Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Ini balasan untukku


__ADS_3

Pandu menepikan mobilnya di depan sebuah restoran yang dia tahu adalah restoran milik sahabat Ruby. Pria itu akhirnya memutuskan untuk membantu sang sahabat untuk mencari keberadaan Ruby.


Pandu mengayunkan kaki melangkah masuk ke dalam restoran yang cukup ramai. Pandu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari kursi yang kosong.


"Tempat yang perfect!" gumam Pandu begitu melihat sebuah meja kosong yang posisinya di sudut. Pria itu pun kembali mengayunkan kakinya melangkah ke meja kosong itu.


Begitu pria itu mendaratkan tubuhnya duduk di kursi, seperti biasa seorang pelayan langsung menghampirinya.


"Ini menunya, Tuan, silakan dibaca dan mau pesan apa?" ucap pelayan itu dengan ramah.


"Aku mau pesan yang ini saja, dan minumnya yang ini," Pandu menunjuk ke salah satu menu yang menurutnya sangat menggugah selera.


"Baik, Tuan! mohon bersabar ya!" pelayan itu berbalik hendak berlalu pergi untuk mengambilkan pesanan Pandu.


"Mbak, tunggu dulu!" cegah Pandu sebelum pelayanan itu jauh.


"Iya, Tuan, apa ada tambahan lagi?" kembali sang pelayan bertanya dengan ramah.


"Oh tidak ada. Aku hanya ingin bertemu dengan pemilik restoran ini. Apa dia ada?" tanya Pandu sembari tersenyum, hingga membuat pelayanan itu terkesima untuk beberapa saat.


"Emm, Ibu Tiara sudah lama tidak datang, ke sini Tuan. Katanya mungkin untuk beberapa bulan ke depan," sahut pelayan itu setelah dia tersadar.


"Emm, seperti itu ya?" Pandu mengangguk-anggukan kepalanya. "Sepertinya wanita itu ada bersama Ruby sekarang. Aku sangat yakin," bisik Pandu pada dirinya sendiri.


"Apa Mbak tahu kemana dia pergi, soalnya aku berencana ingin menjalin kerja sama dengan Ibu Tiara di bidang kuliner," Pandu mencoba menyelidik, berharap mendapat informasi dari pelayan itu.


"Aduh, Tuan. Maaf banget. Aku sama sekali tidak tahu. Kalau mau Tuan bisa bertanya pada Mbak Risa karena Mbak itu yang dipercayakan Ibu Tiara untuk menggantikannya untuk sementara,"


"Oh, seperti itu ya!" Pandu sedikit merasa kecewa, tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya. "Kalau begitu, bisa kamu panggilkan dia?" Pandu kini kembali berharap, bisa mendapatkan informasi dari wanita yang bernama Risa itu.

__ADS_1


"Baik Tuan. Aku akan panggilkan Ibu Risa, permisi!" Pelayan itu kembali berbalik dan berlalu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Maaf, ada apa anda mencariku?" Pandu sedikit terjengkit kaget karena tiba-tiba mendengar suara seorang wanita di sampingnya.


"Maaf, maaf,Anda kaget ya?" Risa merasa sedikit bersalah. Namun, reaksinya itu hanya bertahan untuk beberapa saat karena kemudian mata Risa langsung memicing berusaha mengingat wajah pria yang ada di depannya.


"Emm, sepertinya aku pernah melihatmu. Apa Anda, temannya Arka?" tanya Risa penuh selidik.


"Oh ternyata anda sudah mengenalku. Iya, aku temannya Arka. Tapi, dari mana Anda bisa mengenalku?" Pandu mengrenyitkan keningnya.


"Tentu saja aku mengenalmu. Aku melihatmu hadir di pernikahan Arka dan Ruby dulu. Aku ini kakaknya Ruby. Anda datang ke sini apa karena permintaan Arka? kalau iya,maaf aku tidak tahu kemana adikku pergi," tukas Risa tanpa basa-basi.


Pandu tidak merasa tersinggung sama sekali dengan sikap ketus Risa. Pria itu justru tersenyum tipis.


"Wah, sepertinya Anda sudah bisa menebak, jadi aku tidak perlu susah-susah lagi untuk menjelaskan kedatanganku. Tapi ada satu yang salah, aku ke sini bukan karena permintaan Arka tapi atas kemauan sendiri. Aku datang ke sini berharap akan mendapatkan informasi di mana Ruby berada, tapi sepertinya dari reaksi Anda, sepertinya aku akan gagal. Tapi kalau boleh memohon, tolong kasih tahu kemana Ruby pergi," ucap Pandu masih dengan nada yang sopan.


"Oh, seperti itu ya? kalau boleh tahu, kapan tanggal keberangkatan Ruby," Pandu kembali mengorek informasi.


Risa pun menyebutkan asal tanggal keberangkatan Ruby dan Pandu pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Mbak. Kalau begitu aku pergi dulu! ini bayaran untuk pesananku tadi," Pandu berdiri sembari meletakkan uang seratusan beberapa lembar di atas meja, padahal pesanannya saja belum datang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pandu keluar dari Bandara dengan wajah kusut. Pria itu tidak sendiri, ada Arka bersama dengannya. Tidak ada senyum di bibir dua pria itu,dan ekspresi mereka itu bisa dipastikan kalau apa yang mereka cari tidak mereka dapatkan.


"Sial! sepertinya wanita itu membohongiku," umpat Pandu sembari memukul alat kemudi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Pan. Lain kali aku akan coba cari lagi. Seperti yang kamu dan papa katakan kalau aku harus bangkit dan semangat untuk mencari di mana keberadaan Ruby," ucap Arka dengan mata yang berapi-api.


"Bagus! kamu jangan lama-lama terpuruk. Kamu harus tetap semangat. Ingat ada empat orang yang harus kamu perjuangkan. Tapi, yang paling berat adalah, perjuangan mendapat maaf dari Ruby," ucap Pandu sembari menepuk-nepuk pundak Arka.


Arka mengembuskan napasnya dengan berat. Pria mengusap wajahnya dengan kasar dan menyenderkan tubuhnya sembari menutup matanya.


"Aku pesimis,Pan, kalau Ruby akan bisa memaafkanku dengan kesalahan-kesalahan yang aku lakukan selama ini," ujar Arka dengan lirih.


"Kamu tidak boleh pesimis, walaupun aku tahu pasti sangat sulit. Tapi tidak ada salahnya kan kalau kita tetap memiliki harapan?" hibur Pandu.


"Ya kamu benar. Tidak ada salahnya mencoba. Untuk baik buruknya hasilnya nanti, Aku serahkan pada Tuhan. Dia yang mengatur segalanya," pungkas Arka, sembari menegakkan tubuhnya kembali.


"Ka, untuk seminggu ini kamu bisa kan melakukan pencarian sendiri? karena untuk seminggu ini aku ada perjalanan bisnis ke Bali. Karena kebetulan klienku maunya bertemu di Bali, sekalian berlibur katanya," ucap Pandu sembari menjalankan mobilnya.


"Iya, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri Pan. Terima kasih sudah membantuku!" ujar Arka masih dengan nada lemas, tanpa semangat sama sekali.


Hueks


Tiba-tiba Arka kembali merasa mual, sehingga mau tidak mau Pandu harus kembali menepikan mobilnya.


Arka sontak keluar dari dalam mobil dan berjongkok di tepi jalan berusaha memuntahkan, sesuatu yang mendesak ingin keluar dari mulutnya itu.


Tubuh Arka kini benar-benar sudah terlihat lemas dan wajah pria itu juga sudah sangat pucat.


"Apa kamu ada bawa obat anti mualmu?" tanya Pandu dengan panik dan Arka menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tadi aku buru-buru jadi tidak berpikir untuk membawa obat itu," sahut Arka di sela-sela rasa mualnya.


"Sepertinya, Ruby sekarang sedang merasa sedih, makanya kamu kembali muntah-muntah seperti ini," ujar Pandu sembari memijat-mijat punggung Arka.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku memang pantas merasakan ini semua. Anak-anakku mungkin sedang menghukumku, Pan. Ini belum sebanding dengan apa yang dialami Ruby. Aku bahkan tidak akan bisa memaafkan diri sendiri kalau seandainya Ruby keguguran di malam itu. Makanya aku bertekad tidak akan mengkonsumsi obat anti mual itu lagi, agar aku bisa ikut merasakan ikatan batin antara aku dan mereka," ujar Arka, dengan cairan bening yang keluar dari sudut matanya, tapi buru-buru dia seka.


Tbc


__ADS_2