Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Benar-benar tamat


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa usia kandungan Adelia sudah masuk ke usia 9 bulan. Bahkan tinggal menunggu hari untuk segera lahir ke dunia ini.


Sudah sebulan ini juga Adelia pulang ke Indonesia karena dia ingin melahirkan di Indonesia, di tengah-tengah keluarganya.


malam ini , bertepatan dengan hari Anniversary kedua orang tuanya yang ke 31 tahun dan ulang tahun Arka yang ke 30, Adelia kembali merasakan kontraksi. Memang sudah dari tadi pagi, Adelia mulai merasakan kontraksi, dan kini dia kembali merasakannya. Tadi pagi dia sengaja tidak mengatakan kepada Bima, karena merasa itu hanyalah kontraksi palsu, berhubung HPL nya memang seminggu lagi.


Alasannya tidak memberitahukan apa yang dia rasakan pada suami karena dia takut, Bima tidak akan memberikan izin untuk ikut menghadiri anniversary kedua orang tuanya. Akan tetapi, sekarang wanita itu mulai merasa sakitnya sudah semakin sering dan intens.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Bima yang khawatir melihat wajah Adelia yang pucat dan bahkan peluh sudah menetes di pelipisnya.


"Pe-perutku sakit, Sayang," desis Adelia lirih sambil memegang perutnya. " Aku sepertinya pipis, Sayang, dan aku tidak tahu kenapa bisa pipisnya keluar. Padahal aku tidak merasa kalau aku mau pipis tadi," sambungnya lagi dengan tangan yang masih memegang perut.


"Bima, itu bukan pipis! pekik Ruby tiba-tiba. "Itu ketubannya yang pecah. Kamu bawa dia ke rumah sakit sekarang karena dia akan melahirkan!" lanjut Ruby lagi.


Mendengar ucapan Ruby, Bima sontak mengangkat tubuh Adelia dan dengan berlari meninggalkan ruangan tempat pesta disusul oleh mamanya Bima.


Beruntungnya ruangan pesta sudah mulai sepi, karena para tamu sudah banyak yang sudah pulang. Adijaya, Rosa dan yang lainnya akhirnya memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit. Sedangkan Ruby dan Arka terpaksa menunggu sebentar menunggu para tamu pulang semua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena air ketuban yang sudah mulai habis, dan kondisi panggul yang sempit serta kondisi Adelia yang sudah lemah, membuat dokter harus mengambil langkah operasi Caesar.


Semua orang kecuali Bima sudah menunggu di depan ruangan operasi dengan perasaan khawatir dan harap-harap cemas. Sedangkan Bima diizinkan dokter untuk melihat proses operasi.


"Aku takut, Sayang!" desis Adelia dengan raut wajah yang sudah terlihat tegang.


"Tenang Sayang, ada aku di sini," Bima menggenggam erat tangan Adelia untuk memberikan ketenangan.


"Nona, tolong tenangkan hatinya ya! jangan tegang!" ucap dokter yang menangani Adelia dengan lembut.


"Iya, Sayang, cukup milikku di bawah sana saja pakai istilah 'tegang', kamu jangan! anggap ini semua hanya ujian." Ucapan absurd Bima sontak membuat dokter dan para perawat berusaha menahan tawa. Sedangkan Adelia hanya bisa mendelik tajam ke arah Bima.


Dokter melakukan anestesi yaitu Teknik pembiusan epidural yang hanya menimbulkan mati rasa pada bagian bawah tubuh dan Adelia masih sadar selama operasi berlangsung.


"Masih terasa, Nona?" dokter memberikan cubitan di perut Adelia, kemudian dijawab dengan hanya gelengan kepala oleh Adelia.


Setelah dokter mendapat jawaban dari Adelia, dokter pun mulai melakukan penyayatan. Pertama-tama, dokter membuat sayatan pada dinding perut Adelia secara horizontal dan mengikuti batas rambut ********. Setelah itu, dokter membuat sayatan, lapis demi lapis dan melewati jaringan lemak serta jaringan ikat. Dokter memisahkan otot perut agar rongga perut dapat terlihat. Tidak perlu menunggu lama, akhirnya di ruangan operasi itu pun terdengar tangisan bayi laki-laki.

__ADS_1


Tanpa disadari, dari sudut mata Bima ,menetes cairan bening, yang cepat-cepat langsung disekanya. Dia pun meninggalkan kecupan yang cukup lama di puncak kepala Adelia seraya berkata, "Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar wanita hebat. I love you!" Adelia hanya tersenyum menanggapi ungkapan terima kasih dan cinta dari Bima.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV Author


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa sudah 7 tahun berlalu. Itu berarti anak kembar Ruby dan Arka, Alvaro, Alvin dan Alisha kini sudah berusia 9


tahun. Mereka berdua tumbuh menjadi anak-anak yang tampan, cantik dan menggemaskan


Alvaro terlihat lebih seperti Arka. Tidak Banyak bicara tapi banyak bertindak. Sama seperti karakter anak pertama pada umumnya, bocah laki-laki itu, sangat mengayomi kedua adiknya. Sedangkan Alvian memiliki perpaduan sikap antara Arka dan Ruby. Bagaimana dengan Alisha? putri satu-satunya Arka dan Ruby itu mengikuti karakter Ruby mamanya.


Arka benar-benar memegang komitmennya untuk tidak menambah anak lagi.


"Ma, coba lihat Kak Alvin, dia dari tadi menggangguku main," begitulah aduan yang selalu Ruby dengar dari putrinya dan pelaku utamanya selalu Alvin


Runyy menarik napas dalam-dalam,lalu mengembuskan kembali ke udara. Wanita itu melakukannya berulang-ulang, untuk bisa mengontrol emosinya. Wanita itu tidak mau menunjukkan emosional di depan anaknya-anaknya.


"Alvaro! mama serahkan urusan kedua adikmu padamu!" begitulah yang sering dilakukan Ruby, kalau dirinya sudah kewalahan. Jalan satu-satunya adalah dengan melibatkan Alvaro putra pertamanya. Karena kalau Alvaro sudah bicara,Alvin akan menurut.


"Vin!"


"Lisha!" Alvaro kembali bersuara.


"Iya, Kak! aku juga minta maaf!" Alisha menundukkan kepalanya.


"Jangan minta maaf padaku! minta maaf pada Alvin!" tegas Alvaro.


"Maaf, Kak Alvin!" Alisha mulai terisak-isak.


Alvin tersenyum dan memeluk Alisha. sementara Ruby tersenyum menatap moment itu.


"Aku juga mau dipeluk sama Kak Varo," celetuk Alisha.


"Besok ya!" sahut Alvaro sembari melengos pergi.


"Heh?" Ruby melongo melihat sikap Alvaro yang sebenarnya mau tapi gengsi.

__ADS_1


"Benar-benar Arka junior!" ucap Ruby, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa, Sayang? kenapa bawa-bawa namaku?" Tiba-tiba Arka sudah berdiri di ambang pintu. Sepertinya pria itu, baru saja pulang dari kantor.


"Tuh, anakmu! gengsian seperti kamu!" Ruby menunjuk ke arah Alvaro yang ternyata sekarang sudah dalam posisi memeluk Alisha.


"Haloo, anak-anak, Papa! apa tidak ada yang mau peluk papa?" sorak Arka, pada ketiga anaknya yang sudah asik kembali bermain.


"Papaaaa!" Alisha berdiri lalu menghambur memeluk papahnya itu. Sedangkan kedua putranya hanya bangkit berdiri mencium punggung tangan Arka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halaman belakang kediaman keluarga Arka, sore ini terlihat sangat ramai, di mana ada 3 papa muda dengan istri masing-masing, beserta dengan anak-anak.


Mereka tengah berkumpul mengadakan acara barbeque yang biasa mereka lakukan kalau sedang ada waktu. Karena memang sulit buat mereka untuk bisa menghabiskan waktu bersama.


Suara riuh anak-anak yang berlari ke sana kemari terdengar memenuhi taman belakang itu. Bukan hanya suara anak-anak yang terdengar riuh, suara 3 orang wanita yang merupakan mama dari anak-anak itu juga tidak kalah riuhnya, karena dari tadi tidak pernah berhenti berteriak untuk mengingatkan anak masing-masing.


"Ma, Tante, kalian semua bisa kembali duduk. Biar aku yang menangani mereka semua!" ucap Alvaro.


"Apa kamu yakin bisa, Nak?" tanya Ruby dengan lembut.


"Yakin, Ma. Mama tenang saja!" Alvaro memasang wajah datarnya.


"Baiklah,Mama percaya sama kamu.Tapi, kalau kamu sudah tidak kuat, segera kabari mama ya!" ucap Ruby lagi dan Alvaro menganggukkan kepalanya.


Ke tiga mama muda itu akhirnya memutuskan bergabung dengan suami mereka dan mempercayakan para balita itu pada Alvaro sosok yang disegani anak-anak itu.


Ya, setelah Tiara dan Pandu memiliki anak perempuan yang diberi nama Prisha Tahalea( Pemberian Tuhan dan anak yang beruntung). Dua tahun kemudian wanita itu juga akhirnya melahirkan seorang putra yang diberi nama Pradipta Tarendra ( pengeran bintang yang terang dan bercahaya).


Sementara itu Bima dan Adelia juga memiliki seorang putra lagi, setelah Adelia sebelumnya melahirkan anak pertama yang juga berjenis kelamin laki-laki. Dan kedua anaknya diberi nama. Brian Adelio dan Bisma Adelard. Bahkan sekarang wanita itu sedang mengandung anak ketiga yang berdasarkan hasil USG berjenis kelamin Perempuan.


Begitulah kehidupan mereka seterusnya. Arka dan Ruby berhasil melalui hidup yang penuh dengan kerikil tajam. Mereka berdua berhasil meruntuhkan tembok kebencian dan dendam dengan ikhlas memaafkan. Demikian juga dengan Pandu Tiara, serta Bima dan Adelia. Mereka semua hidup bahagia dengan pasangan dan juga dengan anak-anak masing-masing.


Tamat


Yes, akhirnya karya ini benar-benar tamat. Aku sendiri tidak menyangka bisa sampai sejauh ini. Aku merasa kalau memang karya ini sudah pantas ditamatkan karena mereka semua sudah menemukan kebahagiaan masing-masing.

__ADS_1


Terima kasih, aku ucapkan buat readers yang selalu setia buat dukung karya Author dengan memberikan like,komentar, Vote dan bahkan memberikan hadiah. Maaf bila ada yang kurang berkenan dan kurang memuaskan. Jujur aku tidak pintar untuk menyenangkan para readers. Sekali lagi maaf dan terima kasih semuanya. Peluk dan cium online buat kalian semua dan semoga selalu sehat dan bahagia selalu. 😍😍😍


Oh ya, bagi yang belum mampir ke karya baruku yang berjudul Hanya wanita pengganti, aku tunggu kalian di sana, ya 🙏🏻🙏🏻


__ADS_2