
Sementara itu jauh di Jakarta, di sebuah rumah tampak seorang laki-laki setengah baya sedang terkepung oleh beberapa pria berbadan tinggi yang menodongkan pistol ke arahnya. Pria itu tidak lain adalah Jamal, papanya Juno dan Jelita. Di depan para pria itu berdiri Adijaya papanya Arka yang menatap Jamal dengan tatapan bengis.
Ya, Adijaya di Jakarta pun tidak mau tinggal diam. Dia menyelidiki keberadaan Jamal yang dia yakini sedang berada di Indonesia. Dugaannya ternyata benar, pria yang merupakan mantan sahabatnya itu, sudah hampir satu bulan ada di Jakarta dan sudah memata-matai pergerakan Arka.
"Kamu memang benar -benar tidak tahu berterima kasih, Jamal. Kamu tidak bersyukur masih hanya aku pecat, tidak aku masukkan ke penjara dulu. Itu karena aku menganggap kalau kita pernah dekat, walaupun akhirnya kamu mengkhianati persahabatan kita dengan niatmu yang ingin menghancurkan perusahaanku. Sekarang, aku mau kamu hubungi anakmu, dan perintahkan dia melepaskan menantuku!" titah Adijaya dengan nada suara yang sangat dingin dan tatapan yang sangat tajam.
Jamal mendengkus dengan seringaian sinis di sudut bibirnya. Tatapan pria itu tidak kalah sinis dari Adijaya.
"Kalau aku tidak menghubunginya, kamu mau apa? kamu mau meminta mereka membunuhku? silakan! aku tidak takut sama sekali. Yang penting aku puas karena sebentar lagi, putramu itu akan kehilangan anak dan istrinya. Jadi kita impas, bukan kah begitu?" sahut Jamal yang tidak merasa gentar sama sekali.
"Oh ya? aku rasa kamu terlalu meremehkan kemampuan putraku Jamal. Asal kamu tahu, ketiga cucuku sekarang sudah berada di tempat yang aman. Sekarang, putraku sedang mengejar putramu. Apa kamu mau kehilangan putramu juga?"seringaian sinis tampak terlihat di sudut bibir Adijaya.
"Tidak mungkin!" pekik Jamal, dengan suara tinggi.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi yang jelas itulah yang terjadi. Aku yakin, sebenarnya kamu tidak sepenuhnya ingin membalas kematian Jelita, tapi kamu hanya balas dendam tentang pemecatanmu dulu kan? kamu tidak tahu kalau itu adalah bentuk dari keprofesionalan dalam bisnis. Aku tidak mungkin mempertahankan kamu di perusahaan, padahal kamu sudah memberikan kerugian yang sangat besar. Itu benar-benar tidak adil pada karyawan lain, makanya aku hanya memecatmu dan memberikan pesangon yang sangat besar, agar kamu bisa menggunakan uang itu untuk membuka usaha, tapi, kamu tidak tahu maksud baikku, Jamal. Dendam sudah merasuki hati dan pikiranmu," tutur Adijaya panjang lebar tanpa jeda.
Jamal berdecih, mendengar penuturan Adijaya. "Kamu kira aku percaya? yang jelas sekarang tujuanku hanya satu,ingin membuatmu hancur!"
"Baiklah kalau begitu. Sekarang, aku sudah tidak sungkan lagi untuk menghancurkan bisnis ilegalmu itu. Kamu kira aku tidak tahu apa usaha kamu sekarang?"
Wajah Jamal seketika berubah pucat mendengar ancaman Adijaya. Tapi, itu hanya sebentar saja, karena sekarang pria itu sudah kembali menyeringai sinis.
"Bisnisku tidak ada kaitannya dengan Indonesia. Jadi, tidak akan bisa kamu laporkan di sini," ucap Jamal, tersenyum penuh percaya diri.
"Hahahaha, kamu kira aku tidak tahu tentang itu? aku juga bukan orang bodoh, Jamal. zaman sudah canggih, aku bisa melaporkanmu ke polisi internasional hanya sekali menekan tombol send ini. Apa kamu percaya, sekali saja aku mengirimkan bukti-bukti yang aku dapatkan ini ke polisi internasional, usaha kamu akan hancur?"
Wajah Jamal kembali pucat. "Apa yang kamu inginkan?" ucap Jamal akhirnya.
__ADS_1
"Bukannya aku sudah mengatakan, hubungi putramu, minta dia membebaskan menantuku!" tegas Adijaya.
"Baiklah!" Jamal terlihat meraih ponselnya, dan bertindak seakan sedang melakukan panggilan pada Juno. "Juno, Papa tidak mau usaha kita hancur. Sekarang kamu lepaskan wanita itu dan kamu kembali ke Spanyol!" titahnya.
"Sudah, aku perintahkan. Sekarang kamu hapus semua bukti-bukti itu!" ucap Jamal, pada Adijaya.
Di sudut bibir Adijaya terlihat sebuah senyum sinis. "Kami kira aku tidak tahu kalau tadi kamu hanya melakukan panggilan kosong? kamu yang memaksaku untuk melakukan hal ini. Sekarang, kamu lihatlah kehancuranmu, Jamal," Adijaya seketika langsung menekan tombol send persis di depan mata Jamal, yang sama sekali sudah tidak berkutik.
"Kamu benar-benar brengsek, Adi!" maki Jamal, di sela-sela rasa paniknya.
"Sekarang, kamu tinggal menunggu polisi datang. menjemputmu, karena kamu juga aku laporkan menjadi dalang penculikan menantu dan ketiga cucuku!" ucap Adijaya seraya beranjak pergi.
"Kalian semua jaga dia! tunggu sampai polis datang!" titah Adijaya sebelum dia benar-benar pergi.
"Adijaya brengsek! pengecut! Awas kamu ya!$ teriak Jamal, tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Adijaya.
Sementara itu, Arka, Pandu dan David masih berada di dalam mobil, mengikuti arah petunjuk kemana Juno membawa Ruby.
"Ikat tangan dan kakinya!" terdengar suara Juno dari handphone yang masih terhubung. Juno memerintahkan anak buahnya untuk mengikat tangan dan kaki Rubby.
"Sakit! jangan tarik-tarik tangan saya!" Arka menggeram, mengepalkan tangannya, mendengar jerit kesakitan dari istrinya.
"David, cepat! kamu dengar kan, Ruby kesakitan!" bentak Arka untuk yang kesekian kalinya.
David hanya bisa diam dan mengembuskan napas kesalnya. "Iya, Arka. Kurang cepat apa lagi ini?"
"Kamu masih berani jawab ya!" lagi-lagi suara Arka meninggi.
__ADS_1
"Sabar Arka, kita di jalanan. Kalau kita celaka juga, bagaimana? siapa yang akan menyelamatkan Ruby?" kali ini Pandu buka suara.
Arka terdiam dan kembali mendengarkan apa saja yang terjadi pada Ruby di ujung sana.
"Kalian semua benar-benar tidak becus! bagaimana bisa helikopternya belum bagus juga? hah!"
Arka mendengar teriakan Juno yang membentak anak buahnya.
"Helikopter mereka rusak, berarti untuk sementara waktu dia tidak bisa membawa Ruby pergi jauh," ucap Arka.
"Juno, anak-anakku pasti sudah lapar! tolong lepaskan aku!" terdengar suara Ruby yang kembali memohon.
"Jangan mimpi! aku tidak akan pernah melepaskanmu! asal kamu tahu, kamu ini ternyata sangat cantik, sebenarnya aku ingin menjadikanmu jadi istriku, tapi karena kamu sudah tahu segalanya, aku membatalkan niatku itu, tapi aku akan menjualmu. Pasti kamu akan mendatangkan keuntungan besar nantinya," ucapan Juno barusan benar-benar membuat Arka semakin murka. Dia kembali menatap ke arah David, hendak membentak pria itu lagi. Namun, dia urungkan begitu mobil berhenti.
"Kita sudah sampai!" ucap David. "Sepertinya laki-laki itu membawa Ruby ke dalam gedung kosong itu!" lanjutnya sembari menunjuk ke arah gedung.
"Baiklah, kita turun sekarang! aku tidak mau istriku kenapa-napa," Arka dengan tidak sabar turun dari dalam mobil.
"Ka, jangan gegabah. Jangan gara-gara kamu, Ruby semakin dalam bahaya!" seru Pandu mengingatkan dan Arka hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka bertiga akhirnya berjalan sembari mengendap-endap. Mereka melihat ada beberapa pria bertubuh besar sedang berdiri di depan pintu masuk.
Arka menoleh ke belakang dan memberikan isyarat pada para anak buahnya yang ternyata sudah tiba juga, agar mempersiapkan diri mereka untuk mengatasi anak-anak buah Juno itu.
Tbc
Mohon tetap meninggalkan jejak ya guys, like dan komentar. Kalau berkenan, mohon vote rekomendasinya diberikan juga ke karya ini, agar aku lebih semangat 🥰🥰🥰
__ADS_1
"