Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 2


__ADS_3

"Kenapa malam-malam begini ngajak aku ketemuan? kamu kurang kerjaan ya?" protes Pandu, sembari menunjukkan wajah kesalnya.


"Belum juga jam sembilan, Pan. Kamu duduk dulu aja!" sahut Arka sembari melemparkan senyumnya.


Ya, setelah panggilannya dengan Ruby terputus tadi, Arka yang merasa kesal langsung menghubungi Pandu dan mengajak sahabatnya itu untuk bertemu di kafe tempat mereka biasa bertemu.


Pandu menghela napasnya dengan berat dan duduk di depan Arka. "Kamu lagi ada masalah ya, makanya ajak aku bertemu?" tanya Pandu, dan kali ini tidak terlihat raut wajah kesalnya lagi. Pria itu kini mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.


"Tolong, bawakan aku strawberry juice ya, Mbak!" ucap Pandu dan pelayan itu menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi.


"Aku lagi pusing, Pan. Aku sudah kehabisan cara untuk membuat Ruby bisa menerimaku kembali. Sudah tiga bulan, tapi kenapa dia masih meragukanku ya?" Arka mengusap wajahnya dengan kasar.


"Menurut yang aku dengar dari ...." Pandu menggantung ucapannya, seperti merasa berat menyebutkan nama yang ingin dia katakan. Di saat bersamaan, pesanan pria itu pun datang.


"Kenapa kamu diam? dari siapa?" Arka mengrenyitkan keningnya.


"Emm, itu ... dari Tiara. Dia pernah cerita kalau kamu pernah mengatakan kalau kamu tidak ingin memiliki anak dari Ruby. Kalaupun terlanjur ada, kamu akan melenyapkannya. Itulah kata-kata yang selalu dia ingat. Dia tidak mau kamu pura-pura baik, pura-pura mencintainya hanya untuk mencari kesempatan untuk melenyapkan mereka," tutur Pandu.


"Astaga! benar-benar alasan yang tidak masuk akal. Aku mau melenyapkan ketiga anakku? tidak mungkin, Pan. Seandainya aku mau, aku sudah bisa dengan mudah melenyapkan mereka dari mereka lahir tanpa harus berpura-pura mencintainya. Kenapa dia tidak bisa berpikir ke arah sana sih?" Arka terlihat emosional.


"Ya, itu sekarang tugas kamu, bekerja bekerja keras untuk meyakinkan dia, dan menghapus kata-kata itu dari memorinya," ucap Pandu, seraya menyeruput minumannya.


"Caranya bagaimana? aku sudah melakukan segalanya."Arka tampak frustasi.


"Emm, bagaimana kalau kamu untuk sementara tinggal di Bali, agar kamu leluasa mendekatinya. Percuma kamu berikan perhatian dari jarak jauh begini," usul Pandu


"Tapi kan aku hampir setiap bulan datang ke sana? Aku sebenarnya sudah memintanya untuk kembali ke Jaringan dan menyerahkan restoran itu dikelola oleh orang kepercayaannya, tapi dia menolak," tutur Arka sembari menggaruk kepalanya.


Brakk

__ADS_1


Pandu menendang kursi Arka.


"Apaan sih, Pan? kenapa kamu menendang kursiku?" protes Arka,menatap Pandu dengan tajam.


"Sebenarnya bukan kursimu yang ingin aku tendang, tapi kepalamu biar kamu bisa berpikir. Bagaimana mungkin kamu memintanya yang ke Jakarta? yang lagi berjuang kan kamu! kalau bukan karena kamu sahabatku sudah aku ungsikan kamu ke planet mars," oceh Pandu. Sepertinya pria itu benar-benar kesal.


"Iya juga ya? seperti kamu yang rela ke sana berbulan-bulan hanya untuk bisa berjuang mendapatkan hati Tiara. Iya kan?"


Raut wajah Pandu seketika berubah datar mendengar Arka menyebutkan nama wanita yang susah payah berusaha untuk dia lupakan.


"Oh ya, bagaimana kabarnya dia? kalian berdua kan sudah sama-sama kembali ke Jakarta, tapi kenapa kalian berdua belum menikah juga? dan satu lagi, kenapa kamu tadi seakan berat menyebut namanya? kalian lagi ada masalah ya?" tanya Arka lagi, dengan beruntun.


"Jangan mengalihkan pembicaraan! kita lagi bicara tentang Ruby, bukan Tiara," sahut Pandu, mencoba mengelak membicarakan Tiara.


"Lho, emangnya kenapa? tidak apa-apa kan kalau kita bicara tentang kamu dan Tiara juga? apa aku salah bertanya kapan kalian akan menikah?" Arka mengrenyitkan keningnya. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi di antara Pandu dengan wanita yang merupakan sahabatnya Ruby itu.


"Ahh, sudahlah! aku lagi tidak mau membicarakan hal itu. Kalau kamu masih mau membicarakannya, lebih baik aku pulang," Pandu berniat untuk berdiri, tapi dengan sigap Arka mencegahnya.


Pandu kembali duduk dan kembali menyeruput minumannya. Keheningan terjeda untuk sepersekian detik di antara dua pria karismatik itu. Detik berikutnya terdengar embusan napas dari mulut Arka seraya membenarkan duduknya.


"Pan, kamu mau nggak menemaniku?" celetuk Arka tiba-tiba, memecah keheningan.


"Kemana?" sahut Pandu, singkat.


"Ke rumah Kak Risa, kakaknya Ruby,"


"Buat apa ke sana? ini sudah malam, Ka! kamu jangan yang aneh-aneh deh,"


"Aku mau mencoba merayu Kak Risa agar membujuk Ruby, mau kembali bersamaku. Aku harap kalau kakaknya yang bujuk, Ruby akan cepat berubah pikiran," Tutur Arka, penuh semangat.

__ADS_1


"Aku tahu kalau kamu sangat ingi Ruby cepat berubah pikiran, tapi tidak harus malam ini. Kita sama saja mengganggu waktu istirahat orang. Jadi, maaf, aku tidak mau!" tolak Pandu dengan tegas.


Arka kembali terdiam, tidak membantah ucapan Pandu karena dia tahu kalau yang diucapkan sahabatnya itu, benar adanya.


"Bagaimana kalau besok? kamu mau kan menemaniku ke sana?" tanya Arka dengan tatapan penuh harap.


"Maaf, aku tidak bisa, Ka! karena besok aku ada pekerjaan yang sangat penting dan tidak bisa aku tinggal," jawab Pandu dengan raut wajah yang merasa tidak enak hati.


"Ya udah, besok aku akan ke sana sendiri!" pungkas Arka akhirnya.


"Kayanya sudah waktunya kita pulang. Tidak ada lagi kan yang mau kamu bicarakan?" tanya Pandu sembari berdiri dari kursinya.


"Sudah tidak ada! Kita pulang saja!" Arka pun mengangkat tangannya, memanggil pelayan kembali.


Setelah Arka melakukan pembayaran, pria itu berdiri dari tempat duduknya. "Ayo, Pan!" ucap Arka sembari berbalik dan melangkah. Namun belum jauh melangkah, Arka kembali berhenti dan berbalik.


"Kenapa, Pan ? katanya mau pulang, tapi kenapa kamu masih berdiri di sana?" Arka mengrenyitkan keningnya.


Pandu tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru menatap ke arah sepasang pria dan wanita yang baru saja masuk ke dalam kafe itu. Pandu tidak mengenal pria itu, tapi dia kenal dengan yang wanita yang tidak lain adalah Tiara.


"Ini sudah malam, tapi kenapa dia masih keluyuran?" batin Pandu, menggerutu di dalam hati.


"Sepertinya pria itu bukan pria baik-baik, pria macam apa yang masih mengajak wanita malam-malam begini?" lagi-lagi Pandu menggerutu. Napasnya pria itu tampak sudah tidak teratur karena dia sedang berusaha menahan amarahnya.


Sementara itu, Arka berjalan kembali menghampiri Pandu. Pria itu semakin yakin kalau sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja dengan Tiara.


"Pan, apa kamu mau pulang atau masih ingin memperhatikannya mereka?" suara Arka sontak menyadarkan Pandu.


"Kita pulang saja!" Pandu beranjak pergi mendahului Arka.

__ADS_1


Arka menghela napasnya dengan sekali hentakan, lalu menyusul Pandu.


Tbc


__ADS_2