
Adijaya dan Adelia akhirnya tahu di mana keberadaan, Ruby dari Tiara. Mereka berdua pun langsung, datang menemui wanita itu dan tentu saja kedatangan dua orang itu sangat mengejutkan bagi Ruby.
"Pa, Adel, bagaimana kalian bisa tahu aku ada di sini?" tanya Ruby di sela-sela rasa kagetnya.
"Nanti dulu tanyanya, apa kami boleh masuk?"
"Eh, Maaf, Pa. Silakan masuk!" Ruby membuka pintu dengan lebar dan wanita itu menyingkir, memberikan jalan pada Adijaya dan Adelia.
Adijaya masuk sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, demikian juga dengan Adelia. Terlihat jelas sebuah lukisan prihatin pada raut wajah pria itu, melihat Ruby tinggal di sebuah rumah petak dengan ruangan yang tidak terlalu besar.
"Ruby, bagaimana kamu bisa tinggal di tempat seperti ini, Nak?" tanya Adijaya, yang kembali sudah menatap sang menantu.
"Iya, Kak. Bahkan kamar Kakak dan Kak Arka, lebih luas dari rumah ini," ucap Adelia, menimpali ucapan papanya.
"Nggak pa-pa,Pa, Del. Yang penting kan kenyamanannya bukan besar kecilnya?"jawab Ruby sembari melemparkan senyum manisnya. "Oh ya, Pa, Del, kalian berdua mau minum apa?" sambung Ruby, dengan sopan.
"Adanya apa?"
Ruby menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, karena yang dimilikinya sekarang hanya air mineral gelas yang dia beli tadi malam bersama Tiara.
"Kamu tidak perlu menjawab, karena dari ekspresimu, Papa sudah tahu apa jawabannya," ucap Adijaya, membuat pipi Ruby memerah karena malu.
"Kamu duduk saja di sini, Ruby! Papa hanya ingin melihat keadaanmu," ucap Adijaya.
Ruby dengan sedikit rasa segan akhirnya duduk di tempat yang ditunjuk oleh Adijaya. Wanita itu, duduk diam sembari menggigit bibirnya, menunggu papa mertuanya itu buka suara.
"Ruby, kenapa kamu tidak pulang ke rumah papamu, tapi justru mengontrak rumah kecil ini?" Adijaya menatap Ruby dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Emm, a-aku hanya tidak ingin membuat papa merasa sedih melihat keadaanku,Pa." sahut Ruby, berbohong.
Adijaya terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.
"Ruby,Papa benar-benar minta maaf ya! karena permintaan papa dulu, untuk menikahkanmu dengan Arka, membuat kamu hidup menderita," Adijaya diam sejenak sembari mengembuskan napasnya.
"Papa benar-benar malu dan merasa sangat bersalah padamu, Nak." lanjut Adijaya lagi dengan mimik wajah sedih.
Ruby kembali tersenyum, "Pa, papa itu tidak perlu minta maaf, Papa tidak bersalah sama sekali, ini murni adalah takdir yang harus Ruby, jalani," Sahut Ruby tanpa menanggalkan senyum di bibirnya.
"Papa benar-benar bingung, kenapa Arka tidak bisa melihat kebaikan dan ketulusanmu,"keluh Adijaya sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sudahlah,Pa. Ini bukan sepenuhnya kesalahan mas Arka. Dia seperti ini karena memang pernikahan kami, dimulai dengan cara yang salah,"
"Tapi, yang awalnya salah, tidak harus berakhir burukkan? karena yang awalnya salah, tidak selamanya buruk," Adelia buka suara.
"Ruby, mau tidak kamu kembali bersama kami,Nak? Papa akan berusaha membuat pernikahanmu dan Arka, tetap bertahan,". Adijaya kembali buka suara, menatap Ruby dengan tatapan penuh harap.
Ruby tidak langsung menjawab. Wanita itu tampak memejamkan matanya dengan sekilas, lalu membukanya kembali. Wanita itu, kemudian mengembuskan napas, dengan sekali hentakan.
"Maaf, Pa,aku sama sekali tidak bisa. Kali ini,aku benar-benar sudah sangat kecewa dan memilih untuk menyerah. Lagian tidak ada gunanya aku bertahan, kalau aku tidak pernah dianggap. Aku mohon, agar Papa bisa mengerti. Kali ini,aku hanya ingin bahagia, Pa!" tolak Ruby, dengan sangat hati-hati tapi tegas.
"Kalau aku bertahanpun, aku tidak bisa menjamin kalau kandunganku akan aman, Pa. Aku harus tetap memilih untuk berpisah demi keselamatan mereka," kalo ini Ruby berucap di dalam hati.
Adijaya, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara
Jujur,dia merasa kecewa dengan penolakan Ruby, tapi bagaimanapun dia harus menghargai keputusan menantunya itu. Lagian, dia sendiri pun tidak bisa menjamin kalau Arka putranya akan berhenti menyakiti Ruby.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu! Papa sama sekali tidak bisa memaksa. Tapi, apapun itu kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi,Papa. Kalau kamu tidak jadi menantuku lagi, kamu akan Papa anggap sebagai putriku. Ingat, kapanpun dan dimanapun, jangan hilangkan panggilan papa itu. Dan untuk masalah tempat tinggal, Papa akan membelikan rumah yang lebih layak untuk kamu tinggali," pungkas Adijaya, pasrah.
"Terima kasih banyak, Pa. Tapi, kali ini aku mohon pada Papa agar tidak usah membelikan rumah untukku. Aku merasa rumah ini sudah cukup nyaman. Terima kasih sekali lagi untuk kebaikan,Papa!" tolak Ruby dengan tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Arka benar-benar kehilangan konsentrasi, karena rasa mual yang dia rasakan. Sehingga saat menyampaikan presentasi pengajuan proposal kerja sama yang dia berikan pada perwakilan perusahaan besar itu, Arka tidak profesional karena berkali-kali harus lari ke kamar mandi. Bahkan pria itu sampai keringat dingin. Pria itu Benar-benar merasa tersiksa.
Akibat dari insiden itu, perusahaan Arka kehilangan kesempatan untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan besar itu. Justru yang mendapatkan kerja sama adalah perusahaan Pandu, sahabatnya. Hal ini,memang membuat Arka kesal, karena bagaimanapun bisa bekerja sama dengan perusahaan itu adalah impiannya sejak dulu. Namun, dia tidak bisa marah, karena memang ini murni kesalahannya yang tidak bisa maksimal mempresentasikan proposalnya.
"Arka, kamu kenapa sih? kenapa dari tadi kamu, bolak-balik kamar mandi?" tanya Pandu dengan tatapan cemas.
Begitulah mereka berdua. Walaupun dalam hal bisnis mereka seringkali bersaing, tapi mereka akan tetap saling memperhatikan dan tidak ada yang merasa kesal jika salah satu dari mereka memenangkan tender. Tapi, memang kali ini, Arka benar-benar sangat kecewa. Bukan kecewa pada Pandu, tapi pada dirinya sendiri. Bahkan pria itu sedikit berat hati saat mengucapkan selamat pada sahabatnya itu.
"Aku juga benar-benar bingung, Pan. Dari tadi pagi, rasa mual di perutku, selalu hilang timbul. Dan kalau sudah timbul, perutku rasanya sangat sakit, karena tidak ada yang aku muntahkan kecuali cairan bening yang rasanya sangat asam," sahut Arka dengan kondisi yang sangat lemas.
"Sepertinya kamu, terkena asam lambung yang akut. Apa kamu ada telat makan, begadang atau bagaimana?" cecar Pandu seperti seorang dokter.
"Sepertinya tidak!" sahut Arka, yakin.
"Kalau begitu, sebaiknya kamu coba pergi ke dokter. Ayo aku temani kamu!"
Arka, sebenarnya ingin menolak karena dia sedikit anti kalau harus berurusan dengan dokter, tapi mau tidak mau kali ini dia tidak bisa menolak.
"Baiklah! tapi pakai mobil kamu ya. Aku benar-benar tidak kuat untuk mengemudi," ucap Arka dengan lirih.
Pandu menganggukkan kepalanya, lalu meraih pundak Arka, guna menuntun sahabatnya itu menuju mobilnya.
__ADS_1
Tbc