
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa waktu Ruby untuk melahirkan sudah dekat. Ruby hari ini terlihat berjalan santai di tepi pantai, karena menurut saran dokter agar dia bisa melahirkan dengan normal, dia disarankan untuk banyak berjalan-jalan. Wanita yang perutnya terlihat sangat besar itu, berjalan dengan wajah kusut, karena merasa sedih memikirkan akan melahirkan tanpa pendampingan seorang suami seperti kebanyakan wanita lain.
"Apa aku akan sanggup nantinya? kenapa tiba-tiba aku berharap ada mas Arka di sampingku saat melahirkan nanti?" bisik Ruby pada dirinya sendiri.
Ruby kemudian mengelus lembut perut buncitnya.
"Anak-anak mama sayang, yang baik ya! beri mama kemudahan untuk bisa melahirkan kalian bertiga. Mama benar-benar sudah sangat ingin bisa bertemu dengan kalian bertiga," gumam Ruby tanpa melepaskan elusan di perutnya.
Karena terlalu fokus pada perutnya, tanpa sengaja Ruby menubruk tubuh seorang pria yang sedang berdiri di depannya.
"Aduh, maaf, maaf!" ucap Ruby bingung mau melakukan apa. Mau menolong pria itu dia kesusahan karena perut besarnya.
"Tidak apa-apa, Nona!" sahut pria itu sembari mengangkat wajahnya, menatap Ruby.
Mata Ruby sontak membesar,kakinya tiba-tiba bergetar dan akhirnya terjatuh, seperti tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Bagaimana tidak, ternyata pria yang ditubtruknya tadi adalah sosok pria yang sedang dia pikirkan. Siapa lagi dia kalau bukan Arka.
Karena terlalu kaget, perut Ruby tiba-tiba merasakan kontraksi hebat.
"Eh, ka-kamu kenapa?" pria itu terlihat sangat panik.
"Tolong aku! aku mau melahirkan!" pinta Ruby, sembari memegang perutnya.
"Melahirkan?" Arka bergeming, dengan alis bertaut. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu sekarang.
Ruby mencoba untuk berdiri dan berusaha untuk melangkah, untuk menjauh dari Arka. Namun karena rasa sakit yang amat sangat membuat wanita itu kembali tersungkur.
Melihat hal itu, Arka menghambur untuk menolong Ruby.
"Jangan mendekat dan jangan sentuh aku! pergi jauh-jauh!" usir Ruby dengan suara tinggi.
"Maaf, Mbak, tapi aku hanya ingin menolongmu. Aku tidak bermaksud apa-apa!" ucap Arka yang membuat Ruby terkesiap kaget. Dia bingung ketika Arka memanggilnya Mbak seakan dia seperti tidak mengenalnya sama sekali.
"Mas Arka ini kamu kan?" tanya Ruby memastikan.
__ADS_1
"Iya, namaku memang Arka. Dari mana anda tahu aku ini Arka?" pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Arka membuka Ruby semakin kaget. Namun, tiba-tiba rasa sakit di perutnya kembali dia rasakan sehingga Ruby mengabaikan rasa kaget dan penasarannya.
"Mas Arka kenapa diam saja, tolong aku!" pekik Ruby lagi, karena kontraksinya semakin hebat.
Arka, sontak tersadar dari bingungnya. Pria itu, dengan sigap akhirnya mengangkat tubuh Ruby. Entah dari mana datangnya tenaga pria itu, sehingga dia mampu mengangkat tubuh Ruby.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pak, anda harus ikut masuk untuk memberi dukungan pada istrinya. Silakan masuk, Pak!" ucap Dokter yang akan membantu persalinan Ruby pada Arka.
"Aku? masuk? tapi aku bukan__"
"Dok, pasien sepertinya sudah siap untuk melahirkan. Pembukaan sudah lengkap dan ketuban sudah pecah," tiba-tiba seorang perawat datang, menyela ucapan Arka.
"Ayo, Pak, masuk! istri anda harus segera melahirkan karena bayi yang dia kandung ada tiga," Dokter itu menarik tangan Arka, hingga mau tidak mau, pria itu pun menuruti masuk ke dalam.
Ruby melihat ke arah Arka, dengan air mata yang sudah menetes. Satu sisi ada rasa bahagia yang dia rasakan ketika impiannya bisa melahirkan didampingi oleh pria itu bisa menjadi nyata, tapi di lain sisi ada rasa khawatir kalau Arka nanti akan mengambil ke tiga anak itu.
"Pak, tolong kasih dukungan pada istrinya ya! supaya istrinya lebih semangat melahirkan ketiga buah hati kalian!" titah dokter itu, yang membuat Arka semakin kebingungan.
"Sakit, Mas!" rintih Ruby dengan air mata yang semakin banyak keluar dari matanya.
"Kamu yang kuat! kamu pasti bisa! ayo semangat!" ucap Arka, memberikan semangat.
"Tapi, aku benar-benar tidak kuat. Rasanya sangat sakit!" ucap Ruby lagi dengan napas yang memburu dan peluh yang menetes di pelipisnya. Wanita itu tiba-tiba lupa dengan ketakutan yang dia rasakan.
"Aku yakin kamu pasti bisa, Sayang. Aku ada di sini bersamamu,"
Air mata Ruby semakin banyak menetes mendengar suara Arka yang lembut dan memanggilnya Sayang.
"Kamu panggil aku apa tadi? kamu panggil aku, Sayang?" tanya Ruby memastikan.
"Iya,ayo sekarang kamu kuat ya!" ucap Arka, memberikan semangat.
__ADS_1
"Iya, aku pasti kuat! tapi kamu harus janji dulu, jangan pernah bawa anak-anakku, setelah mereka lahir. Jangan pisahkan aku dengan mereka, hanya mereka yang kumiliki, bukan seperti kamu yang pastinya sudah memikirkan anak,"
Arka mengrenyitkan keningnya, bingung mendengar permintaan Ruby.
"Kenapa aku harus mengambil mereka darimu? mereka kan anak-anakmu?" kini gantian Ruby yang kembali bingung mendengar ucapan Arka.Namun, dia tidak peduli lagi dengan tanda tanyanya, karena tiba-tiba dia merasa di bawah perutnya disundul oleh anaknya yang sepertinya sudah tidak sabar untuk melihat dunia.
"Ibu ayo, Bu. Semangat! Pak tolong tetap memberi semangat pada istrinya.
"Iya, Dok!" sahut Arka tegas.
"Ayo, Sayang kamu pasti bisa! kamu kuat!" Arka memberikan dukungan pada Ruby dengan semangat yang tinggi.
Tanpa menunggu lama, sebuah tangisan bayi berjenis kelamin laki-laki terdengar memenuhi ruangan bersalin itu. Entah kenapa,Arka meneteskan air mata mendengar suara tangisan itu, dan melihat bayi yang masih merah itu.
Dokter memberikan bayi pertama itu pada seorang perawat, agar segera dibersihkan.
Kemudian,sang dokter meminta Ruby lagi untuk mengejan agar bayi kedua bisa lahir. Tidak beberapa lama juga, bayi kedua yang juga berjenis kelamin laki-laki, juga keluar dengan suara tangis yang tidak jauh beda dari yang pertama. Lagi-lagi Arka menangis keajaiban dunia itu.
"Tinggal satu lagi. Ibu harus kuat ya! ingat kalau masih ada satu lagi yang harus Ibu perjuangkan," Dokter itu kembali memberikan semangat.
"Iya, Dok! sahut Ruby yang berusaha untuk kuat.
"Iya, Sayang kamu harus kuat. Aku yakin kamu pasti bisa,"
Ruby kembali mengejan, dengan sekuat tenaga. Semangatnya seketika semakin tinggi mendengar kata Arka. Benar saja, seiring dengan teriakannya suara bayi kembali terdengar, memenuhi ruangan dan kali ini berjenis kelamin perempuan.
Lutut Arka bergetar, membuat pria itu tiba-tiba tersungkur jatuh ke lantai. Entah apa yang dirasakan oleh pria itu sekarang, bisa melihat kelahiran tiga bayi sekaligus.
"Selamat ya, Pak, Bu. Anak-anak kalian lahir dengan selamat. Sekarang biar dibersihkan perawat dulu!" ucap Dokter itu dengan senyum yang bertengger di bibirnya.
"Dok, apa aku sudah bisa keluar? tugasku sudah selesai kan?" celetuk Arka membuat dokter itu, mengrenyitkan keningnya, bingung.
Tbc
__ADS_1
Ada apa dengan Arka? kenapa dia bersikap aneh, seakan-akan tidak mengenal Ruby?