
Jelita merogoh tasnya dan meraih handphone dari dalam. Kemudian, Jelita menghubungi Mona mamanya.
"Halo, Ma. Ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin aku sampaikan," ucap Jelita tanpa basa-basi.
"Apa itu?" terdengar suara Mona dari ujung telepon.
"Ma, Pak Rajasa meminta uang 100 juta lagi, dan harus ada satu jam lagi. Kalau tidak, dia akan membaberkan semua rahasia kita pada Arka, Ma. Kebetulan dia ada di sekitar kami sekarang,"
"Apa? ini mah dia sudah sangat keterlaluan. Minggu lalu,dia baru saja meminta uang 50 juta. Bisa-bisa kita akan selalu dia peras. Dua minggu ini saja, ini sudah ke tiga kalinya dia meminta uang. Lama-lama uang kita bisa habis. Dia itu benar-benar ancaman buat kita," Mona, benar-benar sangat marah sekarang.
"Itu juga yang aku pikirkan, Ma. Dia tadi sempat mengatakan, kalau aku harus menyiapkan uang kapanpun dia minta. Kalau aku meminta pada Arka sekarang, apa alasanku? apalagi jumlah uang yang dia minta jumlahnya sangat besar. kalaupun nanti aku sudah jadi istrinya, dia pasti tidak akan berhenti meminta, tentu saja, akan membuat Arka curiga, Ma. Aku benar-benar bingung sekarang," wajah Jelita terlihat ingin menangis.
"Kamu tenang saja,mama akan memikirkan caranya. Sepertinya, kita harus menyingkirkan si tua bangka itu. Tapi kita harus melakukannya dengan cara yang sangat halus, tanpa jejak. Seakan-akan kematiannya itu normal. Untuk sekarang, mama akan kirimkan uang yang dia minta dulu, sampai mama menemukan cara yang tepat untuk menyingkirkan," ucap Mona dengan raut wajah bengis, walaupun Jelita tidak bisa melihat ekspresi mamanya itu.
"Baik, Ma. Aku juga berpikir seperti itu. Dia harus segera kita lenyapkan. Aku tidak mau nanti, gara-gara dia hubunganku hancur dengan Arka. Aku juga akan membantu mama untuk memikirkan caranya," pungkas Jelita, dengan mata yang berkilat-kilat, penuh dengan kebencian. "Sudah dulu ya, Ma. Aku takut Arka datang mencariku, karena aku kelamaan pergi," pamit Jelita.
"Eh, tunggu dulu!" Jelita sontak mengurungkan niatnya untuk mematikan panggilan, karena mendengar suara Mona yang mencegahnya.
"Ada apa lagi, Ma?"
"Mama cuma mau tanya, bagaimana dengan urusan surat cerai itu? apa kamu sudah tanya, apa Arka sudah menandatanganinya atau belum?" nada suara Mona terdengar sangat penasaran.
Raut wajah Jelita kembali berubah kesal mendengar pertanyaan mamanya. "Belum sama sekali, Ma. Arka katanya lupa menandatangani surat cerainya dan masih dia letakkan di ruang kerjanya. Tapi,mama tenang saja, selepas dari sini, aku akan pergi bersama Arka ke rumahnya dan melihat sendiri dia menandatanganinya," Jelita tersenyum miring.
"Oh,baguslah kalau begitu. Kamu pastikan juga,kapan dia akan menikahimu," ucap Mona, penuh tekanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jelita, mengayunkan kakinya berjalan kembali ke tempat di mana Arka berada. Namun, alangkah kagetnya dia, begitu melihat tempat itu sudah kosong.
Jelita mengedarkan pandangannya, ke segala penjuru, untuk mencari keberadaan Arka, tapi, dia sama sekali tidak melihat sosok pria itu.
"Di mana sih dia? apa dia pergi ke toilet juga?" gumam Jelita sembari meraih kembali ponselnya.
"Ada pesan masuk? pesan dari siapa ya?" bisik Jelita sembari membuka handphonenya.
"Hah, Arka? kenapa dia mengirimkan pesan?" Jelita sontak dengan cepat membuka pesan yang ternyata dari Arka itu.
"Aku pergi lebih dulu! kamu sangat lama di toilet, aku tidak bisa menunggu lagi, karena ada urusan penting!" begitulah isi pesan dari Arka. Isi pesan yang singkat, tapi sanggup membangkitkan amarah Jelita.
"Sialan! bagaimana mungkin dia bisa pergi tanpa menungguku kembali? ini bukan Arka yang dulu. Dulu dia aku lama sedikit saja dia sudah sangat khawatir, dan datang mencariku, tapi kenapa sekarang dia seakan tidak peduli? brengsek, brengsek!" umpat Jelita sembari menghentak-hentakkan kakinya, sehingga membuat tatapan orang-orang beralih ke arahnya.
"Apa lihat-lihat! jangan ikut campur urusan orang!" bentak Jelita, sembari melangkah pergi, tapi dia masib sempat mendengar umpatan dari seseorang, "Dasar orang gila!"
Jelita tidak memedulikan umpatan itu. Ia tetap melanjutkan langkahnya sembari menghubungi mamanya kembali, guna mengadukan Arka yang meninggalkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arka kemudian dikagetkan dengan handphonenya yang berbunyi. Arka mengrenyitkan keningnya, begitu melihat nama kontak yang sedang menghubunginya, yang tidak lain adalah Mona mamanya Jelita.
"Kenapa Tante Mona menghubungiku? aku angkat nggak ya?" batin Arka. Pria itu meraih ponsel, menimbang-nimbang terlebih dulu, kemudian meletakannya kembali di atas meja. Pria itu akhirnya memutuskan untuk tidak menjawab dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
Namun, panggilan tidak berhenti begitu saja. Handphonenya Arka kembali berbunyi dan itu dari orang yang sama. Lagi-lagi Arka mengabaikannya dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Nanti saja aku menghubungi Tante Mona. Tante itu paling sudah tahu kalau aku meninggalkan Jelita di restoran dan dia mau protes," bisik Arka pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Panggilan dari Mona akhirnya benar-benar berhenti, dan Arka kini kembali fokus melakukan pekerjaannya, sampai dia lupa kalau tadi dia berjanji akan pulang ke rumahnya bersama dengan Jelita, untuk menandatangani surat cerai itu.
Cukup lama Arka serius berkutat dengan pekerjaannya. Bukan karena pekerjaan itu sangat penting, tapi dia sengaja ingin fokus untuk mengalihkan pikirannya yang belakangan ini selalu memikirkan Ruby. Apalagi tiga hari yang lalu, dia mencoba lewat dari kontrakan Ruby, dan mengetahui kalau rumah itu sudah kosong.
Arka lagi-lagi dikagetkan dengan handphonenya yang berbunyi dan kali ini dia melihat ada nama Jelita yang tertera di layar ponselnya tersebut.
"Halo!" akhirnya Arka memutuskan untuk menjawab..
"Halo, Sayang. Kamu bilang kalau surat cerainya ada di ruang kerjamu, tapi kenapa tidak ada?" suara Jelita terdengar kesal dari ujung telepon.
"Kamu di rumahku?" bukannya menjawab, Arka malah balik bertanya.
"Iya! tadi aku memutuskan untuk datang ke rumahmu sendiri. Aku ingin mengambil surat cerai itu dan membawanya ke kantormu, tapi aku cari-cari, kenapa tidak ada?"
"Tidak ada bagaimana?" aku menaruhnya di dalam laci. Kamu sudah cari di situ?" tanya. Arka.
"Aku sudah cari, tapi yang kutemukan hanya photo Ruby. Kenapa kamu masih menyimpan photo wanita itu? bahkan di meja kerjamu juga ada photo pernikahan kalian berdua. Kamu sebenarnya sudah jatuh cinta ya pada Ruby?" suara Jelita benar-benar tinggi.
"Photo apaan sih? ok, kalau yang di dalam laci aku pernah tidak sengaja memasukkannya ke dalam, itupun karena papa yang meletakkannya di atas meja. Tapi, yang di atas meja, aku sama sekali tidak pernah meletakkan photo itu di situ?" sangkal Arka dengan kening yang berkerut.
"Bohong! jadi maksudmu kalau bukan kamu siapa lagi, hah! ok, aku tidak peduli masalah photo itu, yang sekarang sangat penting itu, di mana surat cerai itu kamu letakkan? aku mau membawanya sekarang padamu,"
"Sumpah demi apapun! aku menaruhnya di dalam laci dan sama sekali tidak pernah aku keluarkan dari dalam sana," tegas Arka meyakinkan.
Sementara itu, di depan ruang kerja Arka di kediamannya,tampak sepasang mata mengintip dengan sebuah senyuman yang bertengger di bibirnya. Siapa lagi si pemilik mata itu kalau bukan Adelia.
"Rasain! panas kan kamu melihat photo itu? untung aku tadi sempat meletakkannya di sana, setelah aku mengambil surat cerainya. hihihi. Mau kamu cari sampai besok pun, kamu tidak akan menemukannya. Aku akan pastikan kalau kamu tidak akan pernah menikah dengan kakakku. Hanya Kak Ruby lah, kakak iparku," batin Adelia sembari melangkah pergi dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa buat untuk tetap meninggalkan jejaknya dong. Please like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh. Thank you 🙏🏻