Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Nama pilihan Ruby.


__ADS_3

Ruby tersenyum manis, ketika melihat ketiga bayinya didorong masuk oleh perawat.


"Bagaimana keadaannya Ibu Ruby? Ibu sudah makan kan?" tanya perawat itu dengan ramah.


"Sudah, Sus!"tanpa menanggalkan senyumnya, Ruby memberikan jawaban pada sang perawat.


"Sudah siap memberikan asi kan?"


"Sudah dong!" sahut Ruby.


Perawat itu membalas senyum Ruby dan memberikan bayi pertama untuk Ruby.


"By, aku keluar sebentar ya! aku ada sedikit keperluan," celetuk Tiara sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas, setelah sebelumnya dia membaca pesan yang sedang dikirimkan seseorang.


"Ya udah! cepat kembali ya! aku takut dia datang lagi," Tiara menganggukkan kepalanya, mengiyakan karena dirinya sudah tahu siapa dia yang dimaksudkan Ruby tanpa Ruby menyebut nama orang itu.


Tiara mengayunkan kakinya berlalu pergi dari ruangan Ruby, setelah sebelumnya dia menitipkan Ruby pada perawat lebih dulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada apa kamu memintaku ke sini?" tanya Tiara to the point pada pria yang tidak lain adalah Pandu.


Pandu menatap Tiara dengan senyum yang tersungging manis. Dia sudah terbiasa dengan sikap ketus wanita cantik di depannya itu.


"Bisa tidak kamu lembut sedikit saat bicara denganku?" ucap Pandu pura-pura memasang wajah kesal.


"Haish, apa tadi aku kurang lembut? aku tadi nggak teriak-teriak kan? aku bicara dengan sangat pelan malah," Tiara menggerutu, memasang wajah kesal.


"Pelan bukan berarti lembut, Tiara sayang. Aku mau, kamu tadi bertanya begini nih 'Kak, Pandu Sayang, kenapa kamu memintaku menemuimu?' begitu maksudku," Bayu memberikan contoh sikap lembut versi dirinya sendiri.


"Sudah deh,Kak. Kayanya tidak perlu harus seperti itu. Kalau nggak dari hati sepertinya tidak ada gunanya, benar-benar palsu jadinya," ucap Tiara eksplisit.


"Ya udah, aku tunggu kamu bicara seperti itu dari hati," pungkas Pandu akhirnya. Sudah 6 bulan mengenal wanita itu, sering bersama, tapi entah kenapa Tiara sepertinya belum bisa mencintainya, walaupun memang mereka sebentar lagi akan menikah.

__ADS_1


"Katamu, ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, boleh kakak bicarakan sekarang? soalnya aki harus segera kembali ke ruangan Ruby. Dia masih belum merasa nyaman ditinggal sendiri," ucap Tiara yang kali ini lebih lembut dari sebelumnya.


Pandu, menarik napas lebih dulu dan membuangnya kembali. Kemudian, pria itupun mulai menjelaskan apa tujuannya memanggil wanita itu.


"Oh, seperti itu ya? baiklah nanti aku usahakan ya!" ucap Tiara setelah mendengar penuturan Pandu yang panjang lebar.


"Terima kasih, Ra!" ucap Pandu.


"Tapi bagaimana kalau dia curiga?" ada keraguan di balik ucapan Tiara.


"Aku yakin kamu pasti bisa mencari alasan yang tepat agar dia tidak curiga," ujar Pandu yang dibalas anggukan kepala dari Tiara.


"Ya udah, nanti akan aku usahakan," pungkas Tiara akhirnya. "Oh ya, di mana Kak Arka? apa dia sudah pergi?" lanjut Tiara lagi sembari mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Arka.


"Dia belum pulang. Dia tadi pergi ke bagian administrasi untuk membayar biaya persalinan dan perawatan Ruby. Dia bilang kalau ini adalah kewajibannya," sahut Pandu, menghentikan rasa penasaran Tiara.


"Oh, seperti itu?" Tiara mengangguk-anggukan kepalanya. "Yang mau kamu sampaikan hanya itu saja kan? kalau sudah, aku mau kembali ke ruangan Ruby," lanjut Tiara.


"Apa itu?" alis Tiara bertaut penasaran.


"Aku cuma mau menyampaikan, kamu cantik, dan aku mencintaimu!" Pandu mengerlingkan matanya ke arah Tiara.


Tiara memutar bola matanya, jengah mendengar kata-kata Pandu. "Dasar gombal!" umpat Tiara sembari berbalik dan berlalu pergi meninggalkan Pandu. Namun, tanpa Pandu sadari, di saat wanita itu berbalik, bibir wanita itu melengkung ke atas, membentuk sebuah senyuman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiara mengembuskan napas lebih dulu, di depan ruangan Ruby sebelum wanita itu masuk ke dalam.


"Hai Ruby, aku kembali!" ujar Tiara begitu dia masuk.


"Kenapa kamu lama? dari tadi, aku tidak merasa tenang," protes Ruby, dengan raut wajah kesal. membuat Tiara terkekeh.


"Maaf! tadi memang ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Bagaimana,apa kamu sudah selesai menyusui?" Tiara mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Sudah selesai, lihat mereka sudah tidur!" Ruby menatap ke arah box bayi yang berisi ke tiga anaknya dengan bibir yang tersenyum.


"Emm, syukurlah! mereka tampan dan cantik ya!" Tiara menghampiri box bayi dan menatap wajah-wajah malaikat kecil itu.


"Oh ya, di mana perawat tadi? bukannya aku sudah memintanya menjagamu di sini sampai aku kembali?" Tiara terlihat tidak senang.


"Oh, tadi dia juga tiba-tiba ada sesuatu yang sangat penting untuk dikerjakan. Dia sudah minta maaf lebih dulu," sahut Ruby.


Keheningan terjeda untuk beberapa saat di antara kedua wanita itu. Keduanya sibuk menatap makhluk kecil dan merah itu.


"By, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka bertiga?" tanya Tiara, mengalihkan tatapannya dari ketiga bayi itu ke arah Ruby.


"Tentu saja sudah. Tapi hanya nama depan, belum nama tengahnya," sahut Ruby dengan wajah berbinar.


"Aduh sayang sekali. Padahal aku juga sebenarnya sangat menginginkan bisa memberi nama buat mereka. Aku berharap nama yang aku siapkan, bisa menjadi nama panggilan buat mereka. Tapi, aku akan sama sekali tidak punya hak untuk itu," Tiara memasang wajah sedih.


"Seperti itu ya?" Ruby tiba-tiba merasa tidak enak. "Hmm emangnya nama apa yang sudah kamu siapkan? kalau cocok disambungkan dengan nama yang aku siapkan tidak apa-apa sih," ucap Ruby, lugas.


"Serius?" seru Tiara, dan Ruby mengangguk, mengiyakan.


"Untuk anak pertama, Alvaro artinya anak pertama laki-laki yang menjadi pelindung buat keluarganya dan juga bijaksana. Untuk yang kedua Alvian,yang artinya teman yang setia dan untuk si cantik yang satu ini, Alisha, Alina atau Aliza terserah kamu mau pilih yang mana, Alisha artinya cantik, Alina, harapan dan Aliza kegembiraan," tutur Tiara, memberikan nama yang diberikan oleh Arka, sesuai dengan permintaan Pandu tadi. Ya,tadi Pandu meminta Tiara untuk menemuinya, adalah untuk meminta Tiara memberikan nama itu pada Ruby, tanpa memberitahukan kalau nama-nama itu berasal dari Arka.


"Apa nama-nama itu benar-benar dari kamu atau dari Mas Arka? kenapa aku merasa kalau nama -nama itu dari dia ya?" alis Ruby bertaut, menatap Tiara dengan tatapan menyelidik.


"Oh, ten-tentu saja nama itu dariku. Aku bahkan sama sekali tidak bertemu dia tadi," ujar Tiara gugup.


Alis Ruby kini kembali normal. Wanita itu tampak seperti sedang berpikir, mempertimbangkan nama-nama yang disebutkan oleh Tiara.


"Hmm, sepertinya nama-nama itu bagus dan cocok disambungkan dengan nama yang kusiapkan. Untuk anak laki-lakiku sebenarnya aku sudah menyiapkan nama Reynold dan Reymond yang artinya sama, pelindung dan bijaksana, tidak jauh beda dengan arti Alvaro. Jadi nama yang pertama aku beri, Alvaro Reynold, yang kedua Alvian Reymond, dan yang cantik itu, Alisha Rayline yang artinya si cantik yang penuh cahaya dan harapan, bagaimana bagus kan?" Ruby tersenyum sumringah.


Tbc


Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejak ya,Guys. Please like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh 😁🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2