Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 11


__ADS_3

Tiara berjalan dengan lunglai menuju mobilnya. Kakinya terlihat gemetar, karena kondisi jantungnya juga tidak stabil.


Sementara itu, Pandu terlihat gelisah melihat keadaan Tiara. Hatinya benar-benar berperang antara ingin menyusul Tiara atau tetap stay di kediaman Arka. Keadaan Bayu tentu saja tidak lepas dari penglihatan Adelia. Dia tahu bagaimana kondisi Pandu sekarang.


"Arghh, aku harus bagaimana? kondisi Tiara sedang kacau. Dia pasti tidak akan bisa mengemudi dengan baik," batin Pandu yang berkali-kali melihat ke arah pintu yang baru saja dilalui oleh Tiara.


"Arghh, aku tidak boleh membiarkannya untuk mengemudi sendiri,aku harus menyusulnya!" Pandu yang melupakan Adelia yang berdiri di sampingnya, langsung berlari keluar. Melihat hal itu, hati Adelia benar-benar terasa sakit.


"Segitu khawatirnya kamu pada kak Tiara, Kak. Sampai kamu harus mengejarnya tanpa pamit sedikitpun padaku," batin Adelia, menatap sendu ke arah Pandu berlari.


"Mau kemana, Pandu?" Rosa mengrenyitkan keningnya, curiga.


"Mungkin dia ada sesuatu yang harus dikerjakan,Ma. Sekaligus mengantarkan kak Tiara pulang. Mama kan tahu sendiri, kak Pandu ke sini tidak bawa mobil," sahut Adelia berusaha tetap tampil dengan senyum, agar mama dan papanya tidak curiga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tiara, tunggu!" Pandu sedikit meninggikan suaranya, agar Tiara berhenti melangkah.


Mendengar suara Pandu memanggilnya, Tiara sontak berbalik dan melihat pria itu berlari ke arahnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Tiara dengan suara lemah, setelah pria itu sudah berdiri di depannya.


"Kamu mau pulang kan?" tanya Pandu dan Tiara mengangguk, mengiyakan.


"Aku akan mengantarmu. Sini kunci mobilmu!" Pandu merampas kunci dari tangan Tiara.


"Tidak perlu, Kak, aku bisa sendiri!" Tiara berusaha untuk merampas kembali kuncinya dari tangan Pandu.


"Apa kamu bisa menyetir dalam kondisi begini? sudah,kamu jangan keras kepala lagi, sekarang kamu masuk ke dalam mobil!" Pandu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu mobil untuk Tiara. Hal yang tidak pernah dia lakukan untuk Adelia.


"Kak,aku benar-benar bisa sendiri," Tiara tetap kekeuh pada pendiriannya, karena merasa tidak enak hati pada Adelia.


"Bukannya aku sudah bilang, jangan keras kepala? sekarang kamu masuk saja!" ucap Pandu yang lebih mengarah ke arah memerintah.


"Tapi, bagaimana dengan Adel? apa kamu izin padanya?"


Pandu terdiam, seketika menyadari kesalahannya.


"Emm, sudah! dan dia sama sekali tidak keberatan," Pandu memutuskan untuk berbohong.


"Baiklah kalau begitu!" akhirnya Tiara berjalan mengitari mobil seperti yang dilakukan oleh Pandu dan masuk. Kemudian Pandu, pun kembali mengitari mobil untuk duduk di belakang kemudi.


"Pasang, sabuk pengamanmu!" titah Pandu tanpa menoleh ke arah Tiara.


"Eh, i-iya!" dengan tangan gemetar, Tiara menarik sabuk pengaman dari belakang punggungnya. Karena jantungnya yang tidak berhenti berdetak, membuat wanita itu seperti orang bodoh yang hanya untuk memasang sabuk pengaman saja tidak mampu.

__ADS_1


Pandu melirik dengan ekor matanya dan melihat tangan Tiara yang gemetar. Pandu kemudian menghela napasnya, dan langsung berinisiatif untuk membantu Tiara memasang sabuk pengaman itu.


"Sudah!" ucap Pandu singkat sembari kembali membenarkan posisi duduknya, lalu memasangkan sabuk pengaman untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang tahu kalau kondisi jantung Pandu tidak jauh berbeda dengan Tiara. Namun dia berusaha menyembunyikannya dengan bersembunyi di balik sikap dinginnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Arka sudah tiba di bandara. Pria itu langsung berlari menemui anak buahnya yang sudah menunggu sang Tuan dari tadi.


"Bagaimana? apa kalian sudah tahu kemana istriku pergi?" tanya Arka dengan tidak sabar.


"Ma-maaf Tuan. Tidak ada sama sekali nama Nyonya di daftar penumpang," jawab salah satu dari anak buah Arka dengan ekspresi takut.


"Apa kalian sudah yakin memeriksa semuanya?" bentak Arka.


"Sudah, Tuan. Baik yang domestik maupun yang mancanegara, tidak ada sama sekali nama Nyonya,"


"Brengsek! kalian semua tidak becus. Baik aku tanyakan sendiri!" ucap Arka yang sama sekali tidak percaya pada anak buahnya.


Semua anak buah Arka hanya bisa saling silang pandang dan mengangkat bahu.


Belum juga jauh melangkah, Arka kembali memutar tubuhnya dan menatap para anak buahnya.


"Kalian semua, cek seluruh hotel dan penginapan yang ada di Bali. Aku yakin kalau istriku masih ada di kawasan Bali."


"Oh ya, sebagian dari kalian juga ada yang pergi ke pelabuhan, buat jaga-jaga, takutnya laki-laki brengsek itu membawa istriku pakai jalur laut!" titah Arka lagi, kemudian berlalu pergi meninggalkan anak buahnya yang lemas seketika.


Kamu, kamu dan kamu langsung berangkat ke pelabuhan! sedangkan kami akan memeriksa hotel dan penginapan," titah pria yang merupakan pemimpin dari anak buah Arka.


"Untuk mempersingkat waktu, sebaiknya kita mencari nomor telepon hotel yang berada di kawasan Kuta dulu dan menelepon langsung. Setelah itu kita baru bergerak ke hotel lainya yang berada di kota yang dekat dengan Kuta. Begitulah seterusnya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keheningan terjadi di antara Pandu dan Tiara di sepanjang jalan. Tidak ada dari antara mereka yang berniat untuk buka suara. Bahkan dari tadi pandangan Tiara selalu ke luar menyusuri jalanan.


Sebenarnya, Pandu ingin sekali bertanya tentang pria yang bersama dengan Tiara, tapi bibirnya terasa kelu, sehingga dia memutuskan untuk diam saja.


Tiba-tiba ponsel Pandu berbunyi dan dia melihat kalau panggilan itu berasal dari anak buahnya.


"Ya, apa yang kalian dapatkan?" tanya Pandu to the point.


"Kami baru saja mengirimkan ke nomor anda, Tuan. Ada seorang pria yang sangat mencurigakan, yang selalu melirik Tuan dan Tuan Arka. Pria itu juga sepertinya mendekatkan ponselnya ke arah meja Tuan," jelas anak buah Pandu dari ujung telepon.


"Baiklah, nanti aku akan melihatnya!" Pandu memutuskan panggilan, lalu menepikan mobil Tiara.


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Tiara dengan kening berkerut.

__ADS_1


Pandu tidak menjawab sama sekali. Pria itu hanya membuka video rekaman CCTV yang baru saja dikirimkan oleh anak buahnya.


Pandu memicingkan matanya, berusaha untuk mengenali pria mencurigakan yang ada dalam video rekaman itu, tapi dia sama sekali tidak mengenalnya.


"Apa kamu mengenalnya?" Pandu menunjukkan video rekaman itu ke arah Tiara.


Tiara juga memicingkan matanya, berusaha untuk mengenali pria itu.


"Aku tidak mengenalnya," ucap Tiara.


"Brengsek!" Pandu memukul kemudi dengan keras.


Pandu kemudian hendak kembali menjalankan mobil, tapi dia urungkan ketika tiba-tiba ada panggilan yang kembali masuk yang ternyata dari Arka.


"Halo, Ka! apa Ruby sudah ketemu?" tanya Pandu, tanpa basa-basi.


"Bagaimana kamu tahu kalau Ruby pergi? bukannya aku belum menghubungimu?" nada suara Arka terdengar curiga.


"Aku tahu dari Tiara, tapi sayangnya Tiara tidak tahu kemana Ruby pergi,"


"Jadi,kamu bersama dengan Tiara sekarang?" karena panik, Arka baru menyadari kalau dia belum meluruskan kesalahpahaman antara Pandu dan Tiara. Namun, mendengar Pandu yang sudah bersama dengan Tiara, Arka merasa kalau kesalahpahaman keduanya sudah selesai.


"Iya,aki bersamanya dan ingin mengantarkan dia pulang. Bagaimana? kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, apa Ruby sudah ketemu?" Pandu mengulangi pertanyaannya.


Terdengar embusan napas dari ujung sana, membuat Pandu bisa menyimpulkan kalau sahabatnya itu belum menemukan Ruby.


"Aku belum bertemu dengannya. Dia pergi karena ada yang memfitnahku, Pan.Aku sudah memeriksa semua daftar penumpang pesawat, baik yang domestik maupun yang mancanegara, tapi tidak ada sama sekali. Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk memeriksa semua hotel dan penginapan serta daftar penumpang di pelabuhan, aku hanya tinggal menunggu informasi dari mereka saja. Aku bingung siapa orang yang mengatakan kalau aku berniat melenyapkan anak-anakku, dan yang lebih membuat aku heran, kenapa Ruby percaya begitu saja, Pan,". tutur Arka panjang lebar.


"Ada yang sengaja merekam pembicaraan kita di Cafe Mentari dua malam lalu, dan dia memotong pembicaraan kita dan memberikan rekaman yang sepenggal itu pada Ruby. Nih, coba kamu dengarkan!" Pandu memberikan isyarat pada Tiara agar memutar kembali rekaman itu.


"Brengsek!" umpat Arka dari ujung sana.


"Aku juga baru saja mengirimkan video CCTV waktu kita di cafe itu. Coba kamu lihat, apa kamu mengenal pria berpakaian casual, warna biru itu?"


Cukup lama Pandu menuggu jawaban dari Arka, karena dia tahu kalau sahabatnya itu pasti sedang fokus melihat rekaman yang dia kirimkan.


"Aku sama sekali sulit untuk mengenalinya karena dia memakai kaca mata hitam dan masker,"


"Tunggu! aku akan mengirimkan rekaman lagi, sewaktu dia masuk ke dalam Cafe," Pandu dengan sigap langsung mengirimkan video yang dia sebutkan tadi.


Lagi-lagi Pandu kembali menunggu respon Arka.


"Pan, aku sama sekali tidak pernah melihat pria itu, tapi kalau dilihat dari wajahnya seperti mirip seseorang. Tapi, aku benar-benar sulit untuk mengingatnya, karena pikiranku sedang kacau. Tapi, nanti aku akan mengabari kalau aku sudah ingat," pungkas Arka dari ujung sana.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2