Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 6


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk!" titah Arka, sembari tetap fokus pada layar laptop di depannya.


Suara decitan pintu yang dibuka dan ditutup kembali oleh seseorang tidak juga membuat Arka melepaskan pandangannya dari layar laptop. Akan tetapi, dari aroma parfum maskulin yang tertangkap oleh hidungnya, dia tahu siapa yang datang. Siapa lagi dia kalau bukan Pandu.


"Kenapa kamu menyuruhku datang ke kantormu? apa masalah aku menyetujui dijodohkan dengan Adel?" tanya Pandu tanpa basa-basi dan tepat sasaran.


Arka tidak langsung menjawab, dia menghela napas terlebih dulu, menutup laptopnya dan beranjak menghampiri Pandu, yang sudah duduk di atas sofa.


"Ternyata kamu sudah bisa menebaknya. Sekarang jelaskan, apa alasanmu setuju dijodohkan dengan adikku?" ucap Arka dengan nada dingin.


"Karena aku berpikir tidak ada salahnya menikah dengan adikmu itu. Apa kamu keberatan?" Pandu tidak kalah dingin.


"Pandu, aku tidak akan keberatan, kalau kamu memang mencintai adikku, tapi kenyataannya kamu tidak mencintainya kan? di hati kamu ada nama wanita lain, dan wanita itu Tiara. Aku tahu kalau kamu sangat mencintai Tiara dan sekarang kamu sedang ada masalah dengannya,apa kamu mau menjadikan adikku pelampiasanmu?" suara Arka mulai meninggi.


"Tapi, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, dan aku akan berusaha untuk itu. Aku rasa tidak terlalu sulit bisa mencintai adikmu itu, yang penting sudah ada rasa sayang lebih dulu, cinta bisa menyusul kemudian," sahut Pandu, tidak terpancing sama sekali dengan suara tinggi Arka.


"Masalahnya kamu menerima perjodohan ini tiba-tiba, Pan dan itu di saat hati kamu sedang kesal dan panas melihat Tiara bersama dengan pria lain tadi malam. Padahal kamu belum tahu jelas siapa pria itu. Jangan kamu sampai menyesal nanti dengan keputusan yang kamu ambil!" nada suara Arka sudah mulai normal.


"Kenapa? apa kamu takut aku akan menyakiti adikmu? tenang saja, aku tidak akan memperlakukan dia seperti kamu memperlakukan Ruby dulu," Pandu masih bersikap santai, tapi terselip sindiran pada ucapannya.


"Pandu, jangan bawa-bawa masalah aku dan Ruby dengan perjodohanmu dengan Adel, itu dua hal yang berbeda,"

__ADS_1


"Iya, aku tahu berbeda tapi ada persamaannya, di mana kita sama-sama memiliki nama wanita lain di pikiran kita. Tapi, sekali lagi aku tekankan, aku tidak akan memperlakukan adikmu nanti seperti yang kamu lakukan. Aku tidak mau adikmu yang menerima karma yang kamu buat dan itu lewat aku,"


"Pandu!" bentak Arka, dengan napas yang memburu dan tangan yang terkepal.


"Kenapa? kamu mau marah? marahlah! aku persilakan! tapi perjodohan tetap akan berjalan," tantang Pandu tidak gentar sama sekali dengan kemarahan yang ditunjukkan oleh Arka.


Arka menarik napas dalam-dalam, membuangnya kembali, dan dia melakukannya berulangkali, untuk meredam emosinya.


"Pan, aku tahu kalau kamu tidak akan menyakiti adikku secara fisik, tapi asal kamu tahu,aku yakin kalau batin Adelia nanti akan sakit kalau tahu kamu menerima perjodohan karena patah hati. Dari cara kamu berbicara sekarang pun aku sangat yakin kalau kamu sedang berada dalam kemarahan. Ketenangan yang kamu tunjukkan itu hanyalah kamuflase untuk menutupi hancurnya hati kamu dan itu sebenarnya bentuk dari keputusasaanmu, yang merasa sakit karena Tiara. Aku bisa merasakannya, Pan," suara Arka terdengar lemah.


Pandu tercenung tidak membantah ucapan Arka.


"Aku hanya punya satu adik perempuan,Pan dan sebagai Kakak aku tidak akan pernah rela adikku dijadikan sebagai pelampiasan. Aku rasa kamu pun akan melakukan hal yang sama, jika kamu punya adik perempuan. Aku pasti akan menjadi Kakak laki-laki yang paling gagal di dunia ini, jika aku tidak bisa melindungi adikku sendiri," sambung Arka kembali masih dengan nada suara yang sama.


"Rasa sayang saja tidak cukup, Pan. Harus ada rasa cinta yang melengkapinya. Wanita itu rumit dan mereka sangat sensitif dalam hal perasaan. Kamu menunjukkan rasa sayangmu sekalipun, dengan kepekaan perasaan yang mereka punya, mereka pasti akan tahu kalau tidak ada cinta di dalamnya," Arka diam sejenak untuk mengambil jeda sekaligus untuk menghirup udara guna mengisi kembali rongga paru-parunya dengan udara.


" Ini juga berlaku pada Adel. Rasa sayang yang kamu berikan justru akan menjadi bumerang bagi Adelia nanti. Dia akan merasa bukan menjadi seorang istri tapi hanyalah seorang adik, seperti hubunganku dengannya dan itu benar-benar akan menyakitkan, Pan," sambung Arka kembali dengan bijaksana.


"Bukannya aku sudah mengatakan kalau aku akan belajar mencintai Adel?"


"Ya, kamu memang mengatakannya, tapi aku meragukannya, karena aku tahu kamu dari kecil. Aku ragu kalau kamu bisa mencintai Adel. Kenapa? karena kalau kamu bisa, sudah sejak dulu kamu mencintainya, mengingat mulai dari kecil kita bersama. Dari lamanya waktu itu, kamu tidak pernah bisa mencintainya kan?" ucap Arka, telak.


"Itu dua hal yang berbeda, Ka. Kalau dulu aku memang murni menganggapnya adik sendiri, dan aku tidak pernah ada usaha untuk belajar mencintainya. Kalau sekarang, aku akan mulai belajar,"

__ADS_1


"Jadi, kamu tetap nekad untuk meneruskan perjodohan ini?" tanya Arka memastikan dan Pandu mengangguk, mengiyakan.


"Pan, cobalah berpikir sekali lagi! aku tahu kalau Adelia akan merasa sakit kalau kamu merubah keputusanmu, tapi dia akan lebih sakit nanti kalau dia tahu kenyataannya, jadi kamu pikirkan lagi baik-baik, karena aku tahu kamu pria yang susah untuk jatuh cinta. Dan aku tahu ketika kamu mencintai seorang wanita, akan sulit buat kamu untuk melupakan wanita itu. Kamu bisa jatuh cinta pada Tiara, aku yakin karena dia sangat istimewa bagimu," Arka kembali memberikan waktu untuk sahabatnya itu merubah pikirannya


Pandu tidak memberikan tanggapan. Pria itu terdiam cukup lama, memikirkan ucapan Arka.


"Ka, aku tahu kalau aku salah terlalu cepat mengambil keputusan di saat hatiku sedang panas, tapi aku sudah terlanjur memutuskan. Aku sudah pernah membuat Adelia sedih karena aku menolak perjodohan, dan sekarang aku tidak ingin membuatnya kecewa lagi. Jadi, aku memutuskan untuk berusaha mengubur rasa cintaku pada Tiara, walaupun aku tahu itu pasti sulit," pungkas Pandu dengan lugas.


"Baiklah, aku pegang kata-katamu! aku sudah memberikan kamu kesempatan untuk berpikir sekali lagi, tapi kamu tetap pada keputusanmu. Sekarang Hani satu yang perlu kamu ingat, jangan pernah kamu sakiti adikku, karena ketika kamu menyakitinya, bukan hanya dia yang merasa sakit, tapi ada aku selaku kakaknya. Aku tidak peduli, sekalipun kamu itu sahabatku, aku tetap akan memberikan perhitungan padamu, kalau kamu menyakitinya!" pungkas Arka dengan tegas.


Tanpa mereka sadari dari balik pintu, ada telinga yang mendengar semua pembicaraan mereka. Dan orang itu tidak lain adalah Adelia sendiri.


Wajah Adelia seketika muram dan terharu mendengar ucapan kakaknya. Wanita itu yang awalnya ingin menanyakan sesuatu pada kakaknya, memutuskan untuk pergi.


"Kak Pandu ternyata mencintai Kak Tiara. Dia menerima perjodohan karena patah hati. Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan? apa aku harus mundur atau tetap meneruskan perjodohan ini?" Adelia bermonolog, batinnya sekarang sedang berperang antara lanjut atau mundur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Arka dan Pandu yang masih berada di dalam ruangan, larut dalam keheningan dengan cukup lama. Keheningan itu terpecah, ketika handphone Arka berbunyi.


Arka berjalan menuju mejanya dan meraih handphonenya. Sebuah senyuman seketika terbit begitu melihat siapa orang yang sedang menghubunginya. Siapa lagi sosok yang bisa membuatnya tersenyum, kalau bukan Ruby sang istri.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2