Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Aku memang bodoh!


__ADS_3

"Kami mendapatkan laporan dan perintah untuk membawa kalian berdua ke kantor polisi, atas tuduhan melakukan pembunuhan berencana atas nama Tuan Rajasa. Selain itu, anda juga dituntut atas penipuan dan pemerasan,"


Wajah dua wanita, Mona dan Jelita seketika berubah sangat pucat, seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.


"Hei jangan sembarangan bicara! ini namanya fitnah! kalian semua pergi dari sini, kami bahkan tidak kenal dengan nama yang anda sebutkan tadi," sangkal Mona dengan gugup.


"Maaf, Bu. Kami sudah memiliki bukti pembicaraan Ibu dan anak Ibu Jelita. Jadi, kalian berdua tidak bisa mengelak lagi," polisi itu, masih berusaha untuk bersikap tenang.


"Aku sudah katakan, kalau aku dan anakku tidak pernah melakukannya!" Mona masih berusaha untuk tetap menyangkal.


" Nyonya Mona, kamu tidak perlu lagi menyangkal. Sebaiknya kamu dan Jelita mengakui perbuatanmu jahatmu!" Adijaya yang sudah mulai jengah dengan sikap Mona akhirnya buka suara, hingga membuat Arka dan Rosa mamanya kaget.


"Pa, apa maksudnya semua ini? apa Papa tahu sesuatu tentang apa yang terjadi?" Arka akhirnya buka suara.


"Sebenarnya, Papa juga baru tahu dan itu dari adikmu Adelia. Papa mau menyetujui acara pertunangan ini juga atas saran Adelia. Adelia ingin mempermalukan mereka di acara ini. Kalau bukan karena saran adikmu, aku juga enggan untuk menyetujui rencana pertunanganmu dengan Jelita," terang Adijaya, ambigu.


"Pa, tolong bicara yang jelas! aku sama sekali tidak mengerti," alis Arka bertaut tajam.


"Kamu jangan tanya,Papa! kamu tanya dua wanita ular itu, apa yang sebenarnya terjadi," ucap Adijaya tegas.


Arka sontak menatap ke arah Jelita, menuntut penjelasan. "Jelita, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? apa benar semua yang dituduhkan padamu?"tatapan Arka sangat tajam, membuat peluh seketika menetes dari pelipis Jelita.


"I-itu sama sekali tidak benar, Sayang! mereka hanya memfitnahku. Kamu tahu sendiri, Om Adi, dan adikmu tidak pernah menyukaiku, jadi aku yakin mereka berusaha membatalkan pertunangan kita dengan membuat kebohongan ini," Jelita berusaha untuk menyangkal.


"Jelita benar, Nak Arka. Kami sama sekali tidak melakukan hal yang dituduhkan itu!" Mona buka suara kembali, menimpali ucapan Jelita.


"Yakin, kalau kalian tidak pernah melakukan hal itu sama sekali?" tiba-tiba Adelia muncul di ambang pintu dengan tangan yang bersedekap dan pundak yang menyender ke pintu. Bibir wanita itu menyunggingkan senyum smirknya, senyum yang seakan sedang mengejek Mona dan Jelita.


Mona dan Jelita menatap Adelia dengan tatapan kebingungan.


"Maksudmu apa?" tanya Jelita, dengan alis bertaut.


"Aku yang sudah melaporkan kalian berdua, dan aku sudah mempunyai buktinya. Bukti di mana dalang yang meminta Kak Ruby, untuk menjebak Kak Arka adalah kamu sendiri Jelita. Dan kamu bekerja sama dengan Tante Mona. Kematian Om Rajasa juga bukan karena bunuh diri, tapi itu bagian dari rencana kalian berdua," Wajah Jelita dan Mona terlihat semakin pucat, mendengar penuturan Adelia.


"Tunggu, tunggu dulu! apa maksud semua ini? Ruby disuruh Jelita menjebakku? omong kosong apa ini? jelaskan sejelas-jelasnya!" pekik Arka, dengan suara tinggi.


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Adik kamu itu hanya mau memfitnah kami. Kamu tahu sendiri kan dia tidak menyukaiku sejak dulu," Jelita masih berusaha untuk mengaburkan konsentrasi Arka.


"Jangan sentuh Kakakku wanita ular! aku sama sekali tidak memfitnahmu! mau aku tunjukkan buktinya?" Adelia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan hasil rekaman di mana Rajasa sedang meminta uang pada Jelita dan pembicaraan dua orang itu, ketika berada di restoran dulu. Setelah itu Adelia juga memutar video, pembicaraan Jelita dan mamanya di telepon, ketika wanita itu meminta mamanya mengirimkan uang ke Rajasa, sampai akhirnya mereka berdua berencana untuk melenyapkan Rajasa tanpa membuat orang-orang curiga.


Flash back on


Ya, saat itu Adelia juga berada di tempat itu. Awalnya Adelia tidak peduli sama sekali dengan keberadaan kakaknya dan Jelita di tempat itu. Adelia lebih dulu pergi ke toilet dibandingkan Jelita. Ketika dia keluar, dari toilet dan baru saja berjalan beberapa langkah, samar-samar dia mendengar suara Jelita dengan seorang pria yang tidak lain adalah Rajasa. Tidak mau kehilangan moment, akhirnya Adelia merekam pembicaraan dua orang itu dengan wajah yang memerah, karena sangat marah.


"Brengsek! dasar wanita iblis dan pria laknat! bisa-bisanya mereka melakukan hal ini semua ke Kak Ruby. Ayah seperti apa yang tega melakukan hal itu pada putrinya sendiri, hanya demi uang? kasihan Kak Ruby, " umpat Adelia dengan rahang yang mengeras.

__ADS_1


"Tapi, sepertinya aku tidak boleh gegabah untuk langsung marah-marah pada wanita licik itu sekarang. Sebaiknya aku mengumpulkan bukti dulu, untuk mengetahui apa alasan si ular itu meminta kak Ruby, untuk menjebak Kak Arka," bisik Adelia pada dirinya sendiri.


Adelia baru saja hendak pergi, tapi dia urungkan ketika tiba-tiba dia mendengar Jelita menghubungi Mona mamanya.


"Oh, jadi mereka berdua ternyata bekerja sama? Ibu dan anak sama aja, sama-sama berhati iblis," umpat Adelia sembari mematikan ponsel setelah selesai merekam kembali pembicaraan Jelita dan mamanya.


"Tunggu saja tanggal mainnya, aku akan hancurkan rencana kalian berdua. Sebaiknya sekarang aku harus langsung pulang ke rumah. Aku harus menyelamatkan surat cerai itu dulu," Adelia pun langsung pergi dengan mengambil jalan lain agar tidak terlihat oleh Jelita.


Flash back end


"JELITA!" suara Arka terdengar menggelegar. Wajah pria itu terlihat memerah, rahangnya mengeras seiring dengan naik turunnya dadanya. Arka benar-benar sangat murka. Sementara itu, Jelita tampak sudah ketakutan, dan bersembunyi di balik tubuh mamanya.


"Brengsek kamu! dasar wanita iblis! Jelaskan sekarang apa alasanmu melakukan itu semua, hah!"


Jelita tidak menjawab sama sekali. Wanita itu terlihat gemetar di belakang tubuh sang mama.


"Hei, jangan membentak anakku!" Mona membentak Arka balik.


"DIAM! Anda juga wanita yang sangat licik. Selama ini anda sudah mencoba memprovokasiku dengan mengirimkan photo dan video-video palsu itu. Anda mau mencoba membuat konsentrasiku hancur kan?" kali ini amarah Arka sudah benar-benar tidak terkendali lagi, bahkan dia sampai lupa untuk bersikap sopan pada wanita yang melahirkan Jelita itu.


"Sekarang, jelaskan Jelita, apa alasanmu melakukan itu semua, hah?" kembali suara Arka menggelar memenuhi ruangan.


Jelita semakin beringsut ketakutan apalagi ketika melihat Arka yang mulai berjalan menghampirinya dengan tangan terkepal dan tatapan membunuh.


"Kalau dia tidak mau jawab, biar aku yang menjawab!" tiba-tiba muncul suara baru yang tidak lain adalah Risa kakaknya Ruby, ditemani oleh David suaminya.


Sontak semua mata mengarah kepada dua orang itu.


" Aku kakaknya Ruby, aku tahu semua ini dari almarhum papaku sendiri. Papa, tanpa sadar mengakui semuanya. Selain karena Jelita belum siap untuk menikah, wanita itu mendapatkan tawaran untuk melanjutkan sekolah untuk menjadi seorang designer di Paris, dan dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, tapi dia tidak mau kamu membencinya karena lebih memilih karir dibandingkan kamu. Maka dia dan mamanya menyusun rencana ini, membuat seakan-akan bukan dia yang berbuat kesalahan, tapi kamu. Merekapun membuat rekayasa, seolah-olah, karena kejadian itu, Jelita depresi dan membuat pskiater. Mereka hanya ingin membuat agar kamu hidup di bawah tekanan karena rasa bersalah. Sehingga ketika dia kembali, tidak akan sulit membuatmu kembali padanya,"


"Bohong! jangan fitnah!" pekik Mona, menyangkal keterangan Risa.


"DIAM!" lagi-lagi Arka membentak Mona dengan suara tinggi.


"Adikku Ruby, mau memenuhi permintaan mereka karena mereka mengancam akan memasukkan papa ke penjara, sekaligus, menyita rumah yang penuhi dengan kenangan mama semasa hidup. Kenapa mereka mengancam seperti itu, karena mereka lebih dulu pura-pura baik pada papa, dan memberikan papa uang dalam jumlah yang banyak untuk membantu biaya pernikahan kami," terang Risa lagi.


"Bohong! apa kamu punya bukti, hah?" lagi-lagi Mona berteriak memotong ucapan Risa.


"Dia tidak bohong, karena aku juga sudah memegang surat perjanjian yang sudah ditandatangani kak Ruby karena paksaan kalian," Adelia kembali buka suara sembari menunjukkan sebuah kertas yang bagian ujungnya sudah hampir terbakar.


"Ba-bagaimana kamu mendapatkannya?" Mona kini sudah terlihat gugup.


"Di hari, di mana terdengar kabar kematian Om Rajasa, aku juga mendengar ini dan merekamnya," Adelia memperdengarkan hasil rekaman Jelita yang sedang berbicara melalui telepon dengan mamanya.


"Sebenarnya aku menyesalkan kejadian di mana aku gagal memperingatkan Om Rajasa agar hati- hati pada kalian berdua, tapi kalau aku memperingatkannya, Om Rajasa pasti akan memberitahukan pada kalian berdua, kalau aku sudah tahu semua kebusukan kalian. Aku yakin, kalau kalian sudah tahu kenyataannya, kalian pasti akan berencana melenyapkanku, jadi mau tidak mau terpaksa aku diam." Adelia diam sejenak untuk mengambil jeda.

__ADS_1


"Aku tahu, kalau setelah Om Rajasa berhasil kalian lenyapkan, kalian pasti akan melenyapkan bukti -bukti perjanjian itu, makanya aku minta, pembantu rumah tangga kalian yang sebenarnya sudah lama menyimpan sakit hati, pada kalian berdua, untuk menyelamatkan surat itu. Tante saat itu, sangat bodoh, belum terbakar hangus, Tante sudah begitu yakin dan langsung pergi begitu saja. Di saat Tante pergi,di saat itulah pembantu Tante, bergerak menyelamatkan surat perjanjian ini,." jelas Adelia dengan senyum, puas.


"Arghhh, brengsek kamu! dasar penghianat!" Mona menghambur hendak menghajar pembantu rumah tangganya yang kebetulan sedang berada di ruangan itu. Namun, dengan sigap Arka menghadang dan mendorong tubuh Mona dengan sedikit keras hingga terjatuh ke lantai.


"Mama!" seru Jelita, berusaha menolong sang mama.


Di saat Jelita berusaha membantu mamanya untuk berdiri, tiba-tiba banyak kaleng bekas minuman maupun yang masih ada isinya,melayang ke arah mereka yang tentu saja berasal dari para tamu undangan yang geram kelicikan ibu dan anak itu.


"Berhenti, Berhenti! jangan main hakim sendiri!" polisi berteriak berusaha meredam kemarahan orang-orang.


Kondisi kini kembali tenang, setelah polisi menembakkan satu peluru ke udara. Dari kening Jelita kini sudah mengalir darah, karena terkena lemparan minuman kaleng.


Arka yang dari tadi berusaha menahan amarahnya, bergerak maju dan menarik tangan Jelita dengan kasar setelah membaca isi surat perjanjian itu. Kemudian, pria itu mencengkram dagu Jelita dengan sangat kencang, hingga Jelita meringis kesakitan.


"Kamu benar-benar iblis, Jelita! kamu benar-benar tidak punya hati. Selama empat tahun, kamu dan mamamu menjadikan aku seperti seorang monster dan iblis untuk Ruby. Kalian berdua benar-benar brengsek!" teriak Arka sembari mengangkat tangannya yang sudah terkepal dan siap melayangkan tinju ke wajah Jelita. Beruntung sebelum tinju Arka mendarat di wajah Jelita, Adijaya yang sudah siaga langsung menangkap tangan putranya itu.


"Arka, hentikan, Nak! serahkan semua ini pada polisi! jangan kotori tanganmu dengan memukul wanita ini!" cegah Adijaya.


"Arghh!" Teriak Arka sembari meninju tembok dengan kencang, hingga punggung tangannya mengeluarkan darah. Kemudian pria itu, melepaskan cengkramannya di dagu Jelita, sembari menjatuhkan tubuhnya, bersandar di tembok, dan menangis kencang. Pria itu benar-benar tidak peduli dengan banyaknya orang melihat dia menangis.


"Putraku boleh saja tidak meninju wajahmu, tapi tidak ada yang bisa mencegahku untuk memberikan pelajaran padamu!" Rosa yang dari tadi hanya diam buka suara, menarik rambut Jelita dengan kencang dan Plak ... tangan Rosa yang melayang memukul wajah wanita itu dengan sangat keras.


"Hei, jangan pukul putriku!" teriak Mona.


"Oh, kamu mau juga ya?" pekik Rosa sembari menarik rambut Mona juga dan plakk ...ya gan Rosa juga melayang memukul wajah ibunya Jelita itu.


Plakk ... Plakkk


tiba-tiba ada tangan lain yang memberikan pukulan di wajah Jelita dua kali secara beruntun, yang tidak lain ada tangan Risa.


"Ini buat penderitaan adikku Ruby. Ini belum sebanding dengan yang dirasakan adikku itu!" ucapnya dengan tatapan berapi-api penuh kemarahan dan dendam.


"Pak, bawa mereka berdua segera dari tempat ini, sebelum mereka mati di tempat ini!" titah Adijaya pada para polisi.


"Tidak, aku tidak mau di penjara. Arka, tolong maafkan aku! aku melakukan ini semua karena mencintaimu. aku hanya tidak ingin kehilanganmu tapi juga tidak ingin kehilangan impianku. Tolong maafkan aku. Perintahkan polisi ini untuk melepaskanku dan mama! kamu masih mencintaiku kan?" teriak Jelita, memohon sembari menagis.


"DIAM!" pekik Arka dengan raut wajah memerah. "Bawa mereka dari tempat ini, Pak. Aku tidak bisa jamin, kalau mereka masih bernyawa, kalau lima menit saja mereka masih ada di depan mataku," ucap Arka dengan mata yang. berkilat-kilat penuh amarah.


Para polisi itu pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Arka. Mereka menarik paksa tangan Monda dan Jelita yang masih berusaha melepaskan diri sembari berteriak-teriak meminta pertolongan Arka.


Sorakan penuh kebencian terdengar dari orang-orang yang berada di tempat itu.


"Arrghh! bodoh! Goblok! aku memang bodoh!!!" teriak Arka lagi sembari melemparkan sebuah vas bunga ke tembok.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2