Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 15


__ADS_3

"Ayo, buruan! aku takut kita terlambat!" seru Arka sembari berlari keluar dan pandu pun menyusul.


Ketika kedua pria itu tiba di lobby, mereka berdua dikagetkan dengan kehadiran dua orang yang sangat mereka kenal yang tidak lain adalah Risa dan David.


"Kak Risa, kenapa kalian berdua bisa ada di sini?" tanya Arka dengan kening yang berkerut.


"Ruby itu adikku, tentu saja aku tidak ingin tinggal diam. Jadi, saat Tiara bilang kalau dia ada di Labuan Bajo, jadinya kami langsung ke sini tadi malam," sahut Risa.


"Kak Risa, Kak David, ayo kita ...." suara seorang wanita yang ternyata Tiara menggantung di udara begitu melihat ada Pandu dan Arka. Ternyata Tiara juga ikut serta datang ke Labuan Bajo.


"Kalian ternyata ada di sini. Apa kami boleh ikut untuk mencari Ruby?"


"Tidak!" bukan Arka yang menjawab melainkan Pandu.


"Kenapa?"


"Kehadiran kalian justru akan membuat fokus kami terganggu, jadi kalian di sini saja. David, kamu ikut kami!" ucap Arka dengan tegas tak terbantahkan. Kemudian tanpa menunggu respon dari dua wanita itu, Arka pun kembali berlari disusul oleh Pandu dan David.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di tempat lain tepatnya di rumah yang disewa Juno, tampak tangan Ruby ditarik kasar oleh Juno. Ruby tampak berusaha untuk melepaskan diri, tapi dia tidak bisa karena kalah tenaga.


"Hei, kalian, siapkan mobil, kita harus meninggalkan tempat ini, segera!" titah Juno dengan suara yang menggelegar, pada anak buahnya.


"Tolong lepaskan aku! jangan bawa aku kemana-mana!" mohon Ruby dengan suara yang sudah sedikit serak.


"Jangan mimpi kamu! aku akan bawa kamu jauh ke luar negeri sekarang juga, sampai pria brengsek itu tidak bisa menemukanmu," ucap Juno dengan nada sengit.


Salah satu anak buah Juno terlihat datang berlari ke arah Juno. "Tuan, mobilnya sudah siap!" lapor pria itu.


"Bagus, ayo kita pergi sekarang juga sebelum si brengsek itu datang," Juno kembali menarik paksa tangan Ruby.


"Juno, jangan bawa aku. Anak-anakku membutuhkanku," Ruby kembali berusaha memohon.


"Aku tidak peduli! anak-anak itu lebih baik tinggal di sini, karena aku tidak mau tangisan mereka menggangguku. Ayo masuk!" Juno mendorong paksa tubuh Ruby masuk ke dalam mobil. Kemudian dia. memerintahkan anak buahnya untuk melajukan mobil secepat mungkin.


"Tolong, anak-anakku butuh aku! jangan bawa aku!" Ruby menangis histeris sembari melihat ke belakang.


"DIAM!" bentak Juno dengan suara yang menggelegar.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini tempatnya!" seru Arka sembari buru-buru membuka pintu.


"Ka, jangan gegabah. Kita harus tetap hati-hati, takutnya mereka sudah membuat jebakan buat kita," Pandu kembali mengingatkan.


Arka menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Arka,Pandu dan David disusul dengan anak-anak buahnya berjalan dengan sangat hati-hati menuju pintu masuk. Arka menggerakkan tangannya, memberikan isyarat agar anak buahnya berpencar..


Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang bersahut-sahutan, yang Arka yakin adalah suara anak-anaknya. Karena merasa geram, Arka sudah tidak bisa menunggu lagi, dia langsung melayangkan kakinya menendang pintu dengan keras, hingga pintu itu rusak.


"Kenapa sepi?" ucap Pandu dengan kening berkerut.


Tiba-tiba dari arah pintu kamar, terlihat wanita setengah baya yang tidak lain adalah pembantu rumah tangga yang dibayar oleh Juno keluar sembari menggendong satu bayi.


"Siapa kamu! kenapa anakku ada di tanganmu? serahkan bayi itu sekarang juga!" titah Arka dengan raut wajah yang merah padam.


"Oh,jadi anda ini adalah papanya anak-anak ini? syukurlah anda sudah datang. Ibu Ruby tadi dibawa paksa oleh Tuan Juno tanpa membawa anak-anak Tuan. Ini aku mau buat susu buat mereka ternyata tidak bada susu sama sekali," terang wanita itu dengan sedikit gemetar.


"Arghhhhh brengsek! Arka benar murka.


"Kamu kembali ke hotel dan bawa Kak Risa beserta Tiara ke sini. Ingatkan mereka untuk membawa kebutuhan anak-anakku!" titah Arka dengan suara tinggi pada salah satu anak buahnya.


"Ke arah mana laki-laki itu membawa istriku?". kembali Arka bertanya pada wanita tadi.


"Ke arah sana Tuan!" wanita itu menunjukkan arah kemana Juno membawa Ruby.


Arka dan yang lainnya sontak berlari kembali ke mobil untuk kembali melakukan pengejaran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kamu tega melakukan ini? kamu benar-benar tidak punya hati!" Ruby masih histeris di dalam mobil.


"Diam! ini pantas untuk didapatkan oleh pria sialan itu. Gara-gara dia adikku mati muda dan mamaku bunuh diri," ucap Juno dengan wajah yang merah padam penuh amarah.


"Arka sama sekali tidak membunuh Jelita, tapi memang sudah takdir adik kamu yang harus meninggal dengan cara itu. Dan kalau mengenai mama kamu yang bunuh diri di penjara, itu karena dia merasa bersalah telah menjerumuskan Jelita. Jadi stop menyalahkan Mas Arka!" bantah Ruby.


"Ya,dia memang tidak membunuh adikku dengan tangannya, tapi seandainya dia tidak menjelaskan adik dan mamaku ke penjara, tentu adikku masih hidup sampai sekarang dan mamaku tidak bunuh diri,"

__ADS_1


"Jadi, kalau tidak dijebloskan ke penjara, hukuman apa yang pantas buat adik dan mamamu, hah! bagaimanapun mereka sudah melakukan tindakan kriminal. Kalau bukan Arka yang menjebloskan mereka ke penjara, apa mereka bisa tetap bebas dari hukum? mereka sudah melakukan pembunuhan berencana pada Papaku, apa itu juga harus dibebaskan?" teriak Ruby, dengan nada berapi-api.


"DIAM!" teriak Juno dengan tangan yang melayang memukul wajah Ruby dengan kencang. Dari sudut bibir Ruby kini mengeluarkan darah, dan wajah wanita itu memerah akibat tamparan keras yang dilakukan Juno.


"Sekali lagi kamu masih bicara, aku tidak akan sungkan-sungkan untuk melenyapkan nyawamu sekarang juga!" dada Juno terlihat naik turun, karena napas yang memburu akibat amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Kamu benar-benar tidak punya hati, Juno! kamu tega melakukan hal sekeji ini, memisahkan seorang ibu dengan anak-anaknya, demi membalas kematian adik dan mamamu pada orang yang sama sekali tidak bersalah,"


"Aku bilang diam ya diam! apa kamu tidak mengerti ucapanku atau kamu tuli!" Juno tanpa sungkan lagi, menarik rambut Ruby dengan kencang ke belakang, hingga Ruby meringis kesakitan.


Ruby akhirnya memilih untuk diam, dengan wajah yang sudah basah dengan air mata. Wanita itu benar-benar pasrah sekarang.


Tanpa sengaja Ruby menoleh ke sampingnya dan dia melihat benda pipih yang dia cari selama ini, apalagi itu kalau bukan Handphonenya. Ternyata, Juno meninggalkan ponselnya di dalam mobil dan lupa untuk mengambilnya. Seketika dia merasa ada setitik harapan untuk bisa menghubungi Arka. Dia berharap handphonenya itu, tidak kehabisan baterai.


Ruby melirik ke arah Juno dengan ekor matanya. Dia melihat Juno sedang fokus menatap ke depan. Ruby akhirnya tidak menyia-nyiakan kesempatan, untuk meraih ponselnya. Wanita itu berpura-pura menatap ke luar, tapi salah satu tangannya bekerja di bawah.


Ruby menekan tombol power, dan menghela napas lega begitu ponselnya menyala. Dengan sigap dia menekan tombol volume agar tidak terdengar. Kemudian, dia pun menghubungi nomor Arka. Setelah itu, dia langsung memasukkan handphonenya ke dalam saku celana piyamanya, karena memang dirinya masih menggunakan piyama tidurnya.


Tiba-tiba ponsel Juno berbunyi dan pria itu langsung mengangkat teleponnya.


"Ada apa?" apa semuanya sudah siap? sebentar lagi kami tiba di sana," ucap Juno yang ternyata panggilan tersebut dari anak buahnya.


"Maaf, Tuan! kita tidak bisa terbang saat ini,. karena helikopternya mengalami kerusakan mesin," ucap seorang pria dari ujung sana dengan nada takut.


"Apa! mesin rusak? Sialan! kalian semua memang tidak becus bekerja. Brengsek! kalian urus itu secepatnya!" maki Juno sembari memutuskan panggilan secara sepihak.


"Kita cari tempat aman yang lain dulu! kita ke gedung kosong yang di sebelah sana dulu!" Juno menunjuk ke arah sebuah gedung yang terlihat terbengkalai pada sopirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arka yang dari tadi selalu membentak David karena menurutnya, pria itu sangat lambat mengemudikan mobil, tersentak kaget mendengar ponselnya berbunyi.


Dia melihat nama Ruby tertera di ponselnya. Pria itu dengan cepat langsung menjawab panggilan itu.


"Halo, Sayang! kamu di mana? apa kamu baik-baik saja, biar kami jemput!" pekik Arka, tapi tidak mendapat sahutan.


"Ruby ... Sayang ... kenapa kamu diam?" lagi-lagi Arka buka suara dengan nada tidak sabaran


"Ka, sepertinya Ruby hanya ingin memberi kita petunjuk. Lacak dari mana dia menghubungi kita!" ucap Pandu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2