Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Bringing back my wife


__ADS_3

"Ada apa ini?" tanya Ruby sembari menoleh ke belakang, menuntut penjelasan dari Tiara. Namun Tiara berpaling ke arah lain, pura-pura tidak melihat Ruby.


"Tiara! aku bertanya padamu, jangan pura-pura tidak tahu!" Ruby sedikit meninggikan suaranya.


"Emm,maaf! aku yang kasih kunci rumah ke mereka," Tiara menunjuk ke arah Arka dan Pandu.


"Karena katanya Arka mau kasih kejutan buat kamu," lanjut Tiara sembari cengengesan, menunjukkan deretan gigi putihnya.


Ruby menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya keluar, mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Kenapa? apa kamu tidak menyukainya?" Arka buka suara. Senyum yang tadinya menghiasi bibirnya, sontak menyurut melihat reaksi Ruby.


"Terima kasih!" sahut Ruby singkat.


Arka kembali tersenyum. Walaupun singkat, ucapan terima kasih Ruby bak dirinya, menemukan sebuah mata air di tengah Padang gurun. Dia merasa ucapan terima kasih itu adalah awal yang bagus untuk dirinya bisa lebih dekat lagi pada Ruby.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sekali lagi terima kasih buat kejutannya!" ucap Ruby pada Arka ketika hanya mereka berdua saja di taman belakang.


"Apa kamu suka?" tanya Arka dan Ruby mengangguk, mengiyakan.


"Syukurlah, kalau kamu suka," sahut Arka tersenyum lega.


Keheningan kembali terjeda di antara mereka. Mereka berdua tiba-tiba merasa canggung, tidak ada memulai pembicaraan.


"Ehmm," Arka mencoba berdeham, sementara Ruby hanya melirik lewat ekor matanya.


Sementara itu, dari arah yang tidak terlalu jauh, tampak dua pasang mata melihat Arka dan Ruby. Siapa lagi pemilik mata itu kalau bukan Tiara dan Pandu.


"Sepertinya kita harus pergi dari sini. Kita beri mereka ruang untuk lebih leluasa bicara," ucap Tiara sembari berbalik dan berlalu pergi.


"Kita mau pergi kemana? apa kita akan membicarakan kita?" tanya Pandu sembari berlari kecil menyusul Tiara.


"In your dream!" sahut Tiara, cuek.


Pandu sontak menghentikan langkahnya disertai dengan wajahnya juga yang berubah masam.


Tiara menghentikan langkahnya dan berbaliknya ketika menyadari kalau Pandu berhenti mengikutinya.


"Kenapa kamu berhenti?" Tiara mengrenyitkan keningnya.


"Tidak ada apa-apa. Kamu silakan jalan lebih dulu. Aku akan menyusul dari belakang," sahut Pandu, yang tiba-tiba nada suaranya berubah dingin. Sikap Pandu tentunya mengundang tanda tanya pada Tiara.

__ADS_1


"Apa aku ada melakukan kesalahan makanya. kamu enggan jalan denganku?" alis Tiara bertaut tajam.


"Tidak, tidak sama sekali! justru aku hanya ingin memberikan kamu kenyamanan! bukannya kamu akan lebih nyaman kalau tidak ada aku?" Pandu berusaha untuk tetap tersenyum. Namun siapapun akan bisa melihat kalau senyum yang dia tunjukkan adalah senyum terpaksa.


Tiara sontak tercenung, mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Pandu. Seketika wanita itu merasa tidak enak dan merasa tidak suka dengan ucapan Pandu yang menyiratkan kalau dia akan menjauhinya.


"Oh ya, aku tidak tahu kenapa kamu masih belum bisa mencintaiku, walaupun aku sudah berusaha untuk membuatmu jatuh cinta. Mungkin selama ini aku yang terlalu banyak berharap bisa membuatmu cinta padaku. Tapi, kamu tenang saja, mulai sekarang aku akan mencoba untuk tidak menggangumu lagi. Kamu bebas mencari pria yang kamu sukai. Karena aku tahu cinta itu tidak boleh dipaksakan. Sekarang, perjanjian kita dulu, kita batalkan saja!"


Lagi-lagi Tiara terkaget mendengar ucapan Pandu. "Apa itu berarti kamu sudah lelah, padaku, dan kamu memilih untuk menyerah?" tanya Tiara dengan nada suara lirih.


"Kalau boleh dikatakan menyerah tidak juga, tapi, aku hanya tidak ingin membebani kamu lagi dengan kehadiranku. Karena aku tahu kamu selama ini tidak nyaman dengan keberadaanku.Kalau menuruti egoku, ingin sekali aku untuk tetap tidak menyerah, tapi kita tidak boleh egois kan? aku tidak mungkin memaksamu. Aku pamit ya! Tolong kasih tahu mereka aku pulang. Jaga diri baik-baik!" tanpa menunggu jawaban dari Tiara, Pandu beranjak pergi. Sementara itu, Tiara terpaku di tempatnya, menatap tubuh Pandu sampai hilang dari pandangannya.


Seiring hilangnya bayangan Pandu dari pandangannya, Tiara merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Hatinya merasa sakit dan ada rasa sesak yang timbul. Tiara sontak tersadar dan berlari mengejar Pandu sebelum pria itu benar-benar pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ruby, apa kamu benar-benar sudah memaafkanku?" akhirnya Arka memberanikan diri untuk buka suara, memecah keheningan yang sempat tercipta.


"Dari dulu aku memang sudah memaafkanmu, karena aku tahu kalau kamu juga tidak salah dalam hal ini," jawab Ruby.


"Benarkah?" Wajah Arka terlihat berbinar.


"Apa itu berarti kamu masih mau hidup bersamaku? aku janji tidak akan mengulangi kejadian dulu dan akan menggantinya dengan selalu memberikan kamu dan anak-anak kita kebahagiaan," lanjut Arka lagi, penuh harap.


Ruby menundukkan kepalanya, sekilas lalu kembali menatap ke depan.


"Tapi, bagaimanapun kamu itu masih istriku. Aku sama sekali tidak pernah menandatangani, surat cerai itu. Apa kita tidak bisa mencoba untuk hidup bersama lagi? kita bangun sebuah keluarga yang bahagia," tutur Arka, penuh harap.


"Mas, semenjak aku sudah menandatangani surat cerai itu, aku sudah menganggap kalau diriku ini adalah seorang janda. Terlepas dari kamu, sudah atau belum menandatanganinya. Dulu aku sudah pernah mengatakan, semoga kamu tidak menyesal, tapi kamu tetap pada keputusanmu,"


"Aku tahu itu, dan nyatanya aku memang menyesal. Kamu tahu, saat itu aku berada di bawah tekanan, Jelita dan mamanya. Dulu aku memang sudah punya keinginan untuk menerimamu dengan ikhlas menjadi takdirku, karena sikap yang kamu tunjukkan jauh berbeda dari apa yang aku pikirkan. Aku sudah sempat berpikir , mungkin dengan cara jebakan itu Tuhan membuatku berjodoh denganmu, tapi karena mamanya Jelita yang hampir setiap hari menerorku, dan selalu menyalahkanku dengan mengirimkan video-video Jelita yang depresi. Aku jadi sangat tertekan By. Hingga aku melampiaskannya padamu, karena menganggap kalau kamu lah penyebab dari semua ini. Mata hatiku benar-benar tertutup, hingga logikaku pun tidak berjalan. Sekali lagi maafkan aku!" tutur Arka panjang lebar dan wajah sendu.


"Jadi seperti itu ceritanya?" Ruby mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kenapa kamu saat itu tidak menceritakan segalanya, By? kenapa kamu diam saja? Seandainya kamu memberitahukanku yang sebenarnya, aku sanggup membayar berapapun yang mereka minta. Jangan 10 kali lipat seperti yang mereka minta, 20 kali lipat pun aku sanggup!" ucap Arka, berapi-api.


"Kalau seandainya aku jujur saat itu, apa kamu akan percaya? tidak kan? kamu pasti mengganggap aku pembual,"


Arka bergeming, diam seribu bahasa. Benar yang dikatakan oleh Ruby, kalau saat itu mungkin dia tidak akan percaya, apalagi tanpa adanya bukti.


"By, jadi aku tidak punya kesempatan lagi?" suara Arka terdengar sangat lirih.


"Maaf!" sahut Ruby singkat.

__ADS_1


"Kenapa? apa karena kamu sudah bertemu dengan laki-laki lain?" ucap Arka dengan perasaan yang sangat sakit.


"Jangan asal menuduh. Bukan itu alasannya. Aku sama tidak bisa bersamamu bukan karena ada laki-laki lain," sangkal Ruby dengan cepat.


"Jadi kenapa kamu sulit menerimaku lagi?"


"Aku kan sudah katakan kalau sekarang aku sudah meragukan perasaanku padamu dan begitu juga dengan perasaanmu. Aku merasa kalau kamu ingin kembali padaku hanya karena rasa bersalah bukan karena adanya cinta. Aku juga merasa kalau kamu memintaku bersama hanya karena ketiga anak kita. kalau hanya karena itu, kamu tenang saja, seperti yang aku katakan tadi, kalau aku sudah ikhlas memaafkanmu, dan kamu bisa kapan saja bertemu dengan anak-anak. Aku tidak akan pernah melarang. Dan selamanya mereka akan tetap memanggilmu, Papa," tutur Ruby panjang lebar.


"Tidak! kamu salah! perasaanku padamu bukan karena rasa bersalah tapi lebih dari itu. Aku yakin kalau aku sudah mencintaimu dari dulu, hanya saja aku baru menyadarinya sekarang," ucap Arka sembari mencengkram pundak Ruby.


Ruby tersenyum tipis dan menepis tangan Arka dari pundaknya dengan lembut.


"Tapi, aku belum yakin. Tolonglah mengerti, Mas. Aku saat ini benar-benar ingin sendiri dan berusaha memahami bagaimana perasaanku sebenarnya. Sebelum anak-anak lahir, aku memang sangat ingin kamu ada di sampingku, mungkin karena aku sedang mengandung anakmu, tapi setelah mereka lahir ada sesuatu yang berbeda yang aku rasakan,"


"Baiklah kalau begitu! aku hargai keputusanmu. Tapi, bolehkan aku berjuang untuk mendapatkan kamu kembali? aku akan berhenti berjuang, ketika kamu mengatakan kalau kamu sudah bertemu dengan pria yang kamu cintai dan akan menikah dengannya. Tapi, selama kamu belum memiliki pria yang kamu cintai, selama itu pula aku tidak akan menandatangani surat cerai itu. Dan aku mohon, izinkan aku untuk tetap memperjuangkanmu dan berusaha mendapatkan hatimu.ucap Arka dengan tegas.


"Baiklah!" sahut Ruby. "Emm, aku mau masuk dulu ya, Mas. Aku mau melihat anak-anak," Ruby berdiri dari tempat duduknya dan hendak melangkah.


"Aku boleh ikutkan?" tanya Arka.


"Tentu saja boleh!"


Arka tersenyum lebar, senyum yang tidak pernah Ruby lihat selama ini.


" Oh ya, terima kasih ya, kamu sudah memberikan nama-nama itu pada anak-anak kita!" ucap Arka tanpa menanggalkan senyumnya.


"Jadi nama-nama itu dari kamu?" Arka menganggukkan kepalanya.


"Sudah kuduga," Ruby berdecak sembari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? apa kamu mau menggantinya lagi?"


"Tidak! buat apa aku ganti? nama-nama itu nama yang bagus! ayo masuk!" ucap Ruby.


Mereka berdua terus melangkah sampai mereka tiba di depan pintu kamar the triplet.


"Ayo masuk!" Ruby membuka pintu dan masuk ke dalam kamar yang terlihat sangat nyaman dan adem.


Ruby menatap ketiga anaknya dengan perasaan damai dan senyum di bibir. Sementara itu, Arka menatap Ruby dengan tatapan yang hanya dia sendirilah yang tahu makna dari tatapannya. Tapi yang jelas, ada rasa cinta di dalam tatapannya.


"Ternyata aku sangat bodoh dulu, bisa mengabaikan bidadari seperti dia. Aku benar-benar menyesal. Sekarang aku berjanji, akan berusaha untuk mendapatkanmu kembali dan mencintai kalian berempat!" bisik Arka berjanji pada hatinya sendiri.


Tamat

__ADS_1


Eits, bukan tamat dalam arti sebenar ya guys. Ceritanya akan tetap berlanjut dengan judul yang baru, yaitu 'Bringing back my wife' ( membawa kembali istriku). Kenapa? biar nanti tidak ada yang bilang, ceritanya tidak relate ke judulnya lagi.


Judul Bringing back my wife ini, sebenarnya adalah judul awal yang ingin aku buat di novel ini,tapi karena ada pemikiran lain, yaitu ada judul novel yang sama, aku akhirnya memutuskan untuk membuat judul Penyesalan Suami Kejam. Tapi, di season duanya aku memutuskan untuk mengembalikan ke judul awal yaitu Bringing back my wife yang menceritakan perjuangan Arka mendapatkan Ruby lagi. Satu lagi, Tentu saja novelnya tetap aku lanjut di novel ini jadi jangan di-unfavorite ya guys 🙏🏻


__ADS_2