pandu tanpa basa-basi dan tegas.
Tbc
__ADS_1
Siapa sosok yang membawa Ruby pergi?