
Arka masuk ke kamar kamarnya, meletakkan jas dan melepaskan dasinya. Wajah pria itu terlihat sangat lelah, bukan hanya fisik tapi juga dengan batin.
Hari ini, dia dipusingkan dengan kemarahan Jelita yang menuduhnya menyembunyikan surat cerainya dengan Ruby, karena dirinya masih ragu untuk bercerai. Kalau boleh jujur sih, dirinya memang masih sangat ragu untuk menandatangani surat cerai, tapi mengenai tuduhan kalau dirinya menyembunyikan surat cerai itu, tentu saja itu tidak bena, sama sekali.
"Ah, sebaiknya aku mandi dulu, baru istirahat. Untuk masalah surat cerai itu,aku cari nanti saja," batin Arka sembari melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Pria itu sekarang sudah mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya semenjak Ruby tidak ada. Yang anehnya pria itu justru lebih suka memakai sampo dan Sabun yang biasa dipakai oleh Ruby, dan justru tidak suka dengan yang biasanya dia pakai. Pria itu sebenarnya bingung kenapa bisa seperti itu, tapi lama kelamaan, dirinya sudah tidak peduli lagi.
Arka memilih untuk tidak berlama-lama ada di dalam kamar mandi, karena dirinya sangat merindukan kasur saat ini.
"Akhirnya aku bisa istirahat," Arka menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dan mulai memejamkan matanya. Namun, dirinya harus kembali membuka matanya karena bunyi ponselnya.
"Tante Mona? aduh, Tante Mona pasti mau marah-marah. Tapi kalau tidak aku jawab, dia pasti akan semakin marah dan nekad datang ke mari. Lebih baik aku jawab saja," Arka akhirnya memutuskan untuk menekan tombol jawab.
"Halo, Tante!"
"Arka, apa sih yang kamu lakukan pada Jelita? Tadi siang, kamu meninggalkannya sendiri di restoran. Ok ...karena alasannya, dia sangat lama di toilet, tapi kamu sudah tahu dia sangat lama, kenapa kamu tidak ada sedikitpun rasa khawatir dan mencarinya? ini kamu malah pergi begitu saja?" Tanpa menjawab sapaan Arka, Mona sudah mengeluarkan uneg-unegnya dengan meledak-ledak.
"Maaf, Tante! Tadi aku __"
"Tidak ada maaf-maaf! bukan hanya itu saja, kata Jelita kamu menyembunyikan surat cerai yang sama sekali belum kamu tanda tangani,kamu maunya apa sih? ingat ya, kamu pernah membuat putriku depresi dan bahkan hampir bunuh diri. Bertahun-tahun dia melakukan terapi agar lepas dari bayang-bayangmu, tapi kamu datang lagi dan berjanji akan membahagiakannya. Tapi, apa sekarang? kamu justru membuat dia seakan tidak penting lagi bagimu. Aku ingatkan kamu ya, jangan sampai Jelita mengalami depresi lagi, gara-gara kamu," Mona masih terdengar meledak-ledak, tidak memberikan kesempatan pada Arka untuk menjelaskan.
"Tan, sumpah demi apapun, aku sama sekali tidak pernah menyembunyikan surat itu. Ok, aku salah karena belum menandatangani surat itu, tapi itu karena aku lupa, Tan," tutur Arka, masih berusaha untuk sopan.
"Kalau bukan kamu yang menyembunyikan, jadi siapa lagi? Wanita itu? kan tidak mungkin?"
"Iya, Tan aku berkata jujur, kalau bukan aku yang menyimpannya.Tapi, nanti akan berusaha mencarinya lagi," pungkas Arka, berusaha untuk membuat wanita setengah baya di sebrang sana, merasa tenang.
"Baiklah, aku tunggu! tapi, sekarang aku mau mengatakan, ketemu atau tidak ketemu surat cerai itu, kamu harus tetap secepatnya menikahi Jelita!$ tegas Mona sembari memutuskan secara sepihak.
__ADS_1
"Arghh,kenapa urusannya jadi panjang begini sih?" Arka menggerutu di dalam hati.
Arka kembali meletakkan handphonenya di atasnya meja nakas. Kemudian, pria itu merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang dan mata yang menerawang ke langit-langit kamarnya.
Seketika, bayangan mengenai apa yang dia alami dulu sehingga melakukan tindakan kejam pad Ruby kembali berkelebat.
POV Arka
Ya, dulu aku menikah dengan Ruby karena sebuah jebakan, hingga membuatku sangat membenci wanita itu. Bukan tanpa alasan aku sangat membencinya, itu karena pada saat itu, aku sangat mencintai Jelita, bahkan sudah berencana akan menikahinya.
Sebenarnya, kalau boleh jujur aku sudah berniat untuk ikhlas dan menerima takdir kalau aku dan Jelita tidak ditakdirkan berjodoh. Namun, kebohongan Ruby membuatku menjadi tidak percaya lagi padanya, dan menganggapnya wanita ular, licik dan murahan.
Lambat laun sebenarnya hatiku sudah menyangkal kalau Ruby tidaklah seburuk yang aku kira. Aku mulai sedikit menaruh perhatian, karena yang aku lihat, dia itu wanita yang tangguh, sabar dan lembut. Namun, setiap aku ingin bersikap lembut dan hangat padanya serta ingin mengubur kebencianku, ingatan tentang keadaan Jelita justru kembali membuatku semakin membencinya.
Ya, hampir setiap hari aku mengalami tekanan batin dari Tante Mona mamanya Jelita. Tante Mona selalu menghubungiku dan mengatakan kalau kondisi Jelita sangat memprihatinkan karena mengalami depresi akut yang membuat Jelita berniat ingin bunuh diri pasca dia melihat sendiri kejadian antara diriku dan Ruby.
Hampir setiap hari Tante Mona menerorku dengan mengirimkan photo Jelita yang katanya terpaksa harus dikurung di sebuah ruangan, karena berkali-kali hendak bunuh diri. Kondisi Jelita di dalam photo itu memang benar-benar terlihat memprihatinkan. Pandangan wanita yang hampir menjadi istriku itu terlihat kosong dan mata yang bengkak akibat kebanyakan menangis. Pemandangan itu, membuat aku semakin tertekan dan akhirnya aku melampiaskannya pada Ruby. Wanita yang aku anggap penyebab dari semua yang terjadi.
Aku masih mengingat jelas, hampir tiga bulan yang lalu, terakhir kali aku melakukan hubungan suami istri dengan Ruby. Saat itu, aku benar-benar sangat tertekan, lebih tertekan dari sebelumnya. Tante Mona kembali menyalahkanku dan mengirimkan sebuah video di mana Jelita sedang berusaha untuk melakukan bunuh diri lagi dan ada beberapa orang yang berpakaian dokter berusaha menahan Jelita untuk tidak melakukan hal itu. Aku mendengar dengan jelas, teriakan Jelita yang meneriakkan namaku. Hatiku benar-benar teriris melihat semua itu. Akhirnya aku kalap dan pulang ke rumah dengan kemarahan yang amat sangat. Aku kembali ingin melampiaskan kemarahanku pada Ruby, yang merupakan penyebab ini semua terjadi.
Aku memperlakukannya seperti seorang pe*lacur, mengeluarkan kata-kata makian dan hinaan yang seharusnya tidak pantas diucapkan oleh manusia. Aku memang sudah biasa melakukan hal itu, setiap aku mengalami tekanan, tapi malam itu, apa yang aku lakukan sepertinya lebih kejam.
Aku juga bahkan menganggap dirinya adalah kuman yang harus disingkirkan, tapi sumpah demi apapun,aku benar-benar melakukannya karena tekanan batin tadi dan perasaan bersalah yang sangat besar pada Jelita. Aku merasa kalau aku harus bertanggung jawab pada apa yang dialami oleh Jelita.
Tanpa Ruby sadari sebenarnya aku sering menangis sendiri, bila dia sudah tertidur di sofa, tempat yang sangat sempit. Aku selalu datang menghampirinya dan menatap wajah itu dalam-dalam, karena hanya saat dia tidurlah aku bisa menatapnya lama. Aku selalu mengatakan kata maaf, walaupun aku tahu kalau dia pasti tidak akan mendengarnya.
Sebenarnya, aku melakukan itu semua, selain karena merasa tertekan dan ingin bertanggung jawab pada Jelita di saat wanita itu kembali. Aku juga melakukan itu karena ingin membuat Ruby tidak jatuh cinta padaku. Aku merasa, kalau aku berbuat kejam, dia akan membenciku dan akhirnya berniat pergi sendiri dari hidupku. Aku yakin, kalau dia pergi tanpa adanya rasa cinta padaku, tidak akan muncul cerita yang sama seperti yang dilakukan oleh Jelita. Ruby tidak akan depresi seperti Jelita, sehingga aku tidak perlu merasa bersalah lagi. Tapi, aku salah, dia benar-benar sanggup bertahan menjadi istriku.
Namun, aku sendiri yang terjebak dengan rencana yang aku buat. Ada satu hal yang sangat tidak bisa aku hindarkan dan benar-benar sangat kubenci, itu adalah pesona Ruby yang semakin kuat menarikku. Aku berusaha untuk menepis rasa ketertarikanku dengan semakin meningkatkan rasa benciku, tapi aku tidak bisa. Entah apa yang dilakukan wanita itu, sehingga aku tidak bisa membuang rasa itu.
__ADS_1
Aku sangat membencinya, tapi aku tidak rela jika ada yang menghinanya. Dia pernah dihina oleh beberapa wanita, dan aku mendengarnya. Aku melihat Ruby hanya tersenyum dan tidak melawan. Namun ketika Ruby pergi, aku mendatangi wanita-wanita itu dan memaki mereka. Aku bahkan mengancam akan menghancurkan karir wanita-wanita itu, jika masih berani menghina Ruby.
Aku juga pernah diam-diam menghajar beberapa pria yang pernah berniat hendak melecehkan istriku itu. Aku membuat wajah mereka babak belur, tapi lagi-lagi mereka tidak berani melaporkanku ke polisi, karena aku lagi-lagi menggunakan kekuasaanku, untuk mengancam mereka.
Aku juga merasa kesal saat aku merasa khawatir, di saat dia belum pulang padahal sudah malam. Aku meminta anak buahku untuk mencarinya, dan aku begitu kaget ketika mengetahui kalau dia sedang berada di sebuah tempat di mana ada adikku dengan pacarnya yang sedang mengadakan sebuah pesta. Aku pun langsung buru-buru datang ke tempat itu. Aku melihat jelas bagaimana dia melindungi adikku dari kekasihnya yang berniat jahat. Aku tidak menghampiri mereka, tapi cukup memantau dari jauh. Tapi, aku tetap siaga seandainya para pria itu, berniat mencelakai Ruby dan adikku. Tapi, ternyata Ruby cukup cerdik dan berhasil mengatasi semuanya.
Aku mendengar jelas dari tempatku bersembunyi, kalau Ruby meminta adikku untuk tidak memberitahukan apa yang terjadi, agar aku tidak marah dan menghajar pria-pria tadi demi menjaga nama baikku. Namun, tanpa sepengetahuan mereka aku malah meminta anak buahku untuk menghajar para pria tadi untuk memberikan efek jera. Kemudian aku buru-buru untuk pulang, agar bisa lebih dulu tiba di rumah.
Betapa kesalnya aku, ketika melihat Ruby masuk ke dalam rumah dengan keadaan basah kuyup, tapi entah bisikan dari mana aku justru memarahinya seakan tidak tahu apa yang sudah terjadi. Di saat adikku mengungkapkan tentang itu, di pagi hari ketika Ruby pulang dengan wajah pucat karena aku tinggalkan di jalanan, aku berpura-pura kaget agar semuanya terlihat natural.
Ya, malam itu ,aku mengajaknya untuk menghadiri sebuah pesta, aku benar-benar sangat mengaguminya tapi berusaha aku tepis dan kembali mengingatkan diriku kalau wanita itu adalah penyebab semua masalah yang terjadi. Namun ada hal yang membuatku sangat kesal,di mana ada seorang pria yang mengaku teman SMA Ruby, terang-terangan mengaku kalau dia sangat menyukai Ruby dan bahkan berniat untuk menjadikan Ruby sebagai pendamping, kalau saja istriku itu masih sendiri. Aku tidak bisa menahan amarahku sehingga tanpa perasaan aku menurunkannya di tengah jalan. Aku benar-benar tidak tahu, kenapa aku bisa semarah itu.
Aku juga sangat kesal ketika aku akhirnya berubah pikiran dan berniat akan menjemputnya lagi, tapi di saat aku tiba di tempat aku menurunkannya, dia sudah tidak ada lagi. Aku mengira dia pulang ke rumah orang tuanya, tapi ternyata aku salah. Dia ternyata berada di rumah sakit. Aku merasa sangat bersalah mengetahui hal itu, namun entah kenapa dia saat dia masih berusaha menutupi apa yang terjadi, aku masih mengganggap kalau dia hanya ingin cari muka di depan papaku.
Ketika Jelita kembali, aku benar-benar dilema antara ingin menceraikan Ruby dan kembali lagi pada Jelita, demi menebus rasa bersalahku dan akhirnya aku pun memutuskan untuk berpisah. Hatiku benar-benar merasa sakit dan seakan tidak rela saat aku melihat Ruby menandatangani surat itu. Saat itu, aku melihat Ruby yang terlihat semakin cantik dengan pipinya yang semakin chubby, setelah 3 minggu tidak bertemu. Saat dia memintaku untuk menandatangani juga, aku dengan santainya menjawab nanti saja. Bukan karena tidak bisa,tapi kembali pada alasan tadi yaitu karena masih ada ketidak relaan, dan rasa tidak rela itulah, sampai sekarang aku tidak menandatangani surat itu. Anehnya ketika aku mendengar surat itu hilang dari ruang kerjaku, aku tidak merasa kesal sama sekali.
POV Arka End
Sementara Arka sibuk dengan lamunan dan ingatannya, di tempat lain, Mona dan Jelita masih terlihat sangat kesal.
"Kita harus bertindak cepat, Jelita. Mama tidak mau usaha mama yang selalu memprovokasi Arka selama ini dengan membuat dia selalu dirasuki oleh rasa bersalah, berakhir sia-sia," ucap Mona dengan mata yang berkilat-kilat.
"Mama benar. Aku akan memintanya untuk menikahiku secepatnya. Tapi, ma sebelum itu kita harus lebih dulu melenyapkan pak Rajasa," sahut Jelita.
"Kamu tenang saja. Untuk hal itu, mama sudah ada cara," sudut bibir Mona membentuk senyuman licik.
Tbc.
Jangan lupa buat tetap meninggalkan jejak ya guys. Please like, vote dan komen serta kalau berkenan, kasih hadiah. Bab ini sangat panjang, hampir 2000 kata, kalau secara normal ini, sudah bisa dua bab 😁
__ADS_1