
"Pan, aku mau masuk lagi, tolong izinkan aku masuk! aku masih mau bicara pada Ruby!" mohon Arka yang benar-benar tidak peduli lagi dengan mata orang-orang yang kebetulan sedang lewat, menatapnya dengan heran.
"Ka,aku tahu kalau kamu sudah menunggu moment ini dengan cukup lama, tapi, aku rasa belum saatnya. Ruby baru saja selesai melahirkan, mentalnya belum sepenuhnya pulih, jadi berikan dia waktu, untuk lebih siap bertemu denganmu. Kamu tidak mau kan jika terjadi sesuatu pada Ruby?" bujuk Pandu berusaha menenangkan hati Arka.
"Tapi ...." Arka menggantung ucapannya, memejamkan matanya, untuk berpikir sejenak. Kemudian,dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.
"Mungkin kamu benar. Dalam situasi begini aku tidak boleh gegabah dan terkesan memaksa. Aku harus mencoba untuk bersabar," pungkas Arka akhirnya.
Pandu pun mengembuskan napas lega, mendengar ucapan Arka.
"Pan, bisa kamu temani aku untuk melihat ketiga anakku?" tanya Arka lirih setelah diam beberapa saat.
"Boleh, ayo kita ke sana!" Pandu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah dengan Arka yang berjalan di sampingnya.
Setelah bertanya di mana ruang bayi, Arka dan Pandu berjalan dipandu oleh seorang perawat.
"Ini Pak anak-anaknya. Yang ini anak pertama, yang ini kedua dan yang ketiga yang ini," perawat itu menunjukkan satu persatu anak-anak Arka.
Arka menatap ke tiga anaknya dengan air mata yang kembali menetes. Dia tidak menyangka kalau dirinya bisa memiliki tiga anak sekaligus.
Sementara itu, seperti ada ikatan batin, tiga bayi merah yang tadinya sedang tertidur itu, menggeliat dan merengek-rengek. Namun ada satu yang berbeda, di mana dua putranya hanya merengek,putri satu-satunya menangis dengan suara kencang.
Dengan tangan yang gemetar, Arka mencoba meraih putrinya,namun dia merasa ragu karena ada rasa takut kalau dia akan menyakiti putrinya itu, melihat tubuh itu masih kecil.
__ADS_1
"Sus, boleh ajarin saya bagaimana menggendong bayi?" pinta Arka dengan sopan.
"Oh, boleh aja, Pak!" perawat itu tersenyum dan akhirnya mengajari Arka bagaimana caranya menggendong bayi.
Arka menganggukkan kepalanya, dan mulai melakukan seperti yang diajarkan oleh perawat tadi.
Benar-benar tidak diduga, tangis sang putri yang tadinya kencang mendadak reda. Bayi perempuan itu, kembali memejamkan matanya, seperti merasakan kehangatan di gendongan Arka.
Arka memberikan kecupan pada putrinya dan dengan satu tangan membelai pipi dua putranya yang seketika juga diam, begitu merasakan sentuhan lembut tangan Arka.
"Selamat datang anak-anak, Papa! maafkan Papa yang tidak pernah ada, selama kalian ada di rahim mama. Papa memang papa yang tidak berguna. Papa tidak pernah menyangka kalau Papa diberikan anugerah besar dengan hadirnya kalian bertiga. Papa sangat bahagia, tapi kebahagiaan Papa tidak lengkap tanpa maaf dari mama kalian. Bantu Papa ya, Nak agar bisa membuat mama kalian mau menerima papa kembali," ucap Arka dengan mata yang masih berair.
Arka kemudian dengan sangat hati-hati kembali meletakkan putri di box bayi setelah sebelumnya mengecup putrinya itu.
Kemudian dia beralih ke arah bayi laki-laki yang merupakan anak pertamanya. Pria itu dengan sangat hati-hati membawa putra pertamanya itu ke dalam gendongannya.
Setelah memberikan kecupan di pipi putra pertamanya Arka meletakkan kembali sang putra dan beralih ke putra keduanya. Hal yang sama pun dia lakukan, yaitu membawa bayi itu ke dalam dekapannya
"Kamu bantu kakakmu nanti ya. Kalian berdua harus bekerja sama untuk menjaga adik perempuan kalian," bisik Arka. Namun anak keduanya itu seakan tidak tergugah. Dia masih tidur pulas.
"Kamu tidak mau, memberikan mereka nama, Ka?" celetuk Pandu, dengan tatapan yang fokus pada tiga makhluk kecil itu.
Arka tersenyum tipis. "Sebenarnya aku mau, tapi, sepertinya bukan kapasitasku untuk memberikan mereka nama. Aku memang Papa kandung tapi, bukan aku yang mengandung mereka. Aku rasa Ruby sudah menyiapkan nama yang bagus buat mereka,"sahut Arka yang sebenarnya sangat bertentangan dengan hatinya, karena jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat ingin memberikan nama buat mereka.
__ADS_1
"Oh, seperti itu ya?" Pandu mengangguk-anggukan kepalanya. "Tapi seandainya kamu diberi kesempatan untuk memberikan nama,apa kamu sudah memikirkan nama buat mereka?" lanjut Pandu lagi.
"Sebenarnya setelah aku tahu kalau aku akan memiliki tiga anak, aku iseng-iseng mencari nama depan buat mereka. Jika ketiga-tiganya laki-laki, aku mau memberikan nama, Alvaro, Alvian dan Aldrich,kalau mereka perempuan aku mau memberikan mereka nama
Alisha, Alina dan Aliza, karena daftar nama-nama itu sangat bagus dan mewakili harapanku pada mereka," tutur Arka, tersenyum miris.
"Tapi, kamu tahu sendiri, kalau aku sepertinya tidak punya hak untuk itu. Mungkin ini salah satu balasan untukku," sambung Arka lirih.
"Kalau boleh tahu, apa arti dari nama itu?" Alis Pandu bertaut, penasaran.
"Alvaro, anak pertama yang menjadi pelindung buat keluarga dan bijaksana. Alvian, teman yang setia. Aku berharap dia selain menjadi saudara yang baik, dia akan menjadi teman yang setia buat kakaknya. Sedangkan Aldrich adalah seorang raja. Kalau Alisha itu anak perempuan yang cantik seperti ibunya, Alina adalah harapan dan Aliza adalah kegembiraan," terang Arka kembali tersenyum miris.
"Wah nama-nama yang bagus. Aku tidak menyangka kalau kamu sudah menyiapkan nama-nama itu.Tapi, sangat disayangkan, semuanya tergantung Ruby. Dia yang mengandung mereka selama ini. Dia pun pasti sudah menyiapkan nama untuk mereka jauh-jauh hari," ucap Pandu sembari mengembuskan napasnya.
"Ya, aku yakin kalau nama yang dia siapkan pun pasti bagus dan penuh makna. Aku tidak bisa berharap banyak," pungkas Arka, pasrah.
"Bagaimana, apa kamu masih mau ada di sini atau mau pergi?" tanya Pandu.
"Sebenarnya aku masih mau di sini. Kalau kamu mau pergi, tidak apa-apa!" ucap Arka sembari kembali menatap ke arah tiga anaknya.
"Maaf, Pak. Bayi-bayi itu mau dibawa pada mamanya, karena mereka harus melakukan IMD( Inisiasi Menyusui Dini). Ibunya juga perlu belajar untuk menyusui," tiba -tiba seorang perawat yang berbeda, masuk ke dalam kamar bayi.
"Oh, seperti itu ya, Sus. Baiklah kalau begitu!" dengan berat hati akhirnya Arka keluar dan menunggu perawat-perawat itu membawa tiga bayi itu keluar dan berjalan menuju ruangan Ruby.
__ADS_1
Sementara itu, Pandu yang melihat wajah sendu Arka hanya bisa menepuk-nepuk pundak sahabat, untuk memberikan semangat.
Tbc